toto zurianto
Banyak tulisan di beberapa Blog yang telah mengulas salah satu makanan khas Medan ini, yaitu Sate Memeng dan Mie Rebus Medan yang dijual di Sate Memeng ini.
Bagi penikmat kuliner dari Jakarta, saya akui, memang ulasan pada Blog-blog itu (yang ternyata di-copy berulang kali ke Blog-blog yang lain), benar adanya. Daging Satenya dianggap kurang empuk dan bumbunya biasa-biasa saja. Kebanyakan memuji Mie Rebusnya yang dianggap dahsyat dengan aroma Ebi (udang) yang sangat khas kota Medan.
Tapi bagi saya, Sate ini jelas berbeda. Karena dagingnya terlebih dahulu direbus bersama-sama dengan bumbu yang melimpah, terutama aroma ketumbar yang dahsyat, Sate Memeng terasa beda, tidak sama dengan Sate yang ada di Jakarta atau dari Jawa. Sate Memeng memang ciri khas Medan dengan bumbu kacang yang tidak terlalu halus tetapi manis, dan terutama aroma atau bau daging Lembu (sapi) yang sangat terasa. Meskipun Sate Memeng juga menjual Sate Daging Kambing dan Sate Jeroan (lembu)/Ati, yang paling khas adalah Sate Lembu. Orang Medan lebih banyak yang memakai istilah Lembu, bukan Sapi.
Dan cara makan yang paling Nikmat adalah sekaligus memesan Mie Rebus Medan dengan Kuah Ebi yang Kental dan Hangat dan di atasnya disertakan Sate Sapi + Bumbu Kacang tanpa Lontong (ketupat), biasanya hanya 5 Tusuk saja. Ini dahsyat, cobalah menikmatinya Sate Memeng + Mie Rebus Medan seperti itu. Ditanggung komentar anda akan berbeda. Memang betul, kalau kita hanya mengunyah Sate saja, dagingnya relatif terasa lebih keras. Tapi kalau kita gabungkan dengan Mie Rebusnya, tanggapan anda pasti beda dan saya yakin anda akan selalu (kembali) mengunjunginya, meskipun Parkir kenderaan susah dan Lalu lintas cukup Ramai.
Saya menyarankan anda untuk menikmati Sate Memeng + Mie Rebus Medan pada malam yang lebih larut, ya sekitar jam 10.00 malam, bahkan setelah jam 12,00 tengah malam. Pasti Nikmat!
Sorry Blogers, ini bukan Iklan dari Sate Memeng, tetapi begitulah rasa Sate Memeng menurut saya yang sedari kecil sampai selesai kuliah bermukim di Kota Medan (Jl. Kapten Muslim, Sei Sikambing).
CHANGE and Leadership mengundang teman dan sahabat untuk sharing pengetahuan, informasi, atau hiburan dalam rangka memperluas wawasan dan persahabatan! CHANGE and Leadership tidak membatasi peminat pada suatu bidang keilmuan atau minat tertentu. CHANGE and Leadership adalah forum lintas pengetahuan, bisa digunakan untuk mengulas hal-hal yang berhubungan dengan praktek kepemimpinan, manajemen, SDM, sosial, ekonomi, dan politik, juga bagi penggemar sport, sastra, musik, kuliner, dan travel!
Thursday, 26 August 2010
Breakfast di Medan
toto zurianto
Kota Medan, terkenal memiliki variasi makanan yang lezat dan mengundang selera. Tapi untuk sarapan pagi yang paling terkenal adalah Lontong Sayur (Medan), atau di Jakarta disebut Ketupat Sayur. Bedanya? Lontong Sayur Medan terutama karena ingridient-nya yang khas, sambal tauco yang terdiri dari cabe ijo, udang kecil, dan tauco! Tentu saja pedas, Disamping itu, sayur lodeh + Serundeng.
Pokoknya kita bisa menemuinya di segenap pelosok kota, di pinggir jalan, atau di kedai kecil.
Kini di Jakartapun kita bisa dengan mudah menikmati Lontong Sayur Medan yang jumlahnya semakin banyak di beberapa kawasan ibukota. Memang sarapan Lontong Sayur Medan benar-benar sodap, asin dan pedas membuat kita berkeinginan untuk tambah sepiring lagi.
Kota Medan, terkenal memiliki variasi makanan yang lezat dan mengundang selera. Tapi untuk sarapan pagi yang paling terkenal adalah Lontong Sayur (Medan), atau di Jakarta disebut Ketupat Sayur. Bedanya? Lontong Sayur Medan terutama karena ingridient-nya yang khas, sambal tauco yang terdiri dari cabe ijo, udang kecil, dan tauco! Tentu saja pedas, Disamping itu, sayur lodeh + Serundeng.
Pokoknya kita bisa menemuinya di segenap pelosok kota, di pinggir jalan, atau di kedai kecil.
Kini di Jakartapun kita bisa dengan mudah menikmati Lontong Sayur Medan yang jumlahnya semakin banyak di beberapa kawasan ibukota. Memang sarapan Lontong Sayur Medan benar-benar sodap, asin dan pedas membuat kita berkeinginan untuk tambah sepiring lagi.
Thursday, 19 August 2010
PUASA TAHUN 70-AN
toto zurianto
PUASA
Menjalani puasa, bukan hanya sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Puasa selalu memiliki tradisi kehidupan yang selalu membekas dan menyenangkan. Terutama masa-masa puasa ketika kita masih kecil atau masih remaja. Aku mulai puasa penuh, mungkin sejak kelas 3 SD. Ketika itu, sekitar tahun 68, kami tinggal di Kota Medan. Medan tahun 70-an, ketika kota masih terasa lebih sepi, penerangan yang belum merata di seluruh kota, sehingga lampu rumah kami, hanya bisa hidup sampai pukul 11.00 malam. Puasa, berarti, orangtuaku, Bapakku Almarhum, harus lebih dahulu bangun malam-malam, mungkin sekitar pukul 02.30 pagi untuk segera menyalakan Lampu Strongkeng (mungkin maksudnya "Strong King"), atau sering juga disebut Lampu Patromax yang digerakkan oleh Minyak Tanah (orang Medan menyebutnya sebagai Minyak Lampu), sumbu, dan harus dipompa untuk mendapatkan angin, serta Spuyer untuk membesarkan dan mengecilkan keluarnya minyak tanah. Tahun 70-an ketika sumber energi masih sangat terbatas di negara ini, ketika kebutuhan atas energi juga masih sangat terbatas, lampu Strongkeng dan Lampu Teplok (disebut juga lampu dinding), adalah sumber penerangan utama yang fungsinya sama dengan Genset pada saat ini. Ya, bulan puasa, kami biasanya makan sahur bersama-sama sekeluarga, dan orang Medan dahulu, biasanya melaksanakan makan sahur atau buka dengan duduk di atas tikar.
Sungguh nikmatnya malam-malam hari pada bulan puasa. Termasuk, bagi anak-anak adalah kunjungan ke Mesjid, baik pada waktu Sholat Subuh bersama, maupun ketika mengikuti Sholat Tarawih. Lalu, puasa berarti libur panjang. Kami anak-anak tahun 70-an, biasanya setelah Sholat Subuh, tidak langsung pulang ke rumah, tetapi jalan-jalan, atau istilah orang Medan dulu sebagai "Asmara Subuh". Biasanya berlangsung sampai menjelang siang, baru pulang setelah bermain sesama anak-anak. Tidak banyak permainan rumah yang bisa dilakukan, tidak ada electronic, bahkan Radio Transistor saja baru mulai ada. Belum tentu setiap rumah memiliki radio Transistor.
Apalagi Telivisi. Mungkin hanya ada 1 atau 2 rumah di seluruh kampung yang sudah memiliki Televisi hitam putih, itupun terpaksa harus mempunyai antena yang tinggi untuk mendapatkan siaran dari negara tetangga Malaysia. Ketika itu Medan belum mempunyai Studio TV dan tidak mempunyai pemancar relay untuk mendapatkan siaran dari Jakarta. Baru setelah tahun 1970 (aku lupa tepatnya), studio Televisi mulai dibangun di Medan. Tentu saja kami tidak pernah tahu apa yang dimaksud dengan Komputer atau PS-1, atau permainan modern lainnya. Bahkan kami belum pernah melihat Tape Recorder pada masa itu.
Waktu berbuka adalah masa yang paling ditunggu oleh anak-anak. Nah, sama seperti menu sekarang yang banyak menghadirkan Menu Kolak dan Minuman Dingin (syrup). Hanya bedanya, terlalu sedikit keluarga yang sudah memiliki Kulkas, setahuku, di kampung kami, hanya ada 1 keluarga yang sudah mempunyai Kulkas, dan mereka, kalau tidak salah dari keluarga Mayor Onnie, yang menggunakan kulkasnya untuk membuat Es Ganefo yang dibungkus dalam plastik kecil dan dijual sekitar Rp5 per biji. Jadi kalau kami ingin menikmati minuman dingin, kami harus membeli Es Batu di pinggir jalan yang banyak dijual ketika bulan puasa yang biasanya dilindungi oleh Serbuk Gergaji dan Karung Goni untuk mencegah agar tidak mudah cair.
Tarawih, semangat kali ketika kami harus berangkat ke Mesjid. Tidak tahu kenapa, pasti bukan karena ingin menjalankan ibadah secaha khusuk. Biasanya karena kami bisa maen sepuasnya sesama anak-anak. Ini yang sering membuat Pak Uztad marah-marah, bayangkan, bagaimana kami membuat keributan di baris belakang seolah tidak pernah berhenti. Apalagi kalau harus mengerjakannya sampai 22 raka’at, biasanya anak-anak pada keluar menjelang raka’at ke 9, dan masuk lagi sebelum mengerjakan withr!
Lalu permainan apa yang sering kali lakukan di bulan Puasa? Kami sering menyiapkan Meriam Bambu dan Meriam Karbit. Meriam Bambu dibuat dari bambu dengan diameter 10 atau 15 centimeter dan panjang sekitar 2 meter, dan pada ujungnya ditutup dan diberi lubang sekitar 2 x 1 centimeter. Lalu diisi dengan Minyak Tanah dan disulut api untuk menghasilkan bunyi yang menggelegar. Luar biasa senangnya, dan itu dilakukan dengan bersahut-sahutan di beberapa tempat yang membuat ibu-ibu sering protes. Kalau mau lebih keras, kami membuat Meriam Karbit, atau Meriam Tanah yang digerakkan dengan menggunakan Karbit yang diberi air dan ditutup beberapa saat dalam sebuah lubang untuk mendapatkan suara yang dahsyat. Lalu disulut dengan api, dan booooommmmmmmm! Bumipun bergetar! Puas rasanya. Meskipun setelah itu banyak ibu-ibu yang marah.
He he he, apa ada lagi ya cerita bulan puasa seperti ini? Mungkin udah lenyap, tapi inilah dunia indah dari masa-masa puasa tahun 70-an. Ada kesederhanaan, tetapi maknanya tetap sama, menahan nafsu untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
PUASA
Menjalani puasa, bukan hanya sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Puasa selalu memiliki tradisi kehidupan yang selalu membekas dan menyenangkan. Terutama masa-masa puasa ketika kita masih kecil atau masih remaja. Aku mulai puasa penuh, mungkin sejak kelas 3 SD. Ketika itu, sekitar tahun 68, kami tinggal di Kota Medan. Medan tahun 70-an, ketika kota masih terasa lebih sepi, penerangan yang belum merata di seluruh kota, sehingga lampu rumah kami, hanya bisa hidup sampai pukul 11.00 malam. Puasa, berarti, orangtuaku, Bapakku Almarhum, harus lebih dahulu bangun malam-malam, mungkin sekitar pukul 02.30 pagi untuk segera menyalakan Lampu Strongkeng (mungkin maksudnya "Strong King"), atau sering juga disebut Lampu Patromax yang digerakkan oleh Minyak Tanah (orang Medan menyebutnya sebagai Minyak Lampu), sumbu, dan harus dipompa untuk mendapatkan angin, serta Spuyer untuk membesarkan dan mengecilkan keluarnya minyak tanah. Tahun 70-an ketika sumber energi masih sangat terbatas di negara ini, ketika kebutuhan atas energi juga masih sangat terbatas, lampu Strongkeng dan Lampu Teplok (disebut juga lampu dinding), adalah sumber penerangan utama yang fungsinya sama dengan Genset pada saat ini. Ya, bulan puasa, kami biasanya makan sahur bersama-sama sekeluarga, dan orang Medan dahulu, biasanya melaksanakan makan sahur atau buka dengan duduk di atas tikar.
Sungguh nikmatnya malam-malam hari pada bulan puasa. Termasuk, bagi anak-anak adalah kunjungan ke Mesjid, baik pada waktu Sholat Subuh bersama, maupun ketika mengikuti Sholat Tarawih. Lalu, puasa berarti libur panjang. Kami anak-anak tahun 70-an, biasanya setelah Sholat Subuh, tidak langsung pulang ke rumah, tetapi jalan-jalan, atau istilah orang Medan dulu sebagai "Asmara Subuh". Biasanya berlangsung sampai menjelang siang, baru pulang setelah bermain sesama anak-anak. Tidak banyak permainan rumah yang bisa dilakukan, tidak ada electronic, bahkan Radio Transistor saja baru mulai ada. Belum tentu setiap rumah memiliki radio Transistor.
