toto zurianto
Kalau kemudian, misalnya pada suatu hari, kita harus memilih sesuatu yang penting, yang akan mewarnai perjalanan hidup kita, atau akan menentukan karir dan pekerjaan kita. Pilihlah sesuatu yang paling kamu ketahui, sesuatu yang paling kita pahami, sesuatu yang paling kita cintai.
Kalau sesuatu itu ternyata menjadi sesuatu yang tidak anda sukai, tidak anda cintai, maka kemungkinan besar, akan terlalu sulit bagi anda untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik. Kerja keras sering tidak menghasilkan sesuatu yang terbaik, kenapa? Karena anda tidak mencintai pekerjaan yang anda lakukan. Atau, mungkin situasinya, atau sistemnya, atau orang-orang yang bekerjasama dengan anda, tidak memberikan stimulasi dan passion yang kuat yang membuat anda merasa ingin berlari, terpacu dan ikhlas untuk berbuat sesuatu.
Bekerja pada dunia modern sekarang, juga seperti itu. Orang-orang yang ada dalam lingkungan pekerjaan kita menjadi sangat penting. Memiliki kompetensi pribadi yang cukup dan mumpuni adalah sesuatu prerequisite dan perlu. Tetapi itu tidaklah cukup. Keberadaan orang-orang di sekitar kita adalah sesuatu yang penting dan menjadi kebutuhan.
Lingkungan menjadi faktor pendorong, bahkan sering lebih penting dibandingkan dengan kemampuan individu saja. Salah satu dari beberapa faktor penting adalah soal kepemimpinan. Kepemimpinan dan orang-orang penting pada suatu perusahaan adalah key success factor, Ketika kita berada pada suasana kepemimpinan yang pas, maka segalanya sering terasa mudah. Semua kemampuan bisa tereksplorasi dan berkembang. Kita sering day by day tertantang untuk menjadi lebih baik. Tapi ketika siatuasinya berbeda, maka sering seseorang menjadi mati, seolah-olah menjadi berakhir. Sulitnya, sering kita tidak bisa memilih, tidak punya kesempatan dan atau tidak punya kemauan. Sering ada keterbatasan. Ini membuat kita menjadi tidak optimal. Hanya leaders yang hebat yang bisa membaca dan memperbaiki situasi ini.
CHANGE and Leadership mengundang teman dan sahabat untuk sharing pengetahuan, informasi, atau hiburan dalam rangka memperluas wawasan dan persahabatan! CHANGE and Leadership tidak membatasi peminat pada suatu bidang keilmuan atau minat tertentu. CHANGE and Leadership adalah forum lintas pengetahuan, bisa digunakan untuk mengulas hal-hal yang berhubungan dengan praktek kepemimpinan, manajemen, SDM, sosial, ekonomi, dan politik, juga bagi penggemar sport, sastra, musik, kuliner, dan travel!
Tuesday, 8 April 2014
Saturday, 1 February 2014
Panggung Sandiwara
toto zurianto
Benar kata Ahmad Albar bahwa Dunia ini panggung Sandiwara. Lebih 35 tahun yang lalu ketika Ahmad Albar mengumandangkan albumnya Dunia Panggung Sandiwara. Karena itu cerita antara orang hebat dan jujur seperti Ronggolawe (RL) dan orang licik seperti Rama Pati (RP)sebagaimana episode sandiwara radio Saur Sepuh yang sering kita nikmati pada periode 80-an, tetap masih bisa kita saksikan dan kita sandiwarakan pada zaman IT dan gadget hebat dewasa ini.
Seperti kata Agung Adiprasetyo, CEO Kompas dalam bukunya Memetik Matahari (2014) yang belum lama terbit, kita selalu perlu waspada menyaksikan munculnya Rama pati-Rama pati modern yang suka hadir di manapun kita berada. Dalam pekerjaan sama saja, apalagi dalam dunia politik, kita sering menyaksikan munculnya orang-orang yang hobbynya memfitnah lawan atau saingannya. Satu per satu lawan politiknya difitnah, dihabisi, dibunuh, diadu domba, dibuatkan cerita supaya Raja (pimpinan) menyingkirkan orang-orang yang sebenarnya baik (halaman 119).
Pada akhirnya orang-orang baik dan kompeten (profesional) selalu disingkirkan oleh orang-orang yang manis tampangnya tapi jahat hatinya. Mereka adalah orang yang diluar bicara manis, kulitnya terlihat manis tetapi hatinya busuk. Orang-orang yang berpenampilan seperti malaikat tetapi tingkah lakunya bandit.
Semua organisasi, kelompok menghadapi urusan kulit dan isi. Sayangnya sangat banyak para pengambil keputusan yang terpesona oleh penampilan kulit saja tanpa memperhatikan isi. Di perusahaan, politik kantor akan sama saja. Posisi tawar menawar sering harus dihadapi untuk naik ke tangga dan jenjang yang lebih tinggi (halaman 120 dan 121). Memang sangat tergantung kepada boss besar yang akan mengambil keputusan. kalau boss besar lemah, maka dapat dipastikan, perusahaan atau organisasi sangat mungkin menjadi hancur dan tergadaikan. Kita bukan saja menyaksikan munculnya Rama Pati-Rama Pati yang akan menghancurkan kerajaan, juga sekaligus akan menyebabkan orang-orang terbaik menjadi demotivasi, dis-enggaed, dan akhirnya musnah.
Sebuah organisasi memerlukan para kritisi yang diberi tempat untuk menghadirkan pandangan alternatif, bukan dihancurkan dan disingkirkan. Kita bukan membenci orang-orang dekat, tetapi sangat mungkin di sekitar anda, bersemayam para penjilat yang mengaku sebagai anak buah dan pendukung utama. Padahal, ketika kita menghadapi suasana sulit, sering para penjilat ini lari terlebih dahulu untuk menemukan master baru mereka untuk melakukan tindakan yang sama nantinya.
Memang dunia tidak selalu adil. Namanya juga Panggung Sandiwara, ada yang menang dan ada yang harus dikalahkan. Pokoknya tergantung pada dalang!
Benar kata Ahmad Albar bahwa Dunia ini panggung Sandiwara. Lebih 35 tahun yang lalu ketika Ahmad Albar mengumandangkan albumnya Dunia Panggung Sandiwara. Karena itu cerita antara orang hebat dan jujur seperti Ronggolawe (RL) dan orang licik seperti Rama Pati (RP)sebagaimana episode sandiwara radio Saur Sepuh yang sering kita nikmati pada periode 80-an, tetap masih bisa kita saksikan dan kita sandiwarakan pada zaman IT dan gadget hebat dewasa ini.
Seperti kata Agung Adiprasetyo, CEO Kompas dalam bukunya Memetik Matahari (2014) yang belum lama terbit, kita selalu perlu waspada menyaksikan munculnya Rama pati-Rama pati modern yang suka hadir di manapun kita berada. Dalam pekerjaan sama saja, apalagi dalam dunia politik, kita sering menyaksikan munculnya orang-orang yang hobbynya memfitnah lawan atau saingannya. Satu per satu lawan politiknya difitnah, dihabisi, dibunuh, diadu domba, dibuatkan cerita supaya Raja (pimpinan) menyingkirkan orang-orang yang sebenarnya baik (halaman 119).
Pada akhirnya orang-orang baik dan kompeten (profesional) selalu disingkirkan oleh orang-orang yang manis tampangnya tapi jahat hatinya. Mereka adalah orang yang diluar bicara manis, kulitnya terlihat manis tetapi hatinya busuk. Orang-orang yang berpenampilan seperti malaikat tetapi tingkah lakunya bandit.
Semua organisasi, kelompok menghadapi urusan kulit dan isi. Sayangnya sangat banyak para pengambil keputusan yang terpesona oleh penampilan kulit saja tanpa memperhatikan isi. Di perusahaan, politik kantor akan sama saja. Posisi tawar menawar sering harus dihadapi untuk naik ke tangga dan jenjang yang lebih tinggi (halaman 120 dan 121). Memang sangat tergantung kepada boss besar yang akan mengambil keputusan. kalau boss besar lemah, maka dapat dipastikan, perusahaan atau organisasi sangat mungkin menjadi hancur dan tergadaikan. Kita bukan saja menyaksikan munculnya Rama Pati-Rama Pati yang akan menghancurkan kerajaan, juga sekaligus akan menyebabkan orang-orang terbaik menjadi demotivasi, dis-enggaed, dan akhirnya musnah.
Sebuah organisasi memerlukan para kritisi yang diberi tempat untuk menghadirkan pandangan alternatif, bukan dihancurkan dan disingkirkan. Kita bukan membenci orang-orang dekat, tetapi sangat mungkin di sekitar anda, bersemayam para penjilat yang mengaku sebagai anak buah dan pendukung utama. Padahal, ketika kita menghadapi suasana sulit, sering para penjilat ini lari terlebih dahulu untuk menemukan master baru mereka untuk melakukan tindakan yang sama nantinya.
Memang dunia tidak selalu adil. Namanya juga Panggung Sandiwara, ada yang menang dan ada yang harus dikalahkan. Pokoknya tergantung pada dalang!
Monday, 27 January 2014
Jangan Cerai!
toto zurianto
Kita di Indonesia selalu disuguhi berita sensasional, tentunya mengenai artis atau selebritis. Detik hari ini memberitahukan bahwa Ayu Tingting, menggunakan 8 pengacara dari Kantor O.C. Kaligis untuk melakukan gugatan cerai (di pengadilan Agama Islam) dari suaminya Enji (Hendri Hendarso Baskoro) yang di sisi lain memanfaatkan pengacara yang juga sangat kondang, Hotman Paris.
Mungkin sudah semakin banyak masyarakat kita yang menganggap soal perceraian para selebritis, sudah normal untuk bertarung di pengadilan (dengan menggunakan pengacara). Tapi saya masih terheran-heran, kenapa ya, persoalan seperti ini semakin asyik diumbar dan dipertajam di media masa? Kenapa juga semakin banyak orang (terutama selebritis) yang berpikir, persoalan perceraian sama saja dengan persoalan perselisihan yang lain. Karena itu, memerlukan pengacara (yang hebat) yang biasanya tidak murah.
Tapi seperti kata OC Kaligis, tidak semua yang dibantu kantor pengacara memerlukan biaya besar. Banyak sekali yang diberikan secara cuma-cuma, gratis, alias bersifat "probono".
Entahlah, semoga kasus Ayu dan Enji berakhir dengan tidak semakin memperluas luka di hati masing-masing yang berperkara. Bagaimanapun, soal keputusan hakim adalah sesuatu yang akhirnya akan dilakukan. Tetapi hendaknya kita menyadari bahwa persoalan perceraian adalah sesuatu yang tidak mudah untuk diterima (kedua pihak, termasuk tetangga dan saudaranya). Semoga para pengacara lebih mengedepankan "masa depan" katimbang menang dan kalah semata.
Kita di Indonesia selalu disuguhi berita sensasional, tentunya mengenai artis atau selebritis. Detik hari ini memberitahukan bahwa Ayu Tingting, menggunakan 8 pengacara dari Kantor O.C. Kaligis untuk melakukan gugatan cerai (di pengadilan Agama Islam) dari suaminya Enji (Hendri Hendarso Baskoro) yang di sisi lain memanfaatkan pengacara yang juga sangat kondang, Hotman Paris.
Mungkin sudah semakin banyak masyarakat kita yang menganggap soal perceraian para selebritis, sudah normal untuk bertarung di pengadilan (dengan menggunakan pengacara). Tapi saya masih terheran-heran, kenapa ya, persoalan seperti ini semakin asyik diumbar dan dipertajam di media masa? Kenapa juga semakin banyak orang (terutama selebritis) yang berpikir, persoalan perceraian sama saja dengan persoalan perselisihan yang lain. Karena itu, memerlukan pengacara (yang hebat) yang biasanya tidak murah.
Tapi seperti kata OC Kaligis, tidak semua yang dibantu kantor pengacara memerlukan biaya besar. Banyak sekali yang diberikan secara cuma-cuma, gratis, alias bersifat "probono".
Entahlah, semoga kasus Ayu dan Enji berakhir dengan tidak semakin memperluas luka di hati masing-masing yang berperkara. Bagaimanapun, soal keputusan hakim adalah sesuatu yang akhirnya akan dilakukan. Tetapi hendaknya kita menyadari bahwa persoalan perceraian adalah sesuatu yang tidak mudah untuk diterima (kedua pihak, termasuk tetangga dan saudaranya). Semoga para pengacara lebih mengedepankan "masa depan" katimbang menang dan kalah semata.
Monday, 20 January 2014
Banjir di Indonesia; Penanganan yang masih amateur!
toto zurianto
Sejak minggu lalu sampai dengan hari ini (Senin, 20 Januari 2014), suasana masih terus mendung dan hujan terus mewarnai sebagian besar kawsan di Indonesia, terlebih di kota Jakarta dan sekitarnya. Bahkan kota Manado Sulawesi Utara mengalami banjir bandang yang membawa korban luar biasa, termasuk korban jiwa hampir 40 orang.
