Thursday, 18 August 2016

Indonesia 71 Tahun

toto zurianto

Kemaren tentu menjadi hari yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Negara kita, mencapai usia 71 tahun. Bukan lagu usia kemaren sore. Kini sudah masuk kategori kakek-kakek, Eyang yang mulai Sepuh. Usia yang seharusnya mulai memasuki kategori mature. Tidak lagi seperti anak kemaren sore. Tentu saja, yang kita maksudkan adalah bagaimana cara kita mengelola negara. Kita menginginkan, Indonesia tidak saja jaya dan makmur. Tidak saja ekonominya menjadi maju, menggeliat, mampu mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Rakyatnya sehat, makannya cukup, mental dan jiwanya sehat, dan memiliki kapsitas pendidikan yang baik.
Lalu, yang penting adalah bagaimana performance para pemimpinnya. Bagaimana Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri serta pejabat negara bisa memainkan perannya secara profesional, bukan pemimpin amatir. Bagaimana para politisinya juga profesional,  sekaligus memiliki integritas yang terpuji. Indonesia merindukan munculnya para pemimpin yang kapabel, profesional, dan memiliki character yang dibanggakan. Bukan orang-orang yang cuma memikirkan jabatan, kekuasaan, atau penipu yang rakus akan harta benda. 71 tahun, saat ini waktu yang kritis bagi kita. Kita menginginkan munculnya orang-orang yang punya gagasan hebat, juga sekaligus Anti Korupsi, tidak suka melakukan praktek Kolusi, dan menghindari Nepotisme. Juga kita benci sama orang yang sok penting. Selalu merasa hebat dan memiliki jasa kepada negara. Tidak mau diganti, dan suka ingin bercokol terus. Mari membangun, bukan mencari keuntungan sendiri. Indonesia 71 Tahun, kita jaga negara ini. Kita ingin mencapai 100 tahun, bahkan 1000 tahun. Tetapi dengan tatanan negara yang baik, yang santun, yang maju, sejahtera lahir bathin. Dirgahayu Indonesia. Kita galang persatuan dan negara hebat yang Anti KKN.



 



 

Thursday, 11 August 2016

Visit Sunda Kelapa Harbour

toto zurianto

Kalau sempat, berkunjunglagh ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak jauh dari kawasan Kota (tua) Jakarta. Bukan  saja historikal dan indah, tetapi inilah cikal bakal kota Jakarta. Jadi bukan sekedar Pelabuhan kecil yang dilayani oleh kapal-kapal Kayu antar pulau, tetapi sebuah penghayatan dari sejarah panjang Kota Metropolitan Jakarta. Waktu itu, Kalapa menjadi kawasan pelabuhan dari sebuah kerajaan Pakuan Pajajaran (Bogor). Banyak perjalanan sejarah bangsa berlangsung di sini. Termasuk sejarah kerajaan Pajadaran, kerajaan Tarumanagara, juga kerajaan Sriwijaya. Sampai ke pasukan Demak, Cirebon, dan tentu saja tentara Kolonial Belanda dan Persekutuan dagang VOC yang sangat terkenal.

Kapal Layar Bermotor yang Kokoh



Pelabuhan Sunda Kelapa kini meliputi kawasan sekitar 760 hektare dengan kolam pelabuhan mencapai 16.470 hektare. Ada 2 kawasan pelabuhan, pelabuhan utama memiliki panjang 3.250 meter dengan luas kolam sekitar 1.200 meter. Lalu ada Pelabuhan Kalibaru dengan panjang 750 meter dan luas daratan sekitar 340 ribu meter persegi dengan kolam pelabuhan mencapai 42 ribu meter persegi. Kawasan pelabuhan Sunda Kelapa seluruhnya mampu menampung 70 perahu layar motor + 65 kapal antar pulau.

Di hari Minggu (pagi), tidak banyak kegiatan bongkar muat yang ada di Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagian anak kapal terlihat melakukan kegiatan ringan, atau memperbaiki kapal. Jadi sangat menarik untuk melihat dan membuat photo session. Kita bisa melihat keindahan Kapal Kayu yang cukup besar yang memuat berbagai kebutuhan masyarakat. Kapal ini berlayar dengan muatan yang cukup banyak, mulai dari kayu, mesin-mesin, semen, atau beras dan kebutuhan pokok. Tidak hanya untuk tujuan pelabuhan di pulau Jawa, tetapi sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan jauh lagi. Bawa keluarga, terutama anak-anak untuk melihat, menghayati, serta menikmati pelabuhan tua Sunda Kelapa. Bahkan, jangan segan untuk mencoba menyusuri kolam pelabuhan dengan menaiki Perahu yang banyak ditawarkan di sekitar pelabuhan. Lumayan, kita bisa keliling pelabuhan di antara kapal-kapal kayu besar sekitar 30 menit sampai 1 jam.

Ralfazza in Action

Di depan barisan Kapal Layar Bermotor di Sunda Pelapa

Menyusuri kolam pelabuhan Sunda Kelapa dengan Perahu Motor

with Ralfazza





Wednesday, 10 August 2016

Pendidikan Calon Pegawai OJK Angkatan #3

toto zurianto

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Dr. Muliaman D. Hadad, Jumat 29 Juli 2016 membuka pendidikan calon pegawai Otoritas Jasa Keuangan yang diikuti 599 peserta. Tahun 2016, OJK menerima pegawai dalam rangka mengisi kekurangan yang mendesak melalui  2 program pendidikan calon pegawai, yaitu Pendidikan Calon Staf (PCS-OJK) Angkatan 3 sebanyak 443 peserta, dan peserta Pendidikan Calon Pejabat (PCP-OJK) Angkatan 3 yang diikuti 156 calon pegawai. Pendidikan PCS bagi peserta fresh-graduate berlangsung selama 1 tahun, termasuk Modul On the Job Training (OJT) dan Modul Orientasi Kerja. Sedangkan untuk PCP, berupa penerimaan pegawai Setingkat Kepala Sub Bagian yang sudah memiliki pengalaman kerja, berlangsung selama 6 bulan, termasuk Modul OJT dan Orientasi Kerja.
Dalam sambutannya, Ketua OJK menyambut kedatangan para generasi muda OJK yang bersama-sama akan memberikan perannya bagi lembaga untuk menjaga stabilitas Sistem Keuangan Indonesia. "Ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal dari perjuangan dan perjalanan panjang. Banyak kesempatan yang harus dimanfaatkan di OJK", demikian Muliaman Hadad menambahkan dan mengingatkan.







