Friday, 28 August 2015

Simplicity

toto zurianto

Bagaimana agar efisien, efektif dan kompetitif? Sebuah organisasi, selalu harus melakukan langkah-langkah efisiensi. Setiap biaya harus lebih efisien. Selalu memperbandingkan apa yang kita lakukan dengan apa yang dilakukan orang lain, terutama para pesaing. Kalau orang lain, atau perusahaan lain, terutama perusahaan yang sejenis, bisa memproduksi suatu barang dengan cost yang lebih rendah, maka dalam waktu yang tertentu, kita bisa bangkrut.
Efisiensi adalah salah satu ukuran yang selalu harus kita perhatikan. Tentu saja, efektivitas setiap kegiatan, juga sebuah prioritas. Jangan sampai, apa yang kikta lakukan justru akan menjauhkan kita dari suatu sasaran. Efektif juga diartikan sebagai sebuah pencapaian yang hemat, tidak bertele-tele tapi berhasil.
Ketika kita mampu melakukan kegiatan tertentu secara efisien dan efektif, maka sangat mungkin, kita akan kompetitif dibandingkan lawan-lawan kita. Lalu bagaimana cara kita mewujudkan sasaran tersebut? Ada 3 hal yang secara sederhana bisa dilakukan. Meskipun sederhana, biasanya memberikan dampak yang sangat baik. Langkah tersebut adalah dengan melakukan simplifikasi di dalam setiap langkah/kegiatan kita (simplify the workplace). Hambatan-hambatan, proses kerja yang terlalu kompleks, sering membuat kita tidak efisien yang menghabiskan waktu dan biaya.
Pertemuan-pertemuan yang tidak jelas dan bertele-tele, perlu diperbaiki, atau dibatalkan (eliminasi).

70 Tahun Indonesia Merdeka di OJK

toto zurianto

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad bertindak sebagai Pemimpin Upacara peringatan Proklamasi Republik Indonesia ke 70 bertempat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat 17 Agustus 2015 yang lalu. Peringatan diikuti seluruh pegawai Kantor Pusat OJK berlangsung hikmah di pagi hari yang cerah.

Berikut ini beberapa moment yang sempat diabadikan dari kawasan Lapangan Banteng.













Mempertahankan atau Melenyapkan Birokrasi

toto zurianto


Meskipun ide awal sebuah birokrasi sangatlah bagus, tetapi sebuah organisasi yang birokratis, sangatlah jelek. Tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Birokrasi sebuah model organisasi yang menempatkan posisi-posisi tertentu (yang diatas) memiliki kekuasaan untuk memerintah posisi-posisi tertentu (di bawahnya). Kesatuan line of command seperti ini diperlukan pada organisasi besar, agar efektif, cepat dan efisien.

Tetapi pada zaman modern, model birokrasi yang bdigagas Max Weber tersebut, berubah fungsi dan arti. Birokrasi cenderung menjadi sifat atau karakter para pejabat (terutama pada sektor pemerintahan). Karena itu, perusahaan-perusahaan atau  institusi swasta, selalu menghindari model organisasi yang birokratis ini.

Bahkan, Jack Welch, mantan CEO General Electric yang terkenal, selalu membenci sebuah birokrasi. Bagi Jack, Birokrasi adalah musuh bersama yang harus diperangi. Birokrasi sangat membuang-buang sumber daya, proses pengambilan keputusan yang lamban, persetujuan-persetujuan yang sebenarnya tidak diperlukan, dan semua hal yang menambah-nambah kerja yang bisa membunuh spirit dan daya saing sebuah perusahaan/organisasi.

Sebagian dari kita, entah dengan alasan apa, biasanya agar lebih hati-hati atau efektif, sangat suka mempertahankan hal-hal yang birokratis. Kebanyakan kita mencoba mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijalankan. Ada keinginan untuk menjadi bagian “penting” dari suatu proses. Kita suka memperlamban proses. Kalau bisa diperlambat, kenapa harus cepat.

Ini menjadi tantangan manajemen modern. Apakah mempertahankan, atau melenyapkan sebuah birokrasi. Tapi, upaya melenyapkan birokrasi tidaklah mudah. Kita berhadapan dengan orang-orang yang suka status quo. Banyak pejabat kita, juga kita, suka untuk tidak berubah. Kita sudah berada pada kawasan enak, atau zona nyaman, atau comfort zone. Kenapa harus menjadi tidak nyaman. Ini masalah besar. Kita tidak pernah mengukur, sebenarnya sudah sangat banyak biaya yang kita keluarkan pada zaman yang sangat birokratis. Kitapun tidak bisa bersaing. 

Kini saatnya menghilangkan suasana yang birokratis itu.  Ada 3 hal yang dianjurkan Jack Welch (in Jeffrey A. Krames), Pertama, lenyapkan kegiatan atau pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya tidak kita perlukan (drop unnecessary work). Lihat sekeliling kita yang diwarnai terlalu banyak aturan, semuanya memerlukan approval (persetujuan), juga harus mengisi formulir-formulir yang rebet dan tidak perlu. Kalau tidak bisa dibuang, buat lebih sederhana dan praktis.

Kedua, bersama dengan pimpinan lain, lakukan streamlining proses pengambilan keputusan. Lakukan simplisiti, cepat, dan tingkatkan kompetensi/kapasitas pengambilan keputusan. Jangan lama, yang akan membuat kita tertinggal. Selalu pertimbangkan, bahwa setiap proses pengambilan keputusan yang lama akan membuat pesaing kita menjadi semakin jaya dan bisa mengubur perusahaan atau organisasi kita. Ketiga, ini penting, jadikan suasana dan lingkungan kerja sedikit lebih nyaman dan informal (make your workplace more informal). Jadikan suasana kerja dan pertemuan (meeting) menjadi lebih hangat yang membuat orang tidak sungkan untuk bicara dan berkontribusi. Mari melenyapkan Iklim Birokratis!

Thursday, 27 August 2015

Krisis Rupiah; Apakah Sedemikian Parah?

toto zurianto

Walau bagaimanapun penurunan nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika, kini menjadi perhatian utama pemerintah yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika setiap satu dollar AS, terpaksa harus ditebus menjadi lebih dari Rp14 ribu, kita mulai gelisah. Banyak pertanyaan. Apakah situasi ini akan seburuk keadaan 1997-1998? Wallahu alam. Perhitungannya tidak begitu. Juga tidak separah tahun 2008.
Tapi bisa saja, meskipun keadaan sekarang berbeda dan relatif mudah dikendalikan. Gerakan atau shifting harga Dollar, belum terlalu tinggi. Pergerakan Dollar baru dari Rp12.700-an per dollar, kini menjadi Rp 14.100-an.
Dulu Dollar bergerak dari sekitar Rp3.000-an menjadi Rp17.000-an dan berlangsung dalam kurun waktu yang panjang. Apalagi suku bunga bank juga bergerak seirama karena harus meng-konversi adanya penarikan dana nasabah yang sangat cepat dan besar. Dulu kita belum punya jaminan simpanan, belum punya LPS, dan tidak ada ketentuan yang menjamin keamanan deposan. Dulu, juga kita sedang berada pada tahap transisi politik yang luar biasa. Banyak perbedaan pendapat yang tajam yang membuat suasana tidak terkendali dan chaos.

