toto zurianto
Minggu-minggu ini, perayaan kemerdekaan RI ke 68 masih tetap meriah dilaksanakan, apakah di kantor pemerintah, di kampung-kampung, di sekolah, atau di pasar sekalipun. Ada kegembiraan di hati kita ketika kita berada di bulan Agustus. Apalagi khusus tahun ini, peringatan kemerdekaan ke 68 ini masih dalam suasana Lebaran Iedul Fitri. Jadi kegembiraannya bisa berlipat-lipat.
Hanya saja, ketika kita bergembira dan bersyukur, performance ekonomi kita sangatlah tidak berjalan searah. Sejak awal puasa, sampai menjelang akhir bulan Agustus, situasi nilai tukar Rupiah terus mendapatkan tekanan yang keras. Kini berkisar pada angka plus minus Rp11 ribuan untuk satu dollar Amerika. Banyak penyebabnya, salah satunya situasi dan kebijakan ekonomi di Amerika sendiri.
Tapi apapun penyebabnya, peringatan 68 tahun Merdeka adalah sesuatu yang kita jalankan dengan rasa syukur dan tetap prihatin.
Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bukan saja mengenai nilai tukar rupiah dan pergerakan saham di pasar modal, juga situasi politik Indonesia menjelang Pemilihan Umum 2014. Padahal pengganggu utama perekonomian kita, diantaranya praktek korupsi dan nepotisme, penguasaan perekonomian pada sekelompok orang, sogok menyogok dalam mendapatkan proyek (pemerintah), pelaksanaan tender yang curang, dan berbagai transaksi ekonomi yang tidak terbuka.
Mari menjalani masa depan Indonesia lebih baik lagi. Banyak hal yang sudah dilakukan, tetapi masih banyak penyimpangan yang belum berhasil kita tertibkan, juga masih banyak tantangan masa depan yang harus kita perbaiki. Inilah tantangan ke depan yang belum selesai ketika kita merayakan proklamasi kemerdekaan ke 68. Merdeka dan tetap sungguh-sungguh bekerja.
CHANGE and Leadership mengundang teman dan sahabat untuk sharing pengetahuan, informasi, atau hiburan dalam rangka memperluas wawasan dan persahabatan! CHANGE and Leadership tidak membatasi peminat pada suatu bidang keilmuan atau minat tertentu. CHANGE and Leadership adalah forum lintas pengetahuan, bisa digunakan untuk mengulas hal-hal yang berhubungan dengan praktek kepemimpinan, manajemen, SDM, sosial, ekonomi, dan politik, juga bagi penggemar sport, sastra, musik, kuliner, dan travel!
Friday, 23 August 2013
Friday, 7 June 2013
Mencari Pemimpin yang Humble
toto zurianto
Dua hal utama yang disebutkan Jim Collins (Good to Great) sebagai prasyarat seorang pemimpin level 5 (level Five Leadership), yaitu orang yang Professional will (sangat kompeten dan visioner) serta Humble, orang yang rendah hati, memberika kesejukan, membangun semangat, tetapi tidak ragu melakukan kritikan (atau bimbingan) untuk mencapai performance yang lebih hebat.
Pemimpin, pertama, karena kelahiran keputusan, atau secara formal, dia ditetapkan menjadi pemimpin setelah mengikuti rapat atau pertemuan pemangku kepentingan. Ini sebagai modal awal, tetapi, selanjutnya penting untuk mencapai tahap yang terbaik dalam karir dan kepemimpinannya.
Bagi Jim Collins, ini yang kedua penting, pemimpin itu selalu harus profesional dan visioner. Kita sering tidak nyaman ketika menyaksikan pemimpin hanya berkutat pada hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dan cenderung mengulang-ulang apa yang sudah pernah dilakukan pada waktu sebelumnya. Pemimpin seperti ini, yang bekerja tanpa visi kuat, tetapi dengan gaya yang sedikit keras dan "rada tengil", banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi jangan heran, di zaman modern sekarang ini, banyak juga pemimpin yang percaya tahayul dan perdukunan. Ini sebenarnya pernah dicacat Mochtar Lubis di sekitar tahun 70-an yang disebutnya sebagai ciri manusia Indonesia yang tidak saja munafik (hipokrit), juga percaya tahyul.
Hati-hati, kalau di organisasi modern seperti Bank Indonesia, banyak juga orang yang percaya tahyul dan dukun, sehingga orang yang sebelumnya setengah intelektual (educated), tidak jarang terjerumus juga ke lembah praktek perdukunan seperti ini.
Jadi, sekali lagi, jangan lupa, pemimpin adalah orang yang memiliki kompetensi teruji, selalu menggunakan akal sehat, dan mempunyai visi ke depan yang luas (forward looking).
Terakhir, pemimpin modern, selalu menampilkan ketegasan dan kelembutan. Kita banyak melihat pemimpin yang memiliki visi kuat, tetapi kurang menghargai manusia. Ini sejelek-jeleknya pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dihormati, dihargai, di-respek, karena kehebatannnya. Tetapi sekaligus dicintai dan dirindui karena penghargaannya yang tinggi kepada orang lain. Pemimpin, bukan orang yang berjarak puluhan atau ratusan kilometer dari orang yang dipimpin. Pemimpin, hanya berjarak satu meter, atau satu lembar kertas saja dengan orang yang dipimpin, atau anak buahnya. Karena itu, semuanya perlu memberikan respek kepada siapapun, apakah ke atasan, atau ke bawahan, kepada orang yang lebih tua, atau kepada seorang yang lebih muda. Hubungan-hubungan seperti ini yang akan membuat suatu organisasi menjadi hebat (great) dan saling trusted yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja organisasi.
Kitapun mempunyai peran untuk membangun organisasi kita, apakah sebagai pemimpin, atau sebagai orang yang dipimpin. Bekerja, disamping memberikan kontribusi kepada lembaga atau organisasi, juga memberikan respek kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Itulah yang membuat diri kita menjadi terhormat dan dihargai.
Dua hal utama yang disebutkan Jim Collins (Good to Great) sebagai prasyarat seorang pemimpin level 5 (level Five Leadership), yaitu orang yang Professional will (sangat kompeten dan visioner) serta Humble, orang yang rendah hati, memberika kesejukan, membangun semangat, tetapi tidak ragu melakukan kritikan (atau bimbingan) untuk mencapai performance yang lebih hebat.
Pemimpin, pertama, karena kelahiran keputusan, atau secara formal, dia ditetapkan menjadi pemimpin setelah mengikuti rapat atau pertemuan pemangku kepentingan. Ini sebagai modal awal, tetapi, selanjutnya penting untuk mencapai tahap yang terbaik dalam karir dan kepemimpinannya.
Bagi Jim Collins, ini yang kedua penting, pemimpin itu selalu harus profesional dan visioner. Kita sering tidak nyaman ketika menyaksikan pemimpin hanya berkutat pada hal-hal kecil, hal-hal sederhana, dan cenderung mengulang-ulang apa yang sudah pernah dilakukan pada waktu sebelumnya. Pemimpin seperti ini, yang bekerja tanpa visi kuat, tetapi dengan gaya yang sedikit keras dan "rada tengil", banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi jangan heran, di zaman modern sekarang ini, banyak juga pemimpin yang percaya tahayul dan perdukunan. Ini sebenarnya pernah dicacat Mochtar Lubis di sekitar tahun 70-an yang disebutnya sebagai ciri manusia Indonesia yang tidak saja munafik (hipokrit), juga percaya tahyul.
Hati-hati, kalau di organisasi modern seperti Bank Indonesia, banyak juga orang yang percaya tahyul dan dukun, sehingga orang yang sebelumnya setengah intelektual (educated), tidak jarang terjerumus juga ke lembah praktek perdukunan seperti ini.
Jadi, sekali lagi, jangan lupa, pemimpin adalah orang yang memiliki kompetensi teruji, selalu menggunakan akal sehat, dan mempunyai visi ke depan yang luas (forward looking).
Terakhir, pemimpin modern, selalu menampilkan ketegasan dan kelembutan. Kita banyak melihat pemimpin yang memiliki visi kuat, tetapi kurang menghargai manusia. Ini sejelek-jeleknya pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dihormati, dihargai, di-respek, karena kehebatannnya. Tetapi sekaligus dicintai dan dirindui karena penghargaannya yang tinggi kepada orang lain. Pemimpin, bukan orang yang berjarak puluhan atau ratusan kilometer dari orang yang dipimpin. Pemimpin, hanya berjarak satu meter, atau satu lembar kertas saja dengan orang yang dipimpin, atau anak buahnya. Karena itu, semuanya perlu memberikan respek kepada siapapun, apakah ke atasan, atau ke bawahan, kepada orang yang lebih tua, atau kepada seorang yang lebih muda. Hubungan-hubungan seperti ini yang akan membuat suatu organisasi menjadi hebat (great) dan saling trusted yang akhirnya bisa meningkatkan kinerja organisasi.
Kitapun mempunyai peran untuk membangun organisasi kita, apakah sebagai pemimpin, atau sebagai orang yang dipimpin. Bekerja, disamping memberikan kontribusi kepada lembaga atau organisasi, juga memberikan respek kepada siapa saja yang ada di sekitar kita. Itulah yang membuat diri kita menjadi terhormat dan dihargai.
Wednesday, 22 May 2013
Pedagang Cina Glodok
toto zurianto
5/20/2013
Kawasan Kota, termasuk wilayah Glodok, sejak zaman Belanda telah menjadi pusat usaha dan pemukiman pengusaha etnis Tionghoa di Jakarta. Saat ini lokasi utama pedagang Glodok meliputi; Glodok Jaya (Hayam Wuruk), Glodok Plaza (Harco), Pinangsia, dan Glodok City. Masing-masing lokasi, biasanya memiliki spesialisasi barang dagangan tersendiri, apakah elektronik, AC dan alat pendingin, Gen Set (generator electric), perlengkapan rumah tangga, mesin-mesin, dan lain-lain.
Kawasan ini sudah hadir sejak zaman Belanda dan dirintis oleh generasi pertama penguasa Tionghoa yang menjalankan usahanya secara sangat sederhana melalui kerja keras yang djalankan bertahun-tahun dalam ikatan kekeluargaan yang ketat.
Bisnis Cina Glodok, atau pengusaha etnis Tionghoa kawasan Glodok, bahkan sampai saat sekarang, yang kini mulai dijalankan oleh generasi Ketiga, atau cucu dari para pendiri, umumnya tetap sebagai usaha bisnis tradisionil, tetapi dengan omset yang bisa sangat besar. Beberapa ciri dasar yang bisa kita temui antara lain, masih sangat banyak diantara mereka yang bekerja atas dasar kepercayaan dan hubungan kekeluargaan yang tinggi. Sentuhan modern memang sudah biasa ditemui di kawasan Glodok, tetapi cara mereka bekerja sungguhnya sangatlah tradisionil. Dimulai dari toko-toko kecil yang dilayani oleh para anggota keluarga tidak banyak yang didukung oleh kaum profesional yang bukan keluarga.
Lalu secara umum, pebisnis kawasan ini umumnya mengandalkan aspek kekeluargaan dan kejujuran yang luar biasa. Tidak jarang, bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui, bagaimana kegiatan pinjam-meminjam uang diantara mereka bisa berlangsung dalam hitungan detik atau menit untuk transaksi pinjaman yang mencapai nilai ratusan juta Rupiah. Tidak ada perjanjian hukum yang dibuat, apalagi alat analisis seperti yang dilakukan oleh pihak perbankan (modern), bahkan sering tanpa kejelasan dan dukungan barang jaminan. Semua perjanjian hanya ditulis tangan pada kertas bekas yang memperlihatkan jumlah uang yang dipinjam beserta tanda tangan peminjam. Tidak ada kata-kata janji atau bea materai, semuanya adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk kemudahan yang luar biasa.
Kepercayaan adalah nilai utama yang berlaku umum di kawasan Glodok yang secara umum, seluruh pengusaha atau pedagang pada masing-masing kawasan, sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan asal muasal orang tua dan kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tetapi bagi orang-orang yang dinilai telah melanggar aturan umum yang mereka jalankan, secara mudah, menjalankan hukuman sosial yang sangat berat sehingga terpaksa harus angkat kaki dari kawasan tersebut.
Dengan cara seperti itu, banyak konglomerat Indonesia yang ternyata awalnya memulai usahanya secara tradisionil dan kekeluargaan dari kawasan Glodok ini. Bahkan beberapa perusahaan modern Indonesia adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menjalankan usaha secara kekeluargaan dan tradisionil, seperti yang kini mulai hadir sebagai supermarket bisnis keperluan rumah dan kantor secara modern, seperti; Ace Hardware, PT Kawan Lama, atau Kenari Jaya yang kini menjadi raja Kunci di Indonesia.
Beberapa keluarga ternama juga mengawali karirnya di kawasan ini, seperti Mochtar Riady, Liem Sioe Liong, termasuk keluarga Haji Achmad Bakrie. Kita tidak tahu bagaimana kawasan Glodok di masa akan datang. Hanya saja yang selalu dipertahankan oleh pebisnis Cina dari kawasan Glodok adalah untuk selalu bekerja keras dan mempertahankan kejujuran, serta sikap hidup hemat (efisien) yang selalu tidak ingin berlebih-lebihan.
5/20/2013
Kawasan Kota, termasuk wilayah Glodok, sejak zaman Belanda telah menjadi pusat usaha dan pemukiman pengusaha etnis Tionghoa di Jakarta. Saat ini lokasi utama pedagang Glodok meliputi; Glodok Jaya (Hayam Wuruk), Glodok Plaza (Harco), Pinangsia, dan Glodok City. Masing-masing lokasi, biasanya memiliki spesialisasi barang dagangan tersendiri, apakah elektronik, AC dan alat pendingin, Gen Set (generator electric), perlengkapan rumah tangga, mesin-mesin, dan lain-lain.
Kawasan ini sudah hadir sejak zaman Belanda dan dirintis oleh generasi pertama penguasa Tionghoa yang menjalankan usahanya secara sangat sederhana melalui kerja keras yang djalankan bertahun-tahun dalam ikatan kekeluargaan yang ketat.