Peserta pendidikan PCS-OJK Angkatan 3 Batch #2 mengikuti Program Bela Negara
(Kesamaptaan) di Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) Kodiklat Angkatan Darat di Bogor.

Leaders, Not Only Vision, but How to Execute!

toto zurianto

Soal leadership, kita sering terpesona pada pemimpin yang luar biasa mampu melahirkan gagasan-gagasan hebat. Tidak hanya di perusahaan swasta, pada lembaga negara atau BUMN, banyak juga yang luar biasa mampu melahirkan gagasan perubahan yang hebat. Soal Pemimpin, tidak jauh berbeda. Banyak orang hebat di lembaga-lembaga negara. Tetapi, seperti yang disampaikan Jim Huling, penulis buku The 4 Discipline of  Execution (4DX) bersama Chris McChesney dan Sean Covey, serta Buku Choose Your Life, melaksanakan eksekusi termasuk bagian sangat penting. Ini yang akan memberi perubahan, apakah hanya visi, atau juga bersama kemampuan eksekusi dan mampu mengembangkan pegawai.

Jim Huling sharing Leadership di OJK Institute 
Lalu bagaimana agar proses eksekusi bisa dilakukan dengan baik dan memberikan nilai tambah bagi sebuah organisasi? Ada 4 discipline yang selalu harus diperhatikan seorang Leader. Pertama, seorang pemimpin yang tentunya sudah mendapatkan mandat/wewenang, perlu fokus pada sedikit pekerjaan yang memberikan nilai tambah paling besar. Fokus pada sedikit pekerjaan yang, bukan berarti mengabaikan pekerjaan lain. Tetapi, mengerahkan daya dan pikiran pada sedikit pekerjaan besar, atau yang disebut dengan Wildly Important Goals (WIG) akan memberikan kontribusi besar bagi perusahaan. Inilah tugas utama seorang leaders, yaitu menetapkan WIG, Bukan semua target menjadi fokus sehingga tidak jelas, mana yang disebut WIG.
Kedua, kita memerlukan ukuran keberhasilan yang kita sebut Lead Measure. Lead Measure adalah ukuran yang memperhatikan adanya perubahan perilaku yang akan mendorong suatu keberhasilan. Bukan hanya ukuran yang bersifat angka atau pencapaian target tertentu saja, atau Lag Measure. Kita bukan sedang meninggalkan ukuran Lag Measure. Angka keberhasilan tetap diperlukan. Tetapi perubahan yang bersifat behaviour perlu kita jadikan sebagai panduan yang penting.
Ketiga, kita memerlukan Scoreboard yang memperlihatkan pencapaian-pencapaian secara individu dan kelompok. Tujuannya agar semua orang yang terlibat pada sebuah tim, bisa menunjukkan engagedment dan titik kritis dari perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan. Kita perlu mengetahui apakah kita sedang berada pada jalur yang tepat, atau memerlukan adjustment.
Terakhir, kita harus menjamin agar semua pekerjaan bisa berlangsung secara baik, teratur dengan akuntabilitas yang terjamin. Perubahan-perubahan perilaku perlu berlangsung secara teratur dalam sebuah kebiasaan (habit) yang bisa dijamin keberlangsungannya.

Inilah 4 disiplin yang kembali diingatkan oleh Jim Huling pada kesempatan Change Leaders Forum OJK Tahun 2016 di OJK Institute (Selasa 9 Agustus 2016) yang dihadiri para Direktur OJK dalam rangka program Manajemen Perubahan. Apabila kita bisa disiplin menjalankan 4 aspek penting 4DX tersebut, dapat dipastikan proses eksekusi yang kita perlukan untuk mewujudkan sebuah visi besar seorang pemimpin, bisa kita capai secara baik.



OJK Australia Leadership Program

toto zurianto

Pada tanggal 18 sampai 22 Juli 2016 berlangsung program pengembangan kepemimpinan (leadership development) Industri Jasa Keuangan Indonesia di Melbourne sebagai follow-up dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan pemerintah negara bagian Victoria Australia. Program yang disebut dengan Victoria Indonesia Leadership Program (VILP) tersebut, diikuti 20 peserta dari Indonesia, 9 pejabat tingkat Direktur dari OJK, dan 11 peserta dari industri jasa keuangan Indonesia dan regulator. Peserta dari luar OJK antara lain, dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bursa Efek Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, Bank Central Asia, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Dana Pensiun Telkom, PT Asuransi Jasa Indonesia, dan Bank Pembangunan  Daerah Jawa Barat dan Banten. Sementara peserta Australia berasal dari Victoria Government dan Monash University.
Tujuan program VILP disamping untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan para peserta, juga dalam rangka kerjasama dan networking antar institusi sektor jasa keuangan Indonesia dan Australia, membangun awareness sektor jasa keuangan, khususnya di Melbourne (Australia), dan sharing pengetahuan dan pengalaman, khususnya perkembangan industri keuangan, financial technology (fintech), dan peran sektor jasa keuangan pada usaha menengah dan kecil.
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad bersama Prof. Edward dan peserta
Victoria Indonesia Leadership Program pada pembukaan di Hotel Windsor Melbourne

Ketua OJK memberikan kenangan kepada Wakil Pemerintah Victoria, Mr. Lorenzo




Acara dibuka pada opening dinner oleh Dr. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan yang dalam opening speechnya mengajak seluruh peserta untuk mengambil manfaat dari program leadership international ini sebagai ajang dalam meningkatkan kerjasama jasa keuangan Indonesia Australia. Khususnya dalam melihat dan mengambil kesempatan untuk perkembangan jasa keuangan dan fintech di Melbourne Australia. Seluruh program dipimpin oleh Dr. Edward Buckingham, Profesor Business School Monash University yang merancang program dengan melibatkan pengajar/nara sumber dari berbagai kalangan, antara lain; Department Anti-Trust Australia, Boston Consulting Group, Bank Australia, DMP Assets Management, Department Treasury and Finance Victorian Fund Management, dan Freedom Finance.