Sekarang, hampir semua infrastruktur sudah dilengkapi. Kelembagaan sektor keuangan juga sudha sangbat lengkap. Apalagi kredibilitas instisusi dan leadership, berapa pada situasi yang memadai. Baik Pemerintah, Bank Sentral, OJK dan LPS, semuanya memainkan peran dan koordinasi yang dpat dikatakan terjaga.
Meskipun tetap harus dikawal terus menerus, rasanya situasi sekarang seharusnya jauh berbeda dengan situasi 1997-1998. Belumlah masuk kategori parah, tetapi tetap tidak bisa dianggap enteng. Regulasi Sektor Keuangan harus tertata dan lengkap. Semua kesulitan harus sudah diantisipasi. Jangan sampai kita terlambat menyiapkan terjadinya sebuah worst case scenario.

Saturday, 22 August 2015

Pilihan antara Inovasi atau Kedamaian

toto zurianto

Perseteruan antara Jusuf Kalla (JK) dengan Rizal Ramli (RR) dalam kacamata manajemen perubahan dan kepemimpinan, menurut saya lebih sebagai tipe dan pilihan. Tipe Kepemimpinan yang kuat, ekstrovert dan kreatif-inovatif, atau Tipe yang suka lama berpikir, hati-hati, aman, introvert, tapi lebih banyak jalan di tempat.

Presiden Jokowi, sebenarnya, meskipun lebih hati-hati dan aman, tetapi bisa memilih. Apakah menjalankan Kabinet menurut Tipe JK yang sama dengan Tipe RR, atau seperti anggota Kabinet lain yang suka menyelesaikan masalah secara diam-diam. Jangan sampai ada "sesuatu" yang sampai ketahuan ke publik. Tidak harus membohongi publik, tetapi publik tidak disertakan, tidak ikut membahas, apalagi memberikan kritik.

Sebelum Rizal berteriak, tidak ada yang peduli tentang proses pengadaan 35 ribu MW listrik. Tapi tentang rencana pengadaan pesawat Airbus A-350 Garuda memang sudah diketahui, hanya kurang dipahami bagaimanana pengaruhnya terhadap budget, nilai tukar Rupiah yang tertekan, dan kesiapan Garuda berkompetisi di jalur Eropa dan Amerika.

Kini kita tahu apa yang terjadi, apakah itu bagus atau tidak bagus? Substansinya seharusnya bagus. Kita bisa berdebat untuk mencari yang terbaik. Kita bisa melihat apakah semua prosesnya dijalankan secara govern atau mencla-mencle. Kita dapat mempertimbangkan untuk tidak melakukan praktek KKN yang sangat menyengsaraakan rakyat.

Jadi sejak era reformasi, seharusnya kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali yang serba transparant, harus didasarkan pada sesuatu yang paling adilbukan lagi ptaktek KKN. Kolusi dan Nepotisme harus ditempatkan pada tatanan penting yang jadi prioritas untuk dibasmi. Kita sudah cukup maju untuk memberantas praktek Korupsi. Tapi soal Kolusi dan Nepotisme dianggap bukan masalah. Berpijak pada aturan main yang harus adil terhadap semua orang, sering kita menempatkan praktek Kolusi dan Nepotisme sebagai sesuatu yang wajar dan tidak diskriminasi.

Jadi, tinggal pilih, mau diam alon-alon waton kelakon, atau gaya Rizal yang sebenarnya sama dan sebangun dengan gaya JK. Kritik saja, jangan Lemas. Terima Kritikan, jangan Marah. Balaslah setiap kritikan dengan Kebenaran. Tidak perlu damai kalau hasil akhrinya menyengsarakan bangsa dan rakyat. Kita perlu inovasi, kreatifitas, dan sedikit ramai.

Rizal Ramli, "saya menantang Pak JK untuk diskusi terbuka"

Sebenarnya Tipe Pak JK sama dan sebangun dengan Rizal Ramli!

Keterbukaan Kabinet membuat masyarakat bisa menilai yang terbaik!































Friday, 21 August 2015

Indonesia; Negara dengan Banyak Pengecualian

toto zurianto

Dilarang masuk, kecuali mendapatkan izin. Dilarang menerobos Lampu Merah, kecuali mendapat pengawalan polisi. Minggu ini masyarakat kembali heboh. Seorang rakyat biasa, sepertinya seorang biker yang sedang berolahraga, mengambil alih peran polisi untuk mengatur kegiatan di perempatan jalan. Dengan sangat berani, Rakyat biasa ini memberhentikan rombongan Harley Davidson yang dikawal Polisi ketika Lampu Lalu Lintas berwarna merah. Tentu saja para Harleyers marah dan mengamuk, mereka, meskipun sudah dikawal polisi, tetap harus menghentikan kenderaannya.

Mungkin ini sebuah kejadian sangat langka. Bikers yang tergabung dalam Harley Davidson Club, belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Mereka selama ini mendapatkan prioritas polisi sebagai pengendara motor gede (di atas 1000 cc). Bahkan sudah biasa untuk berkonvoi di Jalan Toll yang melarang semua pengendara roda 4 ke bawah. Jalan satu arah atau Verbodden juga sudah biasa untuk dilanggar.
Banyak diskusi dan silang pendapat, bahkan melibatkan mantan Wakapolri, Jenderal Nanan yang juga penggemar dan anggota HD Club. Intinya mereka protes karena sudah mendapatkan mengawalan Polisi Lalu Lintas dan sudah dilindungi Undang-undang.

Bukan Hanya Kasus ini
Sebenarnya sangat banyak kasus yang selama ini melibatkan polisi lalu lintas dengan atas nama Undang-undang Lalu Lintas, telah mendapatkan kemudahan (privilese). Tidak perlu antri seperti kebanyakan rakyat biasa. Tiap sore kita menyaksikan puluhan Pejabat negara, atau bahkan orang biasa, bisa mendapatkan pengawalan polisi berjalan lancar di tengah pengguna lalu lintas kota Jakarta yang macet. Di Puncak setiap Sabtu dan Minggu, banyak juga mereka yang menggunakan jasa pengawalan sehingga terlepas dari aturan dan dapat menerobos kemacetan dengan mudah.

Kita perlu melihat kembali, pemberian pengawalan yang membuat "harga diri" polisi tidak terjaga secara baik. Seolah-olah polisi telah mendapatkan bayaran atas jasa pengawalan yang diberikan. Ini sangat menyedihkan dan hanya terjadi di Indonesia. Pejabat yang ingin menghadiri sebuah acara, atau ingin ke Bandara, bisa berjalan cepat dengan pengawalan polisi lalu lintas. Jangan-jangan para pejabat yang dikawal berpikir, sebenarnya lalu lintas Jakarta sangatlah nyaman dan lancar. Karena itu, mungkin Jakarta tidak memerlukan proyek MRT atau JLT.

Kita bosan menyaksikan bagaimana setiap sore/malam ketika lalu lintas kota Jakarta sedang sangat macet-macetnya, berkali-kali, mobil dan motor polisi menyerobot jalan antrean dengan pemaksaan yang luar biasa. Bukan Presiden, bukan Wakil Presiden, siapa saja, bisa memanfaatkan jasa pengawalan polisi. Kalaulah itu sebuah rombongan besar, mungkin bisa kita pahami. Tapi hanya satu mobil, atau hanya satu orang, tentu sering memunculkan kecemburuan.
Sudah saatnya kita melakukan penataan ulang. Tidak boleh polisi yang dibiayai negara melalui uang rakyat, bisa melakukan pekerjaan yang bukan menjadi pekerjaan utama dan membuat lalu lintas menjadi semakin macet.