Kota Jakarta yang banjirnya bukan bersifat banjir bandang (banjir tiba-tiba akibat air bah yang berlangsung cepat), juga belum mampu mengurangi terjadinya korban jiwa. Banjir di Jakarta sejak day-1 sangatlah terprediksi, karena hujan turun tidak tiba-tiba. Bahkan BMKG sudah melakukan prediksi jauh sebelum banjir terjadi. Tapi soal penanganan dan respon kita terhadap banjir, sangatlah tidak terencana. Kecuali munculnya banyak selebritis Televisi yang berusaha memberikan jawaban yang sering terasa tidak tepat. Juga menjadi ajang para politisi dan partai politik, dan tentunya termasuk media Televisi (dan Surat Kabar) yang berusaha memanfaatkan moment banjir secara maksimal.
Di Jepang, persoalan bencana alam sangatlah berbeda penanganannya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa menghadapi gempa bumi dan tsunami, jadi mereka sangatlah siap menghadapi bencana yang sangat luar biasa. Anak-anak sudah terlatih untuk melakukan sesuatu apabila terjadi bencana, padahal sering mereka hanya sendiri di rumah sementara orangtuanya berada di tempat kerja.
Pemerintah dan masyarakat Jepang sangatlah paham bahwa persoalan penanganan terhadap bencana, memerlukan perencanaan dan pelatihan secara terus menerus. Kapanpun bencana terjadi, sebuah sistem harus bisa bekerja secara otomatis tanpa memerlukan rapat dan instruksi berulang kali. Setiap kawanan sudah memiliki tata cara penanganan bencana, siapa yang menjadi Leader dan siapa pula wakilnya. Bahkan pada setiap kampung (kelurahan atau RT) yang hanya terdiri dari puluhan atau ratusan orang, semuanya mempunyai arah bergerak dan peralatan untuk melakukan penyelamatan secara cepat. Anak kecil, atau anak sekolah, tahu ke arah mana dia bergerak dan apa yang harus dibawanya ketika terjadi bencana.
Berbeda dengan kita yang selalu berpikir dan berpikir sebelum meninggalkan rumah kita sendiri. Ada saja yang kita takutkan (terutama dari para maling) yang membuat kita menunggu dan menunggu tanpa belakukan apa-apa. Lihat bagaimana susahnya melakukan penyelamatan di Jakarta. Semua orang menunggu sampai air sebatas leher, baru melakukan evakuasi. Tentu saja sangat menyulitkan dan berpotensi menimbulkan terjadinya korban jiwa.
Negara besar atau kota besar, sayang kalau kita tidak selalu belajar untuk bersiap-siap melakukan antisipasi atas terjadinya bencana. Peristiwa banjir dan gempa gunung api sering kita alami, tetapi anehnya, kita selalu sibuk dan sibuk yang membuat kita kesulitan untuk melakukan tindakan yang sebenarnya mungkin tidak terlalu kompleks.
Tidak tahu sampai kapan kita memulai untuk bersikap lebih profesional dalam menghadapi bencana seperti ini.
Sejak minggu lalu sampai dengan hari ini (Senin, 20 Januari 2014), suasana masih terus mendung dan hujan terus mewarnai sebagian besar kawsan di Indonesia, terlebih di kota Jakarta dan sekitarnya. Bahkan kota Manado Sulawesi Utara mengalami banjir bandang yang membawa korban luar biasa, termasuk korban jiwa hampir 40 orang.
Kota Jakarta yang banjirnya bukan bersifat banjir bandang (banjir tiba-tiba akibat air bah yang berlangsung cepat), juga belum mampu mengurangi terjadinya korban jiwa. Banjir di Jakarta sejak day-1 sangatlah terprediksi, karena hujan turun tidak tiba-tiba. Bahkan BMKG sudah melakukan prediksi jauh sebelum banjir terjadi. Tapi soal penanganan dan respon kita terhadap banjir, sangatlah tidak terencana. Kecuali munculnya banyak selebritis Televisi yang berusaha memberikan jawaban yang sering terasa tidak tepat. Juga menjadi ajang para politisi dan partai politik, dan tentunya termasuk media Televisi (dan Surat Kabar) yang berusaha memanfaatkan moment banjir secara maksimal.
Di Jepang, persoalan bencana alam sangatlah berbeda penanganannya. Mungkin karena mereka sudah terbiasa menghadapi gempa bumi dan tsunami, jadi mereka sangatlah siap menghadapi bencana yang sangat luar biasa. Anak-anak sudah terlatih untuk melakukan sesuatu apabila terjadi bencana, padahal sering mereka hanya sendiri di rumah sementara orangtuanya berada di tempat kerja.
Pemerintah dan masyarakat Jepang sangatlah paham bahwa persoalan penanganan terhadap bencana, memerlukan perencanaan dan pelatihan secara terus menerus. Kapanpun bencana terjadi, sebuah sistem harus bisa bekerja secara otomatis tanpa memerlukan rapat dan instruksi berulang kali. Setiap kawanan sudah memiliki tata cara penanganan bencana, siapa yang menjadi Leader dan siapa pula wakilnya. Bahkan pada setiap kampung (kelurahan atau RT) yang hanya terdiri dari puluhan atau ratusan orang, semuanya mempunyai arah bergerak dan peralatan untuk melakukan penyelamatan secara cepat. Anak kecil, atau anak sekolah, tahu ke arah mana dia bergerak dan apa yang harus dibawanya ketika terjadi bencana.
Berbeda dengan kita yang selalu berpikir dan berpikir sebelum meninggalkan rumah kita sendiri. Ada saja yang kita takutkan (terutama dari para maling) yang membuat kita menunggu dan menunggu tanpa belakukan apa-apa. Lihat bagaimana susahnya melakukan penyelamatan di Jakarta. Semua orang menunggu sampai air sebatas leher, baru melakukan evakuasi. Tentu saja sangat menyulitkan dan berpotensi menimbulkan terjadinya korban jiwa.
Negara besar atau kota besar, sayang kalau kita tidak selalu belajar untuk bersiap-siap melakukan antisipasi atas terjadinya bencana. Peristiwa banjir dan gempa gunung api sering kita alami, tetapi anehnya, kita selalu sibuk dan sibuk yang membuat kita kesulitan untuk melakukan tindakan yang sebenarnya mungkin tidak terlalu kompleks.
Tidak tahu sampai kapan kita memulai untuk bersikap lebih profesional dalam menghadapi bencana seperti ini.
Sunday, 8 December 2013
Medan, Kuala Namu, dan Kereta Api Bandara
toto zurianto
Polonia yang padat dan kumuh kini tinggal kenangan. Sejak bulan puasa lalu, masyarakat Medan dan Sumatera Utara, atau siapa saja yang berkunjung ke Medan dengan pesawat udara, berkesempatan menikmati Bandara baru yang modern, (masih) bersih dan dari sisi penerbangan (take-off dan landing, serta parkir pesawat) sangatlah aman.
Biaya pembangunan Bandara yang disebut Kuala Namu (call sign KNO) tentu sangatlah besar, tetapi pasti memberikan manfaat besar. Tidak saja bagi masyarakat dan perkembangan bisnis di Sumatera Utara, juga bagi siapa saja yang menggunakan Bandara tersebut. Apalagi, berbeda dengan bandara-bandara Indonesia yang lain, Bandara Kuala Namu, juga memiliki fasilitas kereta api yang hebat yang dapat menghubungi Bandara dengan Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Medan, hanya dalam waktu 37-47 menit yang bergerak tanpa hambatan. Apalagi sejak November ini, kereta Bandara yang digunakan sudah bertambah dengan kereta brand new produksi Korea.
Kerata api adalah salah satu pilihan terbaik dan anti macet. Ini salah satu alternatif terbaik yang tidak dimiliki Bandara Soekarno Hatta, Bandara Hasanuddin, atau Bandara Surabaya. Hanya dengan membayar Rp80 ribu, kita hanya memerlukan waktu 37 menit untuk sampai ke Bandara. Bayangkan Bandara Soeta yang sering membuat kita frustasi, takut ketinggalan pesawat, terpaksa menghabiskan waktu 3 atau 4 jam kalau mau aman.
Di Medan, apabila kita sudah city check-in, atau check-in di Stasion Kereta Api Bandara di Medan, tentunya semuanya menjadi sangat mudah. Saat ini, sejak jam 04.00 pagi sampai pukul 21.30, ada 18 kali keberangkatan kereta api dari Medan ke Kuala Namo. Jadi hampir setiap jam bisa kita pilih sesuai dengan jadwal keberangkatan pesawat kita. Begitu juga jadwal kereta api dari Kuala Namo ke Medan City yang berangkat mulai jam 05.05 sampai dengan jam 23.30 sebanyak 18 kali keberangkatan.
Kini, ketika Bandara bagus ini mulai beroperasi dan menjadi semakin hebat lagi di masa yang akan datang, tugas kita adalah bagaimana mempertahankan Bandara Kuala Namo dengan Kereta Api Bandaranya menjadi tetap bersih dengan fasilitas yang terjaga.
Ya Bandara baru yang kita saksikan, adalah investasi mahal yang harus dijaga, bukan dirusak oleh orang-orang yang tidak punya rasa untuk merawat. Kini kita dengan sangat mudah bisa melihat, bagaimana masih banyak masyarakat kita yang berbuat semena-mena dan seenaknya terhadap Bandara baru yang indah itu. Lihat di restaurant yang ada, situasinya masih seperti Bandara tua yang diwarnai oleh asap rokok, padahal semua kawasan gedung Bandara sudah ditetapkan sebagai kawasan bebas merokok, bebas asap rokok.
Ya kita tidak boleh menyerah. Hai para pemimpin, ini adalah tugas anda untuk menjaga agar Bandara kita tetap terawat, bagus, dan rapih. Biayanya terlalu mahal untuk tidak dijaga.
Polonia yang padat dan kumuh kini tinggal kenangan. Sejak bulan puasa lalu, masyarakat Medan dan Sumatera Utara, atau siapa saja yang berkunjung ke Medan dengan pesawat udara, berkesempatan menikmati Bandara baru yang modern, (masih) bersih dan dari sisi penerbangan (take-off dan landing, serta parkir pesawat) sangatlah aman.
Biaya pembangunan Bandara yang disebut Kuala Namu (call sign KNO) tentu sangatlah besar, tetapi pasti memberikan manfaat besar. Tidak saja bagi masyarakat dan perkembangan bisnis di Sumatera Utara, juga bagi siapa saja yang menggunakan Bandara tersebut. Apalagi, berbeda dengan bandara-bandara Indonesia yang lain, Bandara Kuala Namu, juga memiliki fasilitas kereta api yang hebat yang dapat menghubungi Bandara dengan Ibukota Propinsi Sumatera Utara, Medan, hanya dalam waktu 37-47 menit yang bergerak tanpa hambatan. Apalagi sejak November ini, kereta Bandara yang digunakan sudah bertambah dengan kereta brand new produksi Korea.
Kerata api adalah salah satu pilihan terbaik dan anti macet. Ini salah satu alternatif terbaik yang tidak dimiliki Bandara Soekarno Hatta, Bandara Hasanuddin, atau Bandara Surabaya. Hanya dengan membayar Rp80 ribu, kita hanya memerlukan waktu 37 menit untuk sampai ke Bandara. Bayangkan Bandara Soeta yang sering membuat kita frustasi, takut ketinggalan pesawat, terpaksa menghabiskan waktu 3 atau 4 jam kalau mau aman.
Di Medan, apabila kita sudah city check-in, atau check-in di Stasion Kereta Api Bandara di Medan, tentunya semuanya menjadi sangat mudah. Saat ini, sejak jam 04.00 pagi sampai pukul 21.30, ada 18 kali keberangkatan kereta api dari Medan ke Kuala Namo. Jadi hampir setiap jam bisa kita pilih sesuai dengan jadwal keberangkatan pesawat kita. Begitu juga jadwal kereta api dari Kuala Namo ke Medan City yang berangkat mulai jam 05.05 sampai dengan jam 23.30 sebanyak 18 kali keberangkatan.
Kini, ketika Bandara bagus ini mulai beroperasi dan menjadi semakin hebat lagi di masa yang akan datang, tugas kita adalah bagaimana mempertahankan Bandara Kuala Namo dengan Kereta Api Bandaranya menjadi tetap bersih dengan fasilitas yang terjaga.
Ya Bandara baru yang kita saksikan, adalah investasi mahal yang harus dijaga, bukan dirusak oleh orang-orang yang tidak punya rasa untuk merawat. Kini kita dengan sangat mudah bisa melihat, bagaimana masih banyak masyarakat kita yang berbuat semena-mena dan seenaknya terhadap Bandara baru yang indah itu. Lihat di restaurant yang ada, situasinya masih seperti Bandara tua yang diwarnai oleh asap rokok, padahal semua kawasan gedung Bandara sudah ditetapkan sebagai kawasan bebas merokok, bebas asap rokok.