Tuesday, 26 July 2016

Film Indonesia; Mulai banyak ditonton

toto zurianto

Di era 70-an sampai 80-an, Film-film nasional bermutu, banyak diputar di bioskop-bioskop di tanah air. Ketika itu, belum ada belum ada model bioskop multipleks seperti sekarang. Jadi hanya pada bioskop tunggal dengan kapasitas besar. Kita mengenal para dedengkot Film nasional, mulai dari Teguh Karya, Wim Umboh, atau Nawi Ismail. Lalu para bintang hebat, ada Farouk Afero, Zainal Abidin, Sophan Sophian, Widyawati, Jenny Rachman, Suzana, Sukarno M. Noer atau Rahmat Hidayat. Lalu ada era Christine Hakim, Robby Sugara, Roy Martin, sampai ke Lidya Kandow, Rano Karno, dan Herman Felani.
Beberapa Film hebat misalnya Penganti Remadja (Sophan Sophian Widyawati), Impian Semusim, , Film Komedi juga hebat, misalnya; Bing Slamet Koboi Cengeng, atau Benyamin dengan Biang Kerok-nya.
Film Indonesia sempat surut dan atau vulgar. Kita pernah disuguhi oleh Film-film yang bertema Setan Iblis dan Sex yang kurang bermutu. Film tentang Kuntilanak dan Pocong sempat berkembang hebat. Bahkan untuk film yang bertema Sex, kehadirannya juga luar biasa.
Setelah berbagai era yang kurang menggembirakan, selama beberapa tahun terakhir, Film Indonesia muncul dengan thema yang bagus dan dikemas secara sangat menarik. Sejak Film Laskar Pelangi (2008), sampai dengan yang terakhir, Film Ada Apa dengan Cinta Jilid 2 (AADC 2), kita mulai menikmati film nasional yang bermutu dan menarik. Penonton film nasional mulai membludak dan menguasai panggung sinipleks di semua kota. Dalam sebuah Bioskop di sebuah Mal terkenal, Film AADC 2, misalnya berhasil menguasai dan menjadi pemenang. Sebuah prestasi para sineas Indonesia yang mampu mengundang penonton untuk mencintai film-film karya anak bangsa sendiri.
Perhatikan, AADC 2, dengan biaya produksi sekitar Rp10 milyar (2016), berhasil mengumnpul jumlah penonton mencapai 3,6 juta orang. Laskar Pelangi (2008) ditonton 4,6 juta orang. tercatat sebagai film nasional yang paling banyak ditonton sampai hari ini (mungkin diluar Film Penghianatan G.30 S/PKI). Film lain Habibie dan Ainun (2016) telah ditonton 4,5 juta orang. Ayat-ayat Cinta (2008) ditonton 3,5 juta orang, My Stupid Boss (2016) telah ditontot 3 juta orang.  Film laion yang juga berhasil mencuri perhatian masyarakat adalah; Ada Apa dengan Cinta (2002) ditonton 2,7 juta orang, Eiffel I'm in Love ditonton 2,6 juta orang (2003), 5 cm ditonton 2,4 juta orang (2012), Ketika Cinta Bertasbih 2,1 juta (2009) dan Sang Pemimpi (2009) yang ditonton 2 juta orang.

Sebuha pencapaian yang menggembirakan. Orang tidak lagi malu untuk menonton Film negeri sendiri. Bahkan rela antri untuk mendapatkan tempat. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa. Kita tidak memerlukan Bom Sex atau Cerita Tahyul untuk membuat Film-film hebat dan terbaik. Alur cerita yang baik dan Bintang Film yang berkualitas menjadi penentu yang bisa menjamin lahirnya Film Nasional bermutu.

Wednesday, 6 July 2016

Menjadi Lebih Taqwa dan Sosok Pribadi yang Sosial

toto zurianto

Salah satu tujuan utama dari berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk mendapatkan Taqwa.  Bukan hanya selama Ramadhan, tetapi bagaimana seseorang mampu menjalani secara konsisten dan istiqomah selama 11 bulan yang lain. Jelas tidak mudah, tetapi selalu sangat mungkin untuk kita wujudkan. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah Ramadhan. Semua aktivitas, termasuk Sholat Tarawih, membayar Zakat, atau tadarusan, bertujuan untuk mengasah, membuat seseorang menjadi terbiasa untuk menjalankannya.
Namun, bukan hanya itu. Ramadhan juga diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang Sosial, yang konsen memperhatikan kepentingan atau terutama kesulitan orang lain. Bukan hanya yang suka berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Zakat dan Sodaqah adalah latihan-latihan untuk berbuat sosial, turut serta membantu dan simpati atas kesulitan orang lain.
Ramadhan juga masa-masa untuk mendidik diri kita menjadi orang yang rendah hati, humble, tidak sombong. Jangan suka membesar-besarkan kelebihan diri sendiri. Kini saatnya untuk lebih menyembunyikan kehebatan kita dihadapan orang. Allah tidak suka sama orang yang sombong. Semua hal yang kita nikmati adalah pemberian Illahi. Bukan sekedar kemampuan kita.
Lalu terakhir, Ramadhan juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf. Kita membalas kesombongan dan kesalahan orang dengan membuka pintu maaf. Janganlah menjadi mendendam. Kini saatnya bagi kita untuk membuka hati, melupakan hal-hal yang mungkin menyakitkan. Kita lupakan dan kita serahkan kepada yang maha kuasa.
Inilah catatan saya atas Khotbah Hari Raya Idul Fitri 1 Shawal 1437 H, Rabu 6 Juli 2016 di Mesjid Puri Cinere. Semoga bisa dinikmati dan bermanfaat bagi kita semua.

Menjadi Lebih Taqwa dan Sosok Pribadi yang Sosial

toto zurianto

Salah satu tujuan utama dari berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk mendapatkan Taqwa.  Bukan hanya selama Ramadhan, tetapi bagaimana seseorang mampu menjalani secara konsisten dan istiqomah selama 11 bulan yang lain. Jelas tidak mudah, tetapi selalu sangat mungkin untuk kita wujudkan. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah Ramadhan. Semua aktivitas, termasuk Sholat Tarawih, membayar Zakat, atau tadarusan, bertujuan untuk mengasah, membuat seseorang menjadi terbiasa untuk menjalankannya.
Namun, bukan hanya itu. Ramadhan juga diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang Sosial, yang konsen memperhatikan kepentingan atau terutama kesulitan orang lain. Bukan hanya yang suka berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Zakat dan Sodaqah adalah latihan-latihan untuk berbuat sosial, turut serta membantu dan simpati atas kesulitan orang lain.
Ramadhan juga masa-masa untuk mendidik diri kita menjadi orang yang rendah hati, humble, tidak sombong. Jangan suka membesar-besarkan kelebihan diri sendiri. Kini saatnya untuk lebih menyembunyikan kehebatan kita dihadapan orang. Allah tidak suka sama orang yang sombong. Semua hal yang kita nikmati adalah pemberian Illahi. Bukan sekedar kemampuan kita.
lalu terakhir, Ramadhan juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf. Kita membalas kesombongan dan kesalahan orang dengan membuka pintu maaf. Janganlah menjadi mendendam. Kita saatnya untuk membuka hati, melupakan hal-hal yang mungkin menyakitkan. Kita lupakan dan kita serahkan kepada yang maha kuasa.
Inilah catatan saya yang saya uraikan kembali dari Khotbah Sholat Idul Fitri 1 Shawal 1437 H (Rabu, 6 Juli 2016) di Mesjid Puri Cinere hari ini. Semoga bermanfaat.