Program Pengembangan Kepemimpinan Berjenjang Otoritas Jasa Keuangan Level Direktur 2015

toto zurianto

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad hari Rabu 30 Juli 2015 membuka pendidikan kepemimpinan OJK yang diikuti 29 peserta Level Direktur. Pendidikan yang berlangsung selama sekitar 2 minggu akan ditutup tanggal 18 Agustus 2015 meliputi kegiatan Team Building (berupa Outbound Management Training) tanggal 30-31 Juli di Bandung, kegiatan Klasikal pada tanggal 3-11 Agustus 2015 di OJK Institute Menara Merdeka, dan Field Visit/Presentasi Laporan Kelompok tanggal 12-15 Agustus 2015 di Kabupaten Bantaeng dan Kota Makassar Sulawesi Selatan.
Pendidikan PPKB Level Direktur merupakan jenjang pendidikan karir tertinggi di Otoritas Jasa Keuangan, meliputi beberapa modul yang diberikan dalam bentuk Ceramah, Diskusi, Penugasan, dan Workshop untuk Modul Kepemimpinan (Leadership), Ekonomi dan Sektor Jasa Keuangan, Kebangsaan dan Nasionalisme, Governance dan Etika Bisnis (termasuk Materi Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), Ke-OJK-an (OJK ONE), Komunikasi dan Leaders Image (termasuk Media Handling), Field Visit (mempelajari Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah), Penyusunan Laporan dan Presentasi.
Sebagai penunjang, peserta juga melakukan kunjungan ke Bursa Efek Indonesia (IDX) dan berdiskusi dengan Direktur Utama BEI mengenai perkembangan dan tantangan Pasar Modal Indonesia. Di samping itu, juga dilakukan kunjungan ke Harian Kompas dan mendapatkan penjelasan dari Redaktur Kompas mengenai mekanisme produksi sebuah berita, hubungan kelembagaan, dan kultur kerja di harian Kompas.


Peserta OJK Leadership School (PPKB) Tingkat Direktur Angkatan III Tahun 2015
bersama Ketua dan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan.


Kunjungan ke Bursa Efek Indonesia (IDX) mempelajari
Tantangan dan Perkembangan Pasar Modal Indonesia

Diskusi Kelompok (nampang sejenak di Camera)
Seorang peserta Rakianto Irawanto dengan Nara Sumber Erwin Parengkuan

Direktur Pengelolaan SDM Hikmah Rinaldi menjadi Berita di Harian Kompas

Kuliner; Es Duren Ganti Nan Lamo

toto zurianto

Saya pernah tinggal di Kota Padang, sekitar 40 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 1975. Ketika, Padang termasuk salah satu kota terbaik di Indonesia. Menjadi pusat Perdagangan, Pariwisata, dan Pusat Budaya yang Indah.
Kini, Padang sangatlah ramai dan tetap menjadi salah satu tujuan wisata Indonesia. Termasuk tentunya Wisata Kuliner. Semua makanan Padang, atau tepatnya makanan dari Sumatera Barat, atau Ranah (Tanah) Minangkabau, menjadi sesuatu yang diminati banyak orang. Beberapa Kuliner terkenal dari Sumatera Barat, antara lain; Sate Mak Syukur yang berpusat di Padang Panjang, ada juga Nasi Kapau dari Bukit Tinggi, Rendang dari seluruh wilayah Sumatera Barat, Itiak Lado Mudo (Bebek Cabe Hijau) dari Ngarai Sianok Bukit Tinggi.

Di Kota Padang sendiri, kuliner yang sering didatangi adalah Gulai Kepala Ikan Pauh, sebenarnya asalnya dari Pauh di Kabupaten Pariaman, juga Gulai Kepala Ikan Etek dari Bungus (15 Kilometer dari Kota Padang), Restaurant Lamun Ombak, Sate Itjap, Sate Ganguang-Danguang di daerah Kinol (asalnya dari Payakumbuh). Daerah Kinol (dekat Apotik Kinol) di sekitar Jalan Niaga (Chinatown-nya Padang), terkenal sebagai pusat makanan di Kota Padang, terutama di sore sampai tengah malam.

Masih di sekitar Kinol, ada Restaurant Terkenal, Pagi Sore namanya. Ini benar-benar Top dengan Ayam Gorengnya dan segala makanan  Minang yang sudah buka sejak zaman Belanda. Meskipun namanya sama dengan Restaurant Pagi Sore di Jakarta yang berasal dari Palembang, tapi pemilik dan makanannya berbeda.

Masih di Padang, tentunya kita tidak melewati untuk membeli berbagai oleh oleh Sumatera Barat. Beberapa yang paling terkenal adalah Christine Hakim dan Sherley dengan Keripik Balado, Kacang Tojin, atau Rakik Maco.

Terakhir, jangan lupa menikmati Es Duren Ganti Nan Lamo di Jalan Pulau Karam yang sangat lezat dalam suasana Restaurant yang bagus. Bukan cuma Ganti Nan Lamo, pas di depannya ada juga Restaurant yang sangat mirip, sama-sama meng-klaim sebagai peninggalan masa lalu, Es Duren Iko Gantinya. Mungkin bagus kalau kita sempat mengunjungi keduanya, soalnya tidak ada yang tidak enak. Kalau masih sanggup, datanglah ke KopMil Om Ping di kawasan Pondok, depan Kelenteng di Chinatown Padang. Banyak sekali variasi Ice Kopi yang ditawarkan. Juga makanan kecilnya. Paling lezat dan yang banyak dipesan tentunya Es Kopi Milo, cuma Rp9000 per gelas.



Es Duren (orisinal) dari Restaurant Ganti Nan Lamo

Seorang Pengamen yang Kreatif memainkan Gitar dan
Memanggul Drum sambil bernyanyi (Rabu, 19 Agustus 2015)

Di Ganti Nan Lamo, ada juga Sate Padang, Pem Pek, atau Gado-Gado Padang



Restaurant Pagi Sore, Jalan Niaga Padang, Jangan lupa menikmati
Ayam Gorengnya yang Lezat.


Restaurant Pagi Sore


Kepala Ikan Pauh di Jalan Katib Sulaeman

Restaurant Pauh

Kopi Milo di KopMil Om Ping Pondok, dekat Kelenteng




Thursday, 20 August 2015

OJK semakin penting dan diperlukan

toto zurianto

Kelahiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas sektor jasa keuangan Indonesia sejak 3 tahun yang lalu, direspon beragam oleh masyarakat. Sebagian masyarakat meyakini, dengan adanya pengawasan sektor jasa keuangan yang terintegrasi dalam satu lembaga (organisasi), maka diharapkan berbagai "persoalan" mengenai lembaga jasa keuangan, bisa lebih mudah diantisipasi, diawasi, dan diselesaikan.
Sebelum kelahiran OJK, pengawasan sektor jasa keuangan dilakukan melalui 2 lembaga. Pengawasan Sektor Perbankan, termasuk Bank Perkreditan Rakyat dan Bank-bank dengan pola Syariah, berada di Bank Indonesia. Sedangkan pengawasan terhadap Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) seperti Asuransi, Pegadaian, Perusahaan Pembiayaan, atau Dana Pensiun, dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Terpisahnya kegiatan pengawasan ini membuat berbagai situasi di sektor keuangan menjadi lebih sulit untuk diselesaikan. Apalagi perkembangan industri keuangan sekarang yang semakin meluas dan saling berhubungan satu dengan yang lain.
Pelajaran dari krisis multidimensi tahun 1997/1998 memberi pelajaran berharga bagi Indonesia. Tidak ada pilihan lain, kecuali untuk melakukan kegiatan pengawasan yang terintegrasi.