Ya kita tidak boleh menyerah. Hai para pemimpin, ini adalah tugas anda untuk menjaga agar Bandara kita tetap terawat, bagus, dan rapih. Biayanya terlalu mahal untuk tidak dijaga.
Wednesday, 13 November 2013
Siapa Pemilik Masa Depan?
toto zurianto
Jaron Lanier, adalah salah satu pemikir dan penulis yang
karyanya akhir-akhir ini banyak dibaca dan dijadikan referensi bagi peminat
teknologi informasi, kemanusiaan, dan kepemimpinan. Sebelumnya dia pernah menulis
“You are Not a Gadget” yang seperti “Who Owns the Future”, juga menjadi best
seller.
Sebagai pemikir dan ilmuwan di bidang teknologi
informasi dan computer scientist, ia juga
seorang musisi. Tetapi, terutama
yang paling penting, dia adalah seorang perintis (pioneer) dan innovator yang
meramalkan terjadinya transformasi budaya teknologi (dansisteminformasi) dalam kehidupan masyarakat.
Bukan hanya membangun efisiensi dan efektivitas organisasi, tetapi berperan dalam
membentuk kultur dan hubungan diantara masyarakat dunia yang tidak lagi mampu melepaskan
dirinya dari pengaruh gadget yang sangat revolusioner.
Transformasi budaya yang dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi dan system informasi ini, antara lain terjadi karena kehidupan
kita sehari-hari berada dalam dunia digital, atau berbasis teknologi digital.
Karena itu, dalam aspek kehidupan kita,
termasuk yang paling penting dalam menetapkan atau memilih seorang pemimpin,
maka persoalan teknologi informasi sangatlah besar pengharuhnya. Hampir tidak ada
lagi sisi-sisi kehidupan kita yang tidak tersentuh dan tanpa dukungan teknologi
digital. Lihat saja disekeliling kita, bahkan seorang pedagang sayurpun, kini selalu
harus didukung oleh perangkat mobile phone untuk mengetahui pasokan yang paling
baik dengan harga yang paling kompetitif.
Bagaimana kita bisa membayangkan sebuah
negara seperti Indonesia misalnya, lalu harus
dipimpin oleh seorang yang tidak memahami dan tidak ikut dalam perkembangan teknologi
dan sistem informasi.
Perusahaan photographi sehebat
Kodak-pun terpaksa harus gulung tikar antara lain akibat respon pemimpinnya
yang lamban dalam mengantisipasi perkembangan dunia digital. Kodak yang sempat mempekerjakan
sekitar 140 ribu pegawai dan bernilai US$28 milyar, terpaksa bangkrut dan tidak
mampu bangkit lagi. Padahal mereka termasuk pioneer dalam bidang camera digital
yang kini menjadi pilihan utama peminat photographi (halaman 2).
Who Owns the Future adalah suatu gambaran
yang memperlihatkan bagaimana jaringan perkembangan teknologi selalu menjadi
factor penentu yang membuat kehidupan kita menjadi jatuhbangun, apakah menjadi baik
ataupun mengalami resesi. Teknologi yang terus berevolusi dan membuat sisi kehidupan
seperti menyatu dan lengket dengan teknologi itu sendiri, membuat langkah semua
bangsa di dunia selalu harus mempertimbangkan perkembangan teknologi dan sistem
informasi.
Tapi, Lanier percaya dan berharap,
serta meyakini bahwa dunia digital, terutama melalui jaringan yang dikembangkannya
memberikan nilai yang besar bagi kehidupan masyarakat dan bagi transaksi ekonomi
masyarakat dunia. Dunia digital bukan membuat kita tenggelam, tetapi justru akan
bangkit dan berkembang luas.
Buku setebal 396+xvi termasuk indeks ini cukup menarik
dibaca, antara lain karena pengaruhnya yang besar bagi dunia
ekonomi dan usaha, demokrasi, persaingan pasar internasional, nilai-nilai
kemanusiaan, juga globalisasi dan
kompleksitas pasar
keuangan.
Bagian Pertama dari buku ini berkisah
mengenai hal-hal yang membuat “manusia” melakukan tindakan tertentu untuk meningkatkan
nilai tambah kehidupan, yaitu bagaimana membangun motivasi (dengan melakukan sesuatu).
Banyak hal yang perlu diluruskan dan dimaksimalkan ketika kita berbicara melalui
bahasa teknologi.
Kadang kita terlalu cepat untuk menyalahkan
teknologi sebagai faktor penghambat dalam melakukan perubahan. Bahkan ketika kita
tidak mampu bersaing, kita cenderung lebih tradisionil untuk memilih kehidupan
yang lebih sederhana tanpa teknologi.
Padahal persoalan kita bukan teknologinya
tetapi bagaimana cara kita berpikir dan menggunakan
teknologi yang sering (tidak tepat). The
problem Is Not the Technology, but the Way we think about the Technology
(halaman 15). Menurut Jaron, bahkan sampai akhir abad ini, kita tidak perlu khawatir
dengan perkembangan teknologi yang akan membuat nilai kontribusi manusia menjadi
semakin sedikit. Selalu teknologi memberikan harapan baru, juga menyebabkan terbukanya
kesempatan kerja karena adanya kemajuan teknologi.
Buku ini sedikit berbeda. Dia bercerita tentang
hebatnya perkembangan teknologi dan sistem informasi yang kini begitu besar
memberikan pengaruh bagi cara-cara kita melakukan sesuatu, bahkan terutama
dalam menjalankan pekerjaan. Tetapi dia juga bercerita mengenai terjadinya
perubahan mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri, mengenai cara-cara kita merespon
kehidupan, soal kemanusiaan (humanisme), wisdom, dan bagaimana respon manusia
tehadap lingkungan dan masa depannya. Bahkan tentang sikap kita kepada
benda-benda mati, bumi, atau resources. Masih
banyak persoalan (dunia) yang belum terjawab. Tetapi menjadikan sesuatu yang
kompleks menjadi lebih mudah adalah tantangan kita saat ini ketika teknologi
memainkan peran yang lebih luas dan menentukan.
Buku ini perlu
dibaca bagi para profesional, pemimpin, juga pejabat OJK. Pemahaman kita yang
luas mengenai teknologi digital dan sistem informasi dan hubungannya dengan
pengelolaan organisasi modern dan leadership sebagaimana yang diulas di buku
ini, memberi peluang bagi kita untuk
menaklukkan dunia modern secara
efisien, efektif, dan bermanfaat. Tentu saja semua kita awali di internal
organisasi kita, kemudian kita bermain pada level yang lebih tinggi, pada level
nasional dan selanjutnya tidak terbatas, pentas duniapun mampu kita capai
karena kita memanfaatkan pendekatan dunia digital. Dialah sang Pemilik Masa
Depan itu.
Friday, 23 August 2013
68 Tahun Merdeka
toto zurianto
Minggu-minggu ini, perayaan kemerdekaan RI ke 68 masih tetap meriah dilaksanakan, apakah di kantor pemerintah, di kampung-kampung, di sekolah, atau di pasar sekalipun. Ada kegembiraan di hati kita ketika kita berada di bulan Agustus. Apalagi khusus tahun ini, peringatan kemerdekaan ke 68 ini masih dalam suasana Lebaran Iedul Fitri. Jadi kegembiraannya bisa berlipat-lipat.
Hanya saja, ketika kita bergembira dan bersyukur, performance ekonomi kita sangatlah tidak berjalan searah. Sejak awal puasa, sampai menjelang akhir bulan Agustus, situasi nilai tukar Rupiah terus mendapatkan tekanan yang keras. Kini berkisar pada angka plus minus Rp11 ribuan untuk satu dollar Amerika. Banyak penyebabnya, salah satunya situasi dan kebijakan ekonomi di Amerika sendiri.
Tapi apapun penyebabnya, peringatan 68 tahun Merdeka adalah sesuatu yang kita jalankan dengan rasa syukur dan tetap prihatin.
Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bukan saja mengenai nilai tukar rupiah dan pergerakan saham di pasar modal, juga situasi politik Indonesia menjelang Pemilihan Umum 2014. Padahal pengganggu utama perekonomian kita, diantaranya praktek korupsi dan nepotisme, penguasaan perekonomian pada sekelompok orang, sogok menyogok dalam mendapatkan proyek (pemerintah), pelaksanaan tender yang curang, dan berbagai transaksi ekonomi yang tidak terbuka.
Mari menjalani masa depan Indonesia lebih baik lagi. Banyak hal yang sudah dilakukan, tetapi masih banyak penyimpangan yang belum berhasil kita tertibkan, juga masih banyak tantangan masa depan yang harus kita perbaiki. Inilah tantangan ke depan yang belum selesai ketika kita merayakan proklamasi kemerdekaan ke 68. Merdeka dan tetap sungguh-sungguh bekerja.
Minggu-minggu ini, perayaan kemerdekaan RI ke 68 masih tetap meriah dilaksanakan, apakah di kantor pemerintah, di kampung-kampung, di sekolah, atau di pasar sekalipun. Ada kegembiraan di hati kita ketika kita berada di bulan Agustus. Apalagi khusus tahun ini, peringatan kemerdekaan ke 68 ini masih dalam suasana Lebaran Iedul Fitri. Jadi kegembiraannya bisa berlipat-lipat.
Hanya saja, ketika kita bergembira dan bersyukur, performance ekonomi kita sangatlah tidak berjalan searah. Sejak awal puasa, sampai menjelang akhir bulan Agustus, situasi nilai tukar Rupiah terus mendapatkan tekanan yang keras. Kini berkisar pada angka plus minus Rp11 ribuan untuk satu dollar Amerika. Banyak penyebabnya, salah satunya situasi dan kebijakan ekonomi di Amerika sendiri.
Tapi apapun penyebabnya, peringatan 68 tahun Merdeka adalah sesuatu yang kita jalankan dengan rasa syukur dan tetap prihatin.
Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bukan saja mengenai nilai tukar rupiah dan pergerakan saham di pasar modal, juga situasi politik Indonesia menjelang Pemilihan Umum 2014. Padahal pengganggu utama perekonomian kita, diantaranya praktek korupsi dan nepotisme, penguasaan perekonomian pada sekelompok orang, sogok menyogok dalam mendapatkan proyek (pemerintah), pelaksanaan tender yang curang, dan berbagai transaksi ekonomi yang tidak terbuka.
Mari menjalani masa depan Indonesia lebih baik lagi. Banyak hal yang sudah dilakukan, tetapi masih banyak penyimpangan yang belum berhasil kita tertibkan, juga masih banyak tantangan masa depan yang harus kita perbaiki. Inilah tantangan ke depan yang belum selesai ketika kita merayakan proklamasi kemerdekaan ke 68. Merdeka dan tetap sungguh-sungguh bekerja.
Friday, 7 June 2013
Mencari Pemimpin yang Humble
toto zurianto
Dua hal utama yang disebutkan Jim Collins (Good to Great) sebagai prasyarat seorang pemimpin level 5 (level Five Leadership), yaitu orang yang Professional will (sangat kompeten dan visioner) serta Humble, orang yang rendah hati, memberika kesejukan, membangun semangat, tetapi tidak ragu melakukan kritikan (atau bimbingan) untuk mencapai performance yang lebih hebat.
Pemimpin, pertama, karena kelahiran keputusan, atau secara formal, dia ditetapkan menjadi pemimpin setelah mengikuti rapat atau pertemuan pemangku kepentingan. Ini sebagai modal awal, tetapi, selanjutnya penting untuk mencapai tahap yang terbaik dalam karir dan kepemimpinannya.
Bagi Jim Collins, ini yang kedua penting, pemimpin itu selalu harus profesional dan visioner. Kita sering tidak nyaman ketika menyaksikan pemimpin hanya berkutat pada hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dan cenderung mengulang-ulang apa yang sudah pernah dilakukan pada waktu sebelumnya. Pemimpin seperti ini, yang bekerja tanpa visi kuat, tetapi dengan gaya yang sedikit keras dan "rada tengil", banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi jangan heran, di zaman modern sekarang ini, banyak juga pemimpin yang percaya tahayul dan perdukunan. Ini sebenarnya pernah dicacat Mochtar Lubis di sekitar tahun 70-an yang disebutnya sebagai ciri manusia Indonesia yang tidak saja munafik (hipokrit), juga percaya tahyul.
Hati-hati, kalau di organisasi modern seperti Bank Indonesia, banyak juga orang yang percaya tahyul dan dukun, sehingga orang yang sebelumnya setengah intelektual (educated), tidak jarang terjerumus juga ke lembah praktek perdukunan seperti ini.
Jadi, sekali lagi, jangan lupa, pemimpin adalah orang yang memiliki kompetensi teruji, selalu menggunakan akal sehat, dan mempunyai visi ke depan yang luas (forward looking).