Bisnis Cina Glodok, atau pengusaha etnis Tionghoa kawasan Glodok, bahkan sampai saat sekarang, yang kini mulai dijalankan oleh generasi Ketiga, atau cucu dari para pendiri, umumnya tetap sebagai usaha bisnis tradisionil, tetapi dengan omset yang bisa sangat besar. Beberapa ciri dasar yang bisa kita temui antara lain, masih sangat banyak diantara mereka yang bekerja atas dasar kepercayaan dan hubungan kekeluargaan yang tinggi. Sentuhan modern memang sudah biasa ditemui di kawasan Glodok, tetapi cara mereka bekerja sungguhnya sangatlah tradisionil. Dimulai dari toko-toko kecil yang dilayani oleh para anggota keluarga tidak banyak yang didukung oleh kaum profesional yang bukan keluarga.
Lalu secara umum, pebisnis kawasan ini umumnya mengandalkan aspek kekeluargaan dan kejujuran yang luar biasa. Tidak jarang, bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang mudah ditemui, bagaimana kegiatan pinjam-meminjam uang diantara mereka bisa berlangsung dalam hitungan detik atau menit untuk transaksi pinjaman yang mencapai nilai ratusan juta Rupiah. Tidak ada perjanjian hukum yang dibuat, apalagi alat analisis seperti yang dilakukan oleh pihak perbankan (modern), bahkan sering tanpa kejelasan dan dukungan barang jaminan. Semua perjanjian hanya ditulis tangan pada kertas bekas yang memperlihatkan jumlah uang yang dipinjam beserta tanda tangan peminjam. Tidak ada kata-kata janji atau bea materai, semuanya adalah kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk kemudahan yang luar biasa.
Kepercayaan adalah nilai utama yang berlaku umum di kawasan Glodok yang secara umum, seluruh pengusaha atau pedagang pada masing-masing kawasan, sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan asal muasal orang tua dan kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tetapi bagi orang-orang yang dinilai telah melanggar aturan umum yang mereka jalankan, secara mudah, menjalankan hukuman sosial yang sangat berat sehingga terpaksa harus angkat kaki dari kawasan tersebut.
Dengan cara seperti itu, banyak konglomerat Indonesia yang ternyata awalnya memulai usahanya secara tradisionil dan kekeluargaan dari kawasan Glodok ini. Bahkan beberapa perusahaan modern Indonesia adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menjalankan usaha secara kekeluargaan dan tradisionil, seperti yang kini mulai hadir sebagai supermarket bisnis keperluan rumah dan kantor secara modern, seperti; Ace Hardware, PT Kawan Lama, atau Kenari Jaya yang kini menjadi raja Kunci di Indonesia.
Beberapa keluarga ternama juga mengawali karirnya di kawasan ini, seperti Mochtar Riady, Liem Sioe Liong, termasuk keluarga Haji Achmad Bakrie. Kita tidak tahu bagaimana kawasan Glodok di masa akan datang. Hanya saja yang selalu dipertahankan oleh pebisnis Cina dari kawasan Glodok adalah untuk selalu bekerja keras dan mempertahankan kejujuran, serta sikap hidup hemat (efisien) yang selalu tidak ingin berlebih-lebihan.
Tuesday, 7 May 2013
Mulailah tidak melakukan hal-hal yang tidak Perlu
toto zurianto
Kebanyakan kita terlalu asyik memikirkan hal-hal yang akan dilakukan besok. Kita, terutama para manajer dan eksekutif, semuanya mempunyai Agenda Esok, atau suatu "To Do List". Bahkan tidak sedikit dari kita yang hobby-nya mengutak-atik jadwal (work-plan) dari hari ke hari. Keadaan ini, tidak jarang mewarnai kehidupan kita yang membuat kita gelisah apabila tidak mempunyai pekerjaan lagi
Kebanyakan kita terlalu asyik memikirkan hal-hal yang akan dilakukan besok. Kita, terutama para manajer dan eksekutif, semuanya mempunyai Agenda Esok, atau suatu "To Do List". Bahkan tidak sedikit dari kita yang hobby-nya mengutak-atik jadwal (work-plan) dari hari ke hari. Keadaan ini, tidak jarang mewarnai kehidupan kita yang membuat kita gelisah apabila tidak mempunyai pekerjaan lagi
Tentu saja mengatur plan adalah hal yang baik. Tetapi, perlu pula sekali-sekali kita mempunyai "Rencana untuk tidak mengerjakan banyak hal". Kita perlu mempunyai suatu "Stop Doing List" yang berisi rencana-rencana untuk tidak mengerjakan banyak hal. Tidak sedikit aktivitas sehari-hari yang dikerjakan karena sudah kita lakukan berulang-ulang sejak dulu. Sering sebenarnya kegiatan itu tidak ada kaitannya dengan upaya kita untuk mewujudkan sasaran yang akan dicapai.
Oleh karena itu, perlu sejak hari ini kita perlu mulai meninggalkan hal-hal yang sebenarnya kurang relevant dengan upaya untuk mencapai suatu target tertentu. Kita perlu memiliki prioritas, yaitu hanya atas sesuatu yang memberikan value added.
High Performance Organization
toto zurianto
Menciptakan organisasi berkinerja tinggi, jelas sangat ditentukan oleh SDM yang menjalankan organisasi itu, terutama pada level pemimpin utamanya (CEO dan Direksi, serta para Top Management). Bagaimana cara kita mendapatkan orang-orang yang "akan" berkinerja tinggi? Kita harus mengawalinya dengan pelaksanaan seleksi (recruitment) mendapatkannya. Masih banyak pemimpin yang kurang menaruh perhatian pada program recruitment yang dilakukan. Bahkan sering pula melakukan kompromi tanpa diikuti tanggung jawab yang sepadan. Apalagi kegagalan untuk mendapatkan pegawai yang jempolan, tidak terlalu harus dipertanggung-jawabkan.
Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan sebelum proses recruitment untuk mendapatkan Superior People. Pertama, kita perlu mendefiniskan apa yang kita maksudkan sebagai Superior People. Kalau kita belum sepakat mengenai superior people, tidak mungkin kita bisa mendapatkan orang yang superior seperti yang kita kehendaki.
Kedua, ketika kita hendak mendapatkan orang yang superior (superior people), maka kita perlu sepakat mengenai kinerja yang superior. Secara praktis, fungsi kinerja tidak semata-mata kompetensi (skill and behavior), tetapi yang lebih penting menyangkut result yang mampu dipersempahkan.
Ketiga, kalau kita sudah paham tentang kinerja yang superior, maka kita perlu segera mendapatkan orang-orang yang tidak saja kompeten, tetapi sekaligus memiliki motivasi kuat untuk maju.
Menciptakan organisasi berkinerja tinggi, jelas sangat ditentukan oleh SDM yang menjalankan organisasi itu, terutama pada level pemimpin utamanya (CEO dan Direksi, serta para Top Management). Bagaimana cara kita mendapatkan orang-orang yang "akan" berkinerja tinggi? Kita harus mengawalinya dengan pelaksanaan seleksi (recruitment) mendapatkannya. Masih banyak pemimpin yang kurang menaruh perhatian pada program recruitment yang dilakukan. Bahkan sering pula melakukan kompromi tanpa diikuti tanggung jawab yang sepadan. Apalagi kegagalan untuk mendapatkan pegawai yang jempolan, tidak terlalu harus dipertanggung-jawabkan.
Oleh karena itu, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan sebelum proses recruitment untuk mendapatkan Superior People. Pertama, kita perlu mendefiniskan apa yang kita maksudkan sebagai Superior People. Kalau kita belum sepakat mengenai superior people, tidak mungkin kita bisa mendapatkan orang yang superior seperti yang kita kehendaki.
Kedua, ketika kita hendak mendapatkan orang yang superior (superior people), maka kita perlu sepakat mengenai kinerja yang superior. Secara praktis, fungsi kinerja tidak semata-mata kompetensi (skill and behavior), tetapi yang lebih penting menyangkut result yang mampu dipersempahkan.
Ketiga, kalau kita sudah paham tentang kinerja yang superior, maka kita perlu segera mendapatkan orang-orang yang tidak saja kompeten, tetapi sekaligus memiliki motivasi kuat untuk maju.
Kepemimpinan, Perlu memperhatikan Kepentingan Nasional
toto zurianto
Kepemimpinan seperti apa yang diharapkan muncul di Indonesia
dalam rangka membangun masyakat dan bangsa Indonesia dewasa ini? Secara
universal, tentu saja, pemimpin yang visioner, mampu mewujudkan objektifnya,
dan tegas terhadap praktek KKN.
Tetapi disamping itu, ada beberapa situasi yang selalu harus
dipertimbangkan yang kini menjadi tuntutan masyarakat dunia, yaitu; terciptanya
iklim demokrasi di bidang politik dan ekonomi, keterbukaan (transparency),
pengaruh teknologi dan sistem informasi yang bergerak cepat, kesadaran akan lingkungan
yang sehat dan sustain (green economy), dan adanya batas-batas negara yang
semakin tidak terlihat (borderless world). Lalu di dalam negeri, Pemimpin
nasional dituntut menjaga setiap transaksi ekonomi Indonesia, jangan sampai
tidak memperhatikan kepentingan nasional kita (national interest).
Perwujudan dari upaya memperhatikan kepentingan nasional
tidak diartikan bahwa Indonesia akan menjalankan sistem ekonomi yang lebih
tertutup, tetapi berusaha secara fair menjadi bagian dari masyarakat
internasional yang sekaligus menjaga keseimbangan agar setiap transaksi ekonomi
yang ada di Indonesia, atau melibatkan sumber daya nasional Indonesia, mampu
memberikan stimulasi ekonomi kepada masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pemimpin nasional perlu memperhatikan bahwa setiap aktivitas
ekonomi Indonesia, mutlak tidak membuat masyarakat Indonesia menjadi tetap
sengsara dan tidak terangkat kesejahteraannya.
Aktivitas atau transaksi ekonomi
di Indonesia sepatutnya selalu mampu membantu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, sekaligus dapat menjaga kekayaan sumber daya alam Indonesia secara
baik dan sustain.
Wednesday, 3 April 2013
Memimpin; Memahami dan Berbuat sesuatu yang lebih baik
toto zurianto
Memimpin sebuah organisasi, lembaga pemerintah, bagian kecil dari suatu institusi, atau sekedar kelompok pengajian atau diskusi kecil di perkampungan, esensiya sama. Selalu berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang berbeda dari yang selama ini dijalankan, atau pelakuka terobosan untuk menciptakan hasil terbaik yang diakui lingkungannya dan masyarakat.
Karena itu, memimpin tidaklah mudah. Kita dituntut untuk memberi perbedaan dari suatu keadaan tertentu. Banyak hal yang dipersiapkan. Kita perlu terlebih dahulu memahami resources dan potensi memungkinkan yang secara maksimal bisa kita dapatkan. Orang orang yang ada di bawah kendali atau kekuasaan kita, haruslah kita pahami secara mendalam, bagaimana potensinya secara individual, cara kerjanya, atau style dan mungkin kekurangannnya perlu pula kita antisipasi.
Inilah proses awal yang dilakukan secara serius. Tidak pernah hanya sekedar tahu. Lakukan assessment sederhana, atau bisa juga menggunakan cara yang lebih ilmiah. Tapi intinya, kita perlu memahami segala hal secara maksimal yang bisa kita dapatkan dari team member kita.
Memimpin sebuah organisasi, lembaga pemerintah, bagian kecil dari suatu institusi, atau sekedar kelompok pengajian atau diskusi kecil di perkampungan, esensiya sama. Selalu berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, yang berbeda dari yang selama ini dijalankan, atau pelakuka terobosan untuk menciptakan hasil terbaik yang diakui lingkungannya dan masyarakat.
Karena itu, memimpin tidaklah mudah. Kita dituntut untuk memberi perbedaan dari suatu keadaan tertentu. Banyak hal yang dipersiapkan. Kita perlu terlebih dahulu memahami resources dan potensi memungkinkan yang secara maksimal bisa kita dapatkan. Orang orang yang ada di bawah kendali atau kekuasaan kita, haruslah kita pahami secara mendalam, bagaimana potensinya secara individual, cara kerjanya, atau style dan mungkin kekurangannnya perlu pula kita antisipasi.
Inilah proses awal yang dilakukan secara serius. Tidak pernah hanya sekedar tahu. Lakukan assessment sederhana, atau bisa juga menggunakan cara yang lebih ilmiah. Tapi intinya, kita perlu memahami segala hal secara maksimal yang bisa kita dapatkan dari team member kita.
Tuesday, 25 December 2012
Menjelang akhir 2012
toto zurianto
Beberapa hari lagi kita meninggalkan 2012, banyak yang belum diselesaikan. Semoga 2013 lebih baik dan memberikan tantangan yang terselesaikan.
Beberapa hari lagi kita meninggalkan 2012, banyak yang belum diselesaikan. Semoga 2013 lebih baik dan memberikan tantangan yang terselesaikan.
Wednesday, 12 September 2012
Memimpin dengan "courage"
toto zurianto
Yang tertinggal dari puasa Ramadhan dan Lebaran bulan lalu, antara lain persoalan pulang ke kampung. Memang menyenangkan ketika kita bisa bersua kembali dengan
sanak keluarga handai tolan. Bukan untuk pamer "keberhasilan", tetapi sudah
menjadi panggilan hati dan tradisi masyarakat kita yang mencintai kebersamaan,
guyub sambil bersyukur, masih bisa menikmati suasana "kampung" yang semakin
dirindukan.
Tetapi, mudik memiliki tantangan yang hebat. Bukan sekedar biayanya, atau
usaha yang harus didukung oleh kondisi fisik yang prima. Mudik, selalu memiliki
risiko tinggi, bahkan sampai harus kehilangan nyawa.
Lihat saja, sampai dengan H+7, lebih dari 800 nyawa melayang dari berbagai bentuk
kecelakaan.
Karena itu, tidaklah mengherankan, betapa besarnya tuntutan masyarakat yang dialamatkan ke pemerintah untuk memperhatikan isu itu. Manajemen mudik sangat mendesak untuk diperbaiki. Tidak sekedar menyediakan armada yang cukup, tetapi
harus bisa dijalani secara aman dan dalam waktu yang normal. Mudik 30 jam, harus
menjadi perhatian pemerintah untuk tidak diulangi kembali di waktu yang akan datang.
Apalagi kalau harus mengenderai motor yang ditumpangi 2 sampai 4 orang (termasuk
anak-anak).