Setelah lebih sepuluh tahun, maka sejak 1 Januari 2013, OJK resmi beroperasi. Mula-mula hanya melakukan pengawasan terhadap industri Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank. Lalu sejak 1 Januari 2014, pengawasan perbankan yang berada di Bank Indonesia, bergabung ke OJK. Kini, OJK sudah beroperasi secara lengkap dengan coverage tugas pengawasan yang lebih terintegrasi, yaitu pengawasan sektor perbankan, sektor pasar modal, dan sektor IKNB. Lalu, di samping itu, ada fungsi OJK yang sangat penting yang selama ini tidak mendapatkan perhatian di lembaga pengawasan yang lama, yaitu kegiatan edukasi (tentang sektor jasa keuangan) dan perlindungan konsumen (lembaga keuangan).

Tentu saja tidak semua masyarakat memahami dan mengerti atau setuju dengan fungsi-fungsi OJK dan kehadiran OJK tersebut. Ada sekelompok kecil yang melakukan gugatan atas fungsi OJK untuk mengembalikan fungsinya ke lembaga sebelumnya. Juga mengenai kewenangannya di dalam memungut biaya pengawasan dari lembaga keuangan yang ada.
Setelah mengalami persidangan yang panjang di Mahkamah Konstitusi (MK), sejak awal Agustus 2015, semua gugatan yang mempertanyakan kehadiran dan kewenangan OJK, telah ditolak Hakim MK dan menyatakan kehadiran OJK telah sesuai dengan Undang-undang, termasuk Undang-undang Dasar 1945.


Best People for Brighter Future

toto zurianto

Diferensiasi SDM dalam sebuah perusahaan atau organisasi, termasuk di sektor pemerintahan dan lembaga negara, adalah keharusan. Konsep sama rata sama rasa atas dasar hal-hal yang kurang nyata, seharusnya menjadi semakin berkurang. Selama puluhan tahun, banyak organisasi dan lembaga pemerintahan yang menerapkan konsep sama rata sama rasa. Predikat pendidikan misalnya, membuat seseorang secara otomatis, bisa mendapatkan promosi jabatan. Seorang Sarjana Magistra (S2) dan apalagi Sarjana Doktoral (S3) dinilai telah memiliki predikat nilai yang luar biasa. Sering tanpa memperhatikan kinerja (performance), orang-orang seperti ini mendapatkan keberuntungan, lebih sering dipromosikan dibandingkan dengan orang yang pendidikannya lebih rendah.

Karena ini, konsep SDM yang menempatkan "the Best People in Performance and Contribution" sebagai aset organisasi yang akan menentukan masa depan organisasi. Orang-orang seperti ini, yang jumlahnya terbatas, antara 10 - 20 persen, perlu diberikan penghargaan, reward yang lebih, dan career (promosi) yang relatif lrebih cepat. Lalu kita juga memperhatikan "the Middle Performers", jumlahnya lebih banyak, sekitar 60 - 70 persen pegawai, mereka telah bekerja baik dan sangat baik. Mereka harus dihargai, juga diberikan reward yang bagus. Lebih kecil dari Top Performer, tetapi harus lebih bagus dibandingkan organisasi atau perusahaan lain. Kelompok Middle Performer juga memiliki potensi untuk menjadi The best Performer!

Tetapi, dalam sebuah organisasi, selalu ada the Worst Performer! Mereka sering disebut sebagai "liabilities", bukan lagi Asset. Boleh dikatakan tidak memberikan kontribusi dan menjadi orang yang membawa kerugian. Jumlahnya tidak banyak, seharusnya maksimal hanya 5 - 10 persen saja dari total pegawai dan berada pada usia yang tidak muda lagi. Sebenarnya kita bisa membuka pintu bagi the Worst Performer untuk pergi meninggalkan perusahaan. Tetapi, sebaiknya harus ada langkah-langkah perbaikan terlebih dahulu. The Worst Performer belum tentu akibat kesalahan mereka sendiri. Bisa juga karena kelalaian perusahaan, kelalaian manajer dan pemimpin yang alpa melakukan coaching dan counseling. Semua orang perlu diberikan kesempatan, termasuk bagi the Worst Performer. Ini tugas seorang Leader dan Senior manajer. Mungkin kita bisa melakukan rotasi sehingga orang-orang ini bisa bekerja pada tempat yang lebih sesuai dengan Competency dan Passionnya. Atau pada lingkungan yang lebih kondusif. Bisa saja persoalan performance bukan akibat kelemahan individu pegawai. Mungkin lingkungannya, atau orang-orangnya membuat seorang tertentu menjadi tidak termotivasi, atau karena pemimpinnya yang terlalu keras, tangan besi dan kurang komunikasi.

Tetapi, bagaimanapun juga, para Top Performer adalah mesin organisasi dan driver yang akan menentukan masa depan organisasi/lembaga. Para Top Performer tentu saja, termasuk orang yang secara teknis sangat kompeten dan berpengalaman, juga yang penting kinerja dan semangat (passion) yang kuat yang bisa mempengaruhi orang lain.

Jatuhnya Trigana Air

toto zurianto

Pesawat jenis ATR 42-300 milik Trigana Air jatuh di kawasan perbukitan di kawasan distrik Oksibil Papua Minggu 16 Agustus 2015 beberapa hari lalu. Ada 54 korban yang tewas pada peristiwa yang menyedihkan itu. Penyebabnya sedang dalam tahap investigasi.
Kita masyarakat Indonesia tentu sangat prihatin dan duka dengan ada nya peristiwa itu. Masih jelas dalam ingatan kita ketika Air Asia yang berangkat dari Surabaya juga jatuh di perairan selatan Pulau Kalimantan. Banyak penyebab yang mungkin terjadi ketika sebuah pesawat mengalami kecelakaan. Bisa akibat cuaca yang sangat ekstrim yang membuat pesawat kehilangan kendali. Juga akibat Pilot Error yang membuat dia tidak mampu mengendalikan pesawatnya, atau karena kesalahan Pesawat atau Mesin Pesawat itu sendiri yang dinilai kurang laik untuk mengudara.
Apapun penyebabnya, kita perlu melakukan penataan ulang terhadap aturan dan penegakkan aturan pada usaha transportasi udara di Indonesia. Semua hal di bisnis transportasi udara harus dijamin, tanpa ada kesalahan tanpa ada toleransi. Indonesia adalah bagian dari dunia yang berkewajiban untuk menjaga keamanan bisnis transportasi udara secara lebih baik, lebih sempurna. Termasuk pola komunikasi dari perusahaan transportasi dengan pengguna jasa dan masyarakat. Penggunaan tiket atas nama orang lain seperti yang kita dengar, hendaknya segera dihentikan dan tidak terulang lagi. Kita harus memastikan semua informasi dari kegiatan sebuah pesawat, dilakukan secara benar dan tanpa kesalahan.



Wednesday, 19 August 2015

Rizal Ramli Nantang JK; Kita Memerlukan Kritik!

toto zurianto

Belum sehari dilantik sebagai Menteri Kordinator, Rizal Ramli langsung unjuk gigi. Tidak tanggung-tanggung, Dia langsung mempertanyakan kebijakan pemerintah yang dinilainya Inefisien. Tudingan Rizal langsung menohok beberapa orang, terutama Wapres JK dan Menteri BUMN Rini Suwandi. Terutama mengenai pengadaan 35 ribu MW listrik dan rencana Garuda membeli 30 pesawat badan lebar baru jenis Airbus A-350 untuk merebut pasar jarak jauh ke Eropa dan Amerika Serikat. Pengadaan 35 ribu MW dinilai hanya akan memberikan beban kepada negara dan kurang dilakukan secara transparant. Lalu Garuda dinilai belum memiliki kemampuan untuk bersaing di Eropa sehingga akan kesulitan untuk memenuhi kewajiban membayar hutang yang semakin meningkat.
Proyek besar itu, pengadaan listrik 35 ribu MW dan Pembelian Airbus A350, menurut Rizal, tidak perlu dilanjutkan.

