Toto Zurianto

My photo

Toto Zurianto, alumni Fakultas Ekonomi USU (1986) dan Swinburne University of Technology, Melbourne (1994).
Lahir di Kayuaro (Kerinci, Jambi), pernah tinggal di Medan (1967-1970) dan (1976-1987), Lampahan (Aceh Tengah), Karang Inou (Aceh Timur), Padang (1975), dan di Jakarta (Cinere) sejak 1987. Pernah di Melbourne (1992-1994)!

Friday, 10 July 2009

Menghargai Talent = Menghormati Low Performer

toto zurianto

Pemimpin yang hebat, adalah pemimpin yang bisa membedakan, siapa yang High Talented and Contributed People, siapa yang sedang-sedang (Middle Performer), dan siapa yang termasuk orang yang sedang menumpang (Low Performer). Lalu konskuensinya, orang hebat harus dihargai setimpal dengan kehebatannya, karena dialah engine utama yang sangat menentukan, apakah perusahaan bisa bergerak mewujudkan sasarannya, atau tidak sama sekali karena mesinnya mogok, atau ditilap ditikungan oleh perusahaan pesaing! Memperlakukan Talent secara istimewa, sangatlah wajar, karena godaan eksternal semakin hari semakin meresahkan. Talent harus dielus dan dipupuk, diberikan reward yang lebih baik, bukan hanya paling istimewa di dalam perusahaan, tetapi sekaligus harus bersaing terhadap kompetitor.

Jangan lupa orang-orang yang sedang adalah bagian penting dari perusahaan anda, jumlahnya yang paling banyak, sekitar 60-70%! Hargai mereka sewajarnya, jangan sampai diri mereka menderita sehingga menjadi tidak tertarik kepada perusahaan anda, dan beralih kepada perusahaan pesaing. sebagian yang bisa improved, tingkatkan, sehingga mampu menjadi Top Performer.

Lalu bagaimana dengan Low Performer? Mereka memang sedang tidak menguntungkan, lagi menikmati perusahaan tetapi tidak kontributif. Segera cari tahu penyebab keadaan buruk ini, berikan perhatian, didik dan bina secara intensif. Lakukan coaching atau counseling, atau training-training kecil sesuai dengan posisi mereka. Berikan kesempatan dan monitoring secara berkala. Yang penting, pertama-tama, bicaralah kepada mereka, berikan mereka kesempatan untuk berbicara. Mereka adalah orang yang sedang dirundung malang, karena itu, langkah pertama yang dilakukan, adalah membangkitkan semangat mereka! Mereka harus diajak untuk bisa bekerja sama dan menyadari bahwa sebenarnya mereka masih memiliki sesuatu yang bisa dikontribusikan ke organisasi. Tapi tentu saja, semua ada batasnya. Setelah beberapa waktu, mereka harus improved! Kalau tidak bisa, lakukan fasilitasi untuk mencari karir yang lebih tepat. Jangan-jangan pekerjaan mereka saat ini masih belum sesuai dengan kompetensi dan keinginannya. Atau jangan-jangan ada pekerjaan lain di luar perusahaan yang lebih sesuai dengan keinginannya.

Jadi pada dasarnya, melakukan diferensiasi bagi seorang Pemimpin, termasuk para Line Manager, bukan saja suatu kewajiban, melainkan tuntutan untuk lebih menempatkan orang pada kategorinya masing-masing. Supaya semua orang tepat posisi, tepat perlakukan, dan tahu harus kemana. Semua orang, akhirnya merasa dihargai dan dihormati akibat adanya proses komunikasi. Para Low Performer-pun tidak lagi merasa-rasa sebagai orang yang tidak dianggap. Kalaupun mereka harus kalah dalam persaingan, tetapi mereka menyadari bahwa, masih banyak orang lain yang lebih baik yang lebih patut untuk lebih dihargai dibandingkan diri mereka. Mereka merasa, perusahaan telah menghargai dan menghormati mereka, walaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Paling tidak semua orang, termasuk para Low Performer mengetahui, bahwa merekapun harus secara legowo mencari tempat lain yang paling pas untuk mereka.