Pemimpin bangsa ini perlu melakukan tindakan yang lebih konseptual untuk
menciptakan manajemen mudik yang cepat dan aman tanpa korban jiwa yang
sia-sia. Salah satu moda transportasi yang tahun ini dinilai telah memberikan pelayanan yang baik
adalah mudik melalui Keretaapi. Meskipun banyak pihak yang menentang keputusan
manajemen kereta api (KAI) yang mewajibkan penumpangnya memiliki tiket kereta bertempat
duduk yang sah (sesuai nama di KTP), mereka tidak bergeming. Keputusan terbaik
harus dilakukan secara berani dan konsisten. Akibatnya sungguh luar biasa.
Penumpang keretaapi akhirnya mampu menikmati perjalanan mudik dengan kereta api
secara nyaman dan tepat waktu. Termasuk kereta api kelas ekonomi yang selama ini
sungguh sangat tidak manusiawi.
Ini adalah keputusan kepemimpinan (leadership decision) yang tidak mudah
dilakukan. Selalu ada godaan untuk tidak konsisten. Tetapi Manajemen Kereta Api
memiliki tekad kuat untuk menjaga keputusannya sehingga menjadi kredibel. Kita perlu mendukung keputusan ini. Tidak mudah pastinya. Selalu ada
tekanan untuk melakukan tindakan yang tidak konsisten. Tetapi, sekali kita konsisten dan kuat membela keputusan yang sudah dibahas pada forum yang kompeten, maka sangat mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik. Ini menjadi tantangan pemerintah kita dan para pelayan dan birokrat. Semoga semakin banyak yang mampu memberikan pelayanan terbaiknya tanpa harus melakukan praktek korupsi dan nepotisme.
Siluman Indonesia
toto zurianto
Ini salah satu pencapaian luar biasa putra-putri Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, Indonesia meluncurkan sebuah Kapal Cepat Rudal (KCR) brand new yang disebut KRI Klewang di galangan kapal
milik PT Lundin Industry Invest di Pantai cacalan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa
Timur.
Kapal perang sepanjang 63 meter berwajah siluman tersebut,
tercatat sebagai salah satu kapal perang paling canggih yang dimiliki TNI
Angkatan laut dengan sudut depan lancip, berlunas tiga (trimaran) dibuat dengan
bahan dasar infus vinylester karbon fiber yang ringan dan mampu menginduksi
panas sehingga sulit terdeteksi radar. Sepintas, kapal ini sangat mirip dengan
pesawat tempur Amerika tercanggih Siluman (stealth) yang juga tidak terdeteksi
oleh radar.
Ada momen luar biasa dari hadirnya kapal canggih ini, yaitu,
kemampuan teknologi kita yang semakin tinggi dan rasa percaya diri untuk
melakukan perubahan radikal. Tidak mudah meyakinkan pemimpin kita, bahwa, kalau
mau, kitapun bisa melakukan banyak hal seperti membuat kapal atau pesawat
canggih dan modern.
Ini menjadi pencapaian luar biasa seperti yang pernah kita
lakukan ketika pertama kali membuat CN-235 dan kemudian yang lebih canggih dan
modern N-250 yang akhirnya nasibnya belum ketahuan sampai sekarang (konon akan dibangun dan dikembangkan kembali menjadi N-2130)
Teknologi adalah salah satu ukuran pencapaian luar biasa
dari suatu negara apabila dia mau mencapai suatu posisi tertentu yang diakui
negara lain. Teknologi akan membuat suatu masyarakat (dan bangsa), mampu
mencapai tahap kemajuan yang luar biasa. Itu juga sebagai implementasi dari berkembangnya
ilmu pengetahuan dan peradaban.
Kita, bangsa Indonesia, saat ini, belumlah mencapai tahap
yang kita idam-idamkan. Masyarakat kita, secara umum, belum dibangun melalui
semangat pengetahuan dan teknologi. Kita, terutama, masih banyak hanya mengandalkan
kekayaan alam dan perdagangan yang nilai tambahnya tidak terlalu maksimal. Ini
adalah tantangan pemimpin. Kini dan di masa depan, secara pasti dan terarah,
kepemimpinan nasional kita harus mampu membulatkan keinginan dan tekadnya untuk
melakukan langkah yang lebih strategis yang melahirkan value added tinggi bagi
masyarakat keseluruhan. Secara potensi,
sama sepeti bangsa-bangsa lain didunia ini, kitapun memiliki SDM yang baik
untuk memainkan peran yang lebih strategis. Kita memiliki banyak insinyur dan
teknokrat untuk menciptakan teknologi terbaik dalam berbagai bidang dan area.
“Ilmu Pengetahuan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah
dunia”, demikan kata Nelson Mandela, tokoh dunia dari Afrika Selatan.
Monday, 21 May 2012
Memahami Kembali "Teori Kompetisi" Michael E. Porter
toto zurianto
Bagi mahasiswa MBA atau Sekolah Bisnis S1 tahun 1980-an
sampai dengan akhir 1990-an, nama Michael E. Porter atau Porter saja, sungguh
sangat tidak asing. Semua dosen dan mahasiswa terpesona untuk bermain pada
pendekatan bisnis yang dikemukakannya. Salah satu yang paling penting adalah
tentang Competition and Strategy dan Competitive Advantage yang diurainya
melalui framework 5 Forces Strategy dan Value Chain.
Michael Porter memberikan pemahaman operasional mengenai
strategi bisnis ketika harus berhadapan dengan perusahaan lain atau pasar
global. Tidak hanya bisnis swasta, tetapi termasuk pula bisnis non profit dan
mengukur kapasitas suatu negara untuk bersaing di pasar internasional
Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengunjungi toko buku
Periplus di Plaza Indonesia, ada satu buku menarik yang menggota saya untuk
memiliki dan membacanya. Buku yang ditulis Joan Magretta, Senior Associate di
Porter’s Institute Harvard Business School,
yang sebelumnya selama 20 tahun pernah bekerja bersama Porter dalam
studi Competitive Strategy, memberikan kesempatan kepada kita, baik yang pernah
membaca atau menyukai tulisan Porter, maupun para generasi muda yang berkeinginan
untuk mengetahui uraian Porter secara lebih dalam.
Kita perlu mengetahui strategi kompetisi ini, tidak peduli
latar belakang kita, apakah sebagai scholar (peneliti dan pengajar) sekolah
bisnis di perguruan tinggi atau sebagai
praktisi yang sehari-hari mengendalikan perusahaan/organisasi untuk bertahan
dan mencoba melakukan penetrasi di pasar nasional dan global.
Untuk memenangkan persaingan misalnya, selalu kita perlu
melakukan analisis struktur industri dan kekuatan-kekuatan yang ada di
sekeliling kita, seperti kekuatan/potensi pemasok (bargaining power odf
suppliers), kemampuan tawar para pembeli (bargaining power of buyers), tantangan
pesaing baru yang selalu mencoba untuk bersaing (threat of new entrants),
produk dan jasa alternatif yang bisa menjadi pengganti (threat of substitute
products or services), dan kedahsyatan tingkat persaingan di antara
perusahaan-perusahaan yang kini sudah ada di pasar (rivalry among existing
competitiors).
Analisis framework ini akan menjelaskan harga dan biaya
rata-rata produk atau jasa pada industri tertentu yang memperkaya keputusan
kita apakah akan bersaing atau harus melakukan strategi lain. Termasuk apakah
kita mampu melakukan positioning untuk memenangkan pasar.
Pada pendekatan yang lain, Porter juga memaksa kita untuk
terus menerus melakukan kajian terhadap strategi value-chain untuk membantu
kita memenangi persaingan. Tidak ada perusahaan atau negara yang bisa bekerja
sendiri dan menjadi efisien atau memenangi persaingan tanpa melibatkan rantai
ikat yang saling berhubungan. Perusahaan perlu melihat industri lain yang bisa
menunjang daya kompetisinya, serta sekaligus sebagai pemasok bagi perusahaan
lain yang menyebabkan daya tawar kita menjadi diperhitungkan dan kuat.
Mungkin bagi sebagian kita, pendekatan Porter ini terasa
sudah mulai hambar. Tetapi Joan Margretta telah memberikan pemahaman lebih
praktis bagi kita mengenai kompetisi dan
strategi memenangi persaingan.
Buku setebal 236 halaman + xi ini terdiri atas 2 bagian, Pertama mengenai kompetisi (what is
competition), antara lain berbicara tentang pemahaman benar (baru) mengenai
strategi yang bagi Porter haruslah menghasilkan “sustainably superior
performance”. Mind-set yang benar itu haruslah melahirkan kinerja terbaik. Hal
lain yang juga dibahas pada bagian pertama mengenai Five Forces Framework dan
Value Chain yang disajikan secara lebih mudah.
Bagian Kedua mengenai
strategi yang harus dilakukan (what is strategy) untuk menang, atau bagaimana
selalu menghadirkan superior performance yang sustain. Penting untuk
mengedepankan value proposition, yaitu elemen strategi yang selalu dikendalikan
dari luar, atau eksternalitas, bukan atas potensi internal. Para pelanggan
(customers)atau stakeholders harus menjadi fokus perhatian, jangan sampai
prusahaan gagal memenuhi ekspektasinya.
Secara keseluruhan menurut saya, buku ini enak untuk
dinikmati, terutama karena kita tidak memerlukan waktu khusus seperti ketika
kita membaca buku Porter yang terlalu tebal. Buku ini terlihat sederhana,
tetapi tetap memuat kerangka analisis yang tajam.
Wednesday, 16 May 2012
Bengkulu
toto zurianto
Bengkulu, salah satu Propinsi yang usianya sudah cukup lama. Potensinya sebenarnya sangat menjanjikan, bukan saja pertambangan dan perkebunan yang memang menjadi unggulan, tetapi tidak bisa disangkal adalah potensi wisatanya. Alam Bengkulu, khususnya kota Bengkulu yang menjadi ibukota propinsi itu, sungguh sangat menjanjikan. Pantai Panjang yang bersih dan memutih, saat ini belumlah dieksplorasi secara serius. Kini waktunya bagi masyarakat Bengkulu, tentu bagi pemerintah kota dan pemerintah propinsi, termasuk para intrepreneur dan pengusaha, untuk merancang pengembangan wisata di kota itu.
Apalagi di kota itu terdapat Benteng peninggalan Inggris Malborough yang sampai saat ini cukup terawat dengan baik, rumah tempat tinggal Soekarno ketika menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, dan kuliner laut yang tidak kalah untuk dikembangkan.
Pantai Panjang yang memutih dan indah!
.
Bengkulu, salah satu Propinsi yang usianya sudah cukup lama. Potensinya sebenarnya sangat menjanjikan, bukan saja pertambangan dan perkebunan yang memang menjadi unggulan, tetapi tidak bisa disangkal adalah potensi wisatanya. Alam Bengkulu, khususnya kota Bengkulu yang menjadi ibukota propinsi itu, sungguh sangat menjanjikan. Pantai Panjang yang bersih dan memutih, saat ini belumlah dieksplorasi secara serius. Kini waktunya bagi masyarakat Bengkulu, tentu bagi pemerintah kota dan pemerintah propinsi, termasuk para intrepreneur dan pengusaha, untuk merancang pengembangan wisata di kota itu.
Apalagi di kota itu terdapat Benteng peninggalan Inggris Malborough yang sampai saat ini cukup terawat dengan baik, rumah tempat tinggal Soekarno ketika menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, dan kuliner laut yang tidak kalah untuk dikembangkan.
Pantai Panjang yang memutih dan indah!
.
Wednesday, 28 March 2012
Swedia - Menuju Less Cash Society
toto zurianto
Swedia adalah salah satu negara yang pertama-tama menggunakan uang (koin), yaitu sekitar tahun 1661. Tapi sekarang, mereka berusaha untuk menjadi sangat less cash, mencoba untuk lebih cashless society. Salah seorang pentolan ABBA, pop group Swedia terkenal tahun 70-an yang juga sangat terkenal di Indonesia, antara lain dengan lagu Fernando, I do I do I do, Chiquititta, kini menjadi duta kampanye masyarakat tanpa koin atau uang kertas. “I can’t see why we should be printing bank notes at all anymore” katanya.
Ketika kita hidup pada era teknologi dan sistem informasi tinggi yang serba digital dewasa ini, penggunaan koin dan bill tentu saja menjadi sangat frustrasi. Sesuatunya menjadi serba lambat, tidak praktis, menimbulkan risiko, bahkan mendukung semakin banyaknya korupsi karena transaksinya menjadi lebih sulit untuk dilacak.
Kini di Swedia, kitapun perlu belajar ke sana, semakin banyak fasilitas umum yang sama sekali tidak mau menerima uang kas. Di banyak kota, sistem transportasi semakin banyak yang tidak menerima pembayaran tunai. Semua hal yang berhubungan dengan pembayaran, apakah pembelian karcis atau tiket, kedai kopi dan majalah, parkir, harus melalui non cash yang dilakukan secara mudah. Tidak hanya uang electronic, tetapi termasuk juga transaksi dengan bantuan cell phone message (SMS). Banyak bank yang tidak lagi menerima pembayaran/setoran dalam bentuk tunai.
Orang-orang yang biasanya sangat mencintai transaksi tunai semakin terdesak. Bahkan lembaga sosial semacam panti asuhan atau lembaga pendidikan, semakin banyak yang menyediakan fasilitas sumbangan secara non tunai. Penumbang atau penerima sumbangan sama-sama menyediakan fasilitas pembayaran non tunai. Jadi, di gereja, misalnya yang terjadi di Carl Gustaf Chuch Karlshamn, sebelah selatan Swedia, baru-baru ini mereka telah meng-instal pelayanan card reader yang akan memudahkan jamaah (worshippers) untuk memberikan sumbangan.
Menurut BIS, kini penggunaan uang kertas dan koin hanya sekitar 3 persen dari seluruh transaksi perekonomian di Swedia, bandingkan dengan rata-rata Eropa sekitar 9 persen dan 7 persen di Amerika. Mereka terus berusaha untuk mengecilkan angka itu, menjadi sekitar 1 persen saja.
