Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Thursday, 16 July 2009

KPU VS Quick Counts

toto zurianto

Pemilu Presiden Indonesia 2009 sudah usai sekitar 8 hari yang lalu. Hanya dalam hitungan jam, belum sampai sore hari, informasi hasil Quick Count (QC) beberapa lembaga, muncul di televisi dan media lain. Hasilnya, boleh dikatakan tidak akan mengalami perubahan secara siknifikan.

Lalu bagaimana dengan KPU? Penghitungannya berjalan sangat lambat, ibaratnya seperti bebek, atau bahkan siput. Menurut saya, situasi ini benar-benar meresahkan dan memalukan. Bahkan Pemilu Iran baru-baru ini, pada malam hari, hasilnya sudah bisa dipublikasikan ke media massa.

Kita betul-betul harus menggugat proses perhitungan seperti Siput ini. Atau seharusnya perhitungan QC tidak boleh dilakukan, karena menyebabkan KPU menjadi tidak berdaya, ompong sekali! Bahkan Pimpinan Partai, atau peserta yang kalah, sangat susah untuk memberikan Ucapan Selamat, karena hasil resminya memerlukan waktu lebih 2 minggu baru keluar! Bagaimana dengan pemimpin negara-negara lain, yang meyakini Pemilu Indonesia berjalan lancar, tetapi tidak bisa mengucapkan Selamat. Pidato kemenangan yang seharusnya menjadi penting bagi masyarakat dan bangsa, menjadi tidak ada. Memang bisa ada, tapi hasilnya sudah basi. Pak Yusuf Kalla yang "kalah", terpaksa memberikan ucapan selamat yang didasarkan kepada "asumsi".

Kalau kita tetap seperti ini, kondisinya menjadi lebih memalukan. jangan sampai tahun 2014, kejadian ini akan terulang lagi. Bagaimana mungkin kita sudah punya banyak ahli, banyak perusahaan teknik informatika dan komunikasi, bahkan kita sudah punya kementerian khusus Menkofindo yang mengurus informasi. Kita juga punya Roy Suryo yang kepakarannya tidak lagi diragukan. Rasanya malu, kalau nanti kita hal ini tidak segera diantisipasi. KPU dan para pejabat yang kompeten, segeralah dari sekarang kita menciptakan sistem informasi Pemilu yang bisa menghitung dalam waktu beberapa jam saja. Ini sesuatu yang tidak mustahil, sangat mungkin dilakukan pada era informasi saat ini. Kita bisa melakukan uji coba berulang-ulang pada Pemilihan Kepala Daerah Pilkada yang pasti akan banyak dilakukan dalam kurun 5 tahun ini. Kita ingin merasa bangga dengan sistem kita. Jangan sampai ketika orang sudah bergerak dengan pesawat supersonic yang cepat, kita tetap berjalan seperti Siput dan Bebek!
Post a Comment