Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Monday, 31 August 2015

Malaysia, Demo, dan Nasib NAJIB

toto zurianto

Sebenarnya sudah cukup lama masyarakat Malaysia mencoba melakukan "demo". Memang tidak seperti di Indonesia, di mana demo sendiri sudah menjadi hal biasa dan menjadi "kebutuhan". Di Malaysia, cuma Anwar Ibrahim dan kelompoknya yang selama ini "lebih berani" meskipun harus berhadapan dengan pemerintah dan polisi Malaysia yang sangat represif. Termasuk memasukkan Datuk Anwar (Ibrahim) ke penjara dengan alasan/kasus lain
Lalu sejak beberapa bulan yang lalu, Tun Ku Datuk Najib Razak, Perdana Menteri (PM) Malaysia yang juga putra PM Tun Ku Abdul Razak beberapa waktu yang lalu, mulai resah dan gelisah. Masyarakat menuntut kejelasan atas adanya "transaksi uang" yang diduga sebagai transaksi ilegal.
PM Najib dan Keluarga dan teman-temannya, terutama  istrinya dituduh menerima sejumlah uang dari sebuah perusahaan. Berita di Wall Street Journal 8 Juli 2015 menyebutkan bahwa PM Najib menerima sekitar US$700 juta terkait perusahaan investasi Malaysia 1MDB (Malaysia Development Berhad).
Karena rakyat Malaysia sangat meragukan menjelasan PM najib mengenai aliran dana sekitar Rp10 triliun tersebut yang disebutkan sangat tidak masuk akal, maka muncullah gerakan-gerakan dan demo yang menuntut PM Najib untuk mundur.
Sabtu dan Minggu (29-30 Agustus 2015) kemaren menjadi puncak gerakan menuntut Najib untuk mundur. Sebuah parade besar di sekitar Lapangan Independence Square yang menghadirkan tidak kurang dari 50.000 massa, mulai menunjukkan intensitas yang luar biasa. Walapun polisi terus membuat barisan dan barikade yang menutup kawasan tersebut, tetapi gerakan massa Malaysia yang melawan, mulai menunjukkan taringnya yang selama ini dibungkam pemerintah Malaysia. Malaysia termasuk salah satu negara yang paling sukses melakukan kebijakan ekonominya selama 30 tahun terakhir  dengan tanpa masalah yangluar biasa. Sistem politik Malaysia yang tidak membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjalankan praktek demokrasi yang lebih terbuka, memang berbuah pembangunan yang luar biasa. Tetapi, mungkin saat ini, semuanya perlu melakukan perubahan. Sebagian masyarakat mulai muak menyaksikan para pejabat yang terlihat sangat kuat dengan tidak memunculkan iklim control dan praktek governance yang baik. Sekarang saatnya masyarakat dan pemerintah Malaysia melakukan hal-hal yang lebih terbuka, lebih adil tanpa kegiatan yang bersifat represif.




PM Najib, pilihannya antara terus bertahan, atau terus berhadapan dengan "rakyatnya"

Pemerintah harus bersih dan transparant!