Apalagi Telivisi. Mungkin hanya ada 1 atau 2 rumah di seluruh kampung yang sudah memiliki Televisi hitam putih, itupun terpaksa harus mempunyai antena yang tinggi untuk mendapatkan siaran dari negara tetangga Malaysia. Ketika itu Medan belum mempunyai Studio TV dan tidak mempunyai pemancar relay untuk mendapatkan siaran dari Jakarta. Baru setelah tahun 1970 (aku lupa tepatnya), studio Televisi mulai dibangun di Medan. Tentu saja kami tidak pernah tahu apa yang dimaksud dengan Komputer atau PS-1, atau permainan modern lainnya. Bahkan kami belum pernah melihat Tape Recorder pada masa itu.
Waktu berbuka adalah masa yang paling ditunggu oleh anak-anak. Nah, sama seperti menu sekarang yang banyak menghadirkan Menu Kolak dan Minuman Dingin (syrup). Hanya bedanya, terlalu sedikit keluarga yang sudah memiliki Kulkas, setahuku, di kampung kami, hanya ada 1 keluarga yang sudah mempunyai Kulkas, dan mereka, kalau tidak salah dari keluarga Mayor Onnie, yang menggunakan kulkasnya untuk membuat Es Ganefo yang dibungkus dalam plastik kecil dan dijual sekitar Rp5 per biji. Jadi kalau kami ingin menikmati minuman dingin, kami harus membeli Es Batu di pinggir jalan yang banyak dijual ketika bulan puasa yang biasanya dilindungi oleh Serbuk Gergaji dan Karung Goni untuk mencegah agar tidak mudah cair.
Tarawih, semangat kali ketika kami harus berangkat ke Mesjid. Tidak tahu kenapa, pasti bukan karena ingin menjalankan ibadah secaha khusuk. Biasanya karena kami bisa maen sepuasnya sesama anak-anak. Ini yang sering membuat Pak Uztad marah-marah, bayangkan, bagaimana kami membuat keributan di baris belakang seolah tidak pernah berhenti. Apalagi kalau harus mengerjakannya sampai 22 raka’at, biasanya anak-anak pada keluar menjelang raka’at ke 9, dan masuk lagi sebelum mengerjakan withr!
Lalu permainan apa yang sering kali lakukan di bulan Puasa? Kami sering menyiapkan Meriam Bambu dan Meriam Karbit. Meriam Bambu dibuat dari bambu dengan diameter 10 atau 15 centimeter dan panjang sekitar 2 meter, dan pada ujungnya ditutup dan diberi lubang sekitar 2 x 1 centimeter. Lalu diisi dengan Minyak Tanah dan disulut api untuk menghasilkan bunyi yang menggelegar. Luar biasa senangnya, dan itu dilakukan dengan bersahut-sahutan di beberapa tempat yang membuat ibu-ibu sering protes. Kalau mau lebih keras, kami membuat Meriam Karbit, atau Meriam Tanah yang digerakkan dengan menggunakan Karbit yang diberi air dan ditutup beberapa saat dalam sebuah lubang untuk mendapatkan suara yang dahsyat. Lalu disulut dengan api, dan booooommmmmmmm! Bumipun bergetar! Puas rasanya. Meskipun setelah itu banyak ibu-ibu yang marah.
He he he, apa ada lagi ya cerita bulan puasa seperti ini? Mungkin udah lenyap, tapi inilah dunia indah dari masa-masa puasa tahun 70-an. Ada kesederhanaan, tetapi maknanya tetap sama, menahan nafsu untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Wednesday, 11 August 2010
Menikmati Kuliner Kota Ambon di malam hari
toto zurianto
Sudah lebih 5 tahun, masyarakat Ambon kembali merasakan kedamaian setelah sejak periode 1999/2000 sampai dengan tahun 2004 dikoyak oleh pertentangan hebat yang mereguk banyak nyawa saudara sendiri.
Kini suasana Maluku dan Ambon, benar-benar damai dan hidup. Kota Ambon sendiri benar-benar menggeliat dalam 3 tahun terakhir. Tahun lalu (2009), di Pantai Natsepa yang putih dan terkenal dengan penjual Rujaknya, mulai didirikan hotel Bintang 5 yang bernuansa resort, Hotel Aston Natsepa. Kini di tepat tengah kota Ambon, berdiri pula Hotel Swiss Belhotel berlantai 10 yang banyak dinikmati oleh para pebisnis dan pegawai yang kebetulan dinas ke Ambon.
Dunia kuliner malampun merasakan denyut yang sama. Sangat mudah mendapatkan makanan jalanan di tengah kota, bahkan sampai larut menjelang pagi. Salah satunya adalah penjual Nasi Kuning yang memulai dagangannya sejak mentari menghilang, dan baru tutup sekitar jam 4 pagi.
Nasi Kuning, sebenarnya tidak berbeda dengan nasi kuning yang ada di daerah lain di Indonesia. Kalau di jakarta biasanya nasi ini dimasak dengan menggunakan santan seperti nasi Uduk, disini, tidak memakai santai, tetapi seperti nasi biasa yang bewarna kuning dengan menggunakan Kunyit dan sedikit garam. Memang nikmat, kita bisa memilih belasan lauk yang disajikan dalam panci dan wadah lain sesuai keinginan kita, antara lain; ikan goreng, ayam goreng, cumi, bahkan kepiting lada hitam.
Standar penyajian Nasi Kuning biasanya dilengkapi dengan goreng tempe orak-arik yang dipotong kecil dan halus, bihun goreng, sambel cabe merah, dan telor mata sapi atau dadar. Kitapun bisa mendapatkan Sate Kerang, telor rebus, bakwan, atau udang!
Rasanya enak, terutama kalau dimakan di meja yang ditata di pinggir jalan seraya ditemani dengan Segelas Teh Manis Panas yang segar.
Salah seorang Ibu penjual yang berasal dari Madura, sudah berada disana, berjualan nasi kuning selama 30 tahun yang awalnya memulai usahanya bersama Almarhum suaminya. Kini ebrsama anak dan menantunya, membuka 2 warung nasi Kuning tidak jauh dari tempat tersebut, setiap malam.
Hasilnya? Lumayan kata Ibu yang berusia sekitar 60 tahun dan membangun rumah di Madura itu. Dia bersama keluarganya sudah 2 kali naik haji dan setiap tahun, 2 kali bisa pulang kampung ke Madura dengan membawa penghasilan yang lumayan.
Ikan Asap Ambon
toto zurianto
Ikan Asap adalah salah satu cara pengelolaan ikan yang banyak disukai. Di beberapa tempat di Indonesia, banyak orang yang memproduksi ikan asap. Di Medan, tepatnya di daerah Tapanuli Selatan (Mandailing), masakan Ikan Asap banyak disukai karena kelezatannya. Kini cukup banyak restaurant Mandailing di Medan yang menyajikan Ikan Asap sebagai menu unggulan yang banyak dipesan orang. Juga di Sumatera Barat, apalagi kalau dibuat Gulai Ikan Asok, wah lezat sekali. Di Pulau Jawa, cukup sulit mendapatkan menu ikan asap, kecuali pada akhir-akhir ini kita bisa menemukan Bandeng Asap di sekitar Semarang dan Surabaya (Jawa Timur).
Tapi kalau kita ke Indonesia Timur, kita lebih mudah menjumpai masakan Ikan Asap, misalnya di Ambon (Maluku) atau Manado (Sulawesi Utara). Dikenal dengan Cakalang Fufu atau Ikan Asar. Umumnya menggunakan jenis ikan Tuna, Tongkol, atau Cakalang!
Di Kota Ambon, dengan mudahnya kita menemukan para penjual Ikan Asar (Ikan Asap) yang disajikan di Kios-kios Ikan di Pinggir Jalan. Harganya cukup murah karena proses produksinya juga sederhana. Hanya diasapkan dengan menggunakan tungku khusus selama sekitar 4 jam, ikan asap sudah siap dinikmati, apakah langsung dimakan dengan hanya menggunakan sambel + tomat + kecap dan daun saledri, atau bisa juga diolah lebih lanjut sesuai dengan keinginan.
Thursday, 22 July 2010
Ahmad Fuadi
toto zurianto
Ini dia Ahmad Fuadi, penulis buku Best Seller "Negeri 5 Menara" yang terkenal itu. "Alhamdulilah" katanya ketika ditanyakan bagaimana perkembangan penjualan buku tersebut. Sejak kemunculannya di Metro TV dalam acara Kick Andy, buku N5M menjelma menjadi buku yang banyak dicari penggemar novel Indonesia. Kenaikannya mencapai 1000persen kata Ahmad Fuadi.
Alhamdulilah kata Fuadi ketika ditanyakan apa rencananya selanjutnya. Pada saat ini cerita Negeri 5 Menara sedang digarap untuk dijadikan sebuah Film, seperti yang pernah dilakukan terhadap Novel laris Laskar Pelangi (LP) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Juga sudah diterbitkan di Malaysia dalam bahasa Melayu.
Sungguh kita meng-apresiasi para penulis muda Indonesia yang melalui kreativitasnya mampu melahirkan karya yang enak dibaca, inspiratif, dan juga memiliki daya komersial yang handal.
Sunday, 13 June 2010
Sungai Musi yang Indah!
toto zurianto
Mungkin tidak terlalu indah, kecuali di malam hari. Tetapi menurut saya, Sungai Raksasa ini sangat menjanjikan. Tidak saja sebagai sarana transportasi yang sangat penting, juga akibat cukup banyak perusahaan besar yang ada di tepi sungai. Satu hal lain yang di masa depan cukup menjanjikan, potensi pariwisatanya. Belum berkembang, tetapi akan memberikan manfaat besar apabila bisa dikelola secara lebih baik.
Mungkin tidak terlalu indah, kecuali di malam hari. Tetapi menurut saya, Sungai Raksasa ini sangat menjanjikan. Tidak saja sebagai sarana transportasi yang sangat penting, juga akibat cukup banyak perusahaan besar yang ada di tepi sungai. Satu hal lain yang di masa depan cukup menjanjikan, potensi pariwisatanya. Belum berkembang, tetapi akan memberikan manfaat besar apabila bisa dikelola secara lebih baik.
Monday, 7 June 2010
Band Lokal Indonesia Tahun 70-an
toto zurianto
Kalau sekarang, musik Indonesia berkembang dengan sangat pesat, terutama group musik, sebenarnya tahun 70-an sampai 80-an juga menunjukkan graphik yang mirip. Indonesia pernah mengalami era Band-band (group musik) yang diawali oleh munculnya Koes Plus (Koes Bersaudara) sejak sebelum tahun 1970. Mereka, dengan mengambil gaya bermusik seperti the Beatle dengan lirik dan melodi yang sederhana, berhasil selama lebih dari 10 tahun merajai pentas musik Indonesia, termasuk keberhasilannya menciptakan lagu-lagu terkenal dan menjualnya ke seluruh Indonesia. Di Jakarta, ketika itu, yang muncul tidak hanya Koes Plus, tetapi juga diikuti oleh band-band lain yang cukup beken, antara lain Panjaitan Bersaudara (Panbers) yang merilis album Akhir Cinta sebagai best album yang masih tetap diminati sampai sekarang.
Band-band ibukota lain yang tidak mau kalah, misalnya; D'Lloyd's, Rasella dan Ivo's Group. Tetapi secara bersamaan, Group Musik lokal juga tidak kalah hebat, bahkan mampu mengembangkan sayapnya secara nasional. Dari Bandung yang paling terkenal adalah Trio Bimbo, Group Bimbo (Trio Bimbo + Iin Parlina). Ratusan lagu sempat dikeluarkan oleh Group Bimbo yang dimotori oleh Sam, Acil, dan Jaka. Bandung-pun selanjutnya menjadi kiblat musik Indonesia disamping Jakarta, misalnya melalui The Rollies yang juga berpengalaman bermain di luar negeri dan sempat menerbitkan album di Singapore. Rollies yang bermetamorfosis melalui berbagai formasi, termasuk The New Rollies di tahun 80-an, adalah salah satu group musik yang banyak memainkan musik-musik brass ala James Brown. Group Musik dan Musisi Bandung lain yang mewarnai blantika musik Indonesia antara lain, Freedom (Freedom of Rhapsodia), Giant Step, Harry Rusli Group, dan Super Kids.
Di Surabaya, kitapun pernah mendengarkan sebuah kelompok Underground yang paling terkenal, AKA Group. Group Rock yang dimotori Ucok Harahap ini, tercatat sebagai salah satu band paling terkenal, tidak hanya melalui aksi panggungnya, tetapi beberapa albumnya sempat bertengger di tangga radio di seluruh Indonesia. Pemuda tahun 70-an umumnya tidak bisa melupakan beberapa nomor AKA yang paling terkenal, seperti Badai Bulan Desember, Dunia Buram, dan Grazy Joe! Tetapi Surabaya bukan hanya AKA. Ada sebuah Group manis yang lebih banyak membawakan lagu-lagu pop, dialah the Gembell's, anak-anak Unair dan ITS, antara lain Victor Nasution yang bertindak sebagai vocalistnya. Gembell's sendiri akronim dari Gemar Belajar, menunjukkan bahwa, meskipun menjadi anak band, mereka tetap concern belajar sebagai mahasiswa. Beberapa lagu top yang dihasilkan the Gembell's antara lain; Kota Pahlawan, Sura dan Buaya.