Hemat dan Semakin Praktis
Sebuah perusahaan internet Swedia iZettel saat ini sedang mengembangkan sebuah perangkat teknologi sederhana bagi pengguna transaksi nilai kecil. Mirip dengan Square yang sudah dikembangkan di Amerika Serikat, alat ini akan mudah digunakan, sambungkan saja (just plug) ke iPhone atau mobile phone lain, dia akan sangat mudah untuk berfungsi sama seperti terminal kartu kredit yang ada di merchant saat ini. Nanti hal ini akan memudahkan siapa saja untuk melakukan transaksi uang secara mudah secara real time melalui mobile phone (HP).
Mungkin tidak perlu harus menghilangkan coin atau bill sama sekali, tetapi perannya menjadi sangat kecil dengan perkembangan teknologi ke depan.
Mantan Gubernur Bank Sentral Swedia, Lars Nyberg bebrapa waktu yang lalu mengatakan, “uang kertas atau uang logam tentu saja tetap bisa bertahan (survive), tetapi, sama seperti buaya yang nantinya hanya bisa kita lihat di tempat-tempat tertentu pada habitatnya”.
Sebuah fasilitas olah raga bowling di sana, sejak beberapa waktu yang lalu menutuskan untuk tidak menerima pembayaran cash, baik koin maupun kertas. Andrea Wramfelt, pemilik sarana bowling itu percaya, hanya dalam 20 tahun ke depan, koin dan uang kertas akan hilang di Swedia.
Semakin mengecilnya jumlah uang kertas dan koin yang beredar, juga secara siknifikan berpengaruh kepada angka kriminal yang semakin menurun. Perampokan bank yang cukup hebat di sana sepanjang tahun 2008 yang mencapai 110 kasus, tahun lalu (2011), turun hingga hanya 16 kasus. Termasuk semakin sedikitnya transaksi ekonomi ilegal, penyembunyian pajak, dan praktek korupsi yang biasanya lebih banyak didukung oleh uang kertas dan koin untuk menghilangkan jejak (trail) money laundring.
Itali, negara yang banyak menjalankan praktek penyembunyian pajak melalui transaksi cash, juga mulai membatasi transaksi pembayaran tunai menjadi sekitar 1,000 euro saja, sebelumnya bisa mencapai 2,500 euro.
Kapan Indonesia
Kita belum tahu kapan Indonesia kick off menuju less cash country. Bank Indonesia sendiri belum memperlihatkan minat yang kuat untuk menjalankan dan menuju less cash policy. Secara kultur, lingkungan kita sendiri masih terlalu suka dan menikmati harumnya uang kertas baru yang puluhan tahun secara ekslusif bisa dinikmati pegawai Bank Indonesia secara istimewa.
Kalau saja 50, atau 25 persen dari kegiatan pencetakan uang sekarang bisa kita kurangi, luar biasa pengaruhnya, tidak saja bagi Bank Indonesia, tetapi tentunya bagi masyarakat Indonesia. Di luar sana, luar biasa pengaruhnya bagi bangsa kita ketika kita memulai carahidup yang lebih cash less.
IKEA hadir di Indonesia
toto zurianto
Berita koran kemaren (26 Maret 2012), IKEA perusahaan dan toko atau supermarket furniture terkenal asal Swedia, segera membuka gerainya di Indonesia. Bergandengan dengan Hero Tbk, maka dalam waktu dekat masyarakat Indonesia sudah bisa mendapatkan barang-barang IKEA tanpa harus ke luar negeri.
Barang IKEA memang yahud, not the best, but affordable, very usefulness dan mudah perakitannya. Ini juga kesempatan bagi industri furniture Indonesia, mana tahu ada peluang kerjasama untuk memasarkan produk Indonesia tidak hanya di IKEA Indonesia, juga bagi konsumen manca negara.
Sebagai perusahaan Tbk, berita ini berpengaruh cukup positip pada harga saham Hero yang meningkat sekitar 8% kemaren, naik 1500 point menjadi Rp19.400 per saham.
Di samping itu, persaingan bisnis furniture, kebutuhan kantor dan rumah, juga semakin ketat. Terutama akibat masuknya berbagai perusahaan asing pada 5 tahun terakhir ini, sebut saja Ace Hardware dan Informa, serta Pongs. Tetapi tetap menjadi peluang bagi perusahaan lokal untuk merebut pasar supermarket furniture sepanjang memiliki keunggulan kualitas dan harga yang kompetitif. Apalagi masyarakat "berada" Indonesia tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk membeli furniture yang memuaskan keinginannya.
Pertanyaan selanjutnya
Apakah dengan demikian, perekonomian "kita" menjadi lebih didominasi oleh modal asing? Bagi Hero sendiri, sebagian besar gerai Supermarketnya yang pernah sangat terkenal di tahun 90-an, kini semakin sulit untuk ditemui. Di pelosok Jakarta dan kota besar lain, hampir semuanya sudah menjelma menjadi Giant yang besar dan raksasa itu.
Ini juga terjadi di bidang yang lain, tidak hanya di sektor retail yang kini dikuasai oleh retailer asing.
Ini sebuah sinyal yang perlu kita hitung untung ruginya, termasuk dalam membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat miskin, dan kekuatan perekonomian nasional terhadap tekanan dan atau pengaruh eksternal.
Bukan anti asing, tetapi koridornya perlu kita bangun sehingga ada kesamaan pandangan bagi masyarakat Indonesia untuk memahami gejala global ini. Bagaimanapun besar manfaatnya, kita perlu melihat dampak negatifnya secara jernih dan meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.
Tuesday, 13 March 2012
OJK (sedang) Mencari Pemimpin
toto zurianto
Minggu lalu panitia seleksi Pemilihan Calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan mengumumkan 38 nama yang dinilai berhak memasuki tahap seleksi selanjutnya. Diantaranya adalah nama-nama yang secara umum sudah dikenal sebagai ahli keuangan, perbankan, birokrat, dan pengamat ekonomi.
Ada juga beberapa nama yang sudah sangat senior seperti Achjar Iljas, ekonom yang pernah menjadi Deputi Gubernur di Bank Indonesia. Cukup banyak yang berasal dari Bank Indonesia, misalnya, Muliaman D Hadad, Deputi Gubernur BI saat ini, Mulya E Siregar, Endang Kassulanjari, Kusumaningtuti, Purwantari Budiman, dan Nelson Tampubolon.
Dari Kementerian Keuangan juga banyak, antara lain; Firdaus Djaelani (juga kepala Eksekutif LPS), Isa Rachmatarwata, M. Noor Rachman, Mulabasa Hutabarat, dan Nurhaida (Kepala Bapepam. Juga Mulia P Nasution, mantan Sekjen Kemenkeu.
Nama-nama terkenal lain adalah Anggito Abimanyu, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Umar Juoro (ekonom, Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia), Junus Husein (mantan Kepala PPATK), Erry Firmansyah (mantan Direktur BEJ), Chandra M Hamzah (mantan KPK). Cukup banyak juga yang berasal dari kalangan perbankan seperti I Wayan Agus Mertayasa (mantan Direktur Bank Mandiri) dan Peter B. Stok (Komisaris BNI).
38 nama-nama yang akan mengikuti tes kesehatan adalah hasil dari seleksi kapabilitas dengan melihat profil calon yang prosesnya dilakukan oleh sebuah perusahaan assessment yang independen, yaity PT. Iradat Konsultan. Seleksi profil calon tersebut dilakukan untuk mengetahui kompetensi dan personality calon, yang antara lain menguji kapasitas kepemimpinannya (leadership), integritas dan independensinya. Juga dilihat kemampuannya dalam hal strategic thinking, stakeholders management, komunikasi, etika, fairness, sinergi, koordinasi, dankemampuannya melakukan alignment.
Pemimpin seperti apa?
Penting bagi OJK bahwa lembaga ini bukan menjalankan kegiatan yang sama sekali baru. Tetapi, sebuah organisasi baru yang memerlukan komitmen tinggi untuk menjamin kelangsungannya. Ekspektasi masyarakat terhadap OJK sangatlah tinggi. Ada kegalauan terhadap pengawasan sistem keuangan di masa lalu yang dinilai kurang maksimal dilaksanakan. Dengan berdirinya OJK, maka keinginan masyarakat adalah, terciptanya suatu lembaga keuangan yang kredibel dan dapat dipercaya. Pengawasannya diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat. Kita meyakini bahwa lembaga keuangan yang ada, diperkirakan tidak rentan terhadap goncangan.
Masyarakat tidak mau, akibat kesalahan manajemen/pemilik dalam mengelola usahanya, selanjutnya dengan alasan untuk mempertahankan keberlangsungan sistem keuangan yang ada, pemerintah dipaksa mengucurkan bantuan yang bebannya selanjutnya menjadi tanggungan masyarakat keseluruhan.
Tuntutan seperti ini yang membuat kita menjadi concern dan memantau pola rekrutmen pimpinan OJK yang sedang berjalan saat ini. Hakekatnya, kita sedang mencari pemimpin yang kredibel dan dapat dipercaya.
Pengalaman kepemimpinan para calon, atau dikenal dengan istilah track record, jelas sesuatu yang sangat penting. Track Record memberi keyakinan kepada kita bahwa kandidat telah memiliki kompetensi yang secara technical telah teruji. Kalau inti menjadi pertimbangan utama, maka calon dengan latar belakang kompetensi technical akan mendapatkan peluang yang lebih besar.
Tetapi bagi sebuah lembaga besar, ada beberapa pertimbangan lain yang juga sama pentingnya, yaitu karakter kepemimpinannya. Pemimpin yang memiliki strong character biasanya dilihat dari integritasnya.
Integritas adalah akar dan hakikat kepemimpinan. Menurut Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway, ada 3 hal penting yang diperhatikannya dalam merekrut seorang pemimpin/pegawai, yaitu integritas, inteligensia (kompetensinya), dan energinya. Hanya saja, jangan pernah menerima orang yang integritasnya diragukan meskipun dia sangat pintar (high competent people) dan memiliki energi tinggi (a high energy level). “If you don’t have the first (maksudnya Integritas), the other two will kill you” kata Buffet.
Lembaga penting sekelas OJK yang akan mengawal perjalanan lembaga keuangan kita ke depan yang secara tehnis sangat ditentukan oleh kredibilitasnya, tidak boleh ragu untuk mempertimbangkan aspek integritas sebagai suatu kriteria yang tidak tergantikan.
Tentunya di samping itu, karena dasar pendirian OJK termasuk pula untuk menciptakan lembaga pengawasan sektor keuangan yang independen, maka kita pada dasarnya sedang menari pemimpin atau Dewan Komisioner OJK yang juga memiliki karakter independen.
Kita sedang mencari pemimpin yang memiliki tujuan akhir untuk menjaga kepentingan bangsa, bukan kepentingan “kita”, bukan pula dari mana asal kita. Ini adalah perilaku (behavior) penting yang harus dimiliki oleh para pembesar OJK nantinya.
Tuesday, 28 February 2012
Rekening Gendut, bagaimana gerakan pemberantasan Korupsi
toto zurianto
Pemimpin bangsa ini tetap harus bekerja keras. Presiden khususnya, tetap harus selalu dipertanyakan komitmennya untuk memberantas korupsi. Karena ternyata, orang yang korupsi masih belum berkurang. Kasus korupsi masih tetap hebat. Reformasi Birokrasi yang sudah dimulai sejak 5 tahun yang lalu, kini semakin terlihat dingin. Tak banyak pembaharuan yang telah dilakukan. Profesionalisme pegawai negeri sebagai pelayan pemerintah, mungkin banyak yang semakin membaik. Tetapi persoalan rekening gendut, ternyata tidak memperlihatkan kemajuan.
Lebih setahun yang lalu kita dikejutkan dengan kasus Gayus yang memiliki rekening gendut dan sangat gendut. Tapi sekarang tidak banyak beritanya yang bisa kita dengar. Banyak pula dugaan korupsi yang dialamatkan kepada pejabar negara, anggota Kepolisian dan TNI.
Sekali 3 Uang, selalu tidak ada beritanya.
Kini muncul pula rekening Gendut pegawai Dirjen Pajak yang lain, Dhana Widyatmika yang diduga memiliki harta/rekening tidak kurang dari Rp60 milyar. Hebat sekali!
Dari mana uang sebesar itu, mana mungkin penerimaan gaji atau karena melakukan perjalanan dinas. Ya inilah masalah kita yang belum terselesaikan. Korupsi masih menjadi momok yang tidak terjawab. Bagaimana Komitmen penyelenggara negara. Katanya ingin memberantas korupsi, tapi koq semakin banyak?
Pemimpin bangsa ini tetap harus bekerja keras. Presiden khususnya, tetap harus selalu dipertanyakan komitmennya untuk memberantas korupsi. Karena ternyata, orang yang korupsi masih belum berkurang. Kasus korupsi masih tetap hebat. Reformasi Birokrasi yang sudah dimulai sejak 5 tahun yang lalu, kini semakin terlihat dingin. Tak banyak pembaharuan yang telah dilakukan. Profesionalisme pegawai negeri sebagai pelayan pemerintah, mungkin banyak yang semakin membaik. Tetapi persoalan rekening gendut, ternyata tidak memperlihatkan kemajuan.
Lebih setahun yang lalu kita dikejutkan dengan kasus Gayus yang memiliki rekening gendut dan sangat gendut. Tapi sekarang tidak banyak beritanya yang bisa kita dengar. Banyak pula dugaan korupsi yang dialamatkan kepada pejabar negara, anggota Kepolisian dan TNI.
Sekali 3 Uang, selalu tidak ada beritanya.
Kini muncul pula rekening Gendut pegawai Dirjen Pajak yang lain, Dhana Widyatmika yang diduga memiliki harta/rekening tidak kurang dari Rp60 milyar. Hebat sekali!
Dari mana uang sebesar itu, mana mungkin penerimaan gaji atau karena melakukan perjalanan dinas. Ya inilah masalah kita yang belum terselesaikan. Korupsi masih menjadi momok yang tidak terjawab. Bagaimana Komitmen penyelenggara negara. Katanya ingin memberantas korupsi, tapi koq semakin banyak?
Tuesday, 21 February 2012
Japan Aftershock
toto zurianto
Sebuah buku, bukan novel, lebih tepat kisah nyata atau perjalanan penulisnya yang Indonesia asli dan saat ini bermukim di Jepang. Ini adalah cerita mengenai gempa bumi dan Tsunami di Jepang (11 Maret 2011) dan berbagai kejadian setelahnya yang "mengerikan" yaitu bencana reaktor nuklir di Fukushima.