Terakhir, pemimpin modern, selalu menampilkan ketegasan dan kelembutan. Kita banyak melihat pemimpin yang memiliki visi kuat, tetapi kurang menghargai manusia. Ini sejelek-jeleknya pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dihormati, dihargai, di-respek, karena kehebatannnya. Tetapi sekaligus dicintai dan dirindui karena penghargaannya yang tinggi kepada orang lain. Pemimpin, bukan orang yang berjarak puluhan atau ratusan kilometer dari orang yang dipimpin. Pemimpin, hanya berjarak satu meter, atau satu lembar kertas saja dengan orang yang dipimpin, atau anak buahnya. Karena itu, semuanya perlu memberikan respek kepada siapapun, apakah ke atasan, atau ke bawahan, kepada orang yang lebih tua, atau kepada seorang yang lebih muda. Hubungan-hubungan seperti ini yang akan membuat suatu organisasi menjadi hebat (great) dan saling trusted yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja organisasi.
Kitapun mempunyai peran untuk membangun organisasi kita, apakah sebagai pemimpin, atau sebagai orang yang dipimpin. Bekerja, disamping memberikan kontribusi kepada lembaga atau organisasi, juga memberikan respek kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Itulah yang membuat diri kita menjadi terhormat dan dihargai.
Dua hal utama yang disebutkan Jim Collins (Good to Great) sebagai prasyarat seorang pemimpin level 5 (level Five Leadership), yaitu orang yang Professional will (sangat kompeten dan visioner) serta Humble, orang yang rendah hati, memberika kesejukan, membangun semangat, tetapi tidak ragu melakukan kritikan (atau bimbingan) untuk mencapai performance yang lebih hebat.
Pemimpin, pertama, karena kelahiran keputusan, atau secara formal, dia ditetapkan menjadi pemimpin setelah mengikuti rapat atau pertemuan pemangku kepentingan. Ini sebagai modal awal, tetapi, selanjutnya penting untuk mencapai tahap yang terbaik dalam karir dan kepemimpinannya.
Bagi Jim Collins, ini yang kedua penting, pemimpin itu selalu harus profesional dan visioner. Kita sering tidak nyaman ketika menyaksikan pemimpin hanya berkutat pada hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dan cenderung mengulang-ulang apa yang sudah pernah dilakukan pada waktu sebelumnya. Pemimpin seperti ini, yang bekerja tanpa visi kuat, tetapi dengan gaya yang sedikit keras dan "rada tengil", banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi jangan heran, di zaman modern sekarang ini, banyak juga pemimpin yang percaya tahayul dan perdukunan. Ini sebenarnya pernah dicacat Mochtar Lubis di sekitar tahun 70-an yang disebutnya sebagai ciri manusia Indonesia yang tidak saja munafik (hipokrit), juga percaya tahyul.
Hati-hati, kalau di organisasi modern seperti Bank Indonesia, banyak juga orang yang percaya tahyul dan dukun, sehingga orang yang sebelumnya setengah intelektual (educated), tidak jarang terjerumus juga ke lembah praktek perdukunan seperti ini.
Jadi, sekali lagi, jangan lupa, pemimpin adalah orang yang memiliki kompetensi teruji, selalu menggunakan akal sehat, dan mempunyai visi ke depan yang luas (forward looking).
Terakhir, pemimpin modern, selalu menampilkan ketegasan dan kelembutan. Kita banyak melihat pemimpin yang memiliki visi kuat, tetapi kurang menghargai manusia. Ini sejelek-jeleknya pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dihormati, dihargai, di-respek, karena kehebatannnya. Tetapi sekaligus dicintai dan dirindui karena penghargaannya yang tinggi kepada orang lain. Pemimpin, bukan orang yang berjarak puluhan atau ratusan kilometer dari orang yang dipimpin. Pemimpin, hanya berjarak satu meter, atau satu lembar kertas saja dengan orang yang dipimpin, atau anak buahnya. Karena itu, semuanya perlu memberikan respek kepada siapapun, apakah ke atasan, atau ke bawahan, kepada orang yang lebih tua, atau kepada seorang yang lebih muda. Hubungan-hubungan seperti ini yang akan membuat suatu organisasi menjadi hebat (great) dan saling trusted yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja organisasi.
Kitapun mempunyai peran untuk membangun organisasi kita, apakah sebagai pemimpin, atau sebagai orang yang dipimpin. Bekerja, disamping memberikan kontribusi kepada lembaga atau organisasi, juga memberikan respek kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Itulah yang membuat diri kita menjadi terhormat dan dihargai.
Wednesday, 22 May 2013
Pedagang Cina Glodok
toto zurianto
5/20/2013
Kawasan Kota, termasuk wilayah Glodok, sejak zaman Belanda telah menjadi pusat usaha dan pemukiman pengusaha etnis Tionghoa di Jakarta. Saat ini lokasi utama pedagang Glodok meliputi; Glodok Jaya (Hayam Wuruk), Glodok Plaza (Harco), Pinangsia, dan Glodok City. Masing-masing lokasi, biasanya memiliki spesialisasi barang dagangan tersendiri, apakah elektronik, AC dan alat pendingin, Gen Set (generator electric), perlengkapan rumah tangga, mesin-mesin, dan lain-lain.
Kawasan ini sudah hadir sejak zaman Belanda dan dirintis oleh generasi pertama penguasa Tionghoa yang menjalankan usahanya secara sangat sederhana melalui kerja keras yang djalankan bertahun-tahun dalam ikatan kekeluargaan yang ketat.
Bisnis Cina Glodok, atau pengusaha etnis Tionghoa kawasan Glodok, bahkan sampai saat sekarang, yang kini mulai dijalankan oleh generasi Ketiga, atau cucu dari para pendiri, umumnya tetap sebagai usaha bisnis tradisionil, tetapi dengan omset yang bisa sangat besar. Beberapa ciri dasar yang bisa kita temui antara lain, masih sangat banyak diantara mereka yang bekerja atas dasar kepercayaan dan hubungan kekeluargaan yang tinggi. Sentuhan modern memang sudah biasa ditemui di kawasan Glodok, tetapi cara mereka bekerja sungguhnya sangatlah tradisionil. Dimulai dari toko-toko kecil yang dilayani oleh para anggota keluarga tidak banyak yang didukung oleh kaum profesional yang bukan keluarga.
Lalu secara umum, pebisnis kawasan ini umumnya mengandalkan aspek kekeluargaan dan kejujuran yang luar biasa. Tidak jarang, bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui, bagaimana kegiatan pinjam-meminjam uang diantara mereka bisa berlangsung dalam hitungan detik atau menit untuk transaksi pinjaman yang mencapai nilai ratusan juta Rupiah. Tidak ada perjanjian hukum yang dibuat, apalagi alat analisis seperti yang dilakukan oleh pihak perbankan (modern), bahkan sering tanpa kejelasan dan dukungan barang jaminan. Semua perjanjian hanya ditulis tangan pada kertas bekas yang memperlihatkan jumlah uang yang dipinjam beserta tanda tangan peminjam. Tidak ada kata-kata janji atau bea materai, semuanya adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk kemudahan yang luar biasa.
Kepercayaan adalah nilai utama yang berlaku umum di kawasan Glodok yang secara umum, seluruh pengusaha atau pedagang pada masing-masing kawasan, sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan asal muasal orang tua dan kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tetapi bagi orang-orang yang dinilai telah melanggar aturan umum yang mereka jalankan, secara mudah, menjalankan hukuman sosial yang sangat berat sehingga terpaksa harus angkat kaki dari kawasan tersebut.
Dengan cara seperti itu, banyak konglomerat Indonesia yang ternyata awalnya memulai usahanya secara tradisionil dan kekeluargaan dari kawasan Glodok ini. Bahkan beberapa perusahaan modern Indonesia adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menjalankan usaha secara kekeluargaan dan tradisionil, seperti yang kini mulai hadir sebagai supermarket bisnis keperluan rumah dan kantor secara modern, seperti; Ace Hardware, PT Kawan Lama, atau Kenari Jaya yang kini menjadi raja Kunci di Indonesia.
Beberapa keluarga ternama juga mengawali karirnya di kawasan ini, seperti Mochtar Riady, Liem Sioe Liong, termasuk keluarga Haji Achmad Bakrie. Kita tidak tahu bagaimana kawasan Glodok di masa akan datang. Hanya saja yang selalu dipertahankan oleh pebisnis Cina dari kawasan Glodok adalah untuk selalu bekerja keras dan mempertahankan kejujuran, serta sikap hidup hemat (efisien) yang selalu tidak ingin berlebih-lebihan.
5/20/2013
Kawasan Kota, termasuk wilayah Glodok, sejak zaman Belanda telah menjadi pusat usaha dan pemukiman pengusaha etnis Tionghoa di Jakarta. Saat ini lokasi utama pedagang Glodok meliputi; Glodok Jaya (Hayam Wuruk), Glodok Plaza (Harco), Pinangsia, dan Glodok City. Masing-masing lokasi, biasanya memiliki spesialisasi barang dagangan tersendiri, apakah elektronik, AC dan alat pendingin, Gen Set (generator electric), perlengkapan rumah tangga, mesin-mesin, dan lain-lain.
Kawasan ini sudah hadir sejak zaman Belanda dan dirintis oleh generasi pertama penguasa Tionghoa yang menjalankan usahanya secara sangat sederhana melalui kerja keras yang djalankan bertahun-tahun dalam ikatan kekeluargaan yang ketat.
Bisnis Cina Glodok, atau pengusaha etnis Tionghoa kawasan Glodok, bahkan sampai saat sekarang, yang kini mulai dijalankan oleh generasi Ketiga, atau cucu dari para pendiri, umumnya tetap sebagai usaha bisnis tradisionil, tetapi dengan omset yang bisa sangat besar. Beberapa ciri dasar yang bisa kita temui antara lain, masih sangat banyak diantara mereka yang bekerja atas dasar kepercayaan dan hubungan kekeluargaan yang tinggi. Sentuhan modern memang sudah biasa ditemui di kawasan Glodok, tetapi cara mereka bekerja sungguhnya sangatlah tradisionil. Dimulai dari toko-toko kecil yang dilayani oleh para anggota keluarga tidak banyak yang didukung oleh kaum profesional yang bukan keluarga.
Lalu secara umum, pebisnis kawasan ini umumnya mengandalkan aspek kekeluargaan dan kejujuran yang luar biasa. Tidak jarang, bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui, bagaimana kegiatan pinjam-meminjam uang diantara mereka bisa berlangsung dalam hitungan detik atau menit untuk transaksi pinjaman yang mencapai nilai ratusan juta Rupiah. Tidak ada perjanjian hukum yang dibuat, apalagi alat analisis seperti yang dilakukan oleh pihak perbankan (modern), bahkan sering tanpa kejelasan dan dukungan barang jaminan. Semua perjanjian hanya ditulis tangan pada kertas bekas yang memperlihatkan jumlah uang yang dipinjam beserta tanda tangan peminjam. Tidak ada kata-kata janji atau bea materai, semuanya adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk kemudahan yang luar biasa.
Kepercayaan adalah nilai utama yang berlaku umum di kawasan Glodok yang secara umum, seluruh pengusaha atau pedagang pada masing-masing kawasan, sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan asal muasal orang tua dan kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tetapi bagi orang-orang yang dinilai telah melanggar aturan umum yang mereka jalankan, secara mudah, menjalankan hukuman sosial yang sangat berat sehingga terpaksa harus angkat kaki dari kawasan tersebut.
Dengan cara seperti itu, banyak konglomerat Indonesia yang ternyata awalnya memulai usahanya secara tradisionil dan kekeluargaan dari kawasan Glodok ini. Bahkan beberapa perusahaan modern Indonesia adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menjalankan usaha secara kekeluargaan dan tradisionil, seperti yang kini mulai hadir sebagai supermarket bisnis keperluan rumah dan kantor secara modern, seperti; Ace Hardware, PT Kawan Lama, atau Kenari Jaya yang kini menjadi raja Kunci di Indonesia.
Beberapa keluarga ternama juga mengawali karirnya di kawasan ini, seperti Mochtar Riady, Liem Sioe Liong, termasuk keluarga Haji Achmad Bakrie. Kita tidak tahu bagaimana kawasan Glodok di masa akan datang. Hanya saja yang selalu dipertahankan oleh pebisnis Cina dari kawasan Glodok adalah untuk selalu bekerja keras dan mempertahankan kejujuran, serta sikap hidup hemat (efisien) yang selalu tidak ingin berlebih-lebihan.