Di beberapa kota lain, masih ada band lokal yang memiliki banyak penggemar, tetapi kurang dikenal di daerah lain, misalnya di Medan kita bisa menemukan band The Rhythm Kings, the Great Session, dan the Minstrel's. Padang melahirkan Band Lime Stone yang dimiliki oleh PT Semen Padang, dan Mariani's Band milik Hotel Mariani's Padang. Di Palembang terkenal dengan band The Golden Wing yang melahirkan lagu Mutiara Palembang.
Kini, semua band-band tersebut bisa dikatakan sudah 90% hilang, ada yang bubar, ada yang jarang main, tentu saja, banyak juga musisinya yang sudah cukup tua dan tidak lagi bermain musik (sekitar 60-70 tahun). Bahkan beberapa sudah meninggal dunia. Hanya saja, bagi generasi 70-an, mendengarkan dan memainkan lagu-lagu mereka adalah obat kerinduan yang selalu menaik untuk dinikmati.
Kalau sekarang, musik Indonesia berkembang dengan sangat pesat, terutama group musik, sebenarnya tahun 70-an sampai 80-an juga menunjukkan graphik yang mirip. Indonesia pernah mengalami era Band-band (group musik) yang diawali oleh munculnya Koes Plus (Koes Bersaudara) sejak sebelum tahun 1970. Mereka, dengan mengambil gaya bermusik seperti the Beatle dengan lirik dan melodi yang sederhana, berhasil selama lebih dari 10 tahun merajai pentas musik Indonesia, termasuk keberhasilannya menciptakan lagu-lagu terkenal dan menjualnya ke seluruh Indonesia. Di Jakarta, ketika itu, yang muncul tidak hanya Koes Plus, tetapi juga diikuti oleh band-band lain yang cukup beken, antara lain Panjaitan Bersaudara (Panbers) yang merilis album Akhir Cinta sebagai best album yang masih tetap diminati sampai sekarang.
Band-band ibukota lain yang tidak mau kalah, misalnya; D'Lloyd's, Rasella dan Ivo's Group. Tetapi secara bersamaan, Group Musik lokal juga tidak kalah hebat, bahkan mampu mengembangkan sayapnya secara nasional. Dari Bandung yang paling terkenal adalah Trio Bimbo, Group Bimbo (Trio Bimbo + Iin Parlina). Ratusan lagu sempat dikeluarkan oleh Group Bimbo yang dimotori oleh Sam, Acil, dan Jaka. Bandung-pun selanjutnya menjadi kiblat musik Indonesia disamping Jakarta, misalnya melalui The Rollies yang juga berpengalaman bermain di luar negeri dan sempat menerbitkan album di Singapore. Rollies yang bermetamorfosis melalui berbagai formasi, termasuk The New Rollies di tahun 80-an, adalah salah satu group musik yang banyak memainkan musik-musik brass ala James Brown. Group Musik dan Musisi Bandung lain yang mewarnai blantika musik Indonesia antara lain, Freedom (Freedom of Rhapsodia), Giant Step, Harry Rusli Group, dan Super Kids.
Di Surabaya, kitapun pernah mendengarkan sebuah kelompok Underground yang paling terkenal, AKA Group. Group Rock yang dimotori Ucok Harahap ini, tercatat sebagai salah satu band paling terkenal, tidak hanya melalui aksi panggungnya, tetapi beberapa albumnya sempat bertengger di tangga radio di seluruh Indonesia. Pemuda tahun 70-an umumnya tidak bisa melupakan beberapa nomor AKA yang paling terkenal, seperti Badai Bulan Desember, Dunia Buram, dan Grazy Joe! Tetapi Surabaya bukan hanya AKA. Ada sebuah Group manis yang lebih banyak membawakan lagu-lagu pop, dialah the Gembell's, anak-anak Unair dan ITS, antara lain Victor Nasution yang bertindak sebagai vocalistnya. Gembell's sendiri akronim dari Gemar Belajar, menunjukkan bahwa, meskipun menjadi anak band, mereka tetap concern belajar sebagai mahasiswa. Beberapa lagu top yang dihasilkan the Gembell's antara lain; Kota Pahlawan, Sura dan Buaya.
Di beberapa kota lain, masih ada band lokal yang memiliki banyak penggemar, tetapi kurang dikenal di daerah lain, misalnya di Medan kita bisa menemukan band The Rhythm Kings, the Great Session, dan the Minstrel's. Padang melahirkan Band Lime Stone yang dimiliki oleh PT Semen Padang, dan Mariani's Band milik Hotel Mariani's Padang. Di Palembang terkenal dengan band The Golden Wing yang melahirkan lagu Mutiara Palembang.
Kini, semua band-band tersebut bisa dikatakan sudah 90% hilang, ada yang bubar, ada yang jarang main, tentu saja, banyak juga musisinya yang sudah cukup tua dan tidak lagi bermain musik (sekitar 60-70 tahun). Bahkan beberapa sudah meninggal dunia. Hanya saja, bagi generasi 70-an, mendengarkan dan memainkan lagu-lagu mereka adalah obat kerinduan yang selalu menaik untuk dinikmati.
Friday, 4 June 2010
Anggota DPR, Minta 15 Milyar
toto zurianto
Beberapa hari yang lalu, Fraksi Partai Golkar mengusulkan agar setiap anggota DPR diberikan uang sebesar Rp 15 milyar untuk membina daerah pemilihan masing-masing. Apabila usulan disetujui, maka diperlukan dana sekitar Rp8,4 triliun untuk membiayai 560 anggota DPR yang ada. Tetapi syukurlah, usulan tersebut serta merta mendapat tantangan dan penolakan luas oleh masyarakat, bahkan anggota DPR sendiri.
Menteri Keuangan, Agus Martowardoyo (AM), menilai usulan tersebut berpotensi melanggar ketentuan, melanggar prinsip pembagian tugas dan wewenang antara eksekutif dan legislatif. Ketua DPR juga tidak setuju dengan usulan tersebut yang dinilainya aneh.
Ketua Badan Anggaran DPR yang juga politisi Partai Golkar Harry Azhar Azis mengatakan bahwa usulan tersebut adalah salah satu cara bagi anggota DPR untuk melaksanakan sumpahnya, yaitu memajukan rakyat di daerah pemilihannya (Kompas, 4 Juni 2010). Sedangkan Eva Kusuma Sundari, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyebutkan bahwa dana partsipasi itu sebagai dana fasilitasi pembangunan yang tidak diberikan ke anggota DPR dalam bentuk tunai (dana segar) tetapi diberikan dalam bentuk disposisi politik. Melalui disposisi politik, anggota DPR memutuskan agar pemerintah melakukan kegiatan tertentu untuk pembangunan di daerah tertentu yang diusulkan anggota DPR.
Meskipun banyak alasan yang disampaikan para anggota DPR, bagi masyarakat, upaya ini hanya disebut sebagai akal-akalan untuk mempertahankan kekuasaannya. Para anggota DPR dianggap sedang berusaha mempertahankan posisinya agar terpilih kembali pada pemilihan yang akan datang karena telah memberikan sesuatu bagi masyarakat pemilihnya. Cara anggota DPR ini juga disebut sebagai jalan pintas, merusak tatanan demokrasi dimana keingan masyarakat bawah akan selalu dijawab dengan uang.
Kini sangat menyesalkan ketika diskusi seperti ini dengan seenaknya keluar dari pemikiran para anggota DPR yang bisa kita nilai sebagai pemikiran yang sempit tidak konseptual. Sebenarnya melalui fungsinya yang ada sekarang, anggota DPR tetap mempunyai peran yang kuat untuk melakukan control atas alokasi budget yang dilaksanakan pemerintah.
Beberapa hari yang lalu, Fraksi Partai Golkar mengusulkan agar setiap anggota DPR diberikan uang sebesar Rp 15 milyar untuk membina daerah pemilihan masing-masing. Apabila usulan disetujui, maka diperlukan dana sekitar Rp8,4 triliun untuk membiayai 560 anggota DPR yang ada. Tetapi syukurlah, usulan tersebut serta merta mendapat tantangan dan penolakan luas oleh masyarakat, bahkan anggota DPR sendiri.
Menteri Keuangan, Agus Martowardoyo (AM), menilai usulan tersebut berpotensi melanggar ketentuan, melanggar prinsip pembagian tugas dan wewenang antara eksekutif dan legislatif. Ketua DPR juga tidak setuju dengan usulan tersebut yang dinilainya aneh.
Ketua Badan Anggaran DPR yang juga politisi Partai Golkar Harry Azhar Azis mengatakan bahwa usulan tersebut adalah salah satu cara bagi anggota DPR untuk melaksanakan sumpahnya, yaitu memajukan rakyat di daerah pemilihannya (Kompas, 4 Juni 2010). Sedangkan Eva Kusuma Sundari, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyebutkan bahwa dana partsipasi itu sebagai dana fasilitasi pembangunan yang tidak diberikan ke anggota DPR dalam bentuk tunai (dana segar) tetapi diberikan dalam bentuk disposisi politik. Melalui disposisi politik, anggota DPR memutuskan agar pemerintah melakukan kegiatan tertentu untuk pembangunan di daerah tertentu yang diusulkan anggota DPR.
Meskipun banyak alasan yang disampaikan para anggota DPR, bagi masyarakat, upaya ini hanya disebut sebagai akal-akalan untuk mempertahankan kekuasaannya. Para anggota DPR dianggap sedang berusaha mempertahankan posisinya agar terpilih kembali pada pemilihan yang akan datang karena telah memberikan sesuatu bagi masyarakat pemilihnya. Cara anggota DPR ini juga disebut sebagai jalan pintas, merusak tatanan demokrasi dimana keingan masyarakat bawah akan selalu dijawab dengan uang.
Kini sangat menyesalkan ketika diskusi seperti ini dengan seenaknya keluar dari pemikiran para anggota DPR yang bisa kita nilai sebagai pemikiran yang sempit tidak konseptual. Sebenarnya melalui fungsinya yang ada sekarang, anggota DPR tetap mempunyai peran yang kuat untuk melakukan control atas alokasi budget yang dilaksanakan pemerintah.
Thursday, 3 June 2010
Garuda Kembali ke Eropa!
toto zurianto
1 Juni 2010 adalah hari bersejarah bagi Garuda, maskapai negara (carrier flag) yang dalam tahun-tahun terakhir tidak mampu dan juga dilarang untuk terbang ke benua biru itu. Sebagai anak bangsa kita bolehlah berbangga, kini setidak-tidaknya pesawat kita (wakil Indonesia) sudah bisa kita saksikan di lapangan udara Schipol, Amsterdam dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai pelabuhan transit.
Untuk hidup dan bersaing dalam dunia penerbangan modern, bukan mudah, dan tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas dari pemerintah. Garuda, sama seperti penerbangan kelas dunia lain, dituntut untuk mampu profesional dan mengandalkan kemampuannya sendiri. Garuda harus bisa mencari pesawat sendiri, beli tunai atau kredit (leasing), atau pinjam pesawat. Garuda juga tidak bisa mengandalkan pelanggan negara, seperti adanya kewajiban kepada pegawai negeri untuk menggunakan pesawat Garuda apabila bepergian di dalam dan ke luar negeri. Garuda pada dasarnya sama dengan maskapai nasional lain yang perlu "berjuang" untuk mendapatkan pelanggan, perlu bersaing untuk mendapatkan pesawat yang murah, dan diharuskan membayar hutangnya seperti penghutang lain tanpa ada fasilitas negara.
Perubahan cara pandang (paradigma) dalam mengelola bisnis penerbangan, khususnya dalam mengelola penerbangan Garuda, merupakan keharusan. Manajemen perlu diberikan kebebasan dalam memilih option-option terbaik yang akan dilakukan, sehingga bisa memberikan hasil yang lebih baik.
Garuda harus bisa berdiri sejajar dengan maskapai penerbangan internasional lain, bahkan dengan Singapore Airline. Tentu saja kita tidak perlu menunggu hingga memiliki pesawat Airbis A380 untuk mampu bersaing dengan Singapore. Garuda, saya meyakini akan mampu bersaing dan memberikan pelayanan yang sama baiknya dengan yang diberikan Singapore Airline, bahkan saya yakin bisa lebih baik dari itu. Kini dengan armada Airbus 330-200 yang baru, meskipun lebih kecil dibandingkan dengan B747 atau A380, Garuda tetap mempunyai peluang untuk merebut pasar internasional yang sudah terlalu lama ditinggalkan. Apalagi Garuda sudah berencana akan mendatangi 10 pesawat B777 300 ER terbaru yang mulai masuk tahun 2011.
Momen kembali ke Eropa adalah pertanda untuk tidak lagi mundur dan selalu maju. Situasi ini terutama harus didukung oleh manajemen dan SDM yang profesional! Pendekatan lama yang cenderung lebih kekeluargaan, perlu dihilangkan sesegera mungkin. Garuda bukan milik pejabat atau orang-orang tertentu. Garuda adalah milik dari para pembayar yang mempunyai hal untuk mendapatkan pelayanan terbaik tanpa pilih kasih.