Meskipun rakyat Jepang sudah sangat terbiasa dengan gempa, tetapi situasi yang satu ini benar benar sangat menguji nyali dan kesiapan yang sebenarnya sudah sangat teruji. Dari kakek nenek sampai anak-anak usia dini sebenarnya sudah sering menghadapi gempa dan melakukan simulasi gempa di sekolah sekolah, tetapi ketika situasinya berlangsung begitu hebat, apapun bisa berpengaruh kepada cara kita memberikan respon.
Tulisan Hani Yamashita, seorang ibu rumah tangga dan Junanto Herdiawan, ekonom Bank Indonesia yang bertugas di Tokyo sungguh menarik, memberikan pelajaran, dan membuat kita lebih dalam memahami kehidupan masyarakat Jepang. Ini pelajaran baik bagi siapa juga, terutama kita bangsa Indonesia yang cukup sering menghadapi bencana yang sangat luar biasa.
Sayang, kita tidak pernah ingin bersiap-siap ketika menjalani hidup normal tanpa bencana. Lalu menjadi sangat panik saat bencana tiba yang datangnya tidak bisa diperkirakan. Bahkan untuk bencana gunung berapipun yang sinyalnya sering sudah terlihat selama berminggu-minggu, semua sering kita anggap sebagai angin lalu. "Belanda belum datang", jangan khawatir.
Mudah-mudahan tulisan buku ini memberi pelajaran untuk menyiapkan berbagai kondisi disaster yang mungkin terjadi. Tidak saja karena bencana alam, tetapi juga akibat terorisme, politik, dan krisis lainnya.
Sebuah buku, bukan novel, lebih tepat kisah nyata atau perjalanan penulisnya yang Indonesia asli dan saat ini bermukim di Jepang. Ini adalah cerita mengenai gempa bumi dan Tsunami di Jepang (11 Maret 2011) dan berbagai kejadian setelahnya yang "mengerikan" yaitu bencana reaktor nuklir di Fukushima.
Meskipun rakyat Jepang sudah sangat terbiasa dengan gempa, tetapi situasi yang satu ini benar benar sangat menguji nyali dan kesiapan yang sebenarnya sudah sangat teruji. Dari kakek nenek sampai anak-anak usia dini sebenarnya sudah sering menghadapi gempa dan melakukan simulasi gempa di sekolah sekolah, tetapi ketika situasinya berlangsung begitu hebat, apapun bisa berpengaruh kepada cara kita memberikan respon.
Tulisan Hani Yamashita, seorang ibu rumah tangga dan Junanto Herdiawan, ekonom Bank Indonesia yang bertugas di Tokyo sungguh menarik, memberikan pelajaran, dan membuat kita lebih dalam memahami kehidupan masyarakat Jepang. Ini pelajaran baik bagi siapa juga, terutama kita bangsa Indonesia yang cukup sering menghadapi bencana yang sangat luar biasa.
Sayang, kita tidak pernah ingin bersiap-siap ketika menjalani hidup normal tanpa bencana. Lalu menjadi sangat panik saat bencana tiba yang datangnya tidak bisa diperkirakan. Bahkan untuk bencana gunung berapipun yang sinyalnya sering sudah terlihat selama berminggu-minggu, semua sering kita anggap sebagai angin lalu. "Belanda belum datang", jangan khawatir.
Mudah-mudahan tulisan buku ini memberi pelajaran untuk menyiapkan berbagai kondisi disaster yang mungkin terjadi. Tidak saja karena bencana alam, tetapi juga akibat terorisme, politik, dan krisis lainnya.
Monday, 14 November 2011
Menjaga Kredibilitas OJK
toto zurianto
Selesai sudah diskusi panjang 12 tahun tentang perlu tidaknya suatu lembaga pengawasan sektor keuangan yang baru dibentuk. DPR setuju, kita segera membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terutama akan menggantikan salah satu fungsi Bank Indonesia dalam melakukan pengawasan di sektor perbankan. Juga melakukan pengawasan lembaga keuangan non bank yang selama ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK)/Bapepam Kementerian Keuangan.
Berat sekali pertarungan para pihak sebelum memutuskan berdirinya OJK, terutama antara DJLK/Bapepam dengan Bank Indonesia yang keduanya merasa memiliki hak (dan kewajiban) kuat untuk tetap melanjutkan fungsi pengawasannya.
Tuntutan untuk mendapatkan porsi besar dalam melakukan pengawasan terhadap sektor keuangan (perbankan dan lembaga keuangan bukan bank), jelas tidak semata untuk alasan pengalaman dan profesionalisme organisasi. Tetapi juga atas atasan reputasi dan tanggung jawab yang selama ini sudah dijalankan bertahun-tahun. Apalagi kedua instansi itu juga dianggap sudah memiliki SDM, sistem dan data atau informasi yang sangat diandalkan.
Kini setelah rangkaian silang pendapat seru tersebut berlangsung dengan suatu keputusan baru, apa yang perlu disiapkan untuk membuat lembaga baru ini menjadi efektif? Semua menjadi tugas kita untuk membawa OJK menjadi lembaga yang diandalkan, bukan untuk membuktikan kemungkinan kegagalannya. Kelahirannya jelas telah memakan biaya dan “korban” yang luar biasa. Karena itu, kini para pihak yang berkepentingan, perlu mempersiapkan organisasi dan manajemen OJK secara lebih profesinal.
Menyiapkan Board yang efektif
Tidak ada lagi OJK yang menjadi afiliasi atau underbow tertentu. Semuanya harus didasarkan kepada “untuk kepentingan bangsa dan negara”. Terlalu besar pertaruhannya ketika OJK pada akhirnya terpaksa bermain untuk menjaga kepentingan pihak tertentu. Dewan Komisioner atau kumpulan pemegang kuasa, adalah salah satu bagian utama untuk menjaga kredibilitas dan profesionalisme lembaga ini. Meskipun kehadirannya nanti juga didasarkan kepada keterwakilan dari beberapa pihak, sangat diharapkan proses penunjukkannya adalah dalam rangka kepentingan bangsa dan negara. Keterwakilan bertujuan bukan untuk mewakili kepentingan pihak-pihak yang mewakilkan, tetapi untuk menjaga reputasi dan kredibilitas.
Dua hal utama yang diperlukan untuk menjamin efektivitas kepemimpinan OJK, pertama, proses rekrutmen yang dilakukan secara terbuka (tranparant) dan kedua, mampu menghadirkan para leaders yang kompeten, memiliki karakter kuat, dan bersikap independen.
Banyak kegagalan kepemimpinan di berbagai lembaga negara terutama karena ketidakjelasan proses rekrutmen yang dilakukan. Ketidakjelasan akhirnya berpotensi melahirkan orang-orang yang tidak kompeten, tidak memiliki karakter kuat, dan tidak bersikap independen.
Sebagai penentu akhir yang menetapkan apakah suatu institusi keuangan memiliki kelayakan untuk tetap beroperasi, OJK bukanlah lembaga main-main yang bisa dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja. OJK sangat erat kaitannya dengan maju dan mundurnya kinerja negara kita. Karena, engine ekonomi kita saat ini, masih sangat tergantung kepada perkembangan institusi keuangan dalam berbagai bentuk. Bank dan seluruh lembaga keuangan bukan bank, tetap harus dijaga operasionalnya agar tetap dipercaya (kredibel), memiliki aspek keuangan yang baik, dan luas jangkauannya sehingga bisa dimanfaatkan sampai ke pelosok negeri.
Rancang Bangun organisasi yang efisien
Banyak orang yang membayangkan OJK sebagai sebuah super body dan gabungan dari beberapa institusi pengawasan keuangan yang saat ini ada seperti pengawasan perbankan Bank Indonesia, pengawasan pasar modal Bapepam, atau pengawasan lembaga keuangan lain oleh Kementerian Keuangan. Kitapun sering terburu-buru membuat disain organisasi yang mencoba menggabungkan berbagai institusi pengawasan keuangan tersebut sekaligus lengkap dengan karakter dan kultur yang selama ini sudah berjalan.
Padahal untuk merancang struktur organisasi baru secara teknis, seharusnya lebih mudah dibandingkan dengan menggabungkan beberapa institusi yang sudah berjalan. Karena itu, selalu harus kita kedepankan upaya untuk membuat disain organisasi OJK melalui kertas putih (clean sheet) dengan hanya memperhatikan visi dan misi OJK sebagai institusi pengawasan sektor keuangan yang baru.
Kalau kita perhatikan, lembaga atau institusi yang lama, apalagi yang bersifat “negara” atau “pemerintahan”, sangat jarang bersifat efisien dan modern. Kebanyakan sangat birokratis, duplikasi, memiliki fungsi-fungsi atau pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pencapaian tujuan organisasi, serta lamban dalam menjalankan kegiatannya.
Upaya kita melahirkan OJK baru harus memperhatikan penyakit birokrasi negara yang seperti itu. Membuat disain organisasi OJK baru dengan melakukan penggabungan serta merta beberapa institusi pengawasan yang ada, sangat berpotensi untuk melahirkan OJK yang birokratis, tidak profesional dan mahal. Ini menjadi titik perhatian utama dalam mendisain organisasi OJK yang baru. OJK harus dijauhkan dari hal-hal yang bersifat birokratis, duplikasi yang biasanya berusaha dipertahankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan yang apabila tidak diperhatikan secara serius, justru akan membuat OJK menjadi tidak efektif dan tidak efisien.
Perekrutan SDM yang terjaga reputasinya
Satu hal yang perlu sama-sama diperhatikan adalah adanya sifat atau keinginan dari lembaga negara yang ada untuk mendominasi pos-pos yang ada di OJK. Karena merasa telah berpengalaman dan kompeten, pola rekrutmennya sering dilakukan dengan tidak mengedepankan kepentingan lembaga yang lebih utama.
OJK bukan tempat penampungan para laskar tak beguna. OJK adalah cita-cita untuk mewujudkan suatu lembaga pengawasan yang profesional dan kredibel. Karena itu, pola rekrutmennya perlu dijaga secara baik. Salah satunya adalah dengan menerapkan competency-based recruitment system yang terbuka dan dilakukan oleh pihak-pihak yang terjaga independensinya.
Persoalan SDM oleh lembaga yang ada hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang secara umum dikenal dalam dunia SDM. Bukan dengan jaminan memberikan tempat yang pasti di lembaga baru yang dibentuk. Karena itu melibatkan pihak-pihak independen dalam proses rekrutmen pegawai OJK adalah keharusan dan sebagai Key Success Factor. Memberikan tenggang waktu selama 3 tahun sampai akhir 2014 adalah waktu yang cukup bagi OJK untuk menyiapkan SDM yang kompeten dan profesional.
Mengambil kesempatan
3 hal yang perlu kita perhatikan dalam menyambut kelahirkan OJK sebagai lembaga pengawasan sektor keuangan yang baru,yaitu aspek kepemimpinan (leadership) atau top management, aspek organisasi, dan SDM. Hanya kepemimpinan yang kuat yang mampu menjaga ketiga aspek ini bisa bekerja baik. Kita perlu menjaga OJK agar pendiriannya tidak syarat oleh kepentingan sesaat yang akan membebaninya sepanjang hidupnya kelak. Kita menghargai kerja keras lembaga/organisasi yang ada yang banyak jasanya bagi negara kita. Tetapi tugas ke depan semakin berat, memerlukan semangat baru yang tidak bisa dikompromikan, terutama dalam membangun leadership organisasi, struktur yang efektif dan efisien, serta SDM yang kompeten dan profesional.
Bagi pegawai yang saat ini sudah aktif di pekerjaan pengawsan bank atau lembaga keuangan lainnya, utamanya para pengawas Bank Indonesia dan Bapepam, kelahiran OJK hendaknya tidak terus menerus disesali dan diratapi. OJK adalah opportunity yang harus direbut. Bagi yang sudah memiliki segudang pengalaman sebagai pemeriksa, atau pengawas, atau penyusun regulasi, kelahiran OJK seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Semuanya, termasuk kesempatan karir, perlu direbut dan diperjuangkan. Semuanya perlu memikirkan untuk mendapatkan kesempatan menjalani karir di OJK. Kitapun tidak perlu khawatir berlebih-lebihan mengenai "masa depan" apabila memilih karir di OJK. Sebagai organisasi baru yang diciptakan di era modern, seharusnya OJK "bisa" lebih baik dibandingkan berbagai organisasi lain.
Perbedaan pendapat yang sengit mengenai kelahiran OJK, tidak kondusif untuk kita pelihara terus menerus. OJK perlu kita tatap dalam dimensi yang lain yang lebih menjanjikan.
Sunday, 28 August 2011
Sarjana Kopi Gayo
toto zurianto
Saya pernah tinggal di Tanah Gayo, ketika dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Tengah, sebuah daerah tingkat II yang berada di tengah-tengah propinsi Aceh (sekarang NAD). Iklimnya sejuk, bahkan dingin karena berada sekitar 600 sampai 1500 meter di atas permukaan laut.
Dengan hawa pegunungan dan curah hujan yang tinggi, wilayah ini banayk dipenuhi oleh tanaman pinus Merkusi, sejenis cemara dan pohon Kopi yang rindang hampir di seluruh wilayah Aceh Tengah.
Itu sekitar tahun 70-an. Kini Kabupaten Aceh Tengah pecah menjadi 3 kabupaten, yakni Kabupaten Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon, Kabupaten Bener Meriah di Simpang Tiga, dan Kabupaten Gayo Luwes di Blangkejeren.
Pohon pinus merkusi yang dahulu diusahakan oleh sebuah perkebunan negara, PNP I (Perusahaan Negara Perkebunan I yang berkantor pusat di Langsa, Aceh Timur), kini sudah hilang lenyap dengan bekas-bekas sejarah yang bisa kita saksikan di sana. Menyedihkan memang karena sebelumnya pohon pinus merkusi adalah salah satu produk ekspor andalan yang getahnya (disebut balsem) diolah di pabrik yang ada di Lampahan, 25 kilometer menjelang kota Takengon, menjadi Damar dan Minyak terpentine untuk kebutuhan nasional dan pasar ekspor.
Perkebunan Pinus yang dibuka dan dikembangkan pertama kali oleh perusahaan kolonial Belanda itu, sampai tahun 80-an mempunyai peran yang cukup penting bagi perkembangan masyarakat di daerah tersebut, terutama yang berdekatan dengan areal pengusahaan pohon pinus.