Friday, 1 July 2016

Sebuah tempat bekerja Idaman

toto zurianto

Organisasi, tempat kerja, atau lembaga seperti apa yang benar-benar menjadi idaman kita? Ini sebuah pertanyaan yang perlu dijawab. Para pencari kerja, atau mereka yang sudah cukup mapan dalam bekerja, banyak yang masih bertanya-tanya. Masih banyak yang bermimpi, seandainya saja bisa berada ditempat yang berbeda dari tempatnya selama ini.
Tempat bekerja idaman, sering tidak mudah kita dapati. Selalu pilihan-pilihan yang terpaksa harus kita terima. Ada tempat yang cukup bagus suasananya, struktur organisasinya efektif dan efisien. Juga SDM-nya potensial dan hebat. Cuma, sistem rewardnya masih kuang baik, atau Leadersnya tidak memotivasi. Atau sebaliknya, Leadersnya motivated dan visioner, bahkan terlihat keras dan sangat semangat. Tapi, susahnya sistem human capitalnya lemah, tidak transparant, dan cenderung otoriter.
Banyak sekali organisasi, baik swasta ataupun non profit, yang gagal mempersembahkan dirinya sebagai tempat yang menarik untuk bekerja. Tempat yang menjadi Idaman para pencari kerja atau orang yang ingin berbuat lebih.

Authentic Organization

Wednesday, 15 June 2016

Pemimpin; Membangun Karakter, bukan Citra

toto zurianto

Jim Huling, salah satu penulis buku The 4 Disciplines of Execution (Franklin Covey, 2012) dalam bukunya, “Choose Your Life” membahas tentang Karakter seseorang dan hubungannya dengan mempertahankan sebuah Citra. Kebanyakan kita, suka mati-matian berusaha mempertahankan citra. Pokoknya, di depan mata, kita harus menjadi pribadi hebat. Pemimpin selalu ingin terlihat sempurna di mata orang yang dipimpinnya. Selalu ingin kelihatan sebagai pribadi kuat, paling pintar, paling punya ide, paling humble, paling care terhadap orang, juga dikenal sebagai orang yang paling menjunjung aspek integritas. Pemimpin sangat suka memperlihatkan pribadi yang jujur, dan terkesan visioner. 
Sebenarnya ini termasuk salah satu penyakit yang membuat kualitas kepemimpinan menjadi terlihat aneh. Seolah-olah tidak ada orang yang tahu. Kebanyakan pemimpin berpikir, bahwa segala sesuatunya harus dicapai. Semua orang suka yang berjuang untuk suatu kesempurnaan. Padahal tidak ada yang sempurna. Semua punya kekurangan. Being human, sebagai manusia, itulah salah satu sifat yang terkandung di dalam elemen manusia. Sifat ketidak sempurnaan. Tidak perlu merasa kurang, ketika kita tidak bisa hebat di semua hal.



Bahkan sering terlihat aneh ketika orang-orang lebih suka menutup-nutupi keanehan-keanehan yang ada pada dirinya. Tentu saja ditutup dengan sedikit kebohongan dan perilaku yang dibuat-buat. Kita akhirnya terus menerus kembali menutup-nutupi kebohongan kebohongan yang lain. Padahal seharusnya itu sesuatu yang harus kita terima. Apa yang tidak mungkin bisa kita capai, bis saja hal itu dilakukan oleh orang lain. Sebuah tim, perlu memaksimalkan potensi dari seluruh anggota tim. Orang yang paling tinggi pangkatnya, paling tinggi pendidikannya, bukan harus paling mengetahui. Kita harus mampu membangun seluruh potensi. Semua orang perlu digali peran yang bisa dijalankannya.
Jim Huling menutup essaynya dengan sebuah pepatah, “Esse quam videre”. Kita berjuang untuk “menjadi”, bukan “tampaknya”. Tidak perlu merasa hebat ketika anda sepertinya”tampaknya” hebat. Jadilah anda apa adanya, bukan hebat karena tampaknya citra anda menjadi baik.

Friday, 10 June 2016

Pemimpin; Memberikan Sesuatu yang lebih baik

toto zurianto

Para pemimpin, all leaders, selalu berpikir, bagaimana mencapai target tertentu. Pemimpin sering dihantui untuk mencapai angka-angka tertentu, terutama menyangkut penjualan, keuntungan, atau jumlah kegiatan yang dilakukan. Bahkan bisa mati-matian untuk mencapai sasaran ini.Tapi pencapaian dan sukses seorang Pemimpin bukan hanya ini. Semuanya bukan selalu harus melalui ukuran dalam bentuk angka. Pemimpin dituntut untuk bertanggung jawab dalam banyak hal yang lain, seperti, pengaruhnya kepada masyarakat, kepada keluarga, kepada organisasi, juga lingkungan di mana dia berada.
Menurut Kouzes dan Posner dalam bukunya A Leader's Legacy (2006), "being a leader brings with it a responsibility to do something of significance that makes families, communities, work organizations, nations, the environment, and the world better places than  they are today". Ini tantangan sebenarnya dari seorang Pemimpin. Bagaimana dunia, negara, departemen, perusahaan, atau lembaga yang dipimpinnya, bisa menjadi tempat yang lebih baik, lebih nyaman bagi semua orang. Jadi bukan sekedar hal-hal yang bisa dikuantifikasi.

Wednesday, 8 June 2016

PNS Terlalu Banyak

toto zurianto

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB)Yuddy Chrisnandi sudah tidak sabar untuk segera mengurangi jumlah pegawai negeri. Perlua da pengurangan sebanyak 1 juta pegawai, berkurang menjadi sekitar 3,5 juta pegawai dari jumlah sekarang yang mencapai 4,5 juta orang. Simulasi Kementerian PAN RB menetapkan jumlah ideal pegawai negeri sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk. Jadi untuk Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta, juimlah ideal pegawai negeri sebanyak 3,5 juta orang.