1 Juni 2010 adalah hari bersejarah bagi Garuda, maskapai negara (carrier flag) yang dalam tahun-tahun terakhir tidak mampu dan juga dilarang untuk terbang ke benua biru itu. Sebagai anak bangsa kita bolehlah berbangga, kini setidak-tidaknya pesawat kita (wakil Indonesia) sudah bisa kita saksikan di lapangan udara Schipol, Amsterdam dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai pelabuhan transit.
Untuk hidup dan bersaing dalam dunia penerbangan modern, bukan mudah, dan tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas dari pemerintah. Garuda, sama seperti penerbangan kelas dunia lain, dituntut untuk mampu profesional dan mengandalkan kemampuannya sendiri. Garuda harus bisa mencari pesawat sendiri, beli tunai atau kredit (leasing), atau pinjam pesawat. Garuda juga tidak bisa mengandalkan pelanggan negara, seperti adanya kewajiban kepada pegawai negeri untuk menggunakan pesawat Garuda apabila bepergian di dalam dan ke luar negeri. Garuda pada dasarnya sama dengan maskapai nasional lain yang perlu "berjuang" untuk mendapatkan pelanggan, perlu bersaing untuk mendapatkan pesawat yang murah, dan diharuskan membayar hutangnya seperti penghutang lain tanpa ada fasilitas negara.
Perubahan cara pandang (paradigma) dalam mengelola bisnis penerbangan, khususnya dalam mengelola penerbangan Garuda, merupakan keharusan. Manajemen perlu diberikan kebebasan dalam memilih option-option terbaik yang akan dilakukan, sehingga bisa memberikan hasil yang lebih baik.
Garuda harus bisa berdiri sejajar dengan maskapai penerbangan internasional lain, bahkan dengan Singapore Airline. Tentu saja kita tidak perlu menunggu hingga memiliki pesawat Airbis A380 untuk mampu bersaing dengan Singapore. Garuda, saya meyakini akan mampu bersaing dan memberikan pelayanan yang sama baiknya dengan yang diberikan Singapore Airline, bahkan saya yakin bisa lebih baik dari itu. Kini dengan armada Airbus 330-200 yang baru, meskipun lebih kecil dibandingkan dengan B747 atau A380, Garuda tetap mempunyai peluang untuk merebut pasar internasional yang sudah terlalu lama ditinggalkan. Apalagi Garuda sudah berencana akan mendatangi 10 pesawat B777 300 ER terbaru yang mulai masuk tahun 2011.
Momen kembali ke Eropa adalah pertanda untuk tidak lagi mundur dan selalu maju. Situasi ini terutama harus didukung oleh manajemen dan SDM yang profesional! Pendekatan lama yang cenderung lebih kekeluargaan, perlu dihilangkan sesegera mungkin. Garuda bukan milik pejabat atau orang-orang tertentu. Garuda adalah milik dari para pembayar yang mempunyai hal untuk mendapatkan pelayanan terbaik tanpa pilih kasih.
Monday, 31 May 2010
Convenience Store
toto zurianto
Toko Serba Ada dan Serba Menyenangkan, atau Kedai 24 jam, atau apapunlah namanya. Kini perkembangannya semakin cepat, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Beberapa diantaranya adalah pemain internasional yang namanya sudah sangat terkenal seperti Circle K (CK) dan Seven Eleven (7-11). Brand lokalpun kita merambah secara cepat, tentu saja brand lokal yang sangat kuat, seperti Indomaret dan Alfa Mart (juga beralifiasi dengan brand internasional).
Diantara berbagai merek convenience store yang paling kita kenal Circle K (CK), yang mulai berdiri pada tahun 1951, ketika itu hanya berupa 3 buah Toko Kay's Food Store di El Paso Texas. Kini jumlahnya mencapai 4300 jaringan di Amerika Serikat, dan lebih dari 3000-an di negara-negara lain, termasuk di Indonesia yang (2010) jumlahnya sudah lebih 100 toko.
Kini, meskipun harga-harga di CK relatif lebih mahal dibandingkan dengan di supermarket atau di minimarket, tetap saja, semakin banyak pelanggan yang mendatangi CK dan menikmati pelayanan dan penataannya yang relatif bagus. begitu juga dengan 7-11 yang pada awalnya beroperasi mulai jam 7 pagi sampai jam 11 malam sehingga disebut Seven Eleven.
Toko Serba Ada dan Serba Menyenangkan, atau Kedai 24 jam, atau apapunlah namanya. Kini perkembangannya semakin cepat, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Beberapa diantaranya adalah pemain internasional yang namanya sudah sangat terkenal seperti Circle K (CK) dan Seven Eleven (7-11). Brand lokalpun kita merambah secara cepat, tentu saja brand lokal yang sangat kuat, seperti Indomaret dan Alfa Mart (juga beralifiasi dengan brand internasional).
Diantara berbagai merek convenience store yang paling kita kenal Circle K (CK), yang mulai berdiri pada tahun 1951, ketika itu hanya berupa 3 buah Toko Kay's Food Store di El Paso Texas. Kini jumlahnya mencapai 4300 jaringan di Amerika Serikat, dan lebih dari 3000-an di negara-negara lain, termasuk di Indonesia yang (2010) jumlahnya sudah lebih 100 toko.
Kini, meskipun harga-harga di CK relatif lebih mahal dibandingkan dengan di supermarket atau di minimarket, tetap saja, semakin banyak pelanggan yang mendatangi CK dan menikmati pelayanan dan penataannya yang relatif bagus. begitu juga dengan 7-11 yang pada awalnya beroperasi mulai jam 7 pagi sampai jam 11 malam sehingga disebut Seven Eleven.
Thursday, 27 May 2010
Kepercayaan, Selalu pelihara dan tingkatkan!
toto zurianto
Satu hal yang harus kita pelihara adalah "tingkat kepercayaan orang terhadap diri kita". Seperti apa orang lain mempercayai kita, atau kalau kita sedang menjalankan suatu perusahaan, seberapa besar pelanggan kita (customer) atau stakeholders yang lain mempercayai produk atau layanan yang kita berikan. Kalau kita menjadi seorang kepala keluarga, seberapa besar anggota keluarga yang lain mempercayai kita.
Bagaimana orang atau pihak lain menilai kita adalah penting untuk kita perhatikan. Bahkan suatu negara atau seorang kepala pemerintahan yang paling kuat sekalipun, akan hancur dalam bilangan waktu ketika kepercayaan (trust) menjadi berakhir.
Karena itu, merupakan suatu keharusan bagi kita, secara individu, keluarga, atau organisasi, atau bahkan para pemimpin negara, untuk menyadari, bahwa meningkatkan kepercayaan merupakan kewajiban dan pekerjaan panjang yang tidak boleh dilupakan apabila kita ingin mendapatkan keberhasilan. kelalaian kita menjaganya akan membuat kita hancur dan menderita. Tetapi, ketika kita mampu menjaga "kepercayaan" ini, maka kita akan menjadi mudah menjalani kehidupan kita.
Satu hal yang harus kita pelihara adalah "tingkat kepercayaan orang terhadap diri kita". Seperti apa orang lain mempercayai kita, atau kalau kita sedang menjalankan suatu perusahaan, seberapa besar pelanggan kita (customer) atau stakeholders yang lain mempercayai produk atau layanan yang kita berikan. Kalau kita menjadi seorang kepala keluarga, seberapa besar anggota keluarga yang lain mempercayai kita.
Bagaimana orang atau pihak lain menilai kita adalah penting untuk kita perhatikan. Bahkan suatu negara atau seorang kepala pemerintahan yang paling kuat sekalipun, akan hancur dalam bilangan waktu ketika kepercayaan (trust) menjadi berakhir.
Karena itu, merupakan suatu keharusan bagi kita, secara individu, keluarga, atau organisasi, atau bahkan para pemimpin negara, untuk menyadari, bahwa meningkatkan kepercayaan merupakan kewajiban dan pekerjaan panjang yang tidak boleh dilupakan apabila kita ingin mendapatkan keberhasilan. kelalaian kita menjaganya akan membuat kita hancur dan menderita. Tetapi, ketika kita mampu menjaga "kepercayaan" ini, maka kita akan menjadi mudah menjalani kehidupan kita.
Bukan mempertahankan kekuasaan
toto zurianto
Kongres Partai Demokrat belum lama ini telah membawa Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai tersebut. Hasil akhir kongres sungguh luar biasa, betapa kehebohan yang berlangsung berbulan-bulan, khususnya perseteruan perebutan kekuasaan antara Andi A. Malarangeng dengan Anas Urbaningrum, pada akhirnya melahirkan suatu tatanan yang lebih baru di khasanah perpolitikan nasional.
Tetapi dampak dari kongres belumlah berakhir. Kini, ada 2 hal menarik yang muncul ke permukaan yang menarik hati tidak saja bagi para pengamat politik kita, termasuk juga oleh para politisi, partai Demokrat dan partai lainnya. Pertama, munculnya Majelis Tinggi Partai Demokrat (MTPD) yang memiliki "kekuasaan tinggi" bahkan melebihi kekuasaan Ketua Umum atau Dewan Pimpinan Pusat Partai. Termasuk kekuasaan untuk tidak menyetujui hasil-hasil atau keputusan Ketua Umum/DPP. Juga dalam rangka menetapkan nama-nama calon Presiden, atau calon Gubernur, juga calon Anggota DPR dari Partai Demokrat.
Apabila pada akhirnya MTPD ini benar-benar memiliki kekuasaan luar biasa sebagaimana yang banyak disebutkan, dan kebetulan jabatan tersebut dipegang atau diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, maka reformasi menjadi suatu partai modern oleh Partai Demokrat, sekaligus sebagai sebuah partai yang menjalankan organisasi dan manajemen secara modern yang sebelumnya banyak dijadikan contoh oleh partai/politisi lain, keadaannya diperkirakan, akan berbalik dan menjadi biasa-biasa saja. Ini adalah salah satu pertaruhan antara keinginan untuk melakukan reformasi politik melalui organisasi dan leadership sebagai suatu partai modern, dengan semangat untuk tetap mempertahankan suatu kekuasaan.
Isu kedua yang juga menarik adalah adanya wacana yang dikemukakan oleh (sebagian) politisi Partai Demokrat untuk memunculkan Ny Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY, sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Wacana ini tentu saja menarik perhatian tidak saja bagi kalangan Partai Demokrat, tetapi terutama oleh kalangan luar. Muncul banyak pertanyaan di hati masyarakat atas wacana yang mengejutkan ini. Bagaimana mungkin, pada satu sisi Partai Demokrat berulang-ulang memproklamirkan dirinya menjadi sebuah partai modern, kemudian di sisi lain, dengan berbagai alasan, mencoba memunculkan wacana tidak populer yang membuat masyarakat menjadi bingung. Bingung karena masyarakat tidak memahami cara-cara yang masuk akal yang dilakukan oleh sebuah partai modern untuk memunculkan nama-nama tertentu (tentunya sebagai kader partai terbaik yang paling kompeten) menjadi calon Presiden Republik Indonesia.
Tentu masyarakat tidak ingin meng-klaim bahwa Ibu Ani Yudhoyono itu pantas atau tidak pantas menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat. Bisa saja Ibu Ani Yudhoyono adalah seorang calon terbaik partai tersebut. Bagi masyarakat, yang paling penting adalah, ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan seseorang itu layak menjadi calon Presiden dari partai Demokrat. Apabila hal ini tidak mampu dijelaskan oleh pimpinan partai Demokrat, akan muncul stigma negatif terhadap partai dan tentunya kepada Ketua MTPD. Bahkan kemunculan Ibas dalam panggung politik nasional yang berlangsung sangat cepat, sudah memunculkan pendapat pro dan kontra yang berpotensi membuat Partai Demokrat menjadi kesulitan untuk menjelma menjadi sebuah partai modern. Jangan sampai par SBY menjadi kesulitan untuk menjawab isu nepotisme yang bagaimanapun akan menyulitkan partai demokrat dalam rangka memenangkan Pemilu tahun 2014.
Dua hal ini menjadi agenda penting dari orang-orang Partai demokrat yang apabila tidak dihandle secara baik, dipastikan akan melahirkan dampak negatif yang akan menyulitkan partai.
Kongres Partai Demokrat belum lama ini telah membawa Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai tersebut. Hasil akhir kongres sungguh luar biasa, betapa kehebohan yang berlangsung berbulan-bulan, khususnya perseteruan perebutan kekuasaan antara Andi A. Malarangeng dengan Anas Urbaningrum, pada akhirnya melahirkan suatu tatanan yang lebih baru di khasanah perpolitikan nasional.
Tetapi dampak dari kongres belumlah berakhir. Kini, ada 2 hal menarik yang muncul ke permukaan yang menarik hati tidak saja bagi para pengamat politik kita, termasuk juga oleh para politisi, partai Demokrat dan partai lainnya. Pertama, munculnya Majelis Tinggi Partai Demokrat (MTPD) yang memiliki "kekuasaan tinggi" bahkan melebihi kekuasaan Ketua Umum atau Dewan Pimpinan Pusat Partai. Termasuk kekuasaan untuk tidak menyetujui hasil-hasil atau keputusan Ketua Umum/DPP. Juga dalam rangka menetapkan nama-nama calon Presiden, atau calon Gubernur, juga calon Anggota DPR dari Partai Demokrat.