Menjelang akhir tahun 80-an, pemerintah mengalihkan konsesi pohon pinus yang ada ke sebuah perusahaan (swasta) untuk dijadikan sebagai bahan baku kertas yang pabriknya dibuat di wilayah Kabupaten Aceh Timur.
Lalu dimulailah era penebangan pohon pinus selama beberapa (puluhan) tahun yang membuat kondisi tanaman pinus menjadi porak poranda. Penebangan yang seharusnya diikuti oleh program penanaman kembali secara seimbang, ternyata tidak pernah dilakukan. Akibatnya kini, cukup sulit bagi kita untuk menemui wilayah perkebunan pinus yang cukup luas yang bisa menjaga keseimbangan tanaman yang ada di daerah itu.
Tetapi nasib pohon kopi (Gayo) sangatlah berbeda dengan nasib si pohon pinus. Kopi Gayo semakin hari semakin memperlihatkan keunggulannya. Kini, kopi jenis Arabika itu, dapat dikatakan sebagai salah satu primadona kopi yang ada di Indonesia. Tentunya keberhasilan itu, akhirnya telah melahirkan banyak Sarjana Tanah Gayo yang bertebaran di seluruh Indonesia.
Pemimpin Tanpa Integritas
toto zurianto
Gonjang ganjing kepemimpinan di berbagai lembaga dan partai politik akhir-akhir ini telah membuat kita menjadi semakin miris. Hampir putus asa, apakah bangsa kita sama sekali tidak memiliki cukup banyak pemimpin yang berkualitas sekaligus berintegritas?
Belumlah sampai kepada pemimpin yang humble atau rendah hati sebagaimana tipe kepemimpinan level kelima (level five leadership) yang dikemukakan Jim Collins dalam bukunya the Good to Great. Kita masih jauh untuk mencapai harapan seperti itu. Kita masih sekarat hampir putus asa untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas, atau memiliki kompetensi teknikal yang mumpuni (profesional pada bidangnya), dan sekaligus dengan intergitas yang tinggi, atau jujur dan dapat dipercaya atau kredibel.
Dua hal ini, kompetensi teknikal untuk menjalankan bidang tugasnya dan integritas yang tinggi, adalah karakter kuat yang selalu harus dipunyai oleh setiap pemimpin. Tidak saja pada suatu perusahaan atau lembaga, tetapi termasuk tentunya pemimpin nasional yang mengepalai Departemen atau Kementerian, para anggota DPR termasuk politisi partai politik, atau aparat penegak hukum seperti Polisi, Jaksa, dan Hakim.
Salah satu kelemahan utama yang membuat kita kelabakan untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas adalah akibat mekanisme rekutmen yang tidak pernah jelas, tidak terbuka dan cenderung bersifat nepotisme atau pertemanan. Kita selalu heran ketika semakin banyak pemimpin atau pejabat negara yang terlalu mudah terlibat korupsi. Perhatikan kasus Nazaruddin sang bendaharawan itu. Kita terheran-heran, meskipun semuanya perlu dibuktikan kebenarannya. Betapa anak muda yang benar-benar masih berusia muda itu, baru pada mid 30-an, sudah menjadi milyuner yang memiliki urang luar bisa banyaknya. Bagaimana ada seseorang yang belum terlalu lama menjalankan usaha tetapi terlalu mudah mendapatkan uang bermilyar-milyar?
Kenapa partai politik besar semacam Partai Demokrat yang dikenal masyarakat memiliki komitmen besar terhadap pemberantasan budaya KKN bisa mendudukkan Nazaruddin pada posisi yang sangat strategis?
Tidak melakukan rekrutmen secara baik
Salah satu penyebab mudahnya kita terkooptasi adalah karena kita meremehkan masalah rekrutmen dan persyaratannya. Memutuskan menerima seseorang sebagai anggota atau pengurus inti hanya karena dia memiliki harta, jelas suatu kekeliruan besar. Faktor integritas seharusnya menjadi pertimbangan utama. Tidak mudah untuk mendapatkan informasi luas mengenai aspek integritas ini. Kita hanya memerlukan sedikit waktu untuk melakukan penelitian dan cross check, maka semua informasi mengenai seseorang menjadi mudah untuk didapatkan.
Tetapi kalau kita tidak mempunyai niat atau keinginan, semuanya bisa menjadi berantakan. Kalau pemerintah atau pimpinan partai politik tidak pernah benar-benar ingin memberantas korupsi, maka apa yang menjadi nilai yang kita anggap penting, akan sangat mudah untuk dilanggar. Hal ini terlihat dari pelaksanaan seleksi anggota partai politik, pemimpinnya, kepala daerah/pemerintahan, terutama pada saat pemilihan Gubernur, Bupati atau Walikota. Kita hanya terpaku pada unsur uang, apakah calon yang bersangkutan mampu menyediakan uang untuk “membantu” para pemilihnya (konstituen).
Istilah membantu ini mempunyai dimensi luas, mulai dari membantu menyediakan fasilitas jalan raya atau sekolah sebagai suatu kebutuhan penting di daerah, sampai kepada membantu memberikan dana (uang) untuk mengurangi “kemiskinan” penduduk.
Tidak mudah untuk menjaga integritas, tetapi ketika hal itu tidak kita indahkan, maka kasus-kasus ala Nazaruddin yang sekarang telah menjadi borok di Partai Demokrat, akan sangat sulit untuk diberantas. Tetapi bagaimanapun juga, era keterbukaan dan anti KKN adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi. Kegagalan kita untuk menjaga dan mempertahankannya, akan membuat kita menjadi semakin merana dan tentunya akan mengganggu upaya pencapaian tujuan negara menjadi lebih maju, adil dan makmur. Jawabannya, kini kita tidak bisa lagi untuk berkompromi atas nama integritas. Tidak perlu mati-matian membela sahabat atau saudara sendiri yang kerjanya ternyata penuh ketidak jujuran dan mengambil keuntungan dari belakang tanpa diketahui orang lain. Sedih ketika harus menerima fakta bahwa orang yang kita cintai, apakah sahabat ataupun suadara sendiri, ternyata telah menipu kita dan banyak orang.
Steve Jobs now Jobless!
toto zurianto
Salah seorang paling inovatif di dunia khususnya di dunia komputer dan teknologi informasi, Steve Jobs, CEO Apple Inc kemaren resmi mengundurkan diri. Alasannya karena gangguan kesehatan. Sudah cukup lama publik berspekulasi “kapan Steve akan mundur”. Sejak Januari lalu sebenarnya dia sudah tidak aktif di Apple. Kesehatannya terganggu terutama ketika dia terpaksa harus menjalani operasi transplantasi liver tahun 2009.
Steve yang lahir di San Fransisco tahun 1955 adalah pendiri Apple Communicator di sebuah garasi di rumahnya ketika dia baru berusia 21 tahun. Bersama rekannya Steve Wozniak, mereka melahirkan Komputer Macintosh yang segera populer karena memiliki disain dan performa yang hebat tetapi tetap user friendly.
Tahun lalu Steve dan Apple Inc menghasilkan produk inovatif paling populer saat ini, komputer tablet iPad. Jenis komputer ini telah memaksa semua produsen komputer dan telepon genggam untuk meniru dan memproduksi komputer tablet secara luar biasa. Termasuk yang paling greget adalah Galaxy Tab yang dibuat Samsung. Karena dianggap “meniru” kini kedua perusahaan itu sedang berseteru di Masayarakat Eropa.
Pada perjalanannya, pada tahun 1985, Steve sempat keluar dari Apple dan bergabung dengan NeXT Computer, perusahaan yang secara khusus membuat komputer untuk kalangan bisnis. Tetapi tahun 1996 dia kembali lagi ke Apple, sekaligus membeli NeXT senilai US$429 juta untuk berada di bawah Apple Inc.
Mundurnya Steve dari Apple sempat mempengaruhi turunnya harga saham perusahaan itu di bursa , cukup besar sekitar 5% menjadi US$356.32 per lembar (meskipun membaik kembali). Sementara saham produsen pesaing menunjukkan peningkatan yang lumayan, antara lain Samsung Electronic (3%) dan LG Electronic (4%) di bursa Seoul. Sementara Sony di psar Tokyo meningkatkan 2,06%, dan HTC di Taipe menguat 2,7%.
Meskipun Apple dianggap akan mudah recovery dan menjadi leading lembali, tetapi moment turunnya Steve jelas akan direspon oleh perusahaan pesaing untuk memacu produknya dan meningkatkan performance melewati apa yang telah dicapai Apple pada era Steve Jobs. Ini tantangan besar bagi Tim Cook, CEO baru Apple Inc yang sebelumnya menjabat sebagai COO (Chief Operating Officer) dan tim manajemennya. Tim Cook harus mampu mengatasi persoalan jangka pendek karena mundurnya Steve Jobs sekaligus memikirkan strategi jangka panjang agar Apple tetap inovatif dan kuat. Bersama Steve, Apple berhasil menjadi the most admired American company. Bagaimana kemudian?
Friday, 19 August 2011
Merdeka Bang!
toto zurianto
Suasana Tujuhbelasan tahun ini tidaklah meriah. Kalah pamor dibandingkan dengan Nazar Gate (masalah Nazaruddin) yang menyita perhatian. Sampai-sampai kedatangannya dari Bogota dengan menumpang pesawat charter seharga Rp 4 milyar telah menarik perhatian para kuli tinta dan media TV begitu hebat. Semuanya ditayangkan secara live, serba cepat. Padahal tidak jelas, berita dan gambar yang disajikan televisi kepada pemirsanya.
Suasana Tujuhbelasan tahun ini tidaklah meriah. Kalah pamor dibandingkan dengan Nazar Gate (masalah Nazaruddin) yang menyita perhatian. Sampai-sampai kedatangannya dari Bogota dengan menumpang pesawat charter seharga Rp 4 milyar telah menarik perhatian para kuli tinta dan media TV begitu hebat. Semuanya ditayangkan secara live, serba cepat. Padahal tidak jelas, berita dan gambar yang disajikan televisi kepada pemirsanya.
Televisi berlomba untuk menyajikan berita spektakuler kepada penonton, tetapi sebenarnya tidak ada nilai berita sama sekali. Hanya sekedar, “Nazaruddin sudah mendarat dan sampai di Jakarta”. Lalu sebentar kemudian diperlihatkan adanya rombongan mobil menuju Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok untuk diperiksa (kesehatannya). Kemudian setelah diyakini sehat, Nazar dibawa ke kantor KPK, dan malamnya dikembalikan lagi ke Kelapa Dua untuk istirahat. Tidak ada berita layak yang didapat masyarakat melalui aktivitas luar biasa itu.
Tapi Nazaruddin memang hebat. Terlepas dari kesalahannya atau bagaimana dia telah melibatkan banyak orang atas berbagai ucapannya selama buron, juga tidak kurang dari para anggota DPR yang secara resmi (atau kekeluargaan) beserta rombongan besar merasa perlu untuk menjenguk Nazar di Rutan Kelapa Dua.
Jadi beritanya jelas memiliki gaung yang hebat, jauh mengalahkan berita hari keramat kita peringatan Proklamasi 17 Agustus yang ke 66.
Di samping kemeriahan berita Nazar, suasana Ramadhan yang lebih tenang, juga salah satu faktor yang membuat kegiatan tujuh belas tidak banyak terungkap.
Berhubung Ramadhan, banyak kegiatan dan kemeriahan hari proklamasi, sudah dilakukan sebelum puasa, atau beberapa kegiatan dianggap tidak perlu karena suasana Ramadhan.
Tetapi apakah berita dan memori Tujuhbelasan harus menjadi sepi? Ya Tujuhbelasan kini menjadi sepi. Kalaupun ada kemeriahan, itu hanya sebatas pertandingan olah raga dan kesenian (dangdut dan karaoke) yang memang berjalan meriah. Kita senang dan bangga dengan kemenangan Tujuhbelasan karena sudah memenangi medali atas beberapa kompetisi tertentu yang diikuti.
Tetapi, apa yang bisa kita ingat dari peristiwa proklamasi Tujuhbelas itu dalam konteks kemajuan dan reputasi bangsa kita?
Ekonomi memang terlihat mulai stabil. Pertumbuhan ekonomi mulai menggeliat. Banyak pembangunan di berbagai tempat. Tetapi sedihnya, masalah birokrasi dan korupsi, sepertinya masih terlalu jauh untuk dikatakan berhasil.
Korupsi masih merajalela ditengah buruknya birokrasi pemerintah. Kasus-kasus korupsi kini telah meliputi jumlah uang yang sangat besar nilainya. Itu ternyata bisa dilakukan oleh hanya beberapa orang. Lihat saja kasus Nazar. Kalaulah betul apa yang disampaikan KPK, luar biasa sekali Nazaruddin ini.
Bagaimana bobroknya birokrasi kita ketika seorang Nazar ternyata “diduga telah melakukan korupsi” ratusan milyar bahkan sampai ke angka trilun Rupiah. Dia melakukannya di banyak proyek, dalam jumlah yang besar di berbagai departemen/kementerian tentunya melalui puluhan atau ratusan perusahaan pengikut tender palsu. Pasti didukung oleh birokrat palsu sampai kepada para anggota DPR palsu.
Ini yang membuat kita miris ketika melewati detik-detik peringatan Tujuh belas Agustus tahun ini, juga tahun-tahun sebelumnya.
Kita sudah merdeka, sudah lama sekali. Tetapi, kita belum mempunyai karakter merdeka sebagai manusia dan bangsa terhormat yang kehadirannya bisa melahirkan respect dan penghargaan dari orang atau bangsa lain.
Kemerdekaan seharusnya melahirkan manusia yang tidak saja mampu mencapai tahapan kehidupan (ekonomi) yang lebih baik. Tetapi sekaligus dilakukan melalui cara yang terhormat, bermartabat. Buat apa maju kalau dipenuhi oleh para koruptor. Inilah tantangan penting kita menyambut hari kemerdekaan ke 66 ini, bagaimana menciptakan birokrasi (pemerintah) yang efisien, efektif dan profesional, sekaligus membasmi praktek korupsi (yang sangat dahsyat situasinya), kolusi dan nepotisme.
Selamat Ulang Tahun bangsa dan tanah airku. Mari kita memekik keras, MERDEKA!