Banyak pertimbangan yang disampaikan pemerintah mengenai pegaai negeri kita. Intinya, pegawai negeri dinilai belum cukup kompeten, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak efisien dan tidak efektif. Kita perlu melakukan langkah besar melakukan perbaikan sistem kepegawaian, termasuk organisasi pemerintah. Banyak business process yang perlu disempurnakan. Apalagi dengan pemanfaatan teknologi, sudah waktunya bagi Indonesia untuk segera melakukan pembenahan besar. Dalam 4 tahun ke depan, pemerintah berusaha mengurangi pegawainya sebanyak 1 juta orang.

Hanya saja,  masyarakat belum mendapatkan gambaran lengkap bagaimana cara pemerintah melakukan pengurangan jumlah pegawai sebanyak 1 juta orang. Belum apa-apa, tantangan besar juga lahir dari kalangan pemerintah sendiri yang menyebutkan kebijakan MenPANRB dinilai masih prematur dan belum dibahas dengan Presiden. Presiden sendiri sebenarnya sudah setuju dengan rencana pengurangan jumlah pegawai negeri. Tetapi jelas memerlukan langkah tepat yang sering mendapat tantangan kuat.
Terlalu banyak aspek yang perlu dipersiapkan. Pemerintah perlu mendapatkan data lengkap mengenai profile pegawai yang ada sekarang. Perlu ada hasil assessment dan Maping (Profil) sebelum keputusan diambil. Lalu kalau ingin memberhentikan orang, bagaimana caranya? Apakah sudah menyiapkan alternatif tempat, pesangon, dan persiapan mental dari pegawai sendiri. Kebijakan exit memerlukan persiapan dan komunikasi. Ini yang menjadi tugas penting yang menghendaki persiapan.

Kopi dan Ngopi

toto zurianto

Bar Cafe Epic sekaligus tempat kerja Barista, menarik!


Kalau ke cafe, atau kedai kopi, tentunya tujuan utamanya bukan untuk minum kopi. Kalau cuma mau minum kopi, di rumah mungkin sebuah alternatif paling bagus. Kita bisa memilih bubuk kopi terbaik yang banyak tersedia di pasar. Termasuk kopi-kopi tradisionil Indonesia yang luar biasa. Bukan lagi kopi-kopi instant yang banyak sekali mereknya. Termasuk juga kopi-kopi yang tersedia di pasar-pasar tradisionil, atau super market besar. Kitapun bisa memesan kopi dari produsen atau penjual kopi on-line dengan tawaran kopi yang hebat.
Di rumah, kita bisa menyeduhnya sendiri ala kopi tubruk, atau kopi masak, ataupun menggunakan coffee machine modern yang manual atau automatic. Semua bisa dinikmati.

Tetapi ke cafe atau kedai kopi, di samping menikmati kopi, kita juga membeli suasana, nuansa, keindahan, kenyamanan, kekaguman dan perasaan hati yang damai. Kedai Kopi atau Cafe, sebuah tempat kongkow melepaskan diri dari keletihan dan kesumpekan. Atau hanya sekedar mencari suasana baru.

Kedai Epic di Jogja
Pertengahan Mei 2016 saya berkesempatan ke Jogja dan menginap di Hyatt Regency. Tentunya setelah hal-hal utama dan penting selesai, perlu mencari sesuatu. Salah satu pilihan, tidak jauh dari hotel Hyatt, masih di Jalan Palagan, mengunjungi Epic Cafe. Tempatnya bagus, parkir luas, dan area kedai kopi luas, bangunan tinggi seperti "gudang besar" bebas tanpa sekat. Pokoknya cukup nikmat, meskipun tanpa AC. Suasananya cukup ramai meskipun tidak crowded.
Minuman dan makanannya juga cukup lengkap. Bahkan kopinya Jempol! Epic juga mengolah kopinya sendiri. Berbekal hampir semua jenis kopi Indonesia Asli, Epic menyangrai sendiri, dan grind sendiri. Juga menyiapkan kopi dalam bungkusan-bungkusan siap pakai bisa di bawa pulang.







Di Cafe Epic, kita juga bisa melihat beragam furniturre interior yang bagus. Kalau berminat, kita bisa membelinya. Ini sesuatu yang berbeda dan perlu dilihat. Kita juga bisa duduk di luar ruang cafe, beranda samping yang lumayan enak. Apalagi pada malam hari. mari dicoba!


Untuk dibawa pulang, Epic menyajikan bermacam variasi, ada Gayo, Toraja, atau Kopi Panama.

Kopi Mandailing Tulang di Lebak Bulus
Lumayan juga, belum lama ini aku bisa nemui sebuah Kedai Kopi yang "Medan" banget. Maksudnya, disamping bisa ngopi, juga bisa menemukan kuliner Medan. Sebuah Kedai Kopi Mandailing Tulang di Jalan Lebak Bulus I, tidak jauh dari Jl. RS Fatmawati. Kopinya okay, juga Teh Tareknya, disajikan dalam Gelas Bagus. Tapi harganya enggak terlalu murah, sudah di atas Rp30 ribu. Lumayan. Kalau lagi kangen makanan Medan, datang saja ke sini! Cuma bukanya enggak terlalu pagi, jadi gak bisa breakfast.


Nasi Goreng dan Teh Tarik, enak!





Kopi Aceh Bang Edwin di Cinere

Di Cinere, tidak jauh dari Mal Cinere, di Jalan Markisa, kita bisa menemukan sebuah Kedai Kopi Aceh, tidak terlalu besar, namanya Edwin Kupi (maksudnya Kedai Kopi Bang Edwin). Anda tidak keliru, ini milik Bang Edwin, Selebriti Presenter yang dulu sering muncul di Televisi bersama Jodi (Edwin Jodi).
Sudah lebih 2 bulan Edwin's Kupi hadir di Cinere, Secara khusus, ini termasuk Warung Kopi Aceh, Hampir semuanya serba Aceh, Tertunya Kopi Aceh, juga kita bisa menikmati Nasi Goreng Aceh, Mie Aceh, dan Martabak Aceh. Termasuk Roti Cane dengan Kuah Karinya. Kalau anda rindu Timpan, sejenis Lepat Khas Aceh, bisa didapat di Kedai Kupi Bang Edwin.
Rasa makanan disini, termasuk enak, Kopinya, harum. Teh Tariknya Keren. Juga harganya tidak mahal.








