Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Wednesday, 9 September 2015

Indonesia; Perang Sama Mafia

toto zurianto

Bukan seperti Mafia Itali dalam Film-Film Hollywood, tetapi Mafia Indonesia. Banyak sekali, ada Mafia Tanah. Kalau pemerintah mau membangun prasarana tertentu, misalnya jalan toll, atau irigasi, atau kantor, atau fasilitas publik lain, maka Mafia Tanah bangun dan melakukan perannya.
Karena Mafia, kita tidak tahu secara jelas. Mana Al Capone-nya, mana God Father-nya. Siapa yang menjadi Kepala Mafia-nya?

Memang sulit untuk mencari Mafia Indonesia. Bahkan Mafia Bawang atau Cabe sekalipun, susah untuk ditemukan. Apalagi Mafia Pelabuhan, Mafia Jabatan, Mafia Gubernur + Walikota/Bupati, Mafia Peradilan, apakah Jaksa, Hakim, Panitera, Pengacara, Polisi, Anggota DPR, atau Pejabat dan orang kaya yang menjadi tertuduh. Bahkan Mafia Sapi, Mafia "Haji", Mafia Bantuan Operasional Sekolah, dan Mafia Pelabuhan.
Kata Karni Ilyas, Redaktur TV One, Ini yang menjadi perang besar yang harus dibasmi. Cerita Indonesia Lawyer Club Rabu malam (9 September 2015) sebenarnya membahas pencopotan dan "sepak terjang" Komjen Buwas yang akhirnya dimutasikan dari Kepala Bareskrim Polri menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Polri.
Namun, paling penting adalah, hal-hal yang selama ini lebih dikenal dengan Peran Mafia Indonesia yang dinilai sudah sangat meresahkan.
Semua hal yang berhubungan dengan transaksi ekonomi keuangan, terutama untuk proyek-proyek yang dibiayai pemerintah, selalu akan berhadapan dengan para Mafia.

Menyedihkan memang. Proyek-proyek bagus dan penting, tidak bisa diwujudkan akibat Mafia yang selalu ingin mengambil sesuatu secara tidak wajar.
Saat ini, sudah cukup banyak pikiran dan waktu yang kita curahkan untuk membasmi praktek korupsi yang selalu berlangsung sangat luar biasa. Sayang kita tidak meletakkan aturan yang sama berat bagi praktek Kolusi dan Nepotisme yang berkembang menjadi dasar terjadinya praktek Mafia yang luar biasa. Potensi praktek Nepotisme tidak banyak diulas dengan alasan adanya hak Azasi Manusia dan berbagai pendekatan yang membuat orang tidak bisa dicegah untuk berbuat jahat. Apakah kita tidak sedang perang terhadap Mafia? Mau kita bersungguh-sungguh untuk perang. Bukan sekedar "perang-perangan" dengan senjata yang tidak mematikan. Mana bisa membasmi koruptor dengan peluru palsu. Ayo siapkan senjata asli, bukan senjata palsu.