Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 7 September 2015

Komjen Buwas diganti! Loh Koq?

toto zurianto

Ini menjadi persitiwa besar di Indonesia. Semua media, tidak saja Koran, juga yang paling heboh, tentu saja Televisi. Tidak saja berita, juga wawancara dengan banyak "ahli dan pengamat". Bahkan TalkShow pun ramai dan berulang-ulang. Komjen Buwas, Budi Waseso, Kepala Bareskrim Polri yang sangat terkenal, diganti oleh Komjen Anang Iskandar yang sebelumnya menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Tepatnya kedua Pejabat Polri ini bertukar jabatan.

Bagi Kepolisian, atau bagi siapa saja, atau bagi lembaga apa saja, peristiwa ini seharusnya bukan sesuatu yang luar biasa. Bisa terjadi kapan saja. Cuma, Presiden yang tidak mungkin berganti posisi dengan Wakil Presiden. Kalau Menteri naik turun juga biasa.  Menko Perekonomian Sofyan Jalil, turun pangkat menjadi Menteri PPN/Kepala Bapenas. Tentu saja tidak ada aturannya. Mungkin kita ketawa, tetapi tidak apa apa. Biasa biasa saja.
Juga biasa, seorang Walikota kemudian, jadi Walikota lagi, selama dua periode. Ini juga biasa. Tapi , kemudian ada yang jadi Wakil Walikota pada periode “ketiga". ini aneh, lucu, juga tidak apa apa.

Ada juga Menteri yang “naik pangkat” jadi Walikota, eh he. Bukan turun, tetapi memang boleh. Ada juga Bupati yang jadi Bupati 2 periode, lalu “mewariskan jabatannya” kepada istrinya. Bisa juga ke anaknya menjadi Bupati berikutnya. Biasa juga dari Gubernur, anaknya jadi Bupati, ini boleh ya. Tidak ada hubungannya.

Pokoknya sebenarnya pergantian jabatan, itu biasa saja. Jangan terlalu dinilai luar biasa. Memang banyak peristiwa-peristiwa dan pandangan sebelum proses itu terjadi. Apa boleh buat. Tapi, tentunya dalam konteks kenegaraan, dalam upaya membangun lembaga yang kredibel dan govern, semua pengisian jabatan/posisi, haruslah diwarnai pertimbangan kompetensi, kredibilitas, dan iklim yang lebih baik. Semua prestasi-prestasi menjadi pertimbangan utama bagi bangsa. Jangan hanya sekedar untuk kepentingan kelompok. Negara harus dijaga kredibilitasnya. Tidak boleh memberi peluang kepada kelompok penekan. Semua keputusan negara, termasuk kepolisian dan tentara, adalah untuk memberikan suasana nyaman, aman, dan tenteram. Kita berikan kesempatan kepada Komjen Anang, juga kepada Komjen Buwas. Orang terbaik, akan memberikan manfaat meskipun dimana saja ditempatkan.