Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 22 April 2009

Leadership Series (MEMIMPIN ITU TIDAK MUDAH)

toto zurianto

Menurut Dave Ulrich (the Leadership Code), ada 5 hal yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh, yaitu; (i) kemampuan untuk berpikir strategis, (ii) bisa menjadi eksekutor yang hebat, (iii) kemampuan menciptakan Talent, (iiii) bisa menetapkan siapa-siapa yang tinggal dan siapa-siapa yang harus pergi, dan (iiiii) selalu meng-upgrade kemampuan pribadi.

Mampu berpikir STRATEGIS adalah kekuatan visi yang harus ditunjukkan oleh seorang pemimpin dalam rangka mewujudkan masa depan (shape the future). Tanpa kemampuan berpikir strategis, organisasi pada dasarnya sedang tidak memerlukan leaders karena semua pengikut akan dengan mudah menjalankan misi organisasi dengan melihat hal-hal yang sudah dijalankan selama ini.

Menjadi Eksekutor (make things happen) adalah bagian penting yang sering tidak terlalu dianggap sebagai pekerjaan leaders. Seolah-olah, seorang leader, hanyalah seorang pemikir yang hanya tangguh pada tataran konsep dan membuat workplan saja. Eksekutor tangguh adalah menterjemahkan sesuatu dari yang kita ketahui menjadi suatu realita yang kita kerjakan (turn what we know into what we do). Hal penting yang harus dimiliki bagi seorang Pemimpin Eksekusi adalah kemampuan mengambil keputusan (tidak ragu dan tidak lemah atas intervensi), membuat proses perubahan sebagai hal yang biasa-biasa saja, dan berkeinginan untuk selalui melakukan monitoring dan belajar!

Mampu menjadi seorang Talent Manager (engaged today’s talent), biasa dibangun dengan keyakinan bahwa, SDM yang ada tidak perlu diberlakukan secara sama. Seorang leader harus bisa melakukan diferensiasi Pegawai sehingga orang-orang yang berbeda, diberikan pola pengelolaan yang berbeda-beda. Pemahaman mengenai demography dan kultur setiap generasi, perlu diketahui dan dipahami, dan tentunya diperlakukan secara berbeda-beda.

Bisa melahirkan generasi pengganti (build the next generation), leaders dituntut untuk membangun generasi akan datang. Leaders, pertama-tama harus melakukan mapping Pegawai, biasanya dengan menggunakan 2 parameter penting, memperhatikan Performance (result) dan Leadership (competency). Selanjutnya jangan lupa untuk menciptakan (mengarahkan) pola pengembangan (karir) yang paling sesuai bagi Pegawai sesuai profil-nya masing-masing. Leaders harus biasa dengan tools seperti performance management system, forced ranking, Map-Matirx Pegawai, Replacement Chart, Individual Development Plan.

Selalu meng-up-grade diri (invest in yourself), pertanyaan pertama, what are my strengths? Apakah kemampuan leadership, atau punya visi kuat, integritas teruji? Atau love of learning? Kedua, kita harus selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih mampu, lebih bisa melakukan sesuatu. Ketiga, penting untuk didapat jawabannya, sebenarnya kita ingin menjadi apa? Di samping itu, sangat penting bagi kita untuk selalu suka belajar. Kenapa? Karena belajar biasanya, bisa membuat kita merasa selalu kurang.

Jadi pesan penting bagi seorang pemimpin adalah, rupanya kita (pemimpin) tidak boleh ongkang-ongkang kaki seolah-olah target sudah kita capai, dan mencoba menikmati keberhasilan. Kita akan digilas, kalau tidak mampu melahirkan pemikiran yang strategis (visionary), atau kalau kita selalu gagal meng-eksekusi, atau menganggap remeh peran seorang talent manager, atau tidak punya kapasitas dalam membangun generasi pengganti, atau apalagi kalau keinginan belajar kita nyatakan sudah tamat dalam kehidupan kita.