Tuesday, 7 May 2013
Mulailah tidak melakukan hal-hal yang tidak Perlu
toto zurianto
Kebanyakan kita terlalu asyik memikirkan hal-hal yang akan dilakukan besok. Kita, terutama para manajer dan eksekutif, semuanya mempunyai Agenda Esok, atau suatu "To Do List". Bahkan tidak sedikit dari kita yang hobby-nya mengutak-atik jadwal (work-plan) dari hari ke hari. Keadaan ini, tidak jarang mewarnai kehidupan kita yang membuat kita gelisah apabila tidak mempunyai pekerjaan lagi
Kebanyakan kita terlalu asyik memikirkan hal-hal yang akan dilakukan besok. Kita, terutama para manajer dan eksekutif, semuanya mempunyai Agenda Esok, atau suatu "To Do List". Bahkan tidak sedikit dari kita yang hobby-nya mengutak-atik jadwal (work-plan) dari hari ke hari. Keadaan ini, tidak jarang mewarnai kehidupan kita yang membuat kita gelisah apabila tidak mempunyai pekerjaan lagi
Tentu saja mengatur plan adalah hal yang baik. Tetapi, perlu pula sekali-sekali kita mempunyai "Rencana untuk tidak mengerjakan banyak hal". Kita perlu mempunyai suatu "Stop Doing List" yang berisi rencana-rencana untuk tidak mengerjakan banyak hal. Tidak sedikit aktivitas sehari-hari yang dikerjakan karena sudah kita lakukan berulang-ulang sejak dulu. Sering sebenarnya kegiatan itu tidak ada kaitannya dengan upaya kita untuk mewujudkan sasaran yang akan dicapai.
Oleh karena itu, perlu sejak hari ini kita perlu mulai meninggalkan hal-hal yang sebenarnya kurang relevant dengan upaya untuk mencapai suatu target tertentu. Kita perlu memiliki prioritas, yaitu hanya atas sesuatu yang memberikan value added.
High Performance Organization
toto zurianto
Menciptakan organisasi berkinerja tinggi, jelas sangat ditentukan oleh SDM yang menjalankan organisasi itu, terutama pada level pemimpin utamanya (CEO dan Direksi, serta para Top Management). Bagaimana cara kita mendapatkan orang-orang yang "akan" berkinerja tinggi? Kita harus mengawalinya dengan pelaksanaan seleksi (recruitment) mendapatkannya. Masih banyak pemimpin yang kurang menaruh perhatian pada program recruitment yang dilakukan. Bahkan sering pula melakukan kompromi tanpa diikuti tanggung jawab yang sepadan. Apalagi kegagalan untuk mendapatkan pegawai yang jempolan, tidak terlalu harus dipertanggung-jawabkan.
Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan sebelum proses recruitment untuk mendapatkan Superior People. Pertama, kita perlu mendefiniskan apa yang kita maksudkan sebagai Superior People. Kalau kita belum sepakat mengenai superior people, tidak mungkin kita bisa mendapatkan orang yang superior seperti yang kita kehendaki.
Kedua, ketika kita hendak mendapatkan orang yang superior (superior people), maka kita perlu sepakat mengenai kinerja yang superior. Secara praktis, fungsi kinerja tidak semata-mata kompetensi (skill and behavior), tetapi yang lebih penting menyangkut result yang mampu dipersempahkan.
Ketiga, kalau kita sudah paham tentang kinerja yang superior, maka kita perlu segera mendapatkan orang-orang yang tidak saja kompeten, tetapi sekaligus memiliki motivasi kuat untuk maju.
Menciptakan organisasi berkinerja tinggi, jelas sangat ditentukan oleh SDM yang menjalankan organisasi itu, terutama pada level pemimpin utamanya (CEO dan Direksi, serta para Top Management). Bagaimana cara kita mendapatkan orang-orang yang "akan" berkinerja tinggi? Kita harus mengawalinya dengan pelaksanaan seleksi (recruitment) mendapatkannya. Masih banyak pemimpin yang kurang menaruh perhatian pada program recruitment yang dilakukan. Bahkan sering pula melakukan kompromi tanpa diikuti tanggung jawab yang sepadan. Apalagi kegagalan untuk mendapatkan pegawai yang jempolan, tidak terlalu harus dipertanggung-jawabkan.
Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan sebelum proses recruitment untuk mendapatkan Superior People. Pertama, kita perlu mendefiniskan apa yang kita maksudkan sebagai Superior People. Kalau kita belum sepakat mengenai superior people, tidak mungkin kita bisa mendapatkan orang yang superior seperti yang kita kehendaki.
Kedua, ketika kita hendak mendapatkan orang yang superior (superior people), maka kita perlu sepakat mengenai kinerja yang superior. Secara praktis, fungsi kinerja tidak semata-mata kompetensi (skill and behavior), tetapi yang lebih penting menyangkut result yang mampu dipersempahkan.
Ketiga, kalau kita sudah paham tentang kinerja yang superior, maka kita perlu segera mendapatkan orang-orang yang tidak saja kompeten, tetapi sekaligus memiliki motivasi kuat untuk maju.
Kepemimpinan, Perlu memperhatikan Kepentingan Nasional
toto zurianto
Kepemimpinan seperti apa yang diharapkan muncul di Indonesia
dalam rangka membangun masyakat dan bangsa Indonesia dewasa ini? Secara
universal, tentu saja, pemimpin yang visioner, mampu mewujudkan objektifnya,
dan tegas terhadap praktek KKN.
Tetapi disamping itu, ada beberapa situasi yang selalu harus
dipertimbangkan yang kini menjadi tuntutan masyarakat dunia, yaitu; terciptanya
iklim demokrasi di bidang politik dan ekonomi, keterbukaan (transparency),
pengaruh teknologi dan sistem informasi yang bergerak cepat, kesadaran akan lingkungan
yang sehat dan sustain (green economy), dan adanya batas-batas negara yang
semakin tidak terlihat (borderless world). Lalu di dalam negeri, Pemimpin
nasional dituntut menjaga setiap transaksi ekonomi Indonesia, jangan sampai
tidak memperhatikan kepentingan nasional kita (national interest).
Perwujudan dari upaya memperhatikan kepentingan nasional
tidak diartikan bahwa Indonesia akan menjalankan sistem ekonomi yang lebih
tertutup, tetapi berusaha secara fair menjadi bagian dari masyarakat
internasional yang sekaligus menjaga keseimbangan agar setiap transaksi ekonomi
yang ada di Indonesia, atau melibatkan sumber daya nasional Indonesia, mampu
memberikan stimulasi ekonomi kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pemimpin nasional perlu memperhatikan bahwa setiap aktivitas
ekonomi Indonesia, mutlak tidak membuat masyarakat Indonesia menjadi tetap
sengsara dan tidak terangkat kesejahteraannya.
Aktivitas atau transaksi ekonomi
di Indonesia sepatutnya selalu mampu membantu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, sekaligus dapat menjaga kekayaan sumber daya alam Indonesia secara
baik dan sustain.
Wednesday, 3 April 2013
Memimpin; Memahami dan Berbuat sesuatu yang lebih baik
toto zurianto
Memimpin sebuah organisasi, lembaga pemerintah, bagian kecil dari suatu institusi, atau sekedar kelompok pengajian atau diskusi kecil di perkampungan, esensiya sama. Selalu berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang berbeda dari yang selama ini dijalankan, atau pelakuka terobosan untuk menciptakan hasil terbaik yang diakui lingkungannya dan masyarakat.
Karena itu, memimpin tidaklah mudah. Kita dituntut untuk memberi perbedaan dari suatu keadaan tertentu. Banyak hal yang dipersiapkan. Kita perlu terlebih dahulu memahami resources dan potensi memungkinkan yang secara maksimal bisa kita dapatkan. Orang orang yang ada di bawah kendali atau kekuasaan kita, haruslah kita pahami secara mendalam, bagaimana potensinya secara individual, cara kerjanya, atau style dan mungkin kekurangannnya perlu pula kita antisipasi.
Inilah proses awal yang dilakukan secara serius. Tidak pernah hanya sekedar tahu. Lakukan assessment sederhana, atau bisa juga menggunakan cara yang lebih ilmiah. Tapi intinya, kita perlu memahami segala hal secara maksimal yang bisa kita dapatkan dari team member kita.
Memimpin sebuah organisasi, lembaga pemerintah, bagian kecil dari suatu institusi, atau sekedar kelompok pengajian atau diskusi kecil di perkampungan, esensiya sama. Selalu berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang berbeda dari yang selama ini dijalankan, atau pelakuka terobosan untuk menciptakan hasil terbaik yang diakui lingkungannya dan masyarakat.
Karena itu, memimpin tidaklah mudah. Kita dituntut untuk memberi perbedaan dari suatu keadaan tertentu. Banyak hal yang dipersiapkan. Kita perlu terlebih dahulu memahami resources dan potensi memungkinkan yang secara maksimal bisa kita dapatkan. Orang orang yang ada di bawah kendali atau kekuasaan kita, haruslah kita pahami secara mendalam, bagaimana potensinya secara individual, cara kerjanya, atau style dan mungkin kekurangannnya perlu pula kita antisipasi.
Inilah proses awal yang dilakukan secara serius. Tidak pernah hanya sekedar tahu. Lakukan assessment sederhana, atau bisa juga menggunakan cara yang lebih ilmiah. Tapi intinya, kita perlu memahami segala hal secara maksimal yang bisa kita dapatkan dari team member kita.
Tuesday, 25 December 2012
Menjelang akhir 2012
toto zurianto
Beberapa hari lagi kita meninggalkan 2012, banyak yang belum diselesaikan. Semoga 2013 lebih baik dan memberikan tantangan yang terselesaikan.
Beberapa hari lagi kita meninggalkan 2012, banyak yang belum diselesaikan. Semoga 2013 lebih baik dan memberikan tantangan yang terselesaikan.
Wednesday, 12 September 2012
Memimpin dengan "courage"
toto zurianto
Yang tertinggal dari puasa Ramadhan dan Lebaran bulan lalu, antara lain persoalan pulang ke kampung. Memang menyenangkan ketika kita bisa bersua kembali dengan
sanak keluarga handai tolan. Bukan untuk pamer "keberhasilan", tetapi sudah
menjadi panggilan hati dan tradisi masyarakat kita yang mencintai kebersamaan,
guyub sambil bersyukur, masih bisa menikmati suasana "kampung" yang semakin
dirindukan.
Tetapi, mudik memiliki tantangan yang hebat. Bukan sekedar biayanya, atau
usaha yang harus didukung oleh kondisi fisik yang prima. Mudik, selalu memiliki
risiko tinggi, bahkan sampai harus kehilangan nyawa.
Lihat saja, sampai dengan H+7, lebih dari 800 nyawa melayang dari berbagai bentuk
kecelakaan.
Karena itu, tidaklah mengherankan, betapa besarnya tuntutan masyarakat yang dialamatkan ke pemerintah untuk memperhatikan isu itu. Manajemen mudik sangat mendesak untuk diperbaiki. Tidak sekedar menyediakan armada yang cukup, tetapi
harus bisa dijalani secara aman dan dalam waktu yang normal. Mudik 30 jam, harus
menjadi perhatian pemerintah untuk tidak diulangi kembali di waktu yang akan datang.
Apalagi kalau harus mengenderai motor yang ditumpangi 2 sampai 4 orang (termasuk
anak-anak).
Pemimpin bangsa ini perlu melakukan tindakan yang lebih konseptual untuk
menciptakan manajemen mudik yang cepat dan aman tanpa korban jiwa yang
sia-sia. Salah satu moda transportasi yang tahun ini dinilai telah memberikan pelayanan yang baik
adalah mudik melalui Keretaapi. Meskipun banyak pihak yang menentang keputusan
manajemen kereta api (KAI) yang mewajibkan penumpangnya memiliki tiket kereta bertempat
duduk yang sah (sesuai nama di KTP), mereka tidak bergeming. Keputusan terbaik
harus dilakukan secara berani dan konsisten. Akibatnya sungguh luar biasa.
Penumpang keretaapi akhirnya mampu menikmati perjalanan mudik dengan kereta api
secara nyaman dan tepat waktu. Termasuk kereta api kelas ekonomi yang selama ini
sungguh sangat tidak manusiawi.
Ini adalah keputusan kepemimpinan (leadership decision) yang tidak mudah
dilakukan. Selalu ada godaan untuk tidak konsisten. Tetapi Manajemen Kereta Api
memiliki tekad kuat untuk menjaga keputusannya sehingga menjadi kredibel. Kita perlu mendukung keputusan ini. Tidak mudah pastinya. Selalu ada
tekanan untuk melakukan tindakan yang tidak konsisten. Tetapi, sekali kita konsisten dan kuat membela keputusan yang sudah dibahas pada forum yang kompeten, maka sangat mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik. Ini menjadi tantangan pemerintah kita dan para pelayan dan birokrat. Semoga semakin banyak yang mampu memberikan pelayanan terbaiknya tanpa harus melakukan praktek korupsi dan nepotisme.
Siluman Indonesia
toto zurianto
Ini salah satu pencapaian luar biasa putra-putri Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia meluncurkan sebuah Kapal Cepat Rudal (KCR) brand new yang disebut KRI Klewang di galangan kapal
milik PT Lundin Industry Invest di Pantai cacalan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa
Timur.
Kapal perang sepanjang 63 meter berwajah siluman tersebut,
tercatat sebagai salah satu kapal perang paling canggih yang dimiliki TNI
Angkatan laut dengan sudut depan lancip, berlunas tiga (trimaran) dibuat dengan
bahan dasar infus vinylester karbon fiber yang ringan dan mampu menginduksi
panas sehingga sulit terdeteksi radar. Sepintas, kapal ini sangat mirip dengan
pesawat tempur Amerika tercanggih Siluman (stealth) yang juga tidak terdeteksi
oleh radar.