Apabila pada akhirnya MTPD ini benar-benar memiliki kekuasaan luar biasa sebagaimana yang banyak disebutkan, dan kebetulan jabatan tersebut dipegang atau diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono, maka reformasi menjadi suatu partai modern oleh Partai Demokrat, sekaligus sebagai sebuah partai yang menjalankan organisasi dan manajemen secara modern yang sebelumnya banyak dijadikan contoh oleh partai/politisi lain, keadaannya diperkirakan, akan berbalik dan menjadi biasa-biasa saja. Ini adalah salah satu pertaruhan antara keinginan untuk melakukan reformasi politik melalui organisasi dan leadership sebagai suatu partai modern, dengan semangat untuk tetap mempertahankan suatu kekuasaan.
Isu kedua yang juga menarik adalah adanya wacana yang dikemukakan oleh (sebagian) politisi Partai Demokrat untuk memunculkan Ny Ani Yudhoyono, istri Presiden SBY, sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Wacana ini tentu saja menarik perhatian tidak saja bagi kalangan Partai Demokrat, tetapi terutama oleh kalangan luar. Muncul banyak pertanyaan di hati masyarakat atas wacana yang mengejutkan ini. Bagaimana mungkin, pada satu sisi Partai Demokrat berulang-ulang memproklamirkan dirinya menjadi sebuah partai modern, kemudian di sisi lain, dengan berbagai alasan, mencoba memunculkan wacana tidak populer yang membuat masyarakat menjadi bingung. Bingung karena masyarakat tidak memahami cara-cara yang masuk akal yang dilakukan oleh sebuah partai modern untuk memunculkan nama-nama tertentu (tentunya sebagai kader partai terbaik yang paling kompeten) menjadi calon Presiden Republik Indonesia.
Tentu masyarakat tidak ingin meng-klaim bahwa Ibu Ani Yudhoyono itu pantas atau tidak pantas menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat. Bisa saja Ibu Ani Yudhoyono adalah seorang calon terbaik partai tersebut. Bagi masyarakat, yang paling penting adalah, ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan seseorang itu layak menjadi calon Presiden dari partai Demokrat. Apabila hal ini tidak mampu dijelaskan oleh pimpinan partai Demokrat, akan muncul stigma negatif terhadap partai dan tentunya kepada Ketua MTPD. Bahkan kemunculan Ibas dalam panggung politik nasional yang berlangsung sangat cepat, sudah memunculkan pendapat pro dan kontra yang berpotensi membuat Partai Demokrat menjadi kesulitan untuk menjelma menjadi sebuah partai modern. Jangan sampai par SBY menjadi kesulitan untuk menjawab isu nepotisme yang bagaimanapun akan menyulitkan partai demokrat dalam rangka memenangkan Pemilu tahun 2014.
Dua hal ini menjadi agenda penting dari orang-orang Partai demokrat yang apabila tidak dihandle secara baik, dipastikan akan melahirkan dampak negatif yang akan menyulitkan partai.
Negeri 5 Menara
toto zurianto
Buah karya Ahmad Fuadi ini bercerita tentang kisah-kisah anak pondok (pesantren) yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Terutama mengenai perjalanan penulisnya yang dalam cerita ini dikenal dengan nama Alif, anak asli Minangkabau dari Desa bayur di sekitar Danau Maninjau Sumatera Barat yang atas keinginan ibunya, "terpaksa" membatalkan cita-citanya untuk memasuki sekolah umum (SMA Negeri Bukit Tinggi).
Seperti cerita perjalanan lainnya, kisah ini selalu menarik, perjalanan hidup masa-masa penting seorang remaja belasan tahun, memulai sekolah, tetapi bukan di sekolah umum. Pondok Pesantren adalah suatu bentuk pendidikan sangat khas Indonesia yang menganut sistem asrama (dormitory). Semua murid harus tinggal, belajar, dan hidup hanya di lingkungan asrama. Lebih khusus lagi, mereka harus mempelajari berbagai ilmu, tidak hanya ilmu agama (Islam), tetapi juga ilmu umum. Termasuk pula yang mendapat porsi paling tinggi adalah mempelajari Bahasa, khususnya bahasa Arab dan Inggris. Kedua bahasa ini menjadi wajib, tidak ada ampun bagi murid-murid di luar murid Kelas I yang masih menggunakan bahasa lain di luar bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kehidupan Pondok Pesantren, yang dalam cerita ini disebutnya dengan Pondok Madani (PM), sesungguhnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini banyak diduga orang (luar non pesantren). 4 hal menarik yang menurut saya telah membuka cakrawala orang luar atas kehidupan pesantren adalah; kehebatan seorang guru (uztad atau kia) yang luar biasa, sifat-sifat ikhlas yang menjadi dasar atau roh dari keberadaan pesantren, penerapan aturan disiplin yang tidak bisa ditawar-tawar, dan munculnya kompetisi diantara murid yang terbangun secara kesatria.
Ustad atau Kiay, adalah lambang kepemimpinan dan semangat idealisme pesantren yang kesehariannya, meskipun ditakuti, tetapi terutama akibat kemampuannya di dalam membangun semangat dan motivasi para murid 24 jam tidak pernah berhenti sepanjang hari dan malam. Kapan saja seorang murid memerlukan jawaban yang tidak didapatnya dari lingkungannya, maka jawaban itu dapat disetiap saat dicarinya dari seorang ustad atau kiay.
Kedua, menjalani kehidupan secara ikhlas, merupakan ajaran penting yang diharapkan bisa membuat seseorang, mampu mengendalikan dirinya tanpa melalui prasangka dan dugaan yang belum tentu benar. Berbuat ihklas adalah ujian penting yang memerlukan perjalanan dan jam terbang panjang sebelum seseorang, bisa 100% ikhlas dalam menghadapi, tidak saja dunia belajar di pesantren, tetapi termasuk setelah seseorang khatam (tamat) dari sebuah pesantren.
Selanjutnya, saya paling menikmati hal-hal yang berbau peraturan dan disiplin. Tidak mungkin pesantren bisa jalan bagus kalau tidak mampu menjaga kedisiplinan secara konsisten. Bayangkan suatu komunitas sekolah dengan 3000 orang santri, apa jadinya kalau pengurus pesantren tidak mampu menjaga peraturan secara konsisten. Bisa-bisa pesantren bubar secara cepat. Tetapi inilah kekuatan masyarakat pesantren, yang mengenai disiplin, penerapannya tidak memerlukan aturan atau surat edaran tertulis berpuluh halaman untuk dibaca dan dipahami. Aturan disiplin, hanya dikomunikasikan oleh seorang Ustad atau Murid yang lebih senior secara lisan. Hanya dibaca, tidak ada dokumen yang diberikan. Lalu disebutkan sanksi-sanksi tertentu bagi santri yang terbukti melakukan pelanggaran disiplin. Lalu, semuanya memahami dan dijalankan secara konsisten. Untuk urusan disiplin ini, sehari-hari terutama diawasi oleh murid kelas 6 yang sudah senior dan segera meninggalkan pondok. Sehari-hari, bisanya dia dibantu oleh pemantau (pengamat siapa murid yang melanggar disiplin) yang berasal dari murid-murid yang "sedang menjalani hukuman disiplin". Persoalan penegakan disiplin sama saja dengan penerapan manajemen modern yang memberikan kewenangan bagi setiap orang untuk terlibat aktif tetapi dengan cara yang lebih bertanggung jawab.
Akhirnya saya juga sangat terkesan dengan suasana kompetisi yang dibangun secara fair di antara para murid pesantren. Termasuk penerapan sistem evaluasi dan reward yang sehari-hari lebih jelas implementasinya di Pondok dibandingkan dengan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan modern atau di berbagai lembaga pemerintahan lainnya. Semua pelajaran yang sehari-harinya ditransmisikan secara ikhlas di antara penghuni pesantren, baik; Kiay, ustad ataupun para murid/santri, selalu diwarnai oleh suasana kompetisi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja para santri. Semua pelajaran selalu diharapkan bisa dinikmati, dilaombakan untuk mendapatkan calon peserta terbaik. Apakah mengenai Al Qur'an, ilmu umum, bahasa Inggris, atau apa saja, termasuk pertandingan Sepak Bola, Teatre/Kesenian, kebersihan, atau kegiatan lain. Inilah cara anak pesantren membangun kualitas dirinya, kualitas manusia Indonesia seutuhnya.
Masih banyak cerita menarik yang dituturkan Alif bersama teman-temannya sesama santri dari Kelompok Sahibul Menara, antara lain; Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa Sulawesi Selatan. Tidak sama dengan buku dan perjalanan Laskar Pelangi-nya Andre Hirata. Tetapi keduanya, baik LP maupun N5M, cukup syarat dengan usaha dan perjuangan serta penerapan nilai-nilai kehidupan dan cita-cita yang setidak-tidaknya bisa memberikan inspirasi bagi pembaca dan penikmat cerita anak Indonesia.
Buah karya Ahmad Fuadi ini bercerita tentang kisah-kisah anak pondok (pesantren) yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Terutama mengenai perjalanan penulisnya yang dalam cerita ini dikenal dengan nama Alif, anak asli Minangkabau dari Desa bayur di sekitar Danau Maninjau Sumatera Barat yang atas keinginan ibunya, "terpaksa" membatalkan cita-citanya untuk memasuki sekolah umum (SMA Negeri Bukit Tinggi).
Seperti cerita perjalanan lainnya, kisah ini selalu menarik, perjalanan hidup masa-masa penting seorang remaja belasan tahun, memulai sekolah, tetapi bukan di sekolah umum. Pondok Pesantren adalah suatu bentuk pendidikan sangat khas Indonesia yang menganut sistem asrama (dormitory). Semua murid harus tinggal, belajar, dan hidup hanya di lingkungan asrama. Lebih khusus lagi, mereka harus mempelajari berbagai ilmu, tidak hanya ilmu agama (Islam), tetapi juga ilmu umum. Termasuk pula yang mendapat porsi paling tinggi adalah mempelajari Bahasa, khususnya bahasa Arab dan Inggris. Kedua bahasa ini menjadi wajib, tidak ada ampun bagi murid-murid di luar murid Kelas I yang masih menggunakan bahasa lain di luar bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kehidupan Pondok Pesantren, yang dalam cerita ini disebutnya dengan Pondok Madani (PM), sesungguhnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini banyak diduga orang (luar non pesantren). 4 hal menarik yang menurut saya telah membuka cakrawala orang luar atas kehidupan pesantren adalah; kehebatan seorang guru (uztad atau kia) yang luar biasa, sifat-sifat ikhlas yang menjadi dasar atau roh dari keberadaan pesantren, penerapan aturan disiplin yang tidak bisa ditawar-tawar, dan munculnya kompetisi diantara murid yang terbangun secara kesatria.
Ustad atau Kiay, adalah lambang kepemimpinan dan semangat idealisme pesantren yang kesehariannya, meskipun ditakuti, tetapi terutama akibat kemampuannya di dalam membangun semangat dan motivasi para murid 24 jam tidak pernah berhenti sepanjang hari dan malam. Kapan saja seorang murid memerlukan jawaban yang tidak didapatnya dari lingkungannya, maka jawaban itu dapat disetiap saat dicarinya dari seorang ustad atau kiay.
Kedua, menjalani kehidupan secara ikhlas, merupakan ajaran penting yang diharapkan bisa membuat seseorang, mampu mengendalikan dirinya tanpa melalui prasangka dan dugaan yang belum tentu benar. Berbuat ihklas adalah ujian penting yang memerlukan perjalanan dan jam terbang panjang sebelum seseorang, bisa 100% ikhlas dalam menghadapi, tidak saja dunia belajar di pesantren, tetapi termasuk setelah seseorang khatam (tamat) dari sebuah pesantren.
Selanjutnya, saya paling menikmati hal-hal yang berbau peraturan dan disiplin. Tidak mungkin pesantren bisa jalan bagus kalau tidak mampu menjaga kedisiplinan secara konsisten. Bayangkan suatu komunitas sekolah dengan 3000 orang santri, apa jadinya kalau pengurus pesantren tidak mampu menjaga peraturan secara konsisten. Bisa-bisa pesantren bubar secara cepat. Tetapi inilah kekuatan masyarakat pesantren, yang mengenai disiplin, penerapannya tidak memerlukan aturan atau surat edaran tertulis berpuluh halaman untuk dibaca dan dipahami. Aturan disiplin, hanya dikomunikasikan oleh seorang Ustad atau Murid yang lebih senior secara lisan. Hanya dibaca, tidak ada dokumen yang diberikan. Lalu disebutkan sanksi-sanksi tertentu bagi santri yang terbukti melakukan pelanggaran disiplin. Lalu, semuanya memahami dan dijalankan secara konsisten. Untuk urusan disiplin ini, sehari-hari terutama diawasi oleh murid kelas 6 yang sudah senior dan segera meninggalkan pondok. Sehari-hari, bisanya dia dibantu oleh pemantau (pengamat siapa murid yang melanggar disiplin) yang berasal dari murid-murid yang "sedang menjalani hukuman disiplin". Persoalan penegakan disiplin sama saja dengan penerapan manajemen modern yang memberikan kewenangan bagi setiap orang untuk terlibat aktif tetapi dengan cara yang lebih bertanggung jawab.
