Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 3 April 2009

Berani Melihat Kekurangan

toto zurianto

Leadership Series 1
BERANI MELIHAT KEKURANGAN

Tidak mudah untuk melihat kekurangan diri sendiri. Kita secara umum sangat suka menjadi yang terbaik diantara sekelompok orang lain. Rasanya gimana gitu, kalau kita selalu dipuji-puji, terutama di dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh banyak orang. Sementara, tidak sedikit pula orang-orang yang hobby-nya memuji-muji orang lain, bahkan untuk prestasi yang biasa-biasa saja, belum luar biasa, dan belum banyak berbeda dengan orang lain. Kita bisa menjumpai, banyak sekali forum (pertemuan) yang sebagian pesertanya mencoba memuji sebagian peserta yang lain. Pokoknya kebanyakan orang yang hadir, mencoba saling memuji, seolah-olah sudah mencapai suatu prestasi yang mengagumkan.

Bagaimana sikap kita terhadap pujian-pujian yang belum pantas itu? Pertama, sekedar senang dalam hati, tidaklah salah. Penting bagi kita untuk mencari tahu, kenapa orang lain memuji diri kita. Apakah pujian itu sebagai pernyataan tulus karena terbukti kita sudah memberikan sesuatu yang bermanfaat (penting), atau bukan? Kalau kita sulit mencari alasan-alasan logis atas pujian itu, sebaiknya kita “biasa-biasa” saja. Kita perlu berusaha untuk tidak melambung atas pujian.
Memang bersikap tenang atau humble, tidaklah mudah. Sikap untuk berperilaku rendah hati ini, memerlukan pengendalian diri yang kuat, bahkan perlu didukung oleh keberanian yang luar biasa.

Bagaimana caranya, kalau kita yang sebenarnya baru biasa-biasa saja, tetapi dipuji-puji secara luar biasa. Kita akan tertekan, kalau apa yang dibicarakan orang, ternyata banyak yang tidak benar. Tenyata, ada banyak hal yang tidak mampu kita lakukan. Ternyata banyak hal yang tidak bisa kita selesaikan, tidak semua persoalan bisa kita kendalikan, tidak semua variable berada dalam penguasaan kita. Kita seperti melihat diri kita yang penuh kekurangan sementara orang lain memberikan pujian yang begitu mempesona.

Ini adalah ujian penting bagi para calon Pemimpin. Tidak ada cara lain, kecuali kita melakukan improvement atas kekurangan itu. Tidak semua hal harus kita ketahui, karena itu kita tidak perlu khawatir karena dianggap tidak mengetahui segala hal. Hanya saja, pada bidang kita, kita tetap harus setidak-tidaknya berada pada level yang tidak mengecewakan. Jangan sampai para bawahan kehilangan confident kepada kita dan menganggap kita tidak mengetahui apa-apa.