Lalu hebohlah Republik. Tentu saja juru bicara dan pendukung JK, termasuk Menteri BUMN, menantang habis Rizal untuk tidak mencampuri urusan Kementerian lain. Bukan saja secara teknis yang mungkin tidak diketahui Rizal, tetapi juga secara Etika, Rizal dinilai sudah diluar konteks, tidak sopan, dan nyeleneh. Para Menteri jadi Heboh, Rizal dinilai sudah membuka aib internal.

Tapi Rizal tidak diam dan semakin membuat gaduh. Dia juga menantang JK untuk melakukan debat publik dan yakin bahwa untuk kepentingan negara, proyek 35 ribu MW listrik harus dibatalkan.
Publik, tentu saja, Pers jadi ramai. Tidak ada penyelesaian.
Kabinet dinilai tidak kompak. Ada masalah di Kabinet yang tidak terselesaikan. Seharusnya semua dilakukan di internal kabinet, bukan diumbar untuk konsumsi publik. Apakah Rizal salah? Atau bagaimana esensi proyek pengadaan listrik 35 ribu MW bagi kepentingan negara dan bangsa? Lalu apakah Garuda salah jika memesan pesawat berbadan lebar A-350?

Ada komunikasi penting yang harus dilakukan pemerintah. Kita perlu mengetahui bagaimana cara pemerintah membangun proyek listrik raksasa itu? dari mana pendanaannya dan dimana lokasinya? Lalu bagaimana proses tendernya, apakah ada pengawalan khusus sehingga bisa mencegah kegiatan kong kali kong? Ini penting untuk dijelaskan. Jangan sampai listrik jalan tersendat, proyek selesai, tapi banyak persoalan dan akhirnya memunculkan banyak korbannya. Rakyat tidak mengetahui kegiatan pengadaan listrik secara detail. PLN atau Kementerian Energi belum pernah menjelaskan. Karena itu, penting untuk mempersoalkan esensi proyek terlebih dahulu.

Lalu apakah Rizal salah? Ini tergantung dari mana kita memberikan penekanan. Juga tergantung kepada selera untuk memahami karakter dan sifat-sifat seseorang.
Apabila dilihat dari pengalaman selama ini, khususnya dari sisi karakter, sebenarnya Rizal cukup mirip dengan JK. Mereka termasuk pemimpin hebat yang bersuara lantang, kritis, dan tidak pandang bulu. Jadi apa yang dilakukan Rizal, sama dan sangat mirip dengan apa yang selama ini dilakukan JK. Ini sesuatu yang sebenarnya masih sangat diperlukan di negara kita. Bersikap kritis, tidak ikut arus dan tentunya dengan dukungan informasi yang lebih baik, adalah sesuatu yang sangat kita inginkan.
Kita kekurangan pemimpin yang tidak mempersoalkan jabatannya. Kita mendambakan para pembantu Presiden yang kritis dan tidak alergi memberikan kritik atau tidak cepat marah apabila dikritik. Persoalannya memang sering terlihat "sedikit kurang sopan". Memberikan kritik memang harus menyakitkan. Mengganggu comfort zone seseorang. Tapi itulah yang lebih penting. Jangan sampai Republik ini, apalagi para pejabat pentingnya, terlalu dipenuhi oleh orang yang bermental Yes Man yang sangat Ewuh Pakewuh! Apa boleh buat, saat ini kita memang sedang memerlukan orang-orang seperti itu, mampu memberikan kritik dan tidak alergi ketika ada orang yang memberikan kritik. Kritik memang lebih baik terbuka. Itu sekaligus akan menguji pandangan seseorang, apakah memiliki landasan profesional yang kuat dan jelas, atau sekedar menjalankan kegiatan dan menghabiskan anggaran yang terlihat wah.
Ayo Rizal, juga siapa saja, jangan berhenti memberikan kritik. Ayo JK, juga siapa saja, jangan juga alergi apabila ada yang mengkritik anda. Tipe Kepemimpinan seperti anda yang sangat Straight-Forward, sangat kita butuhkan. Persaingan ekonomi dunia ke depan, hanya bisa dilakukan ketika kita memiliki tingkat competitiveness yang tinggi. Mana bisa maju, kalau upaya meningkatkan efisiensi tidak kita biasakan. Para Menteri sebaiknya tidak Adem Ayem dan Senyum-senyum saja. Gesekan sesuatu yang biasa dan memang kita perlukan.

Friday, 31 July 2015

OJK Executive Leadership School

toto zurianto

Bertempat di Ruang Knowledge (602) OJK Institute Menara Merdeka Lantai 6, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D. Hadad, membuka Program Pengembangan Kepemimpinan Berjenjang (PPKB) Level Lanjutan Angkatan III yang diikuti 29 peserta tingkat Direktur dari berbagai Satuan Kerja.
Sejak pertama kali berdiri, OJK, dengan berbagai keterbatasan, secara konsisten terus menempatkan kegiatan pembelajaran, termasuk pendidikan kepemimpinan, sebagai bagian penting yang akan mengawal perjalanan lembaga di masa depan.
Dengan tetap mempertahankan, meningkatkan kualitas pelaksanaannya, program pengembangan leadership, dinilai salah satu bagian penting untuk menciptakan SDM OJK yang profesional dan dengan karakter yang terbaik. Tentu saja, termasuk juga dengan peningkatan pengetahuan teknikal (technical competency) dan perilaku (behaviour).
Forum Eksekutif bagi para Direktur di lingkungan OJK akan memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan melalui modul dan kurikulum yang telah dipersiapkan. Termasuk hadirnya para nara sumber sebagai pembicara dan fasilitator yang mumpuni.

Ketua dan Anggota Dewan Komisioner bersama peserta PPKB3 Tahun 2015


Para Ladies peserta PPKB-3

Saturday, 18 July 2015

Idul Fitri; Bisakah Mohon Maaf dan Memaafkan?

toto zurianto

Idul Fitri selalu ditandai dengan ucapan saling bermaafan. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Kita bersilaturahim, saling berkunjung, atau menelephone, atau BBM, atau sms, atau whatsApp, bahagia dengan ucapan maaf dan memaafkan. Tidak ada yang salah dengan ucapan saling maaf memaafkan. Itu adalah peristiwa baik yang sangat dianjurkan oleh agama.

Tapi sebenarnya untuk saling memaafkan, adalah peristiwa yang biasa, mudah saja melaksanakannya. Karena umumnya kita melakukannya dengan orang-orang yang biasa, sering bertemu dengan kita, sering bertegur sapa, dan tidak mempunyai “persoalan” dalam pergaulan sehari-hari.

Paling susah adalah meminta maaf kepada orang-orang yang tidak menyukai kita. Orang-orang yang kumungkinan sakit hati atas ucapan atau perbuatan kita. Baik ucapan yang benar dan bermanfaat, maupun ucapan yang salah, tidak pantas, dan menyakitkan.  Sehari-hari kita cenderung tidak ingin bersilaturahim dengan orang-orang seperti ini. Kita merasa terlalu tinggi, atau “gengsi” untuk meminta maaf kepada orang-orang yang suka menyakiti atau mempermalukan kita. Atau orang yang sangat suka menentang keinginan kita. Atau orang-orang yang suka mempertanyakan sampai sekecil-kecilnya apa yang menjadi keinginan atau ide kita. Mungkin apa yang kita sampaikan sangat baik dan bermanfaat, tetapi sering sekali, atau ada saja orang yang suka bertanya dan mengkritik. Apakah kita bisa memaafkan atau meminta maaf kepada orang-orang yang kita nilai “sangat menyebalkan” seperti ini?