Ada momen luar biasa dari hadirnya kapal canggih ini, yaitu,
kemampuan teknologi kita yang semakin tinggi dan rasa percaya diri untuk
melakukan perubahan radikal. Tidak mudah meyakinkan pemimpin kita, bahwa, kalau
mau, kitapun bisa melakukan banyak hal seperti membuat kapal atau pesawat
canggih dan modern.
Ini menjadi pencapaian luar biasa seperti yang pernah kita
lakukan ketika pertama kali membuat CN-235 dan kemudian yang lebih canggih dan
modern N-250 yang akhirnya nasibnya belum ketahuan sampai sekarang (konon akan dibangun dan dikembangkan kembali menjadi N-2130)
Teknologi adalah salah satu ukuran pencapaian luar biasa
dari suatu negara apabila dia mau mencapai suatu posisi tertentu yang diakui
negara lain. Teknologi akan membuat suatu masyarakat (dan bangsa), mampu
mencapai tahap kemajuan yang luar biasa. Itu juga sebagai implementasi dari berkembangnya
ilmu pengetahuan dan peradaban.
Kita, bangsa Indonesia, saat ini, belumlah mencapai tahap
yang kita idam-idamkan. Masyarakat kita, secara umum, belum dibangun melalui
semangat pengetahuan dan teknologi. Kita, terutama, masih banyak hanya mengandalkan
kekayaan alam dan perdagangan yang nilai tambahnya tidak terlalu maksimal. Ini
adalah tantangan pemimpin. Kini dan di masa depan, secara pasti dan terarah,
kepemimpinan nasional kita harus mampu membulatkan keinginan dan tekadnya untuk
melakukan langkah yang lebih strategis yang melahirkan value added tinggi bagi
masyarakat keseluruhan. Secara potensi,
sama sepeti bangsa-bangsa lain didunia ini, kitapun memiliki SDM yang baik
untuk memainkan peran yang lebih strategis. Kita memiliki banyak insinyur dan
teknokrat untuk menciptakan teknologi terbaik dalam berbagai bidang dan area.
“Ilmu Pengetahuan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah
dunia”, demikan kata Nelson Mandela, tokoh dunia dari Afrika Selatan.
Monday, 21 May 2012
Memahami Kembali "Teori Kompetisi" Michael E. Porter
toto zurianto
Bagi mahasiswa MBA atau Sekolah Bisnis S1 tahun 1980-an
sampai dengan akhir 1990-an, nama Michael E. Porter atau Porter saja, sungguh
sangat tidak asing. Semua dosen dan mahasiswa terpesona untuk bermain pada
pendekatan bisnis yang dikemukakannya. Salah satu yang paling penting adalah
tentang Competition and Strategy dan Competitive Advantage yang diurainya
melalui framework 5 Forces Strategy dan Value Chain.
Michael Porter memberikan pemahaman operasional mengenai
strategi bisnis ketika harus berhadapan dengan perusahaan lain atau pasar
global. Tidak hanya bisnis swasta, tetapi termasuk pula bisnis non profit dan
mengukur kapasitas suatu negara untuk bersaing di pasar internasional
Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengunjungi toko buku
Periplus di Plaza Indonesia, ada satu buku menarik yang menggota saya untuk
memiliki dan membacanya. Buku yang ditulis Joan Magretta, Senior Associate di
Porter’s Institute Harvard Business School,
yang sebelumnya selama 20 tahun pernah bekerja bersama Porter dalam
studi Competitive Strategy, memberikan kesempatan kepada kita, baik yang pernah
membaca atau menyukai tulisan Porter, maupun para generasi muda yang berkeinginan
untuk mengetahui uraian Porter secara lebih dalam.
Kita perlu mengetahui strategi kompetisi ini, tidak peduli
latar belakang kita, apakah sebagai scholar (peneliti dan pengajar) sekolah
bisnis di perguruan tinggi atau sebagai
praktisi yang sehari-hari mengendalikan perusahaan/organisasi untuk bertahan
dan mencoba melakukan penetrasi di pasar nasional dan global.
Untuk memenangkan persaingan misalnya, selalu kita perlu
melakukan analisis struktur industri dan kekuatan-kekuatan yang ada di
sekeliling kita, seperti kekuatan/potensi pemasok (bargaining power odf
suppliers), kemampuan tawar para pembeli (bargaining power of buyers), tantangan
pesaing baru yang selalu mencoba untuk bersaing (threat of new entrants),
produk dan jasa alternatif yang bisa menjadi pengganti (threat of substitute
products or services), dan kedahsyatan tingkat persaingan di antara
perusahaan-perusahaan yang kini sudah ada di pasar (rivalry among existing
competitiors).
Analisis framework ini akan menjelaskan harga dan biaya
rata-rata produk atau jasa pada industri tertentu yang memperkaya keputusan
kita apakah akan bersaing atau harus melakukan strategi lain. Termasuk apakah
kita mampu melakukan positioning untuk memenangkan pasar.
Pada pendekatan yang lain, Porter juga memaksa kita untuk
terus menerus melakukan kajian terhadap strategi value-chain untuk membantu
kita memenangi persaingan. Tidak ada perusahaan atau negara yang bisa bekerja
sendiri dan menjadi efisien atau memenangi persaingan tanpa melibatkan rantai
ikat yang saling berhubungan. Perusahaan perlu melihat industri lain yang bisa
menunjang daya kompetisinya, serta sekaligus sebagai pemasok bagi perusahaan
lain yang menyebabkan daya tawar kita menjadi diperhitungkan dan kuat.
Mungkin bagi sebagian kita, pendekatan Porter ini terasa
sudah mulai hambar. Tetapi Joan Margretta telah memberikan pemahaman lebih
praktis bagi kita mengenai kompetisi dan
strategi memenangi persaingan.
Buku setebal 236 halaman + xi ini terdiri atas 2 bagian, Pertama mengenai kompetisi (what is
competition), antara lain berbicara tentang pemahaman benar (baru) mengenai
strategi yang bagi Porter haruslah menghasilkan “sustainably superior
performance”. Mind-set yang benar itu haruslah melahirkan kinerja terbaik. Hal
lain yang juga dibahas pada bagian pertama mengenai Five Forces Framework dan
Value Chain yang disajikan secara lebih mudah.
Bagian Kedua mengenai
strategi yang harus dilakukan (what is strategy) untuk menang, atau bagaimana
selalu menghadirkan superior performance yang sustain. Penting untuk
mengedepankan value proposition, yaitu elemen strategi yang selalu dikendalikan
dari luar, atau eksternalitas, bukan atas potensi internal. Para pelanggan
(customers)atau stakeholders harus menjadi fokus perhatian, jangan sampai
prusahaan gagal memenuhi ekspektasinya.
Secara keseluruhan menurut saya, buku ini enak untuk
dinikmati, terutama karena kita tidak memerlukan waktu khusus seperti ketika
kita membaca buku Porter yang terlalu tebal. Buku ini terlihat sederhana,
tetapi tetap memuat kerangka analisis yang tajam.
Wednesday, 16 May 2012
Bengkulu
toto zurianto
Bengkulu, salah satu Propinsi yang usianya sudah cukup lama. Potensinya sebenarnya sangat menjanjikan, bukan saja pertambangan dan perkebunan yang memang menjadi unggulan, tetapi tidak bisa disangkal adalah potensi wisatanya. Alam Bengkulu, khususnya kota Bengkulu yang menjadi ibukota propinsi itu, sungguh sangat menjanjikan. Pantai Panjang yang bersih dan memutih, saat ini belumlah dieksplorasi secara serius. Kini waktunya bagi masyarakat Bengkulu, tentu bagi pemerintah kota dan pemerintah propinsi, termasuk para intrepreneur dan pengusaha, untuk merancang pengembangan wisata di kota itu.
Apalagi di kota itu terdapat Benteng peninggalan Inggris Malborough yang sampai saat ini cukup terawat dengan baik, rumah tempat tinggal Soekarno ketika menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, dan kuliner laut yang tidak kalah untuk dikembangkan.
Pantai Panjang yang memutih dan indah!
.
Bengkulu, salah satu Propinsi yang usianya sudah cukup lama. Potensinya sebenarnya sangat menjanjikan, bukan saja pertambangan dan perkebunan yang memang menjadi unggulan, tetapi tidak bisa disangkal adalah potensi wisatanya. Alam Bengkulu, khususnya kota Bengkulu yang menjadi ibukota propinsi itu, sungguh sangat menjanjikan. Pantai Panjang yang bersih dan memutih, saat ini belumlah dieksplorasi secara serius. Kini waktunya bagi masyarakat Bengkulu, tentu bagi pemerintah kota dan pemerintah propinsi, termasuk para intrepreneur dan pengusaha, untuk merancang pengembangan wisata di kota itu.
Apalagi di kota itu terdapat Benteng peninggalan Inggris Malborough yang sampai saat ini cukup terawat dengan baik, rumah tempat tinggal Soekarno ketika menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, dan kuliner laut yang tidak kalah untuk dikembangkan.
Pantai Panjang yang memutih dan indah!
.
Wednesday, 28 March 2012
Swedia - Menuju Less Cash Society
toto zurianto
Swedia adalah salah satu negara yang pertama-tama menggunakan uang (koin), yaitu sekitar tahun 1661. Tapi sekarang, mereka berusaha untuk menjadi sangat less cash, mencoba untuk lebih cashless society. Salah seorang pentolan ABBA, pop group Swedia terkenal tahun 70-an yang juga sangat terkenal di Indonesia, antara lain dengan lagu Fernando, I do I do I do, Chiquititta, kini menjadi duta kampanye masyarakat tanpa koin atau uang kertas. “I can’t see why we should be printing bank notes at all anymore” katanya.
Ketika kita hidup pada era teknologi dan sistem informasi tinggi yang serba digital dewasa ini, penggunaan koin dan bill tentu saja menjadi sangat frustrasi. Sesuatunya menjadi serba lambat, tidak praktis, menimbulkan risiko, bahkan mendukung semakin banyaknya korupsi karena transaksinya menjadi lebih sulit untuk dilacak.
Kini di Swedia, kitapun perlu belajar ke sana, semakin banyak fasilitas umum yang sama sekali tidak mau menerima uang kas. Di banyak kota, sistem transportasi semakin banyak yang tidak menerima pembayaran tunai. Semua hal yang berhubungan dengan pembayaran, apakah pembelian karcis atau tiket, kedai kopi dan majalah, parkir, harus melalui non cash yang dilakukan secara mudah. Tidak hanya uang electronic, tetapi termasuk juga transaksi dengan bantuan cell phone message (SMS). Banyak bank yang tidak lagi menerima pembayaran/setoran dalam bentuk tunai.
Orang-orang yang biasanya sangat mencintai transaksi tunai semakin terdesak. Bahkan lembaga sosial semacam panti asuhan atau lembaga pendidikan, semakin banyak yang menyediakan fasilitas sumbangan secara non tunai. Penumbang atau penerima sumbangan sama-sama menyediakan fasilitas pembayaran non tunai. Jadi, di gereja, misalnya yang terjadi di Carl Gustaf Chuch Karlshamn, sebelah selatan Swedia, baru-baru ini mereka telah meng-instal pelayanan card reader yang akan memudahkan jamaah (worshippers) untuk memberikan sumbangan.
Menurut BIS, kini penggunaan uang kertas dan koin hanya sekitar 3 persen dari seluruh transaksi perekonomian di Swedia, bandingkan dengan rata-rata Eropa sekitar 9 persen dan 7 persen di Amerika. Mereka terus berusaha untuk mengecilkan angka itu, menjadi sekitar 1 persen saja.
Hemat dan Semakin Praktis
Sebuah perusahaan internet Swedia iZettel saat ini sedang mengembangkan sebuah perangkat teknologi sederhana bagi pengguna transaksi nilai kecil. Mirip dengan Square yang sudah dikembangkan di Amerika Serikat, alat ini akan mudah digunakan, sambungkan saja (just plug) ke iPhone atau mobile phone lain, dia akan sangat mudah untuk berfungsi sama seperti terminal kartu kredit yang ada di merchant saat ini. Nanti hal ini akan memudahkan siapa saja untuk melakukan transaksi uang secara mudah secara real time melalui mobile phone (HP).
Mungkin tidak perlu harus menghilangkan coin atau bill sama sekali, tetapi perannya menjadi sangat kecil dengan perkembangan teknologi ke depan.
Mantan Gubernur Bank Sentral Swedia, Lars Nyberg bebrapa waktu yang lalu mengatakan, “uang kertas atau uang logam tentu saja tetap bisa bertahan (survive), tetapi, sama seperti buaya yang nantinya hanya bisa kita lihat di tempat-tempat tertentu pada habitatnya”.