Akhirnya saya juga sangat terkesan dengan suasana kompetisi yang dibangun secara fair di antara para murid pesantren. Termasuk penerapan sistem evaluasi dan reward yang sehari-hari lebih jelas implementasinya di Pondok dibandingkan dengan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan modern atau di berbagai lembaga pemerintahan lainnya. Semua pelajaran yang sehari-harinya ditransmisikan secara ikhlas di antara penghuni pesantren, baik; Kiay, ustad ataupun para murid/santri, selalu diwarnai oleh suasana kompetisi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja para santri. Semua pelajaran selalu diharapkan bisa dinikmati, dilaombakan untuk mendapatkan calon peserta terbaik. Apakah mengenai Al Qur'an, ilmu umum, bahasa Inggris, atau apa saja, termasuk pertandingan Sepak Bola, Teatre/Kesenian, kebersihan, atau kegiatan lain. Inilah cara anak pesantren membangun kualitas dirinya, kualitas manusia Indonesia seutuhnya.
Masih banyak cerita menarik yang dituturkan Alif bersama teman-temannya sesama santri dari Kelompok Sahibul Menara, antara lain; Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa Sulawesi Selatan. Tidak sama dengan buku dan perjalanan Laskar Pelangi-nya Andre Hirata. Tetapi keduanya, baik LP maupun N5M, cukup syarat dengan usaha dan perjuangan serta penerapan nilai-nilai kehidupan dan cita-cita yang setidak-tidaknya bisa memberikan inspirasi bagi pembaca dan penikmat cerita anak Indonesia.
Tuesday, 25 May 2010
Yudhoyono, Penguasa Mutlak Demokrat?
toto zurianto
Setelah menyaksikan pentas demokrasi yang menarik berupa perebuatn kekuasaan Ketua Umum Partai Demokrat antara Marzuki Alie, Andi Malarangeng, dan Anas Urbaningrum yang akhirnya dimenangkan Anas Urbaningrum, kita mulai mengetahui sesungguhnya kekuasaan Ketua Umum PD tidaklah sebesar ketua umum yang banyak dikenal di partai politik lain. PD kali ini, agaknya mulai secara formal menjalankan aspirasi SBY dengan membentuk Majelis Tinggi Partai (MT) yang terdiri dari 9 orang diketuai oleh SBY sendiri. Sedangkan Ketua Umum hanya menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Tinggi.
Wewenangnya akan sangat luas (Koran Tempo, 25 Mei 2010), seperti; memiliki kewenangan untuk membatalkan hasil rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai, menentukan calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Demokrat, menentukan partai-partai yang diajak untuk berkoalisi, bahkan menentukan calon Gubernur, calon Wakil Gubernur, dan calon Anggota DPR dari partai Demokrat.
Kalau PD akhirnya memiliki struktur organisasi seperti ini, yaitu dengan mendudukkan Majelis Tinggi sebagai kekuatan partai yang paling tinggi, beberapa pengamat politik mulai mengendus bagaimana Partai Demokrat mulai memasuki era seperti yang dilakukan di masa Orde Baru. Ketika itu Dewan Pembina dapat dikatakan sebagai penguasa sebenarnya dari Partai Golkar yang akhirnya membuat Pengurus Pusat menjadi kurang mempunyai kekuasaan. Bagi Arbi Sanit, pengamat politik Universitas Indonesia, hadirnya Majelis Tinggi ini akan membuat Ketua Umum PD (Anas) hanya menjadi pelaksana atau administrator saja.
Kita belum tahu kemana jalan dari hal-hal yang terjadi di Partai Demokrat ke depan. Salah satu episode yang terjadi, berupa pergantian kekuasaan, bolehlah menjadi inspirator bagi partai lain dan pembelajaran perpolitikan Indonesia. Tetapi, arah yang bisa melahirkan kekuasaan tanpa batas melalui peran Majelis Tinggi dan Dewan Pembina yang kebetulan saat ini diduduki oleh SBY, menjadi menarik untuk kita ikuti.
Walau bagaimanapun, kita, atau Para demokraters di Partai Demokrat bisa belajar dari perjalanan pahit Republik ini. Kita semua banyak dirugikan oleh perangai kita yang apabila sedang berkuasa, ingin agar kekuasaan itu berlangsung tanpa batas. Kita suka berasumsi bahwa keputusan kita "sering lebih benar" sehingga kurang menghargai adanya perbedaan pendapat dan cenderung otoriter. Banyak pesan yang perlu kita sampaikan ke Anas Urbaningrum, antara lain, selalulah bisa mempertahankan sikap kritis, berusaha memberikan pengertian kepada orang lain ketika mereka cenderung menganggap apa yang mereka lakukan adalah "sesuatu yang benar" sehingga selalu harus diikuti.
Setelah menyaksikan pentas demokrasi yang menarik berupa perebuatn kekuasaan Ketua Umum Partai Demokrat antara Marzuki Alie, Andi Malarangeng, dan Anas Urbaningrum yang akhirnya dimenangkan Anas Urbaningrum, kita mulai mengetahui sesungguhnya kekuasaan Ketua Umum PD tidaklah sebesar ketua umum yang banyak dikenal di partai politik lain. PD kali ini, agaknya mulai secara formal menjalankan aspirasi SBY dengan membentuk Majelis Tinggi Partai (MT) yang terdiri dari 9 orang diketuai oleh SBY sendiri. Sedangkan Ketua Umum hanya menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Tinggi.
Wewenangnya akan sangat luas (Koran Tempo, 25 Mei 2010), seperti; memiliki kewenangan untuk membatalkan hasil rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai, menentukan calon Presiden dan Wakil Presiden dari Partai Demokrat, menentukan partai-partai yang diajak untuk berkoalisi, bahkan menentukan calon Gubernur, calon Wakil Gubernur, dan calon Anggota DPR dari partai Demokrat.
Kalau PD akhirnya memiliki struktur organisasi seperti ini, yaitu dengan mendudukkan Majelis Tinggi sebagai kekuatan partai yang paling tinggi, beberapa pengamat politik mulai mengendus bagaimana Partai Demokrat mulai memasuki era seperti yang dilakukan di masa Orde Baru. Ketika itu Dewan Pembina dapat dikatakan sebagai penguasa sebenarnya dari Partai Golkar yang akhirnya membuat Pengurus Pusat menjadi kurang mempunyai kekuasaan. Bagi Arbi Sanit, pengamat politik Universitas Indonesia, hadirnya Majelis Tinggi ini akan membuat Ketua Umum PD (Anas) hanya menjadi pelaksana atau administrator saja.
Kita belum tahu kemana jalan dari hal-hal yang terjadi di Partai Demokrat ke depan. Salah satu episode yang terjadi, berupa pergantian kekuasaan, bolehlah menjadi inspirator bagi partai lain dan pembelajaran perpolitikan Indonesia. Tetapi, arah yang bisa melahirkan kekuasaan tanpa batas melalui peran Majelis Tinggi dan Dewan Pembina yang kebetulan saat ini diduduki oleh SBY, menjadi menarik untuk kita ikuti.
Walau bagaimanapun, kita, atau Para demokraters di Partai Demokrat bisa belajar dari perjalanan pahit Republik ini. Kita semua banyak dirugikan oleh perangai kita yang apabila sedang berkuasa, ingin agar kekuasaan itu berlangsung tanpa batas. Kita suka berasumsi bahwa keputusan kita "sering lebih benar" sehingga kurang menghargai adanya perbedaan pendapat dan cenderung otoriter. Banyak pesan yang perlu kita sampaikan ke Anas Urbaningrum, antara lain, selalulah bisa mempertahankan sikap kritis, berusaha memberikan pengertian kepada orang lain ketika mereka cenderung menganggap apa yang mereka lakukan adalah "sesuatu yang benar" sehingga selalu harus diikuti.
Monday, 24 May 2010
Anas Pimpin Partai Demokrat
toto zurianto
Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres II Partai tersebut di Hotel Mason Pine Padalarang Minggu malam, 23 Mei 2010 kemaren. Anas unggul setelah pemilihan putaran kedua yang akhirnya mendapatkan 280 suara 53%), sedangkan saingannya Marzuki Alie mendapatkan 248 suara (47%) dari 530 pemilik suara, 2 suara dinyatakan batal/cacat.
Kandidat lain Andi Malarangeng, Menteri Pemuda dan Olah Raga yang melakukan kampanye secara besar-besaran, tidak mampu melewati putaran kedua setelah pada putaran I hanya didukung oleh 82 suara (16%). Dengan demikian hanya Anas dan Marzuki yang maju pemilihan putaran II yang masing-masing didukung sebanyak 236 (45%) dan 209 (40%) suara.
Akhir dari drama pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat ini, memberikan pembelajaran besar tidak hanya untuk para demokraters, tetapi juga bagi para politisi dan elite Indonesia yang lain. Andi Malarangeng yang "politisi terkenal yang dikenal dekat dengan SBY" dan didukung oleh sebagian besar sesepuh Partai Demokrat, termasuk para mantan Jendral sahabat SBY, para Menteri di Kabinet SBY sekarang, para artis Demokrat yang cukup hingar bingar, dan bahkan putra Presiden SBY Ibas yang secara luar biasa memberikan dukungannya ke Andi Malarangeng, ternyata tidak mampu menunjukkan kehebatannya. Bahkan tidak bisa melewati pemilihan putaran pertama.
Kejutan lain adalah munculnya Marzuki Alie secara luar biasa yang akhirnya hanya kalah tipis dari Anas. Semula para demokraters dan juga masyarakat di luar partai Demokrat berpikir, bahwa kongres kali ini hanya sebagai ajang perseteruan antara 2 tokoh muda yang sama-sama hebat, Andi dan Anas. Andi diperkirakan akan menang mudah mengingat dukungan elite partai yang sangat luar biasa. Tetapi lagi-lagi, apa yang terjadi di partai dan di bawah, ternyata tidak seperti itu. Para pemilik suara, baik DPC maupun DPD, serta sebagian DPP, jelas-jelas menginginkan seorang pemimpin yang nyata-nyata mereka kenal, tidak hanya populer dan memiliki integritas dan kapabilitas, tetapi sekaligus memiliki track record yang teruji.
Para pendukung dan terutama Tim Sukses Andi, mungkin terlalu "PD" dan terbuai dengan statement-statement yang dikeluarkan oleh nyata-nyata "bukan peserta Kongres" yang memiliki hak suara. Contoh nyata adalah para Menteri atau para mantan Menteri dab mantan Jendral yang banyak berada di belakang Andi. Sayang, mereka sama sekali tidak memiliki hak suara untuk menetapkan pilihannya.
Para peserta Kongres II Partai Demokrat akhirnya mampu keluar dari bayang-bayang politisi Indonesia masa lalu untuk memainkan cara mereka berpolitik. Tidak harus terpengaruh oleh bisikan "setan" yang sering melakukan intervensi. Para Demokraters telah menjalankan dan menterjemahkan cara berdemokrasi ala demokraters sendiri. Kita hanya mengucapkan selamat, semoga ada manfaatnya bagi Partai Demokrat dan masyarakat Indonesia.
Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres II Partai tersebut di Hotel Mason Pine Padalarang Minggu malam, 23 Mei 2010 kemaren. Anas unggul setelah pemilihan putaran kedua yang akhirnya mendapatkan 280 suara 53%), sedangkan saingannya Marzuki Alie mendapatkan 248 suara (47%) dari 530 pemilik suara, 2 suara dinyatakan batal/cacat.
Kandidat lain Andi Malarangeng, Menteri Pemuda dan Olah Raga yang melakukan kampanye secara besar-besaran, tidak mampu melewati putaran kedua setelah pada putaran I hanya didukung oleh 82 suara (16%). Dengan demikian hanya Anas dan Marzuki yang maju pemilihan putaran II yang masing-masing didukung sebanyak 236 (45%) dan 209 (40%) suara.
Akhir dari drama pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat ini, memberikan pembelajaran besar tidak hanya untuk para demokraters, tetapi juga bagi para politisi dan elite Indonesia yang lain. Andi Malarangeng yang "politisi terkenal yang dikenal dekat dengan SBY" dan didukung oleh sebagian besar sesepuh Partai Demokrat, termasuk para mantan Jendral sahabat SBY, para Menteri di Kabinet SBY sekarang, para artis Demokrat yang cukup hingar bingar, dan bahkan putra Presiden SBY Ibas yang secara luar biasa memberikan dukungannya ke Andi Malarangeng, ternyata tidak mampu menunjukkan kehebatannya. Bahkan tidak bisa melewati pemilihan putaran pertama.