Wednesday, 25 May 2016

Membasmi Kemiskinan dan Ketidakadilan

toto zurianto

Meskipun cukup tebal, tetapi buku Joseph E. Stiglitz ini perlu untuk dibaca. Bagi Indonesia yang tetap masih berkutat dengan kemiskinan dan ketidakadilan (poverty and unequality), termasuk kesulitan dalam menyiapkan lapangan kerja, sungguh kita harus tidak bosan membaca tulisan Stiglitz ini. Buku The Great Divide; Unequal Societies and What We Can Di About Them (2015), menjadi penting dan referens bagi para pengambil keputusan. Apakah di negara yang belum cukup maju seperti Indonesia, bahkan untuk kasus Amerika Serikat, hal ini penting untuk diperhatikan. Bagi Stiglitz,  kebijakan Amerika untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sungguh sulit untuk dipahami.

Tentang ketidakadilan (unequality), di Amerika, 91 persen harta kekayaan negara berdasarkan GDP, ternyata dinikmati hanya oleh 1 persen penduduk terkaya. Jadi 99 persen rakyat Amerika ternyata tidak menikmati apa-apa. Situasi ini sudah berlangsung lama. Kebijakan Ekonomi Amerika Serikat sejak zaman Presiden Reagan, sudah tidak pro terhadap penduduk miskin.

Pandangan Stiglitz tentang ketidakadilan, perlu mendapat perhatian para pemimpin negara. Tidak hanya pemerintah Amerika Serikat. Terutama menyangkut 4 isu yang dinilai akan besar pengaruhnya kepada upaya meningkatkan kapasitas ekonomi rakyat. Pertama, perlu melihat ketidakadilan yang ternyata sudah meluas tidak hanya di negara miskin. Bahkan paling parah di Amerika Serikat dan Negara-negara maju.



Isu kedua, adanya kekeliruan di dalam mengelola ekonomi dan manajemen. Banyak kesalahan yang dilakukan oleh para pengambil keputusan. Tentunya bisa mengakibatkan masyarakat semakin tertekan.
Selanjutnya mengenai globalisasi yang membuat aspek eksternal dan internasional, menjadi sangat sensitif. Ekonomi internal kini menghadapi persaingan yang ketat. Pengetatan dan efisiensi, diperlukan untuk meningkatkan daya saing.
Terakhir mengenai peran pemerintah dan pemerintah regional, termasuk sangat penting.


Perizinan Indonesia; Bikin PT cuma 30 Menit

toto zurianto

Sebuah iklan pagi ini, Mendirikan Perseroan Terbatas hanya 30 menit. Tidak perlu ke kantor Dirjen AHU. Langsung saja ke kantor Notaris, Siapkan dokumen, KTP dan NPWP. Lalu bayar PNBP, dan tunggu dalam 30 menit. Dijamin selesai.

Ini sebuah pencapaian luar biasa. Sebuah kantor pemerintah yang dikenal sangat birokratis dan biasanya harus membayar ini itu, kini berani memasang iklan perizinan cepat. hanya dalam waktu 30 menit, kurang dari 1 jam. Dijamin urusannya selesai.
Ini yang ditunggu-tunggu. Salah satu yang terkenal tentang Indonesia adalah soal perizinan. Kita selalu gagal bersaing karena birokrasi perizinan yang lambat. Pokoknya instansi pemerintah, termasuk di pemerintah daerah dan kepolisian, menyandang predikat sebagai pihak yang selalu lambat dan pungli. Sudah sejak zaman Pak Harto, kita mengumandangkan derakan anti KKN, Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Ini salah satu hal yang besar dan perlu direspon oleh yang lain. Dalam Global Competitiveness Index 2015-2016 yang diterbitkan World Economic Forum, ranking daya kompetitif kita masih perlu ditingkatkan. Saat ini kita berada pada posisi 37, masih tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. Di atas kita Thailand (posisi 32), Cina (28), Malaysia (18), dan Singapore di posisi 2. Lalu, faktor apa yang menyebabkan posisi competitiveness kita masih belum bagus? ada 3 hal yang menjadi penyebab utama, birokrasi pemerintah yang tidak efisien, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur.  Keterbatasan Infrastruktur, tentu berhubungan juga dengan birokrasi pemerintah yang tidak efisien dan korupsi. Jelas ini termasuk soal, pelayanan perizinan yang lambat dan berbiaya tinggi.
Karena itu, pelayanan perizinan  30 menit dari instansi pemerintah, sungguh luar biasa dan bisa menjadi penular yang positip bagi semau jenis pelayanan kita.

Monday, 23 May 2016

Film Indonesia; ADa APa DeNgAn CintA #2

toto zurianto

Film Indonesia kita sedang in, meramaikan panggung bioskop Indonesia. Jakarta terutama, film Indonesia mulai bisa bersaing. Bahkan dengan Film super Amerika terkenal. Bulai Mei ini, Ada apa dengan Cinta 2, tidak takut bersaing dengan Film Superhero Captain America yang terkenal. Di sebuah gedung bioskop, kita bisa menemukan, dari 6 theatre, hanya ada 2 Film yang diputar, Captai America dan Ada Apa dengan Cinta 2. Koq bisa? Memang bisa, dan itu juga cerita lama, ketika Film Indonesia menguasai seluruh bioskop nasional tahun 70-an, disamping Film drama India dan Film Silat Mandarin, Film Kung Fu  yang luar biasa.

Sekarang kita cukup bangga menyaksikan Ada Apa dengan Cinta 2 mampu menguasai pasar film kita. Bahkan bukan hanya Ada apa dengan Cinta 2. Juga Film My Stupid Boss yang sekarang mulai tayang di bioskop.

Ada beberapa hal yang membuat film kita mulai disukai penggemarnya. Pertama, themanya mulai membaik, tidak horor. Thema Percintaan memang sering old fashioned dan kuno. Tetapi dengan penanganan yang rapi, bisa dinikmati secara maksimal. Tidak kacangan, apalagi hanya sekedar pelampiasan nafsu atau sekedar film horor yang menjijikkan. Sekarang, apakah film drama atau komedi, lumayan bagus untuk dinikmati 90 menit tanpa membosankan. Seperti Ada Apa dengan Cinta 2, themanya biasa, tetapi bisa dinikmati. Ada sedikit konflik, tetapi lebih banyak hiburan menggembirakan. Penonton juga dimanjakan dengan travel Jogjakarta yang luar biasa. Termasuk mengunjungi Phuntuk Setumbu untuk menyaksikan mentari terbit dari sisi lain sekitar Candi  Borobudur. Termasuk wisata kuliner dan seduhan Kopi Indonesia yang indah dinikmati.

Disamping thema, soal teknik senematograpi dan penggarapan, juga semakin profesional. Penggarapan gambar sangat apik dan dengan tata cahaya yang bagus, tidak berlebihan tetapi cukup lembut. Teknik film memang semakin membaik. Banyak perubahan yang menbuat penonton mampu mengikuti alur cerita secara baik.