Sebuah fasilitas olah raga bowling di sana, sejak beberapa waktu yang lalu menutuskan untuk tidak menerima pembayaran cash, baik koin maupun kertas. Andrea Wramfelt, pemilik sarana bowling itu percaya, hanya dalam 20 tahun ke depan, koin dan uang kertas akan hilang di Swedia.
Semakin mengecilnya jumlah uang kertas dan koin yang beredar, juga secara siknifikan berpengaruh kepada angka kriminal yang semakin menurun. Perampokan bank yang cukup hebat di sana sepanjang tahun 2008 yang mencapai 110 kasus, tahun lalu (2011), turun hingga hanya 16 kasus. Termasuk semakin sedikitnya transaksi ekonomi ilegal, penyembunyian pajak, dan praktek korupsi yang biasanya lebih banyak didukung oleh uang kertas dan koin untuk menghilangkan jejak (trail) money laundring.
Itali, negara yang banyak menjalankan praktek penyembunyian pajak melalui transaksi cash, juga mulai membatasi transaksi pembayaran tunai menjadi sekitar 1,000 euro saja, sebelumnya bisa mencapai 2,500 euro.
Kapan Indonesia
Kita belum tahu kapan Indonesia kick off menuju less cash country. Bank Indonesia sendiri belum memperlihatkan minat yang kuat untuk menjalankan dan menuju less cash policy. Secara kultur, lingkungan kita sendiri masih terlalu suka dan menikmati harumnya uang kertas baru yang puluhan tahun secara ekslusif bisa dinikmati pegawai Bank Indonesia secara istimewa.
Kalau saja 50, atau 25 persen dari kegiatan pencetakan uang sekarang bisa kita kurangi, luar biasa pengaruhnya, tidak saja bagi Bank Indonesia, tetapi tentunya bagi masyarakat Indonesia. Di luar sana, luar biasa pengaruhnya bagi bangsa kita ketika kita memulai carahidup yang lebih cash less.
IKEA hadir di Indonesia
toto zurianto
Berita koran kemaren (26 Maret 2012), IKEA perusahaan dan toko atau supermarket furniture terkenal asal Swedia, segera membuka gerainya di Indonesia. Bergandengan dengan Hero Tbk, maka dalam waktu dekat masyarakat Indonesia sudah bisa mendapatkan barang-barang IKEA tanpa harus ke luar negeri.
Barang IKEA memang yahud, not the best, but affordable, very usefulness dan mudah perakitannya. Ini juga kesempatan bagi industri furniture Indonesia, mana tahu ada peluang kerjasama untuk memasarkan produk Indonesia tidak hanya di IKEA Indonesia, juga bagi konsumen manca negara.
Sebagai perusahaan Tbk, berita ini berpengaruh cukup positip pada harga saham Hero yang meningkat sekitar 8% kemaren, naik 1500 point menjadi Rp19.400 per saham.
Di samping itu, persaingan bisnis furniture, kebutuhan kantor dan rumah, juga semakin ketat. Terutama akibat masuknya berbagai perusahaan asing pada 5 tahun terakhir ini, sebut saja Ace Hardware dan Informa, serta Pongs. Tetapi tetap menjadi peluang bagi perusahaan lokal untuk merebut pasar supermarket furniture sepanjang memiliki keunggulan kualitas dan harga yang kompetitif. Apalagi masyarakat "berada" Indonesia tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk membeli furniture yang memuaskan keinginannya.
Pertanyaan selanjutnya
Apakah dengan demikian, perekonomian "kita" menjadi lebih didominasi oleh modal asing? Bagi Hero sendiri, sebagian besar gerai Supermarketnya yang pernah sangat terkenal di tahun 90-an, kini semakin sulit untuk ditemui. Di pelosok Jakarta dan kota besar lain, hampir semuanya sudah menjelma menjadi Giant yang besar dan raksasa itu.
Ini juga terjadi di bidang yang lain, tidak hanya di sektor retail yang kini dikuasai oleh retailer asing.
Ini sebuah sinyal yang perlu kita hitung untung ruginya, termasuk dalam membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat miskin, dan kekuatan perekonomian nasional terhadap tekanan dan atau pengaruh eksternal.
Bukan anti asing, tetapi koridornya perlu kita bangun sehingga ada kesamaan pandangan bagi masyarakat Indonesia untuk memahami gejala global ini. Bagaimanapun besar manfaatnya, kita perlu melihat dampak negatifnya secara jernih dan meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.
Tuesday, 13 March 2012
OJK (sedang) Mencari Pemimpin
toto zurianto
Minggu lalu panitia seleksi Pemilihan Calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan mengumumkan 38 nama yang dinilai berhak memasuki tahap seleksi selanjutnya. Diantaranya adalah nama-nama yang secara umum sudah dikenal sebagai ahli keuangan, perbankan, birokrat, dan pengamat ekonomi.
Ada juga beberapa nama yang sudah sangat senior seperti Achjar Iljas, ekonom yang pernah menjadi Deputi Gubernur di Bank Indonesia. Cukup banyak yang berasal dari Bank Indonesia, misalnya, Muliaman D Hadad, Deputi Gubernur BI saat ini, Mulya E Siregar, Endang Kassulanjari, Kusumaningtuti, Purwantari Budiman, dan Nelson Tampubolon.
Dari Kementerian Keuangan juga banyak, antara lain; Firdaus Djaelani (juga kepala Eksekutif LPS), Isa Rachmatarwata, M. Noor Rachman, Mulabasa Hutabarat, dan Nurhaida (Kepala Bapepam. Juga Mulia P Nasution, mantan Sekjen Kemenkeu.
Nama-nama terkenal lain adalah Anggito Abimanyu, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Umar Juoro (ekonom, Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia), Junus Husein (mantan Kepala PPATK), Erry Firmansyah (mantan Direktur BEJ), Chandra M Hamzah (mantan KPK). Cukup banyak juga yang berasal dari kalangan perbankan seperti I Wayan Agus Mertayasa (mantan Direktur Bank Mandiri) dan Peter B. Stok (Komisaris BNI).
38 nama-nama yang akan mengikuti tes kesehatan adalah hasil dari seleksi kapabilitas dengan melihat profil calon yang prosesnya dilakukan oleh sebuah perusahaan assessment yang independen, yaity PT. Iradat Konsultan. Seleksi profil calon tersebut dilakukan untuk mengetahui kompetensi dan personality calon, yang antara lain menguji kapasitas kepemimpinannya (leadership), integritas dan independensinya. Juga dilihat kemampuannya dalam hal strategic thinking, stakeholders management, komunikasi, etika, fairness, sinergi, koordinasi, dankemampuannya melakukan alignment.
Pemimpin seperti apa?
Penting bagi OJK bahwa lembaga ini bukan menjalankan kegiatan yang sama sekali baru. Tetapi, sebuah organisasi baru yang memerlukan komitmen tinggi untuk menjamin kelangsungannya. Ekspektasi masyarakat terhadap OJK sangatlah tinggi. Ada kegalauan terhadap pengawasan sistem keuangan di masa lalu yang dinilai kurang maksimal dilaksanakan. Dengan berdirinya OJK, maka keinginan masyarakat adalah, terciptanya suatu lembaga keuangan yang kredibel dan dapat dipercaya. Pengawasannya diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat. Kita meyakini bahwa lembaga keuangan yang ada, diperkirakan tidak rentan terhadap goncangan.
Masyarakat tidak mau, akibat kesalahan manajemen/pemilik dalam mengelola usahanya, selanjutnya dengan alasan untuk mempertahankan keberlangsungan sistem keuangan yang ada, pemerintah dipaksa mengucurkan bantuan yang bebannya selanjutnya menjadi tanggungan masyarakat keseluruhan.
Tuntutan seperti ini yang membuat kita menjadi concern dan memantau pola rekrutmen pimpinan OJK yang sedang berjalan saat ini. Hakekatnya, kita sedang mencari pemimpin yang kredibel dan dapat dipercaya.
Pengalaman kepemimpinan para calon, atau dikenal dengan istilah track record, jelas sesuatu yang sangat penting. Track Record memberi keyakinan kepada kita bahwa kandidat telah memiliki kompetensi yang secara technical telah teruji. Kalau inti menjadi pertimbangan utama, maka calon dengan latar belakang kompetensi technical akan mendapatkan peluang yang lebih besar.
Tetapi bagi sebuah lembaga besar, ada beberapa pertimbangan lain yang juga sama pentingnya, yaitu karakter kepemimpinannya. Pemimpin yang memiliki strong character biasanya dilihat dari integritasnya.
Integritas adalah akar dan hakikat kepemimpinan. Menurut Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway, ada 3 hal penting yang diperhatikannya dalam merekrut seorang pemimpin/pegawai, yaitu integritas, inteligensia (kompetensinya), dan energinya. Hanya saja, jangan pernah menerima orang yang integritasnya diragukan meskipun dia sangat pintar (high competent people) dan memiliki energi tinggi (a high energy level). “If you don’t have the first (maksudnya Integritas), the other two will kill you” kata Buffet.
Lembaga penting sekelas OJK yang akan mengawal perjalanan lembaga keuangan kita ke depan yang secara tehnis sangat ditentukan oleh kredibilitasnya, tidak boleh ragu untuk mempertimbangkan aspek integritas sebagai suatu kriteria yang tidak tergantikan.
Tentunya di samping itu, karena dasar pendirian OJK termasuk pula untuk menciptakan lembaga pengawasan sektor keuangan yang independen, maka kita pada dasarnya sedang menari pemimpin atau Dewan Komisioner OJK yang juga memiliki karakter independen.
Kita sedang mencari pemimpin yang memiliki tujuan akhir untuk menjaga kepentingan bangsa, bukan kepentingan “kita”, bukan pula dari mana asal kita. Ini adalah perilaku (behavior) penting yang harus dimiliki oleh para pembesar OJK nantinya.
Tuesday, 28 February 2012
Rekening Gendut, bagaimana gerakan pemberantasan Korupsi
toto zurianto
Pemimpin bangsa ini tetap harus bekerja keras. Presiden khususnya, tetap harus selalu dipertanyakan komitmennya untuk memberantas korupsi. Karena ternyata, orang yang korupsi masih belum berkurang. Kasus korupsi masih tetap hebat. Reformasi Birokrasi yang sudah dimulai sejak 5 tahun yang lalu, kini semakin terlihat dingin. Tak banyak pembaharuan yang telah dilakukan. Profesionalisme pegawai negeri sebagai pelayan pemerintah, mungkin banyak yang semakin membaik. Tetapi persoalan rekening gendut, ternyata tidak memperlihatkan kemajuan.
Lebih setahun yang lalu kita dikejutkan dengan kasus Gayus yang memiliki rekening gendut dan sangat gendut. Tapi sekarang tidak banyak beritanya yang bisa kita dengar. Banyak pula dugaan korupsi yang dialamatkan kepada pejabar negara, anggota Kepolisian dan TNI.
Sekali 3 Uang, selalu tidak ada beritanya.
Kini muncul pula rekening Gendut pegawai Dirjen Pajak yang lain, Dhana Widyatmika yang diduga memiliki harta/rekening tidak kurang dari Rp60 milyar. Hebat sekali!
Dari mana uang sebesar itu, mana mungkin penerimaan gaji atau karena melakukan perjalanan dinas. Ya inilah masalah kita yang belum terselesaikan. Korupsi masih menjadi momok yang tidak terjawab. Bagaimana Komitmen penyelenggara negara. Katanya ingin memberantas korupsi, tapi koq semakin banyak?
Pemimpin bangsa ini tetap harus bekerja keras. Presiden khususnya, tetap harus selalu dipertanyakan komitmennya untuk memberantas korupsi. Karena ternyata, orang yang korupsi masih belum berkurang. Kasus korupsi masih tetap hebat. Reformasi Birokrasi yang sudah dimulai sejak 5 tahun yang lalu, kini semakin terlihat dingin. Tak banyak pembaharuan yang telah dilakukan. Profesionalisme pegawai negeri sebagai pelayan pemerintah, mungkin banyak yang semakin membaik. Tetapi persoalan rekening gendut, ternyata tidak memperlihatkan kemajuan.
Lebih setahun yang lalu kita dikejutkan dengan kasus Gayus yang memiliki rekening gendut dan sangat gendut. Tapi sekarang tidak banyak beritanya yang bisa kita dengar. Banyak pula dugaan korupsi yang dialamatkan kepada pejabar negara, anggota Kepolisian dan TNI.
Sekali 3 Uang, selalu tidak ada beritanya.
Kini muncul pula rekening Gendut pegawai Dirjen Pajak yang lain, Dhana Widyatmika yang diduga memiliki harta/rekening tidak kurang dari Rp60 milyar. Hebat sekali!
Dari mana uang sebesar itu, mana mungkin penerimaan gaji atau karena melakukan perjalanan dinas. Ya inilah masalah kita yang belum terselesaikan. Korupsi masih menjadi momok yang tidak terjawab. Bagaimana Komitmen penyelenggara negara. Katanya ingin memberantas korupsi, tapi koq semakin banyak?