Kejutan lain adalah munculnya Marzuki Alie secara luar biasa yang akhirnya hanya kalah tipis dari Anas. Semula para demokraters dan juga masyarakat di luar partai Demokrat berpikir, bahwa kongres kali ini hanya sebagai ajang perseteruan antara 2 tokoh muda yang sama-sama hebat, Andi dan Anas. Andi diperkirakan akan menang mudah mengingat dukungan elite partai yang sangat luar biasa. Tetapi lagi-lagi, apa yang terjadi di partai dan di bawah, ternyata tidak seperti itu. Para pemilik suara, baik DPC maupun DPD, serta sebagian DPP, jelas-jelas menginginkan seorang pemimpin yang nyata-nyata mereka kenal, tidak hanya populer dan memiliki integritas dan kapabilitas, tetapi sekaligus memiliki track record yang teruji.
Para pendukung dan terutama Tim Sukses Andi, mungkin terlalu "PD" dan terbuai dengan statement-statement yang dikeluarkan oleh nyata-nyata "bukan peserta Kongres" yang memiliki hak suara. Contoh nyata adalah para Menteri atau para mantan Menteri dab mantan Jendral yang banyak berada di belakang Andi. Sayang, mereka sama sekali tidak memiliki hak suara untuk menetapkan pilihannya.
Para peserta Kongres II Partai Demokrat akhirnya mampu keluar dari bayang-bayang politisi Indonesia masa lalu untuk memainkan cara mereka berpolitik. Tidak harus terpengaruh oleh bisikan "setan" yang sering melakukan intervensi. Para Demokraters telah menjalankan dan menterjemahkan cara berdemokrasi ala demokraters sendiri. Kita hanya mengucapkan selamat, semoga ada manfaatnya bagi Partai Demokrat dan masyarakat Indonesia.
Friday, 21 May 2010
Masa Depan Reformasi Birokrasi
toto zurianto
Masa Depan Reformasi Birokrasi
Banyak sekali organisasi dan negara yang tidak bisa mempertahankan performance-nya ketika suksesi kepemimpinan tidak berlangsung bagus. Ketika Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan berhenti sebagai Menteri Keuangan dan ingin menduduki post baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, saya tidak menganggap pekerjaan “teknikal” sebagai Menkeu sebagai tantangan besar bagi Menteri yang baru. Urusan teknikal Departemen Keuangan, mulai dari kebijakan fiskal, keuangan negara, perpajakan, bea cukai, atau yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan moneter, secara umum akan bisa dijalankan oleh siapapun. Kenapa? Karena Departemen Keuangan, melalui Dirjen-dirjen yang ada, dipastikan telah memiliki kemampuan yang cukup dan bisa bekerja secara profesional.
Lalu apa yang akan menjadi persoalan?
Saya lebih mengkhawatirkan kelangsungan program transformasi. Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Program reformasi, terutama sangat tergantung kepada figure atau Leadership. Tidak semua orang yang memiliki kapabilitas tinggi dan pengalaman luas, mampu melakukan program perubahan. Perubahan atau transformasi, terutama akan banyak ditentukan oleh kemampuan memandang dua – tiga dan sepuluh langkah di depan (visioner), keberanian melakukan tindakan (courage to act), dan selalu mengedepankan keadilan dalam mengelola (fairness).
Orang-orang yang masuk kategori asebagai pemimpin yang kuat leadershipnya, jelas sangat terbatas jumlahnya. Di negara ini, apalagi yang berasal dari sektor pemerintah (birokrasi), jumlahnya lebih sedikit lagi. Banyak pemimpin yang lemah hatinya sehingga tidak mampu menjalankan program transformasi. Saya meyakini, tanpa SMI, Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan, tidak mungkin bisa dimulai seperti yang terjadi sekarang. Banyak Menteri Keuangan yang hebat sebelum ini, tetapi mereka terlihat sudah cukup nyaman memperhatikan organisasinya yang centang prenang dan amburadul. Lahh, bagaimana bisa kita mencapai tahapan yang lebih baik apabila segalanya tidak kita jalankan dengan sungguh-sungguh!
Lihat saja bukti nyata yang dilakukan SMI, ratusan bahkan lebih seribu orang sudah ditindak dan dipecat di beberapa Direktorat Jendral, terutama Bea dan Cukai dan Perpajakan sejak menerapkan Reformasi Birokrasi. Semua orang yang bersalah ditindak, bahkan dipecat. Lalu apakah SMI “tidak memiliki hati” dan demikian tegarnya menyaksikan beberapa karyawan harus dipecat? Menurut saya, sama saja SMI dengan pimpinan-pimpinan yang lain. Pasti semuanya merasa sedih ketika harus menandatangani surat pemecatan karyawannya. Tetapi itulah pilihan penting yang harus dilakukan, yaitu melakukan keputusan yang lebih adil kepada semua orang. Memberikan reward (penghargaan) kepada yang berprestasi, memberikan peringatan dan bimbingan kepada yang belum optimal, dan memberikan hukuman yang setimpal bagi yang salah atau kurang berprestasi.
Lalu bagaimana rasanya ketika Presiden akhirnya memilih Agus Martowardojo (AM) sebagai Menteri Keuangan menggantikan SMI? Saya rasa ini adalah hasil maksimal dari beberapa alternatif calon Menteri yang dipertimbangkan Presiden. AM jelas memiliki kemampuan menjalankan program transformasi sebagaimana yang pernah dijalankannya di Bank Mandiri. Ini sesuatu yang baik yang diharapkan bisa menjamin kelangsungan program Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Keuangan.
Masa Depan Reformasi Birokrasi
Banyak sekali organisasi dan negara yang tidak bisa mempertahankan performance-nya ketika suksesi kepemimpinan tidak berlangsung bagus. Ketika Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan berhenti sebagai Menteri Keuangan dan ingin menduduki post baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, saya tidak menganggap pekerjaan “teknikal” sebagai Menkeu sebagai tantangan besar bagi Menteri yang baru. Urusan teknikal Departemen Keuangan, mulai dari kebijakan fiskal, keuangan negara, perpajakan, bea cukai, atau yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan moneter, secara umum akan bisa dijalankan oleh siapapun. Kenapa? Karena Departemen Keuangan, melalui Dirjen-dirjen yang ada, dipastikan telah memiliki kemampuan yang cukup dan bisa bekerja secara profesional.
Lalu apa yang akan menjadi persoalan?
Saya lebih mengkhawatirkan kelangsungan program transformasi. Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Program reformasi, terutama sangat tergantung kepada figure atau Leadership. Tidak semua orang yang memiliki kapabilitas tinggi dan pengalaman luas, mampu melakukan program perubahan. Perubahan atau transformasi, terutama akan banyak ditentukan oleh kemampuan memandang dua – tiga dan sepuluh langkah di depan (visioner), keberanian melakukan tindakan (courage to act), dan selalu mengedepankan keadilan dalam mengelola (fairness).
Orang-orang yang masuk kategori asebagai pemimpin yang kuat leadershipnya, jelas sangat terbatas jumlahnya. Di negara ini, apalagi yang berasal dari sektor pemerintah (birokrasi), jumlahnya lebih sedikit lagi. Banyak pemimpin yang lemah hatinya sehingga tidak mampu menjalankan program transformasi. Saya meyakini, tanpa SMI, Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan, tidak mungkin bisa dimulai seperti yang terjadi sekarang. Banyak Menteri Keuangan yang hebat sebelum ini, tetapi mereka terlihat sudah cukup nyaman memperhatikan organisasinya yang centang prenang dan amburadul. Lahh, bagaimana bisa kita mencapai tahapan yang lebih baik apabila segalanya tidak kita jalankan dengan sungguh-sungguh!
Lihat saja bukti nyata yang dilakukan SMI, ratusan bahkan lebih seribu orang sudah ditindak dan dipecat di beberapa Direktorat Jendral, terutama Bea dan Cukai dan Perpajakan sejak menerapkan Reformasi Birokrasi. Semua orang yang bersalah ditindak, bahkan dipecat. Lalu apakah SMI “tidak memiliki hati” dan demikian tegarnya menyaksikan beberapa karyawan harus dipecat? Menurut saya, sama saja SMI dengan pimpinan-pimpinan yang lain. Pasti semuanya merasa sedih ketika harus menandatangani surat pemecatan karyawannya. Tetapi itulah pilihan penting yang harus dilakukan, yaitu melakukan keputusan yang lebih adil kepada semua orang. Memberikan reward (penghargaan) kepada yang berprestasi, memberikan peringatan dan bimbingan kepada yang belum optimal, dan memberikan hukuman yang setimpal bagi yang salah atau kurang berprestasi.
Lalu bagaimana rasanya ketika Presiden akhirnya memilih Agus Martowardojo (AM) sebagai Menteri Keuangan menggantikan SMI? Saya rasa ini adalah hasil maksimal dari beberapa alternatif calon Menteri yang dipertimbangkan Presiden. AM jelas memiliki kemampuan menjalankan program transformasi sebagaimana yang pernah dijalankannya di Bank Mandiri. Ini sesuatu yang baik yang diharapkan bisa menjamin kelangsungan program Reformasi Birokrasi di lingkungan Departemen Keuangan.
Sri Mulyani Mampu Jadi Presiden, Asal ..........!
toto zurianto
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa Sri Mulyani Indrawati (SMI), mantan Menteri Keuangan yang dalam waktu dekat akan menduduki post baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden. SMI dinilai memiliki kecerdasan yang cukup. JK tidak ragu memuji SMI dalam 2 hal, yaitu pintar/cerdas dan thought (Koran Tempo, 21 Mei 2010).
Tetapi, jika ia berpikir (SMI) ingin running for the President, ada hal yang harus diperbaiki, yaitu sifat yang terlalu birokratis. Terlalu mengidolakan peraturan/ketentuan sehingga sering melupakan tujuan akhir. Menurut JK, SMI terlalu taat aturan, tetapi sebenarnya yang diperlukan adalah taat tujuan.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa Sri Mulyani Indrawati (SMI), mantan Menteri Keuangan yang dalam waktu dekat akan menduduki post baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, memiliki kapasitas untuk menjadi Presiden. SMI dinilai memiliki kecerdasan yang cukup. JK tidak ragu memuji SMI dalam 2 hal, yaitu pintar/cerdas dan thought (Koran Tempo, 21 Mei 2010).
Tetapi, jika ia berpikir (SMI) ingin running for the President, ada hal yang harus diperbaiki, yaitu sifat yang terlalu birokratis. Terlalu mengidolakan peraturan/ketentuan sehingga sering melupakan tujuan akhir. Menurut JK, SMI terlalu taat aturan, tetapi sebenarnya yang diperlukan adalah taat tujuan.
Thursday, 20 May 2010
Agus Martowardojo, Menteri Keuangan RI
toto zurianto
Presiden SBY tidak terlalu lalu untuk memutuskan siapa pengganti Dr. Sri Mulyani Indrawati (SMI), Menteri Keuangan yang mendapatkan tugas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai 1 Juni 2010. Kemaren malam Presiden memutuskan untuk menunjuk Agus Martowardojo (AM) yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, sebagai Menteri Keuangan menggantikan SMI. Juga bersamaan dengan itu, ditetapkan pula Dr. Anny Ratnawati (AR) sebagai Wakil Menteri Keuangan yang beberapa bulan lalu disebutkan akan diisi oleh Dr. Anggito Abimanyu (AA).
Menurut Presiden, alasan penunjukkan kedua tokoh tersebut, yaitu AM dan AR, terutama karena pertimbangan Kapasitas dan Integritas yang baik, juga didukung oleh pengalaman dan pengetahuan, baik di dalam dan di luar negeri
Dibanding SMI, AM tentu saja berbeda karena lebih dikenal sebagai bankir yang lebih banyak melakukan pengambilan keputusan di area yang lebih bersifat mikro. Tetapi, AM punya kesamaan pula dengan SMI, terutama bagaimana sepak terjangnya melakukan reformasi organisasi yang begitu ketat selama menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Tidak diragukan, AM memiliki kepiawaian sebagai seorang pembawa perubahan (change leader) yang tangguh yang selalu mengedapankan aspek kompetensi dan kontribusi dibandingkan dengan senioritas dan pertemanan. Karena itu, gerakan Reformasi Birokrasi yang sedang dijalankan, rasanya tidak perlu kita khawatirkan nasibnya selanjutnya. Bahkan saya melakini, bahwa perbaikan organisasi di lingkungan Departemen Keuangan akan menjadi semakin baik dan lebih profesional. Tidak lagi hanya sekedar peningkatan remunerasi dan pemberantasan KKN.
Lalu, bagaimana cara AM melakukan tugasnya di bidang ekonomi makro? Inipun suatu pertanyaan yang tidak perlu kita khawatirkan. Sejak dahulu, cukup banyak para Menteri Keuangan yang bukan berasal dari Sektor Makro, lihat saja misalnya Mar'ie Muhammad. Beliaupun pernah sukses, meskipun jabatan sebelumnya tidak terlalu berhubungan dengan sektor makro. Apalagi AM akan lebih mudah mengandalkan Para profesional yang ada di seluruh Direktorat Jendral dengan dukungan Leadership-nya yang cukup mumpuni.
Semoga AM dan AR bisa memberikan sesuatu yang berbeda sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
Presiden SBY tidak terlalu lalu untuk memutuskan siapa pengganti Dr. Sri Mulyani Indrawati (SMI), Menteri Keuangan yang mendapatkan tugas baru sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai 1 Juni 2010. Kemaren malam Presiden memutuskan untuk menunjuk Agus Martowardojo (AM) yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, sebagai Menteri Keuangan menggantikan SMI. Juga bersamaan dengan itu, ditetapkan pula Dr. Anny Ratnawati (AR) sebagai Wakil Menteri Keuangan yang beberapa bulan lalu disebutkan akan diisi oleh Dr. Anggito Abimanyu (AA).