Inilah ujian dari sebuah persoalan “maaf me-maafkan” ini. Sulit memaafkan orang-orang yang telah menyakitkan kita. Sama sulitnya untuk meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakitkan.

Mungkin inilah makna Idul Fitri yang luar biasa. Apabila kita mampu ikhlas untuk meminta maaf, juga memaafkan. Bukan sekedar orang yang sangat dekat dengan kita. Tetapi orang-orang yang tidak terlalu kita sukai, atau orang yang sering menyinggung perasaan kita, orang yang suka menghina, atau mengkritik kita, atau orang yang suka kita permainkan. Kalau Idul Fitri menjadi seperti ini, ini sesuatu yang sangat baik, luar biasa, dan jelas berbeda dengan yang biasanya.



Thursday, 16 July 2015

OC Kaligis, Hakim PTUN, dan Gubernur Sumatera Utara

toto zurianto

Bulan Ramadhan tidak selamanya indah. Bulan yang penuh rahmah dan memberikan kesempatan bagi umatNya untuk membangun taqwa dan amal sholeh, kini terasa lebih pahit. Khususnya bagi para hakim PTUN Medan, juga bagi Gubernur Sumatera Utara. Lebih-lebih bagi O.C Kaligis, pengacara terkenal, hebat, yang banyak membela client yang tersangkut praktek korupsi, meskipun mungin tidak berpuasa, terpaksa merasakan pahitnya bulan Ramadhan.

O.C. Kaligis ditangkap KPK. Mula-mulai diperiksa, dijadikan tersangka, dan langsung ditahan di Rumah Tahaman KPK di Guntur. Ini sesuatu yang tidak banyak diperkirakan orang. Memang masyarakat sering menaruh perhatian besar terhadap kasus-kasus korupsi. Tentu saja, termasuk kepada OC. Kaligis yang banyak membela client-nya yang tersangkut kasus korupsi. Tentu juga tidak relevan, untuk menyatakan bahwa OC. Kaligis adalah pengacara yang menyetujui praktek korupsi. Seorang pengacara, hanyalah orang biasa yang kebetulan sedang bertugas sebagai pembela. Tidak peduli, apakah yang dibela adalah seorang yang diduga melakukan praktek korupsi atau bukan. Hanya sangatlah menarik mendengar OC. Kaligis yang sangat memahami hal-hal yang diharamkan untuk dilakukan, kini terpaksa harus mendekam, karena dituduh terlibat dalam praktek korupsi.

Lalu Ramadhan kali ini, juga terasa pahit bagi Gatot Pudjo Nugroho, Gubernur Provinsi Sumatera Utara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Gubernur.  Ketika menjabat Wakil Gubernur, Pujo promosi menggantikan Gubernur sebelumnya yang juga ditangkap KPK dan menjadi terhukum praktek korupsi. Kita belum tahu apakah Pujo terlibat pada praktek korupsi atau tidak. Yang jelas dia bersama seorang Perempuan, telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri.

Semuanya masih pada tahap pendalaman materi. Termasuk apa yang dialami oleh para Hakim PTUN yang tertangkap tangan KPK. Masyarakat masih menunggu bagaimana perkembangan kasus ini selanjutnya. Hanya ada concern mengenai praktek penyelenggaraan pemerintah di daerah yang syarat dengan praktek yang anti governance. Kini belum belajar banyak dari banyak peristiwa. Kita masih asyik dan berpikir semuanya masih bisa dikendalikan sebagaimana di waktu yang lalu. Kini semuanya sudah berubah. Semuanya tidak bisa diatur secara semena-mena. Ada batasan dan ada aturan.
Seperti juga Ramadhan. Kita berharap apa yang dilakukan sepanjang bulan Ramadhan menjadi rahmat dan faedah yang membawa umatnya menjadi lebih taqwa. Semoga kepahitan Ramadhan bagi kita, bisa menjadi pelajaran untuk selalu lebih baik. Lebih Taqwa, dan Lebih takut melakukan praktek korupsi, praktek kolusi dan praktek nepotisme.

OC Kaligis, Hakim PTUN, dan Gubernur Sumatera Utara

toto zurianto

Bulan Ramadhan tidak selamanya indah. Bulan yang penuh rahmah dan memberikan kesempatan bagi umatNya untuk membangun taqwa dan amal sholeh, kini

Sunday, 12 July 2015

KPK Kembali Tangkap Tangan

toto zurianto

KPK ke Sumatera Utara, lalu menangkap tangan 5 orang, 3 Hakim PTUN Medan, termasuk Kepalanya, lalu Seorang Panitera dan seorang Pengacara dari kantor OC. Kaligis. Ini kasus tangkap tangan yang sudah lama tidak terjadi. Sejak kasus calon Kapolri BG, tidak pernah lagi KPK menunjukkan tajinya. Bahkan untuk beberapa sidang berakhir dengan kekecewaan. Masyarakat kecewa, semua kecewa, tetapi tidak sedikit orang yang senang. Terutama mereka yang sedang dituduh melakukan tindak pidanan korupsi. Mungkin termasuk orang-orang yang merasa sudah melakukan korupsi dan belum "sempat" diusut.

Lalu bulan lalu, semua fraksi di DPR, juga para politisi partai, berlomba-lomba menekan pemerintah untuk melakukan amandemen terhadap Undang-undang KPK. Intinya, wewenang KPK perlu diatur, mungkin maksudnya dikurangi. KPK dinilai sudah sewenang-wenang melakukan tugasnya, khususnya dalam 3 tahun terakhir. Tidak tanggung-tanggung, pimpinan KPK banyak yang diperkarakan, dijadikan tersangka dalam beberapa kasus yang dinilai masyarakat sangat tidak relevan atau sudah obsolence. Pimpinannya juga dijadikan tersangka. Ada 2 yang sempat ditahan/dilepas, Abraham Samad dan Bambang Wijayanto. Kita tidak tahu akhir dari proses penahaman atau sering disebut proses kriminalisasi itu. Kita berharap, ada kejelasan dan proses yang bagus dari setiap isu tentang tindak pidana korupsi ini.

KPK jelas tidak sempurna. Ini adalah keputusan ekstraordinari di Indonesia. Masyarakat menilai persoalan korupsi sudah sangat mengganggu dan luar biasa dampak buruknya. Kita masih memerlukan adanya penegakkan hukum yang dinilai belum mampu dilakukan kejaksanaan dan kepolisian. Jaksa dan Polisi dinilai belum mencapai sebuah tahapan yang bisa melakukan tugas pemberantasan korupsi secara profesional. Kedua institusi itu, Kejaksanaan dan Kepolisian dinilai masih belum bersih dan belum sungguh-sungguh mampu bertanggung jawab menjalankan tugas berat yang sangat menggerogoti reputasi bangsa Indonesia.  Keduanya masih memerlukan proses perbaikan internal jangka panjang untuk menjadikan kegiatan korupsi sebagai sesuatu yang dinilai sangat mengganggu tatanan organisasi, lembaga dan individu pejabatnya.