Tuesday, 21 February 2012
Japan Aftershock
toto zurianto
Sebuah buku, bukan novel, lebih tepat kisah nyata atau perjalanan penulisnya yang Indonesia asli dan saat ini bermukim di Jepang. Ini adalah cerita mengenai gempa bumi dan Tsunami di Jepang (11 Maret 2011) dan berbagai kejadian setelahnya yang "mengerikan" yaitu bencana reaktor nuklir di Fukushima.
Meskipun rakyat Jepang sudah sangat terbiasa dengan gempa, tetapi situasi yang satu ini benar benar sangat menguji nyali dan kesiapan yang sebenarnya sudah sangat teruji. Dari kakek nenek sampai anak-anak usia dini sebenarnya sudah sering menghadapi gempa dan melakukan simulasi gempa di sekolah sekolah, tetapi ketika situasinya berlangsung begitu hebat, apapun bisa berpengaruh kepada cara kita memberikan respon.
Tulisan Hani Yamashita, seorang ibu rumah tangga dan Junanto Herdiawan, ekonom Bank Indonesia yang bertugas di Tokyo sungguh menarik, memberikan pelajaran, dan membuat kita lebih dalam memahami kehidupan masyarakat Jepang. Ini pelajaran baik bagi siapa juga, terutama kita bangsa Indonesia yang cukup sering menghadapi bencana yang sangat luar biasa.
Sayang, kita tidak pernah ingin bersiap-siap ketika menjalani hidup normal tanpa bencana. Lalu menjadi sangat panik saat bencana tiba yang datangnya tidak bisa diperkirakan. Bahkan untuk bencana gunung berapipun yang sinyalnya sering sudah terlihat selama berminggu-minggu, semua sering kita anggap sebagai angin lalu. "Belanda belum datang", jangan khawatir.
Mudah-mudahan tulisan buku ini memberi pelajaran untuk menyiapkan berbagai kondisi disaster yang mungkin terjadi. Tidak saja karena bencana alam, tetapi juga akibat terorisme, politik, dan krisis lainnya.
Sebuah buku, bukan novel, lebih tepat kisah nyata atau perjalanan penulisnya yang Indonesia asli dan saat ini bermukim di Jepang. Ini adalah cerita mengenai gempa bumi dan Tsunami di Jepang (11 Maret 2011) dan berbagai kejadian setelahnya yang "mengerikan" yaitu bencana reaktor nuklir di Fukushima.
Meskipun rakyat Jepang sudah sangat terbiasa dengan gempa, tetapi situasi yang satu ini benar benar sangat menguji nyali dan kesiapan yang sebenarnya sudah sangat teruji. Dari kakek nenek sampai anak-anak usia dini sebenarnya sudah sering menghadapi gempa dan melakukan simulasi gempa di sekolah sekolah, tetapi ketika situasinya berlangsung begitu hebat, apapun bisa berpengaruh kepada cara kita memberikan respon.
Tulisan Hani Yamashita, seorang ibu rumah tangga dan Junanto Herdiawan, ekonom Bank Indonesia yang bertugas di Tokyo sungguh menarik, memberikan pelajaran, dan membuat kita lebih dalam memahami kehidupan masyarakat Jepang. Ini pelajaran baik bagi siapa juga, terutama kita bangsa Indonesia yang cukup sering menghadapi bencana yang sangat luar biasa.
Sayang, kita tidak pernah ingin bersiap-siap ketika menjalani hidup normal tanpa bencana. Lalu menjadi sangat panik saat bencana tiba yang datangnya tidak bisa diperkirakan. Bahkan untuk bencana gunung berapipun yang sinyalnya sering sudah terlihat selama berminggu-minggu, semua sering kita anggap sebagai angin lalu. "Belanda belum datang", jangan khawatir.
Mudah-mudahan tulisan buku ini memberi pelajaran untuk menyiapkan berbagai kondisi disaster yang mungkin terjadi. Tidak saja karena bencana alam, tetapi juga akibat terorisme, politik, dan krisis lainnya.
Monday, 14 November 2011
Menjaga Kredibilitas OJK
toto zurianto
Selesai sudah diskusi panjang 12 tahun tentang perlu tidaknya suatu lembaga pengawasan sektor keuangan yang baru dibentuk. DPR setuju, kita segera membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terutama akan menggantikan salah satu fungsi Bank Indonesia dalam melakukan pengawasan di sektor perbankan. Juga melakukan pengawasan lembaga keuangan non bank yang selama ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK)/Bapepam Kementerian Keuangan.
Berat sekali pertarungan para pihak sebelum memutuskan berdirinya OJK, terutama antara DJLK/Bapepam dengan Bank Indonesia yang keduanya merasa memiliki hak (dan kewajiban) kuat untuk tetap melanjutkan fungsi pengawasannya.
Tuntutan untuk mendapatkan porsi besar dalam melakukan pengawasan terhadap sektor keuangan (perbankan dan lembaga keuangan bukan bank), jelas tidak semata untuk alasan pengalaman dan profesionalisme organisasi. Tetapi juga atas atasan reputasi dan tanggung jawab yang selama ini sudah dijalankan bertahun-tahun. Apalagi kedua instansi itu juga dianggap sudah memiliki SDM, sistem dan data atau informasi yang sangat diandalkan.
Kini setelah rangkaian silang pendapat seru tersebut berlangsung dengan suatu keputusan baru, apa yang perlu disiapkan untuk membuat lembaga baru ini menjadi efektif? Semua menjadi tugas kita untuk membawa OJK menjadi lembaga yang diandalkan, bukan untuk membuktikan kemungkinan kegagalannya. Kelahirannya jelas telah memakan biaya dan “korban” yang luar biasa. Karena itu, kini para pihak yang berkepentingan, perlu mempersiapkan organisasi dan manajemen OJK secara lebih profesinal.
Menyiapkan Board yang efektif
Tidak ada lagi OJK yang menjadi afiliasi atau underbow tertentu. Semuanya harus didasarkan kepada “untuk kepentingan bangsa dan negara”. Terlalu besar pertaruhannya ketika OJK pada akhirnya terpaksa bermain untuk menjaga kepentingan pihak tertentu. Dewan Komisioner atau kumpulan pemegang kuasa, adalah salah satu bagian utama untuk menjaga kredibilitas dan profesionalisme lembaga ini. Meskipun kehadirannya nanti juga didasarkan kepada keterwakilan dari beberapa pihak, sangat diharapkan proses penunjukkannya adalah dalam rangka kepentingan bangsa dan negara. Keterwakilan bertujuan bukan untuk mewakili kepentingan pihak-pihak yang mewakilkan, tetapi untuk menjaga reputasi dan kredibilitas.
Dua hal utama yang diperlukan untuk menjamin efektivitas kepemimpinan OJK, pertama, proses rekrutmen yang dilakukan secara terbuka (tranparant) dan kedua, mampu menghadirkan para leaders yang kompeten, memiliki karakter kuat, dan bersikap independen.
Banyak kegagalan kepemimpinan di berbagai lembaga negara terutama karena ketidakjelasan proses rekrutmen yang dilakukan. Ketidakjelasan akhirnya berpotensi melahirkan orang-orang yang tidak kompeten, tidak memiliki karakter kuat, dan tidak bersikap independen.
Sebagai penentu akhir yang menetapkan apakah suatu institusi keuangan memiliki kelayakan untuk tetap beroperasi, OJK bukanlah lembaga main-main yang bisa dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja. OJK sangat erat kaitannya dengan maju dan mundurnya kinerja negara kita. Karena, engine ekonomi kita saat ini, masih sangat tergantung kepada perkembangan institusi keuangan dalam berbagai bentuk. Bank dan seluruh lembaga keuangan bukan bank, tetap harus dijaga operasionalnya agar tetap dipercaya (kredibel), memiliki aspek keuangan yang baik, dan luas jangkauannya sehingga bisa dimanfaatkan sampai ke pelosok negeri.
Rancang Bangun organisasi yang efisien
Banyak orang yang membayangkan OJK sebagai sebuah super body dan gabungan dari beberapa institusi pengawasan keuangan yang saat ini ada seperti pengawasan perbankan Bank Indonesia, pengawasan pasar modal Bapepam, atau pengawasan lembaga keuangan lain oleh Kementerian Keuangan. Kitapun sering terburu-buru membuat disain organisasi yang mencoba menggabungkan berbagai institusi pengawasan keuangan tersebut sekaligus lengkap dengan karakter dan kultur yang selama ini sudah berjalan.
Padahal untuk merancang struktur organisasi baru secara teknis, seharusnya lebih mudah dibandingkan dengan menggabungkan beberapa institusi yang sudah berjalan. Karena itu, selalu harus kita kedepankan upaya untuk membuat disain organisasi OJK melalui kertas putih (clean sheet) dengan hanya memperhatikan visi dan misi OJK sebagai institusi pengawasan sektor keuangan yang baru.
Kalau kita perhatikan, lembaga atau institusi yang lama, apalagi yang bersifat “negara” atau “pemerintahan”, sangat jarang bersifat efisien dan modern. Kebanyakan sangat birokratis, duplikasi, memiliki fungsi-fungsi atau pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pencapaian tujuan organisasi, serta lamban dalam menjalankan kegiatannya.
Upaya kita melahirkan OJK baru harus memperhatikan penyakit birokrasi negara yang seperti itu. Membuat disain organisasi OJK baru dengan melakukan penggabungan serta merta beberapa institusi pengawasan yang ada, sangat berpotensi untuk melahirkan OJK yang birokratis, tidak profesional dan mahal. Ini menjadi titik perhatian utama dalam mendisain organisasi OJK yang baru. OJK harus dijauhkan dari hal-hal yang bersifat birokratis, duplikasi yang biasanya berusaha dipertahankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan yang apabila tidak diperhatikan secara serius, justru akan membuat OJK menjadi tidak efektif dan tidak efisien.
Perekrutan SDM yang terjaga reputasinya
Satu hal yang perlu sama-sama diperhatikan adalah adanya sifat atau keinginan dari lembaga negara yang ada untuk mendominasi pos-pos yang ada di OJK. Karena merasa telah berpengalaman dan kompeten, pola rekrutmennya sering dilakukan dengan tidak mengedepankan kepentingan lembaga yang lebih utama.
OJK bukan tempat penampungan para laskar tak beguna. OJK adalah cita-cita untuk mewujudkan suatu lembaga pengawasan yang profesional dan kredibel. Karena itu, pola rekrutmennya perlu dijaga secara baik. Salah satunya adalah dengan menerapkan competency-based recruitment system yang terbuka dan dilakukan oleh pihak-pihak yang terjaga independensinya.
Persoalan SDM oleh lembaga yang ada hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang secara umum dikenal dalam dunia SDM. Bukan dengan jaminan memberikan tempat yang pasti di lembaga baru yang dibentuk. Karena itu melibatkan pihak-pihak independen dalam proses rekrutmen pegawai OJK adalah keharusan dan sebagai Key Success Factor. Memberikan tenggang waktu selama 3 tahun sampai akhir 2014 adalah waktu yang cukup bagi OJK untuk menyiapkan SDM yang kompeten dan profesional.
Mengambil kesempatan
3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menyambut kelahirkan OJK sebagai lembaga pengawasan sektor keuangan yang baru,yaitu aspek kepemimpinan (leadership) atau top management, aspek organisasi, dan SDM. Hanya kepemimpinan yang kuat yang mampu menjaga ketiga aspek ini bisa bekerja baik. Kita perlu menjaga OJK agar pendiriannya tidak syarat oleh kepentingan sesaat yang akan membebaninya sepanjang hidupnya kelak. Kita menghargai kerja keras lembaga/organisasi yang ada yang banyak jasanya bagi negara kita. Tetapi tugas ke depan semakin berat, memerlukan semangat baru yang tidak bisa dikompromikan, terutama dalam membangun leadership organisasi, struktur yang efektif dan efisien, serta SDM yang kompeten dan profesional.
Bagi pegawai yang saat ini sudah aktif di pekerjaan pengawsan bank atau lembaga keuangan lainnya, utamanya para pengawas Bank Indonesia dan Bapepam, kelahiran OJK hendaknya tidak terus menerus disesali dan diratapi. OJK adalah opportunity yang harus direbut. Bagi yang sudah memiliki segudang pengalaman sebagai pemeriksa, atau pengawas, atau penyusun regulasi, kelahiran OJK seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Semuanya, termasuk kesempatan karir, perlu direbut dan diperjuangkan. Semuanya perlu memikirkan untuk mendapatkan kesempatan menjalani karir di OJK. Kitapun tidak perlu khawatir berlebih-lebihan mengenai "masa depan" apabila memilih karir di OJK. Sebagai organisasi baru yang diciptakan di era modern, seharusnya OJK "bisa" lebih baik dibandingkan berbagai organisasi lain.
Perbedaan pendapat yang sengit mengenai kelahiran OJK, tidak kondusif untuk kita pelihara terus menerus. OJK perlu kita tatap dalam dimensi yang lain yang lebih menjanjikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