150 Anak Polisi Jadi Taruna Akademi Kepolisian
toto zurianto
Saya tertarik sebuah berita di detik.com siang ini mengenai penerimaan calon Taruna Akademi Kepolisian tahun 2011. Dari 396 orang yang diterima, 150 diantaranya adalah anak-anak dari keluarga kepolisian.
Ini luar biasa, apalagi Kepolisian termasuk salah satu institusi yang paling berani mengumumkan dan menjalankan kebijakan anti KKN. Kalau kita kebetulan melewati Jalan Trunojoyo, di salah satu Gedungnya yang megah, kita bisa membaca tulisan besar yang meyebutkan ciri penghuninya yang berada dalam kawasan "ANTI KKN".
Saya percaya, keberanian menuliskan rumah kita sebagai kawasan Anti KKN, bukanlah suatu keputusan mudah. Semuanya sudah dipertimbangkan konsekuensinya. Dan Polri agaknya perlu kita percaya, bahwa mereka benar-benar sedang menjalankan kebijakan anti KKN, termasuk tentunya dalam memutuskan untuk menerima calon Taruna Polisi yang 150 diantaranya adalah anak-anak polisi.
Hanya melalui cara-cara yang bersih, nantinya kita bisa menjamin suatu sistem dapat berjalan secara bersih. Ini adalah salah satu upaya untuk memberantas korupsi di negara kita. Polri termasuk sebagai salah satu pilar yang paling menentukan, apakah kita mampu memberantas korupsi atau tidak.
Semoga keyakinan Bapak Wakapolri Nanan Sukarna, adalah suatu pernyataan atau keputusan yang benar didasarkan pola penerimaan yang kredibel dan dengan integritas tinggi.
Senin, 15/08/2011 13:29 WIB
150 Anak Polisi Jadi Calon Taruna Akpol 2011
E Mei Amelia R - detikNews
Jakarta - Sedikitnya 396 orang lulus dalam tahap akhir pencalonan taruna/taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011. Sebanyak 150 dari 396 orang yang dinyatakan lulus adalah anak dari anggota Polri.
"Saya tidak hafal berapa jumlahnya, tapi ada sekitar 150 sekian anaknya polisi mulai dari pangkat bintara, pama (perwira pertama), pamen (perwira menengah) sampai pati (perwira tinggi)," kata Wakapolri, Komjen Nanan Sukarna, usai memimpin Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 di gedung Cendekia Akpol, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/8/2011). Nanan menegaskan, 150-an anak anggota Polri yang lulus ini murni karena kemampuannya. Meski dari ratusan orangtua calon adalah anggota Polri, tidak menjamin kelulusan mereka. Ada dua anak perwira tinggi Polri yang justru tidak lulus. "Dua anak pati Polri yang nggak lulus yaitu anak Kapolda Aceh (Irjen Iskandar Hasan) dan anaknya Kapolda Bangka Belitung (Brigjen M Rum Murkal). Itulah bukti kami konsekuen, kalau tidak memenuhi syarat, ya tidak memenuhi syarat. Kita ingin membuktikan ke masyarakat tidak anaknya perwira tinggi atau anak yang lain. Jadi walaupun anak polisi, harus memenuhi syarat," paparnya.
Di dalam Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 ini ditetapkan 396 orang lulus. Padahal, quota untuk tahun ini adalah 400 orang.
"Artinya ada kekurangan 4 orang, tapi tidak mungkin dipaksakan dari yang tidak memenuhi syarat, sayang sekali. Tapi itulah sistem," kata dia.
Nanan mengatakan, dalam penetapan kelulusan sidang ini dilangsungkan secara terbuka. Ia sekalipun, tidak dapat mengintervensi hasil kelulusan.
"Sekalipun saya, tidak bisa mengintervensi dan menginterupsi sistem yang ada. Itu makanya diharapkan persiapkan dirinya lebih awal," ujar dia.
Nanan melanjutkan, 396 calon taruna dan taruni ini lulus karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena sogokan. Bila ditemukan masih ada panitia pendaftaran calon taruna Akpol yang meminta uang, ia mengimbau masyarakat untuk melaporkannya. "Kalau ada yang menemukan, 'pak msh ada yang bayar, pak masih ada yang kolusi, laporkan, kita akan tampung dalam komplain," ujarnya.
Sementara itu, Nanan juga menegaskan tidak ada sistem 'titipan' dalam penerimaan calon taruna Akpol 2011 ini. Ia mengatakan, bila anaknya ingin dititipkan untuk menjadi polisi harus dibina dulu kemampuannya. "Kalau mau, titipkan ke saya. Kalau ingin nitip, maka nitiplah ke saya sejak 3 tahun, 2 tahun atau minimal 1 tahun sebelumnya agar kita siapkan dia manjadi polisi untuk kita latih dari segi ESQ atau pramukanya. Itulah talent scouting, bukan kolusi," tukasnya. Sementara itu, jumlah polwan di Polri sangat sedikit, padahal quotanya 30 persen. Untuk mengakomodir kekurangan tersebut, Polri membuka pendaftaran calon taruna/taruni Akpol setiap tahunnya berencana menambah kuotanya.
"Tahun depan kita buka lagi catar dan catir, kita siapkan untuk diajukan ke pimpinan, kepada pemerintah, kita tambah kuota," ujarnya. Ia menambahkan, minat calon siswa Akpol setiap tahunnya rata-rata mencapai 17 ribu orang dari seluruh perwakilan Polda. Ia berharap, tahun depan pendaftar terus meningkat. "Kita harapkan meningkat tapi dr kualitasnya. Jangan yang nggak masuk ITB baru masuk Akpol, itu terpaksa namanya. Peminatnya harus banyak tapi yang berkualitas," tutupnya.
"Saya tidak hafal berapa jumlahnya, tapi ada sekitar 150 sekian anaknya polisi mulai dari pangkat bintara, pama (perwira pertama), pamen (perwira menengah) sampai pati (perwira tinggi)," kata Wakapolri, Komjen Nanan Sukarna, usai memimpin Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 di gedung Cendekia Akpol, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/8/2011). Nanan menegaskan, 150-an anak anggota Polri yang lulus ini murni karena kemampuannya. Meski dari ratusan orangtua calon adalah anggota Polri, tidak menjamin kelulusan mereka. Ada dua anak perwira tinggi Polri yang justru tidak lulus. "Dua anak pati Polri yang nggak lulus yaitu anak Kapolda Aceh (Irjen Iskandar Hasan) dan anaknya Kapolda Bangka Belitung (Brigjen M Rum Murkal). Itulah bukti kami konsekuen, kalau tidak memenuhi syarat, ya tidak memenuhi syarat. Kita ingin membuktikan ke masyarakat tidak anaknya perwira tinggi atau anak yang lain. Jadi walaupun anak polisi, harus memenuhi syarat," paparnya.
Di dalam Sidang Penetapan Kelulusan Tahap Akhir Taruna-Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) 2011 ini ditetapkan 396 orang lulus. Padahal, quota untuk tahun ini adalah 400 orang.
"Artinya ada kekurangan 4 orang, tapi tidak mungkin dipaksakan dari yang tidak memenuhi syarat, sayang sekali. Tapi itulah sistem," kata dia.
Nanan mengatakan, dalam penetapan kelulusan sidang ini dilangsungkan secara terbuka. Ia sekalipun, tidak dapat mengintervensi hasil kelulusan.
"Sekalipun saya, tidak bisa mengintervensi dan menginterupsi sistem yang ada. Itu makanya diharapkan persiapkan dirinya lebih awal," ujar dia.
Nanan melanjutkan, 396 calon taruna dan taruni ini lulus karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena sogokan. Bila ditemukan masih ada panitia pendaftaran calon taruna Akpol yang meminta uang, ia mengimbau masyarakat untuk melaporkannya. "Kalau ada yang menemukan, 'pak msh ada yang bayar, pak masih ada yang kolusi, laporkan, kita akan tampung dalam komplain," ujarnya.
Sementara itu, Nanan juga menegaskan tidak ada sistem 'titipan' dalam penerimaan calon taruna Akpol 2011 ini. Ia mengatakan, bila anaknya ingin dititipkan untuk menjadi polisi harus dibina dulu kemampuannya. "Kalau mau, titipkan ke saya. Kalau ingin nitip, maka nitiplah ke saya sejak 3 tahun, 2 tahun atau minimal 1 tahun sebelumnya agar kita siapkan dia manjadi polisi untuk kita latih dari segi ESQ atau pramukanya. Itulah talent scouting, bukan kolusi," tukasnya. Sementara itu, jumlah polwan di Polri sangat sedikit, padahal quotanya 30 persen. Untuk mengakomodir kekurangan tersebut, Polri membuka pendaftaran calon taruna/taruni Akpol setiap tahunnya berencana menambah kuotanya.
"Tahun depan kita buka lagi catar dan catir, kita siapkan untuk diajukan ke pimpinan, kepada pemerintah, kita tambah kuota," ujarnya. Ia menambahkan, minat calon siswa Akpol setiap tahunnya rata-rata mencapai 17 ribu orang dari seluruh perwakilan Polda. Ia berharap, tahun depan pendaftar terus meningkat. "Kita harapkan meningkat tapi dr kualitasnya. Jangan yang nggak masuk ITB baru masuk Akpol, itu terpaksa namanya. Peminatnya harus banyak tapi yang berkualitas," tutupnya.
Friday, 22 July 2011
Madre dan Sepotong Roti
toto zurianto
Apa sih Madre? Mana aku tahu. Aku tidak peduli dan tetap meneruskan membaca untuk menyelesaikan novel yang sudah ada di mejaku sejak 2 hari yang lalu. Seorang kawan menyodorkan 3 buku/novel tipis dan meletakkannya di mejaku. Di samping Madre, ada Nasionalisme tulisan Pandji, ada juga Sebelas Patriot dari Andrea Hirata.
Sebelumnya sudah kuselesaikan novelnya Andrea Hirata Sebelas Patriot. Ringan sekali, tidak terlalu berkesan. Sangat sederhana dibandingkan ke empat Master Piecenya Laskar Pelangi, sang Pemimpi, Edensor, atau Maryamah Karpov. Juga dibandingkan Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas yang masuk kategori lumayan.
Tapi Madre, kumpulan cerita dari Dee “Dewi Lestari” semakin lama semakin ternikmati. Penulis Supernova yang kali ini menghadirkan Madre beserta beberapa puisi dan cerpen, mencoba menyentuh sisi kehidupan masa lalu yang terlihat jauh dari cerita modern abad teknologi informasi. Ini adalah cerita sebuah pabrik roti zaman Belanda yang ada di kota Jakarta yang selama puluhan tahun mencoba menghadirkan resep dan tatacara pengolahan roti kebanggaan penciptanya.
Kisahnya dimulai di sebuah perkuburan di Jakarta ketika seorang anak muda yang selama ini bermukim di Bali, menjalankan kehidupannya secara santai, tiba-tiba diundang untuk mendapatkan sebuah “warisan” dari seorang Cina yang baru saja meninggal.
Tan Sin Gie yang meninggal diusia 93 tahun memilih Tansen, anak muda Bali itu untuk menerima warisan yang ternyata hanya setoples adonan roti yang sudah berusia puluhan tahun.
Adonan roti yang disebut Madre, selalu digunakan dengan dicampurkan bahan baru ketika ingin membuat roti. Sebagian lainnya disimpan kembali dalam toples tadi dan disimpan di dalam kulkas untuk digunakan kembali pada pembuatan roti selanjutnya.
Jelas berbeda dengan proses pembuatan roti modern yang tidak memerlukan “biang” yang disebut Madre itu. Madre lahir sekitar tahun 1941 oleh 2 orang muda yang ketika itu sama-sama bekerja di sebuah pabrik roti. Tan Sin Gie, seorang anak muda keturunan Cina dan Lakshmi, anak gadis cantik keturunan India. Dengan semangat perubahan dan talenta yang kuat, Tan mengajak Lakshmi keluar dari pabrik roti tersebut, bekerja sama untuk membuat roti mereka sendiri.
Kedua anak muda itu tidak saja menjadi partner yang luar biasa, tetapi akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjadi suami istri. Sayang Laksmi tidak berumur panjang dan meninggal ketika melahirkan anaknya Kartika. Kartika sendiri adalah ibunya Tangsen yang meninggal dunia ketika Tangsen masih kecil yang ketika itu tidak mendapatkan cukup informasi mengenai kakeknya Tan Sin Gie. Tansen beserta orangtuanya tinggal di Taksimalaya, sedangkan Tan Sin Gie di Jakarta tetap melanjutkan usaha toko rotinya yang bernama Tan de Bakker yang akhirnya sangat terkenal.
Dari asal muasal yang kabur, selanjutnya Tansen menjadi asing dengan latar belakangnya yang ternyata tidak hanya memiliki garis keturunan India, tetapi dia ternyata cucu langsung dari seorang Cina yang pernah memiliki toko roti terkenal. Sebelumnya Tansen hanya mengetahui bahwa dia adalah cucu seorang wanita India yang telah meninggal dunia dan diasuh oleh Akiknya (kakeknya) di Tasikmalaya.
Yang paling heboh, dia ternyata “harus” mewarisi Madre, adonan roti yang berusia puluhan tahun yang diciptakan kakeknta Tan Sin Gie dan neneknya Lakshmi dengan 5 orang karyawan yang tua yang sudah berusia 70-80 tahun.
Nama Madre sendiri ternyata pernah melekat di tempat lain. Seorang wanita muda pengusaha bakery modern, Mei Tanuwijaya, yang memiliki beberapa gerai di beberapa mall di Jakarta memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap Madre, termasuk Tan de Bakker yang sangat melegenda. Dia berusaha menghubungi Tansen yang sebelumnya telah meng-upload pengalaman singkatnya mengenai Mandre di internet.
Cerita selanjutnya terasa terlalu singkat tetapi sangat mengasyikan. Kita disuguhkan film hidup tahun 50-an atau sebelum tahun 70-an mengenai usaha roti yang pembuatannya penuh dengan ikatan emosional dan kekerabatan.
Bagi Tansen, muncul pula pilihan sulit, apakah harus pulang ke Bali dan menjalani hidupnya seperti kemaren, atau berusaha membangkitkan kembali usaha pabrik roti legendaris Tan de Bakker yang begitu dicintai oleh karyawannya para orang tua yang sangat loyal dan berdedikasi? Atau jangan-jangan karena dia mulai terpesona kepada kecantikan Mei yang begitu energik dan passionate, tidak hanya ketika berbicara bisnis roti dan Madre.