Kita juga berharapa, proses seleksi terhadapa calon Pimpina  KPK yang sekarang sedang berlangsung, mampu menghasilkan para Pimpinan KPK yang memiliki kredibilitas, trust dan kapasitas yang mampu menjalankan upaya memberantas korupsi tanpa pilih kasih. Kita menginginkan orang-orang yang Profesional, juga Independen tidak dikendalikan dan tidak memanfaatkan jabatannya untuk kepentingannya sendiri dan kelompok-kelompok tertentu. Kita juga berharap para aparat Kejaksaan dan Kepolisian bisa terus menerus memperbaiki diri sehingga suatu saat semua kegiatan pemberantasan korupsi bisa dikembalikan ke institusi itu. Sebuah proses yang harus dimulai dari sekarang yang ditunjukkan oleh Pimpinannya secara konsisten.


Saturday, 11 July 2015

Puasa; dan Lalu Lebaran

toto zurianto

Sabtu 11 Juli 2015, kini Ramadhan ke 24 tahun ini. Mungkin Jumat (18 Juli 2015) atau Sabtu umat Islam Indonesia akan merayakan Idul Fitri. Ini sebuah hari kemenangan yang dirayakan dan disyukuri oleh semua umat Islam di dunia. Tentu saja di Indonesia. Semua orang akan berusaha dapat merayakan Idul Fitri, atau disebut juga Lebaran. Lebaran harus berbeda . Jangan biasa-biasa saja. Setiap keluarga berusaha menikmati Idul Fitri dengan apa saja yang membuat kita senang. Apakah pakaian yang serba baru, juga makanan yang biasanya sangat melimpah.

Indonesia; Gojek

toto zurianto

Kini, setelah taxi Uber dan Grab Taxi, lalu Gojek menjadi trend. Memang sejak puluhan tahun, Ojek menjadi sebuah moda transport yang luar biasa. Di semua tempat, sekarang tidak lagi di kota besar yang macet. Bahkan di perkampungan, ojek telah menjadi sarana transportasi yang luar biasa. Tentu saja karena praktis, cepat, dan mungkin dirasakan cukup murah.

Lalu kini seperti menjadi semakin "diakui". Kini mulai dikelola dengan dukungan smart telephone atau sekedar telephone genggam biasa. Hanya dengan sms, kita bisa memesan ojek dan diantar kemana saja kini mau. Bahkan untuk sekedar mengantarkan surat atau membeli makanan kesukaan. Adalah Gojek yang piunya ide. Bisa dipanggil kapan saja, lalu mau beli makanan apa saja. Semuanya serba praktis.

Lalu apakah ini menjadi sebuah model transportasi yang diakui? ini pertanyaan penting bagi pemerintah dan orang-orang yang mengatur soal transportasi. Mungkin ojek masih diperlukan. Tetapi jelas sangat tidak ideal. Memang cepat dan praktis, apalagi untuk kota Jakarta yang sangat macet. Tapi apakah lantas kita bisa menerima moda transportasi ini yang jelas tidak termasuk aman. Bahkan mungkin mahal.

Banyak kita terlalu memikirkan persoalan jangka pendek dan suka praktis. Indonesia, pemerintah harus mulai memikirkan sistem transportasi yang lebih baik, aman, cukup murah dan menjangkau semua tempat yang banyak diinginkan masyarakat. Angkot-angkot juga harus mulai diganti dengan bus-bus kita atau antar kota yang lebih baik. Apalagi Ojke. Jangan sampai kita berpikir bahwa Ojek adalah jawaban. Kini memerlukan moda yang lebih baik dan teratur. Indonesia harus memikirkan sebuah sistem. Bukan penyelesaian jangka  pendek.

Thursday, 9 July 2015

MK Langgengkan DInasti Kekerabatan

toto zurianto

Indonesia masih terus mengalami politik nepotisme dan kekerabatan. Mahkamah Konstitusi dengan alasan semua mempunyai hal yang sama dan non diskriminatif, tetap membolehkan siapa saja untuk maju sebagai calon Kepala Daerah. Tidak peduli apakah itu suaminya atau istrinya, atau anaknya, menantu, mungkin orangtua dan kakeknya juga boleh. Termasuk ipar, kakak, menantu, atau adik sendiri.

Kita masih akan menyaksikan, misalnya Ibnu Fuad terpilih sebagai Bupati Bangkalan menggantikan ayahnya Fuad Amin Imron. Juga di Bantul, Sri Surya Widati memenangkan Pilkada untuk menggantikan Idham Samawi, Bupati sebelumnya yang juga suami bupati terpilih. Banyak juga kejadian di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung dan di Kalimantan Timur. Di Banten, Wakil Bupati Serang Tatu Chasanah adalah adik kandung Gubernur Banten Non Aktif Atut Chosiyah. Lalu Walikota Serang Tubagus Haerul Jaman, juga adik tiri Atut. Sedangkan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany adalah adik ipar Atut.

Banyak lagi kasus-kasus dinasti kekerabatan pada level politik Indonesia, khususnya di daerah. Tahun 2014, ada sekitar 59 pejabat pengganti yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan pejabat yang digantikan.

Apakah ini sesuatu yang bagus, dapat dibenarkan, atau biasa saja, atau akan membuat Indonesia menjadi semakin tidak baik? Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk fenomena nepotisme yang melanda sistem perpolitikan Indonesia ini. Bukan sekedar soal diskriminasi yang lebih banyak dituntut dari pada melihat hasil akhir bagi bangsa dan masyarakat.

Tuesday, 9 June 2015

Dolar Rp13.500 Mister

toto zurianto

Mata uang Amerika terus menguat, mata uang Rupiah melemah, Senin ini mencapai puncak. Anda memerlukan Rp13.500 untuk mendapatkan satu Dollar uang Amerika (US$). Apakah ini masalah atau biasa saja? Terserah kita untuk memberikan pendapat. Bagi pemerintah, termasuk bank sentral, biasanya selalu akan melihat kondisi internal ekonomi kita, apakah cukup kuat dan memiliki potensi kuat, atau sedang mengalami tekanan. Tidak bisa dilihat hanya melalui satu sisi. Argumen yang seing muncul tentu saja, kondisi ekonomi kawasan, apakah perekonomian dunia juga mengalami situasi yang relatif sama. Apakah mata uang negara lain, khususnya negara-negara di kawasan dan memiliki banyak kaitan dengan Indonesia, juga sedang mengalami tekanan atau justru relatif stabil.

Melemahnya suatu mata uang, sering dihubungkan dengan kondisi mata uang lain. Sekarangpun situasinya sama. Pemerintah, juga bank sentral akan melihat seberapa besar tekanan yang dialami Rupiah, dibandingkan tekanan yang juga dialami mata uang tetangga. Lalu seberapa lama situasi ini akan berlangsung terus. Apakah akan mengganggu pembayaran luar negeri Indonesia yang menyebabkan neraca pembayaran tergerus? Ini adalah indikator yang menjadi pusat perhatian kita. Neraca Pembayaran sama saja dengan situasi kantong kita, atau personal account. Apakah akan menyebabkan semakin kering, yang memaksa tabungan terkuras, membuat kita terpaksa harus berhutang lagi dan berhutang lagi? Ini adalah bagian yang harus kita persoalkan secara lengkap. Jangan sampai kita menjadi semakin miskin, semakin terkuras, dan semakin tergantung kepada orang lain.