Lalu, dialognya juga lebih sederhana dan tidak berat. Penonton segala usia tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami alur cerita. Bagi yang tidak menonton AADC 1, tidak harus tersesat ketika hanya menyaksikan Ada Apa dengan Cinta 2. Semuanya berjalan mulus dan rapi. Perubahan cerita, tidak membuat orang tersesat dan bertanya.

Film Indonesia mulai memasuki babak baru. Nama-nama seperti Riri Reza dan Mirna Lesmana, sungguh sebuah jaminan dari sebuah kualitas. Termasuk nama-nama Melly Goeslaw yang menangani Original Sound Track dan Ilustrasi musik. Selamat Film Indonesia.

Saturday, 21 May 2016

Indonesia Denmark Thomas Cup

toto zurianto

Hari ini, Indonesia bertemu Denmark di Final Bulutangkis Thomas Cup. Sebuah mencapaian luar biasa. Di semi final Indonesia menundukkan Korea Selatan 3-1. Ganda Indonesia Ricky Karanda Surwardi dan Angga Pratama menundukkan pasangan Korea Kim Gi-Jung dan Kim Sa-Rang dengan skor 21-15, 21-18.
Kita belum memenangkan Piala Thomas, tetapi ini sesuatu yang layak untuk diapresiasi, dihargai dan disyukuri. Boleh dikatakan, pencapaian ini adalah hasil kerja keras generasi muda yang belum begitu dikenal. Ada Kevin Sanjaya, Jonatan Christie, Anthony Ginting, juga Ikhsan Maulana Mustopa yang baru berusia antara 19-21 tahun. Sudah lama sekali kita tidak ke final, terakhir tahun 2010 yang akhirnya ditundukkan final. Prestasi terbaik Indonesia tahun 1996 ketika di final juga bertemu Denmark, dan menang.
Apakah ini pertanda kebangkitan olah raga Bulutangkis kita? Semoga begitu. Kita teringat era Rudi Hartono, Muljadi, Tjuntjun dan Djohan Wahjudi, ada Ade Chandra dan Christian. Mereka adalah para maestro bulutangkis kita. Termasuk Amril Nurman, Indra Gunawan, dan selanjutnya era Liem Swie King, Itjuk, dan banyak lagi.
Semoga ini sesuatu yang akan hebat. Bagaimanapun Bulutangkis sesuatu yang yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia.

Wednesday, 18 May 2016

Pelantikan Para Dekan di Universitas Sumatera Utara

toto zurianto

Hari ini sejumlah Dekan terpilih, dilantik sebagai Dekan di beberapa fakultas di USU. Saya mengucapkan selamat, semoga USU lebih baik. Pekerjaan sebagai Dekan, juga Rektor, tidaklah ringan. Kualitas Hasil Didik menjadi tanggung jawab kita. Saya meyakini, ditangan para pejabat baru, yang sudah banyak melihat kondisi USU dan bagaimana di Universitas yang lain, bisa mengambil pelajaran penting untuk menyempurnakan pendidikan di Universitas Sumatera Utara.
Banyak diantara para Dekan yang dilantik yang saya kenal. Saya men-support, Bapak/Ibu. Ini waktunya untuk melakukan perbaikan. Sebagai Dekan, tidak ada pilihan lain. Tugas kawan-kawan untuk meningkatkan kecerdasan para mahasiswa sehingga para lulusan menjadi hebat. Bisa bersaing memperebutkan pasar dan menjadi orang penting nantinya.
Bravo USU. 

Tuesday, 17 May 2016

Pemimpin Partai; Harus membawa perubahan

toto zurianto

Setya Novanto (SN) dan Ade Komaruddin (Akom) bersaing memperebutkan posisi Ketua Umum Partai Golkar. Sidang pemilihan yang berlangsung sampai Selasa pagi, pada putaran pertama menghasilkan suara 269 untuk SN dan 167 untuk Akom. Keduanya berhak mengikuti putaran II karena sudah melebihi persyaratan minimal 30% di putaran I. Akom tidak lagi menunggu Putaran II, dan langsung legowo memberikan ucapan selamat kepada Setya Novanto untuk memimpin Partai Golkar 5 tahun ke depan.
Pemilihan yang syarat pertarungan sengit di kedua kubu, juga diwarnai gosip-gosip politik uang yang sulit untuk bisa dibuktikan, kini menghasilkan Setya Novanto sebagai Ketua Umum partai yang mempunyai suara pemilih cukup tinggi itu. Tidak heran kalau, selama pemilihan banyak orang yang penting yang melakukan berbagai pendekatan dan berusaha mempengaruhi para pemilih dan peserta. Termasuk yang paling hebat adalah turunnya Luhut yang dinilai sedang berusaha membawa suara Presiden ke kancah kepemimpinan partai Golkar. Turunnya Luhut membawa konsekuensi dengan pernyataan Jusuf Kalla yang memberikan suara yang berbeda.
Kini semuanya sudah selesai. Perang-perangan sudah usai. Tinggal bagaimana Setya Novanto mampu menjalankan roda partai sehingga mampu menjadi besar dan bermanfaat bagi Golkar, juga bangsa. Masyarakat menginginkan, bagaimana sebuah partai politik bisa memainkan peran yang lebih baik bagi bangsa ini.  Banyak yang harus diperbaiki. Harusnya dimulai di partai politik, lalu ke lembaga politik lain. Kini menginginkan, agar sistem politik Indonesia bisa lebih dewasa, bukan sekedar mengedepankan kepentingan politik partai dan segelintir orang.
Kini menginginkan bagaimana partai politik bisa membawa perubahan dan membuat Indonesia semakin jaya, semakin kuat dan memiliki integritas baik.