Reformasi Birokrasi; Gagasan yang perlu direformasi ulang
toto zurianto
Saya paling suka dan menggebu-gebu ketika mengikuti diskusi/pembahasan mengenai reformasi birokrasi. Kenapa? Karena saya mempunyai banyak keinginan untuk melihat suatu birokrasi pemerintah kita yang berjalan tanpa KKN, efisien dan efektif. Kita merasa malu, karena pengelolaan negara ini dirasakan semakin lama semakin enggak karuan. Khususnya mengenai korupsi yang semakin merajalela.
Meskipun ada kebanggaan ketika menyaksikan bahwa kondisi negara kita tahun ini, menurut Global Competitiveness Index, menjadi semakin kompetitif dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi lagi-lagi, ada 2 hal utama yang masih mengganjal yang apabila bisa diatasi, saya yakin kita akan semakin membaik. Dua hal yang harus menjadi prioritas adalah menjalankan reformasi birokrasi yang konsisten dan memberantas korupsi sampai keakar-akarnya.
Lalu kenapa kita perlu menjalankan dan mereformasi ulang pelaksanaan reformasi birokrasi? Karena sampai saat ini, hal utama yang dilihat publik barulah sebatas upaya menaikkan penghasilan (gaji) dari para pegawai negeri/lembaga negara lain. Tidak banyak proses kerja dan pengelolaan SDM yang bagus yang sudah dijalankan. Ada penerapan Grading dalam setiap jabatan, tetapi utamanya hanya berguna untuk panduan pemberian tunjangan, bukan dalam rangka melahirkan motivasi kerja yang kompetitif.
Bahkan, kalau diawal reformasi birokrasi kita masih sering mendengarkan banyaknya tindakan yang dilakukan terhadap pegawai yang masih membandel, kini tindakan itu sudah tidak terdengar lagi. Padahal pemberian penghasilan yang tinggi diharapkan dapat mencegah pegawai untuk melakukan tindakan "pencurian" atas harta negara atau melakukan kerja sama dengan pendapatkan imbalan tidak resmi dari pihak lain.
Jadi sangatlah penting dan mendesak bagi kita untuk melakukan reformasi ulang atas pelaksanaan reformasi birokrasi kita. Tantangan eksternal dan global di masa yang akan datang akan semakin berat. Untuk memenangkan persaingan itu, kita harus mempunyai birokrasi yang efisien dan handal. Hal itu hanya bisa didapatkan ketika kita menjalankan proses reformasi tanpa pandang bulu. Bukan sekedar menaikkan gaji tetapi tetap membiarkan birokrat bekerja dengan tidak efisien dan KKN.
Saya paling suka dan menggebu-gebu ketika mengikuti diskusi/pembahasan mengenai reformasi birokrasi. Kenapa? Karena saya mempunyai banyak keinginan untuk melihat suatu birokrasi pemerintah kita yang berjalan tanpa KKN, efisien dan efektif. Kita merasa malu, karena pengelolaan negara ini dirasakan semakin lama semakin enggak karuan. Khususnya mengenai korupsi yang semakin merajalela.
Meskipun ada kebanggaan ketika menyaksikan bahwa kondisi negara kita tahun ini, menurut Global Competitiveness Index, menjadi semakin kompetitif dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi lagi-lagi, ada 2 hal utama yang masih mengganjal yang apabila bisa diatasi, saya yakin kita akan semakin membaik. Dua hal yang harus menjadi prioritas adalah menjalankan reformasi birokrasi yang konsisten dan memberantas korupsi sampai keakar-akarnya.
Lalu kenapa kita perlu menjalankan dan mereformasi ulang pelaksanaan reformasi birokrasi? Karena sampai saat ini, hal utama yang dilihat publik barulah sebatas upaya menaikkan penghasilan (gaji) dari para pegawai negeri/lembaga negara lain. Tidak banyak proses kerja dan pengelolaan SDM yang bagus yang sudah dijalankan. Ada penerapan Grading dalam setiap jabatan, tetapi utamanya hanya berguna untuk panduan pemberian tunjangan, bukan dalam rangka melahirkan motivasi kerja yang kompetitif.
Bahkan, kalau diawal reformasi birokrasi kita masih sering mendengarkan banyaknya tindakan yang dilakukan terhadap pegawai yang masih membandel, kini tindakan itu sudah tidak terdengar lagi. Padahal pemberian penghasilan yang tinggi diharapkan dapat mencegah pegawai untuk melakukan tindakan "pencurian" atas harta negara atau melakukan kerja sama dengan pendapatkan imbalan tidak resmi dari pihak lain.
Jadi sangatlah penting dan mendesak bagi kita untuk melakukan reformasi ulang atas pelaksanaan reformasi birokrasi kita. Tantangan eksternal dan global di masa yang akan datang akan semakin berat. Untuk memenangkan persaingan itu, kita harus mempunyai birokrasi yang efisien dan handal. Hal itu hanya bisa didapatkan ketika kita menjalankan proses reformasi tanpa pandang bulu. Bukan sekedar menaikkan gaji tetapi tetap membiarkan birokrat bekerja dengan tidak efisien dan KKN.
Reformasi Birokrasi; gagasan pensiun dini?
toto zurianto
Toto Zurianto
Kementerian Keuangan menggagas untuk melanjutkan program reformasi birokrasi. Kali ini dengan melakukan program pensiun dini. Tentu saja tujuannya antara lain membangun organisasi yang efektif dan efisien. Strukturnya lebih ramping sehingga gerakannya lebih lincah atau responsif.
Pelaksanan reformasi birokrasi sebelumnya banyak dikritik karena ada kesan hanya menaikkan gaji pegawai dengan memperkenalkan tunjangan jabatan yang besarnya sangat siknifikan. Meskipun di beberapa departemen atau lembaga negara, upaya itu dikaitkan dengan implementasi pengenaan sanksi (punishment) bagi pegawai yang terlibat KKN, tetapi kasus yang terjadi selanjutnya tetap menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat. Khususnya kasus-kasus korupsi yang terjadi di perpajakan dan instansi penegak hukum lainnya.
Kini ketika kementerian Keuangan berkeinginan untuk menerapkan program pensiun dini bagi pegawainya yang dirasakan sudah terlalu banyak atau ternyata tidak cukup kompeten, kita perlu melihat gagasan program ini secara lebih detail dan bagaimana operasionalnya nantinya.
Menuju Efisiensi Organisasi
Program pensiun dini bukan tujuan tetapi suatu konsekuensi ketika kita ingin menciptakan birokrasi pemerintah yang efisien dan efektif. Pendekatannya biasanya melalui proses rekayasa ulang proses kerja, atau dikenal dengan business process reengineering (BPR). Konsep yang sekitar 15 tahun lalu digagas oleh Michael Hammer dan James Champy (1992), utamanya berbicara mengenai perbaikan proses kerja (business process) yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisasi yang terukur. Biasanya dilihat dari faktor biaya, kualitas pekerjaan, pelayanan, dan kecepatan (cost, quality, service, and speed).
Secara sederhana, tentunya terlihat bahwa gagasan pensiun dini akan mengurangi jumlah pegawai (negeri) yang dirasakan sudah sangat banyak. Tetapi, kalau sekedar mengurangi jumlah pegawai tanpa diikuti oleh perbaikan proses kerja, hasilnya sering tidak kelihatan.
Karena itu, program pensiun dini bukanlah hanya mengurangi jumlah pegawai, tetapi melakukan peninjauan ulang atas semua elemen organisasi untuk mendapatkan struktur organisasi yang paling pas, lebih efektif dan efisien.
Sederhananya, semua aktivitas yang diperlukan ada untuk mencapai tujuan organisasi, harus tersedia dan berjalan baik. Konsekuensinya apabila ada aktivitas yang tidak diperlukan untuk mencapai tujuan tetapi ternyata ada, maka harus dihilangkan karena tidak efisien.
Termasuk yang juga aktivitas yang tumpang tindih atau duplikasi, misalnya ada aktivitas yang sama tetapi dilakukan di beberapa Departemen atau Bagian, atau Unit Kerja tertentu, maka perlu disatukan atau digabung. Ini akan membuat organisasi menjadi lebih ramping dan sehat, tidak lagi obesitas yang biasanya lamban dan kaku.
Memerlukan perhitungan yang jelas
Disamping melakukan pembenahan organisasi yang tepat dengan menetapkan struktur organisasi dan struktur jabatan yang diperlukan, maka analisis kebutuhan pegawai, merupakan persyaratan penting yang harus dilakukan sebelum program pensiun dini dijalankan.
Sering kita dengar adanya instansi atau perusahaan menjalankan kebijakan pensiun dini pegawai, tetapi yang kita ketahui hanya memberhentikan sejumlah pegawai dengan memberikan kompensasi (pesangon) yang tinggi dan memadai. Kita jarang mendengar, bagaimana organisasi yang ingin diciptakannya, seluas apa strukturnya dan bagaimana pola jabatan yang diinginkan.
Bagi suatu organisasi pemerintah atau lembaga negara, termasuk perusahaan milik negara (BUMN), program pernsiun dini hendaknya perlu dilakukan secara terbuka dan siap untuk dianalisis publik. Bahkan, kita perlu mengetahui, seberapa banyak pegawai yang aka dikurangi dalam jangka waktu tertentu.
Jangan sampai, misalnya dilakukan program pensiun dini terhadap 1000 pegawai, tetapi ternyata dalam 1 tahun ke depan, kembali dilakukan penerimaan pegawai baru dalam jumlah yang ternyata relatif banyak. Siapapun yang melakukan program pensiun dini, perlu mempunyai rencana jangka panjang tentang penerimaan pegawainya, setidaknya untuk waktu sekitar 5 tahun. Termasuk tentunya melakukan proses rekrutmen tenaga baru yang lebih kompeten dengan pola penerimaan yang lebih baik dan bebas KKN.
Siap menghadapi tantangan internal
Reformasi Birokrasi atau program perubahan (change management) dimanapun dijalankan, biasanya selalu mendapat tantangan hebat dari kalangan internal. Hal tersebut antara lain karena berusaha menghilangkan zona kenyamanan (comfort zone) dan adanya orang yang mendapatkan keuntungan padahal kurang berkontributif (free rider).
Tetapi hal itu ternyata tidak banyak terjadi pada saat reformasi birokrasi pemerintah yang sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak mendapat tantangan karena program perubahan yang dijalankan lebih banyak berupa kenaikan gaji tanpa diikuti dengan penerapan organisasi dan SDM atas dasar kinerja (performance-based culture). Praktek sama-rata sama-rasa yang kurang menghargai pegawai yang lebih berprestasi, cenderung lebih dominan dibandingkan menjalankan praktek SDM atas dasar kontribusi atau diferensiasi.
Kini, seandainya pemerintah akan melakukan rekayasa ulang terhadap organisasi sehingga lebih efisien dan lebih efektif, dipastikan akan diikuti oleh semangat anti comfort zone dan anti free rider.
Organisasi akan memberikan penghargaan yang lebih kepada pegawai yang lebih berprestasi dibandingkan dengan yang menjadi penumpang gelap. Organisasi dipastikan akan lebih serius menjalankan assessment kompetensi, potensi dan kinerja yang secara tegas akan mengklasifikasikan pegawai setidaknya yang sangat kontributif dan potensial (Top Performance), pegawai yang sedang (Middle Performance), dan pegawai yang dinilai kurang mnemenuhi harapan (Low Performance).
Karena selama bertahun-tahun dan puluhan tahun pegawai tidak terbiasa menghadapi kebijakan tegas seperti itu, dapat dipastikan, kebijakan ini akan melahirkan tantangan internal yang sangat kuat. Dipastikan akan ada pegawai merasa menjadi tidak penting, tidak terpakai, dan terpaksa harus bersaing untuk memperebutkan posisi yang lebih terbatas akibat efisiensi organisasi. Karena itu, sering kegiatan seperti ini akhirnya hanya melahirkan konsep yang tidak pernah diimplementasikan.
Perlu pemimpin yang kuat
Ada beberapa persyaratan umum yang selalu harus disiapkan sebelum melakukan perubahan (John P. Kotter).
Pertama, perlu analisis yang tajam untuk menyatakan bahwa kita harus melakukan perubahan. Organisasi sedang menghadapi masa kritis dan tantangan hebat, atau adanya a sense of urgency. Apabila hal ini tidak kita address, maka akan membuat kita semakin sulit dan potensial menyebabkan kehancuran.
Bisa saja pada saat sekarang kita belum berada dalam kategori sulit, tetapi kita sudah melihat kemungkinan datangnya masalah di waktu yang akan datang. Hanya atas dasar sense of urgency yang tinggi, kita memiliki dasar untuk menjalankan program perubahan.
Kedua, memiliki pemimpin yang mampu menjelaskan dan mengajak orang menjalankan program perubahan. Tugas pemimpin antara melakukan komunikasi agar semakin banyak pegawai yang memahami dan mendukung langkah yang akan dijalankan. Kegagalan melakukan komunikasi akan membuat proses perubahan menjadi tersendat karena tidak mendapatkan cukup banyak dukungan (not creating a powerful guiding coalition).
Ketiga, program perubahan harus dipimpin oleh orang-orang yang memiliki visi kuat (have a vision). Ini jelas modal utama untuk menjalankan Transformasi. Bagaimana kita melakukan perubahan kalau Pimpinan perubahan tidak tahu harus mencapai sasaran apa.
Tidak boleh suatu proses transformasi, justru dikendalikan oleh orang-orang yang suka status quo.
Ketiga hal ini adalah persyaratan kritikal dan menjadi pertimbangan utama yang akan membawa keberhasilan atau sebaliknya gagal. Hanya pemimpin yang kuat, tidak hanya kuat visi, tetapi sekaligus dengan karakter atau value yang stabil dan berani (courage) yang mampu menghadapi krikil tajam dari pihak-pihak yang berkepentingan. Melaksanakan reformasi birokrasi adalah salah satu jawaban untuk meningkatkan kompetitif bangsa sehingga mampu bersaing di pasar global untuk menunjang masa depan yang lebih kuat.
Subscribe to:
Posts (Atom)