Persoalan tekanan terhadap mata uang Rupiah, jangan pula dilihat sepotong-sepotong saja. pemerintah sering melihat dan membesarkan diri sendiri. Sering soal untung sedikit karena melemahnya nilai Rupiah, dijadikan sebagai faktor lain yang juga akan memberi keuntungan. Faktor tekanan terhadap Rupiah memang akan memberikan manfaat bagi sekelompok masyarakat tertentu. Ketika kita memiliki faktor produksi yang lebih banyak diekspor ke luar negeri, tentu kita bisa merasa mendapatkan windfall. Tapi pasti hanya sedikit diantara kita yang tergolong seperti itu. Struktur  Perekonomian yang lebih banyak defisit, lebih banyak membayar impor, lebih banyak membayar hutang luar negeri, adalah sesuatu yang membuat kita perlu merasa khawatir dan was-was. Sekarang sudah Rp13.500 Mister. Ini angka tertinggi sejak krisis 1998. Tapi kayaknya kita masih adem-adem saja.



Saturday, 6 June 2015

Kopi Aming at Pontianak

toto zurianto

Sore ini, aku ke Kopi Aming di Jalan Haji Abas. Ramai, semua tempat duduk penuh. Hampir semua laki-laki. Kedai kopi yang cukup luas, sekitar 3 pintu ruko besar, sampai ke bagian depan, memang menjadi salah satu pusat kongkow masyarakat kota Pontianak. Apalagi sore itu di layar besar televisi, ada siaran langsung pertandingan Bulutangkis Ganda Putra antara tim Indonesia melawan Tim Jepang.
Karena suasana Kedai Kopi yang terlihat sangat penuh, aku langsung mendatangi meja kasir, dan menanyakan apakah masih ada kursi. Hanya beberapa saat, setelah melihat ke layar monitor (screen CCTV), aku langsung dipersilahkan menuju salah satu tempat yang kebetulan memang kosong. Lumayan hebat, sang manajer (mungkin keluarga pemilik), dengan screen CCTV sederhana bisa langsung menunjuk tempat yang kosong. Lumayan, tidak perlu menunggu lama.

Tujuanku hanya satu, segelas kopi hitam pekat tanpa susu yang menjadi ciri khas Kedai Kopi Aming seperti gambar ini yang disajikan dalam gelas khusus Kedai Kopi Aming.





Hanya beberapa menit, Kopi Kental Hitam yang kupesan tiba di meja.  Gelasnya bagus, sayang menggunakan sendok bebek untuk makan bubur (ayam). Tapi tidak mengapa, rasanya enak. Di atas sedang, hitam dan kental dengan aroma kopi Robusta sedikit dicampur kopi Arabika. Aku tidak tahu asal kopi ini. Tapi sepertinya di wilayah Kalimantan Barat tidak ada tanaman kopi Arabika. Tapi yang penting, rasanya cukup okay. Sedikit mirip sajian Kopi Sedap dari Pematang Siantar.

Di Kedai Kopi Aming, minum kopi, bisa ditemani makanan (agak) berat, seperti nasi goreng, kweetiau, atau bakso. Tapi sore ini belum waktu yang pas untuk makanan seperti itu. Jadi aku hanya memesan Roti kecil yang tengahnya diisi selai, atau serikaya. Rasanya biasa, bahkan serikayanya tidak seperti Serikaya Poenam (Makassar) atau Serikaya Kopi Sedap (Siantar) yang dahsyat.

Menurut cerita seorang teman, Kopi Aming tidak pernah sepi sepanjang hari mulai pagi sampai malam. Sore itu, sekitar jam setengah enam, kurasa ada 100 orang yang sedang kongkow menikmati kopi sambil nonton siaran langsung bulutangkis. Kopi Aming memang beda. Tapi seperti Kedai Kopi lain yang ada di Kota Pontianak, suasananya selalu ramai, sempit, tidak terlalu (bersih). Kopi Aming adalah tempat minum kopi, kongkow, relax, dan pergaualan ala kota Pontianak.







Wednesday, 3 June 2015

FIFA, PSSI dan Menpora

toto zurianto

Kini ntidak hanya PSSI, FIFA, lembaga sepak bola seluruh dunia, juga mengalami krisis. Pimpinan  FIFA dinilai banyak orang dari seluruh dunia, memiliki masalah besar. Banyak yang dituduh korupsi. Lalu beberapa negara melakukan protes besar, dan akhirnya berujung pada pengunduran diri Sepp Blatter, President FIFA yang baru saja terpilih untuk kesekian kalinya.
Lalu di Indonesia, sejak beberapa waktu yang lalu, situasinya tetap runyam tidak terselesaikan.Para pimpinan PSSI, FIFAnya Indonesia, dinilai tidak kredibel dan diprotes banyak pihak. Lalu Presiden, melalui Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nachrawi, juga membekukan kepengurusan (sementara) PSSI.
Masyarakat, tentu saja banyak pertimbangannya, ada yang setuju dengan sikap Menpora, ada juga yang berpendapat lain.
Kita di Indonesia memang perlu melakukan transformasi terhadap sepakbola dan pengelolaan sepak bola di Indonesia. Prestasinya belum bagus, manajemennya lebih jelek lagi. Jadi, memang kita memerlukan langkah besar yang lebih benar. Jangan masyarakat bola dan masyarakat penikmat (pecinta) bola dibuat terombang-ambing. Terlalu besar korban yang diderita akibat manajemen bola yang kita tidak tahu cara penyelesaiannya. mari para pemimpin negara, pemimpin bola, dan pecinta olah raga (bola). Soal sepakbola adalah persoalan tulang dan daging kita yang begitu kita cintai. Jangan dimanipulasi, apa lagi dijadikan permainan (kotor). Kita mau, semuanya dibuka secara luas. Kalau hanya ingin bermain kotor, maaf' jangan dekat. Kita butuh keikhlasan dan upaya penyelesaian. Sepak bola harus kita selamatkan. Kita ingin prestasi dan keterbukaan. Kita ingin Sepakbola Indonesia bisa jaya dan disegani bangsa lain. Pinggir bagi yang orientasinya tidak jelas.

Friday, 15 May 2015

Didi Petet semoga mendapatkan yang terbaik disisiNya

toto zurianto

Dia termasuk salah satu legenda di perfilm-an Indonesia. Mungkin seperti Sophan Sophian, atau Rahmat Hidayat, atau Farouk Afero. Didi Petet yang terkenal setelah Catatan Si Boy dan Si Kabayan, menjadi orang hebat di zamannya. Saya sendiri tidak sering melihat Film-nya, kecuali di Televisi. Termasuk mdi Sinetron. Terakhir saya sering nonton Film TV atau Sinetron "Mantan Preman" yang menampilkan Didi Petet. Sungguh luar biasa aktingnya yang menurut saya, sorry, akan sulit menemukan pemain hebat seperti Didi Petet.

Tadi pagi sekitar jam 05,00 dia pergi menghadap sang pencipta. Tidak saja meninggalkan keluarga dan orang-orang yang sangat mencintainya. Sayapun yang tidak kenal secara pribadi dengan Didi, juga merasa kehilangan sosok yang bermulti talenta, humble, dan menjadi contoh bagi para insan film Indonesia. Dia bukan aktor kacangan dan sekedar mengandalkan popularitas. Dia bermain dengan jiwa dan karakter. Kita melihat dari ucapan dan pilihan kata dan mimik yang dihadirkannnya dalam setiap filmnya. Kita selalu merindukan orang-orang seperti Didi Petet. Tidak hanya di dunia perfilman, juga di tempat lain. Termasuk di pemerintahan dan perpolitikan. Kita kehilangan pada orang-orang yang cinta pengabdian, tidak pelit mendidik, juga tidak berorientasi kepada kebendaan. Selamat jalan aktor besar. Semoga Indonsia bisa melahirkan orang-orang yang hebat kapasitasnya seperti anda, tetapi sekaligus memiliki karakter yang membanggakan.