Monday, 16 May 2016

Why Should Anyone Work Here!

toto zurianto



Kenapa kita memilih bekerja di sebuah organisasi tertentu? Apakah ini satu-satunya pilihan, atau kebetulan karena kita diterima untuk bekerja disitu! Semua dengan pertimbangannya sendiri-sendiri. Mungkin faktor penghasilan dan fasilitas, menjadi hal yang utama dan penting. Termasuk adanya kesempatan karir yang baik di masa depan. Juga kebanggaan bekerja di sebuah lembaga besar dengan peran yang besar. Seribu satu pandangan, bisa kita dengarkan.
Tapi, sebuah buku tulisan Rob Goffee dan Gareth Jone, berjudul “Why should anyone work here?” terbitan Harvard Business Review Press (2015), menjadi menarik untuk kita ikuti. Judulnya kelihatan cukup menggigit dan asyik. Konteksnya, cukup relevan bagi siapa saja, terutama bagi para pencari kerja kelompok fresh graduate. 
Bulan lalu, Otoritas Jasa Keuangan mengumumkan rekrutmen pegawainya. Lihat, antusiasme pelamarnya sangat luar biasa. Ada lebih 103 ribu fresh graduate Indonesia yang berjuang untuk memperebutkan sekitar 400 posisi Staf di OJK. Ini sebuah prestasi yang luar biasa. Memang penting untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk kasus Indonesia yang jumlah pencari kerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan posisi yang tersedia, tidaklah heran ketika, persoalan penyediaan lapangan kerja cenderung sensitif. Orang tidak punya banyak pilihan. Mudah-mudahan bisa diterima. Tapi, bisa dipastikan, persoalan mendapatkan pekerjaan, bukanlah satu-satunya alasan. Banyak pertimbangan ketika seseorang harus memilih. Tetapi, lagi-lagi, kenapa kita bekerja di tempat kita sekarang bekerja?

Kenapa kita disini?
Ada beberapa alasan yang menurut Rob dan Gareth, sering menjadi pertimbangan orang untuk menetapkan pilihan pekerjaannya. Pertama, I work here because I like the way we do things around here. I like the values, and I like the culture. Nilai-nilai organisasi dan Kultur menjadi pertimbangan utama. Kita, sering menjadi sangat tertekan, ketika harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman dan kebiasaan kita. Misalnya, seseorang yang menempatkan faktor integritas sebagai sebuah nilai tertinggi, menjadi sangat tersiksa ketika berada pada sebuah lingkungan yang korup dan menghalalkan segala cara.
Kedua, kita lebih suka untuk bekerja pada lingkungan (kerja) yang (lebih) berprestasi, dibandingkan dengan lingkungan kerja biasa-biasa saja. “I work here because we win. We are a high performance orgnization’. Jelas tidak menarik kalau lingkungan kerja kita, jauh dari upaya untuk mencapai prestasi kerja tertentu. Karena itu, sistem dan lingkungan kerja, harus mampu menghidupkan nuansa kompetisi bagi sesama pegawai. Ini yang akan menghantarkan kita ke gerbang kemenangan. Budaya yang mendukung kita untuk mencapai semangat high performance antara lain melalui performance-based organization berbasis merit system.
Ketiga, I work here because of the employer’s reputation. Its image, its value proposition. The brand convinces me this is the place to be.  Ini banyak dipilih orang. Reputasi dan Brand adalah hal penting yang membuat orang suka bekerja. Tetapi, keduanya tidak mudah untuk diwujudkan. Memiliki reputasi, bukan sekedar karena lembaga atau perusahaan itu penting dan mempunyai otoritas yang luas. Tetapi, karena peran dan sumbangannya kepada stakeholders, dan bangsanya. Juga karena para Leaders dan Pegawainya yang terus bermimpi untuk mewujudkan organisasi yang  high performanace.
Terakhir, Keempat, I work here because I get involved in a way that absorbs me, energizes me, and enables an exceptional contribution. Ini penting dan sebuah lambang dari kehadiran. Jangan sampai kita hanya sebagai pelengkap penderita. Ada tetapi tidak berkontribusi. Get Involved itu lebih kritikal. Bahkan sering melebihi sebuah kompetensi dan harta. Tidak menarik dan bisa demotivasi, kalau kita tidak terlibat, atau tidak dilibatkan, atau tidak dianggap.
Bekerja, bukan semata untuk mndapatkan penghasilan, atau lepas dari predikat sebagai penganggur. Bekerja, punya dimensi luas. Ingin berkontribusi, ingin berprestasi, juga ingin memberikan pembedaan, atau karena ingin berada pada lingkungan yang hebat, Penting pula, bekerja, karena ini terlibat, bukan sekedar ada. Ingin get involved.

Robby Johan, Leaders pembawa Perubahan

toto zurianto

Jumat 13 Mei 2016, seorang bankir terkenal Robby Djohan berpulang menghadap sang pencipta. Tapi dia begitu terkenal dan telah menorehkan prestasi luar biasa pada bidang-bidang yang ditekuninya. Mula-mula dikenal sebagai CEO Bank Niaga, kini menjadi CIMB Niaga, sebuah bank nasional yang cukup terkenal. Bank Niaga bukan yang terbesar, mungkin hanya pada peringkat 6 sampai 10 pada masanya. Tetapi, telah memiliki sistem dan teknologi yang modern dan menjadi bank modern yang dikenal orang. Dia juga dikenal salah seorang yang membidani kelahiran Bank Mandiri, bank hasil merger 4 Bank BUMN; Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Robby juga melakukan Transformasi di PT. Garuda Indonesia, maskapai nasional yang ketika itu sedang menghadapi krisis keuangan luar biasa.
Robby Djohan; Leaders, bagaimana mengelola talent (photo SWA)


Robby Djohan; Leaders memberi Kesempatan (photo from SWA)
Banyak peninggalan yang lahir dari pemikiran Robby. Tetapi salah satu statement yang ditekankan Robby adalah tugas seorang CEO. bagi Robby, tugas CEO bukan mengelola bisnis, tetapi mengelola manusia. Waktu dan pikiran seorang CEO harus tercurah untuk membangun manusia dan talenta talenta. Saat ini sering terbalik. Bisnis penting, tetapi Manusia lebih utama. Kita mencurahkan waktu mengelola manusia, sehingga manusia yang bertalenta itu yang akan mengelola bisnis.   

CEO harus lebih banyak mencari talent-talent baru dan memberikan kesempatan ketimbang mengurusi bisnis (SWA). Jangan sampai menjadi Manajer Besar, bukan Leaders. Seorang Leaders hanya berbicara pada Top Strategic Level, yaitu Visioner, menjaga Values perusahaan dan siap men-drive para Leaders yang lain untuk melakukan eksekusi. Pemimpin harus memberikan kesempatan kepada bawahannya, kepada Manajer-manajer untuk berkembang. Jangan sampai semua ruangan mau dikuasai sendiri. Jangan sampai leaders menelorkan visi, menyusun strategi, juga menjalankannya sendiri. Leaders selalu memberikan kesempatan. Jangan-jangan bawahan mempunyai cara yang lebih baik dari kita.Selamat jalan Robby Djohan, bankir, leaders, dan seorang Guru Manajemen yang luar biasa.,