Menurut Presiden, alasan penunjukkan kedua tokoh tersebut, yaitu AM dan AR, terutama karena pertimbangan Kapasitas dan Integritas yang baik, juga didukung oleh pengalaman dan pengetahuan, baik di dalam dan di luar negeri
Dibanding SMI, AM tentu saja berbeda karena lebih dikenal sebagai bankir yang lebih banyak melakukan pengambilan keputusan di area yang lebih bersifat mikro. Tetapi, AM punya kesamaan pula dengan SMI, terutama bagaimana sepak terjangnya melakukan reformasi organisasi yang begitu ketat selama menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Tidak diragukan, AM memiliki kepiawaian sebagai seorang pembawa perubahan (change leader) yang tangguh yang selalu mengedapankan aspek kompetensi dan kontribusi dibandingkan dengan senioritas dan pertemanan. Karena itu, gerakan Reformasi Birokrasi yang sedang dijalankan, rasanya tidak perlu kita khawatirkan nasibnya selanjutnya. Bahkan saya melakini, bahwa perbaikan organisasi di lingkungan Departemen Keuangan akan menjadi semakin baik dan lebih profesional. Tidak lagi hanya sekedar peningkatan remunerasi dan pemberantasan KKN.
Lalu, bagaimana cara AM melakukan tugasnya di bidang ekonomi makro? Inipun suatu pertanyaan yang tidak perlu kita khawatirkan. Sejak dahulu, cukup banyak para Menteri Keuangan yang bukan berasal dari Sektor Makro, lihat saja misalnya Mar'ie Muhammad. Beliaupun pernah sukses, meskipun jabatan sebelumnya tidak terlalu berhubungan dengan sektor makro. Apalagi AM akan lebih mudah mengandalkan Para profesional yang ada di seluruh Direktorat Jendral dengan dukungan Leadership-nya yang cukup mumpuni.
Semoga AM dan AR bisa memberikan sesuatu yang berbeda sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
Dengan Trust, Biaya menjadi Kecil
toto zurianto
Stephen MR Covey, penulis buku best Seller, The Speed of Trust; the One Thing That Changes Everything (2006), berulang kali pada Workshop The Speed of Trust di Jakarta kemaren (19 May 2010) mengatakan bagaimana melalui Trust (kepercayaan), sebuah perusahaan dapat meningkatkan efisiensinya dan memperoleh penghasilan yang berlipat ganda. Sebaliknya ketika kepercayaan itu tidak ada (less trust atau distrust), maka dipastikan, kegiatan perusahaan atau organisasi menjadi semakin lambat yang menyebabkan biaya (cost) operasional menjadi meningkat.
Pada masyarakat yang mengalami Distrust, misalnya seperti yang masih kita alami di Indonesia, semuanya mengalami keterlambatan. Contohnya dari sisi keamanan, seperti yang bisa kita perhatikan di kantor, mal, hotel, atau tempat keramaian lain. Karena kekhawatiran kita terhadap bom, maka pintu masuk terpaksa harus kita jaga keamanannya. Jangan sampai ada masyarakat yang secara sengaja membawa bom dan meledakkannya. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu tempat, menjadi lebih lama dengan biaya (keamanan) yang semakin tinggi akibat harus menyediakan teknologi detektor dan petugas Satpam yang cukup banyak.
Kehidupan yang masyarakatnya sudah saling mempercayai, sungguh sebagai sesuatu yang perlu kita cita-citakan. Saya memiliki contoh kecil dimana seorang pengusaha rumahan yang membuat beberapa jenis cake/kue yang dijajakan di suatu kantor, mampu menjual lebih banyak cake/kue akibat trust yang sangat mendukung. Di kantor saya, ada seorang Bapak yang setiap pagi sekitar Pukul 07.00 mengantarkan sekitar 30 potong kue ke kantor saya di lantai 20 suatu gedung di Jalan Thamrin yang dijual seharga Rp3.000 per potong. Karena sudah saling mempercayai, bapak tersebut tidak perlu menunggu dan melayani pembeli kue, tetapi cukup ditinggalkannya, dan selanjutnya pembeli dipersilahkan mengambil pilihannya dan membayar sesuai dengan jumlah yang diambilnya. Pembayaran dan pengambilan uang pembelian kue tidak ada yang mengawasi, silahkan letakan uang di kantong plastik yang sudah disediakan. Tidak ada satupun orang yang mengawasi transaksi tersebut.
Dengan pola seperti itu, Bapak tersebut setiap hari meletakkan sekitar 10 tempat kue di sekitar 10 lantai yang berbeda, dan kemudiaan diambilnya satu persatu mulai pukul 09.00 dari seluruh lantai. Dengan keadaan seperti itu, Bapak penjual kue mampu melakukan penjualan lebih dari 5 kali lipat dibandingkan apabila yang bersangkutan harus menjajakan kuenya satu persatu ke masing-masing lantai dan menyelesaikan transaksinya satu persatu.
Banyak contoh-contoh yang memberikan kemudahan dan keuntungan yang lebih ketika kita bisa hidup pada situasi yang saling mempercayai.
Stephen MR Covey, penulis buku best Seller, The Speed of Trust; the One Thing That Changes Everything (2006), berulang kali pada Workshop The Speed of Trust di Jakarta kemaren (19 May 2010) mengatakan bagaimana melalui Trust (kepercayaan), sebuah perusahaan dapat meningkatkan efisiensinya dan memperoleh penghasilan yang berlipat ganda. Sebaliknya ketika kepercayaan itu tidak ada (less trust atau distrust), maka dipastikan, kegiatan perusahaan atau organisasi menjadi semakin lambat yang menyebabkan biaya (cost) operasional menjadi meningkat.
Pada masyarakat yang mengalami Distrust, misalnya seperti yang masih kita alami di Indonesia, semuanya mengalami keterlambatan. Contohnya dari sisi keamanan, seperti yang bisa kita perhatikan di kantor, mal, hotel, atau tempat keramaian lain. Karena kekhawatiran kita terhadap bom, maka pintu masuk terpaksa harus kita jaga keamanannya. Jangan sampai ada masyarakat yang secara sengaja membawa bom dan meledakkannya. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk mencapai suatu tempat, menjadi lebih lama dengan biaya (keamanan) yang semakin tinggi akibat harus menyediakan teknologi detektor dan petugas Satpam yang cukup banyak.
Kehidupan yang masyarakatnya sudah saling mempercayai, sungguh sebagai sesuatu yang perlu kita cita-citakan. Saya memiliki contoh kecil dimana seorang pengusaha rumahan yang membuat beberapa jenis cake/kue yang dijajakan di suatu kantor, mampu menjual lebih banyak cake/kue akibat trust yang sangat mendukung. Di kantor saya, ada seorang Bapak yang setiap pagi sekitar Pukul 07.00 mengantarkan sekitar 30 potong kue ke kantor saya di lantai 20 suatu gedung di Jalan Thamrin yang dijual seharga Rp3.000 per potong. Karena sudah saling mempercayai, bapak tersebut tidak perlu menunggu dan melayani pembeli kue, tetapi cukup ditinggalkannya, dan selanjutnya pembeli dipersilahkan mengambil pilihannya dan membayar sesuai dengan jumlah yang diambilnya. Pembayaran dan pengambilan uang pembelian kue tidak ada yang mengawasi, silahkan letakan uang di kantong plastik yang sudah disediakan. Tidak ada satupun orang yang mengawasi transaksi tersebut.
Dengan pola seperti itu, Bapak tersebut setiap hari meletakkan sekitar 10 tempat kue di sekitar 10 lantai yang berbeda, dan kemudiaan diambilnya satu persatu mulai pukul 09.00 dari seluruh lantai. Dengan keadaan seperti itu, Bapak penjual kue mampu melakukan penjualan lebih dari 5 kali lipat dibandingkan apabila yang bersangkutan harus menjajakan kuenya satu persatu ke masing-masing lantai dan menyelesaikan transaksinya satu persatu.
Banyak contoh-contoh yang memberikan kemudahan dan keuntungan yang lebih ketika kita bisa hidup pada situasi yang saling mempercayai.
Tuesday, 18 May 2010
Perkebunan Pinus di Aceh Tengah
toto zurianto
Saya selalu bersemangat untuk bercerita tentang wilayah Aceh Tengah atau terkenal dengan kota Takengon-nya. Bukan hanya saya, tapi kami sekeluarga, yang bukan berasal dari wilayah ini, tetapi pernah bermukim cukup lama (1971-1980) di wilayah yang sekarang, paska pemekaran, meliputi 3 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon, Kabupaten Benar Meriah, dan Kabupaten Gayo Luwes.
Wilayah dataran tinggi Gayo terletak di tengah-tengah propinsi daerah istimewa ACEH (DISTA), sekarang NAD, sebagian besar wilayahnya berada di dataran tinggi pegunungan, sekitar 500 sampai dengan 1700 meter dpl. Udaranya sungguh segar, sejuk, dan bersih membuat siapapun merasa sangat nyaman berada disana. Tentu saja, dengan curah hujan yang cukup tinggi, tanaman dan hutan menjadi sangat subur. Dua pertiga pegunungannya ditumbuhi oleh Pohon Pinus Merkusi, sejenis Cemara yang sejak zaman Belanda sampai dengan tahun 1980-an dikelola oleh perusahaan perkebunan negara untuk diproses menjadi Minyak Terpentin dan Damar yang banyak digunakan oleh industri-industri manufaktur. Disamping tumbuhan Pinus, wilayah Aceh Tengah terkenal sebagai penghasil Kopi Arabika yang sangat terkenal yang lebih banyak diekspor ke luar negeri. Tumbuhan lain disamping sayur mayur dan buah-buahan, wilayah ini juga sangat bagus untuk ditanami tembakau. Hanya sayang, tembakau tidak terlalu banyak diusahakan oleh masyarakat Aceh Tengah.
Terakhir perkebunan Pinus ini dikelola oleh PT Perkebunan I Aceh yang berkedudukan di kota Langsa, kabupaten Aceh Timur. Perusahaan ini pada waktu itu (sampai dengan tahun 1980-an) mengelola perkebunan Pinus di Aceh Tengah (Takengon), Kelapa Sawit di Karang Inoue (Peureulak, Aceh Timur) dan Tanjung Seumentoh (Aceh Timur), Perkebunan Karet di Kebon Lama, Kebon baru, dan Pulo Tiga di Kabupaten Aceh Timur.
Hampir selama 10 tahun mengikuti orangtua yang bekerja di PT Perkebunan I, kami pernah tinggal di Aceh Tengah, tepatnya di Lampahan, ibukota kecamatan Timang Gajah, yang berada di jalan Raya Bireuen Takengon, 25 Kilometer menjelang kota Takengon. Sejauh-jauhnya mata memandang, kita hanya melihat pohon-pohon pinus yang tinggi dan lebat yang diolah di pabrik (kilang) yang berada di Kota Lampahan. Pohon Pinus secara periodik dicangkul batangnya untuk diambil getahnya (seperti dideres pada tanaman Karet), selanjutnya dikumpulkan pada bak-bak pengumpul di Afdeling-afdeling oleh karyawan perusahaan untuk diambil oleh truck-truck Getah, dan dibawa ke Pabrik. Getah pohon pinus yang disebut dengan Balsem itu, selanjutnya diolah dipabrik menjadi Minyak Terpentine dan Damar. Olahan minyak Terpentine dan Damar dimasukkan dalam Drum dan Kotak Kayu khusus untuk dibawa ke pelabuhan Lhokseumawe ke tempat tujuan sesuai dengan order yang dilakukan oleh PT Perkebunan I. Hasil dari konsesi dan pengelolaan pohon Pinus ini diperkirakan telah memberikan kontribusi yang besar bagi pendapat negara, pemerintah daerah, dan tentunya karyawan perusahaan perkebunan, serta masyarakat setempat.
Tetapi, sejak tahun 1980-an, konsesi pengelaolaan perkebunan Pinus itu sudah dialihkan (dijual?) ke perusahaan swasta, kalau tidak salah namanya PT Alas Helau, yang selanjutnya melakukan penebangan terhadap pohon-pohon pinus tersebut untuk dikirim dan diolah menjadi bahan kertas bagi pabrik kertas yang ada di Aceh Utara (Lhokseumawe). Sejak saat itu, dan sampai saat ini (2010), kondisi perkebunan Pinus di dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah) sungguh sangat memperihatinkan. Sebagian wilayah tersebut saat ini dapat dijatakan sudah gundul akibat penebangan yang tidak diikuti oleh penenaman kembali. Pohon Pinus yang menjadi kebanggaan dan penyangga hutan, kini tidak lagi berdaya. Yang kurang dimengerti adalah, siapa menjadi penanggung jawab wilayah konsesi perkebunan itu saat ini? Banyak tanah-tanah yang sudah beralih fungsi, atau mungkin diserobot untuk kepentingan lain.
Memandang masa depan dataran tinggi Gayo sebagai wilayah perkebunan, pertanian, dan wisata yang andal, situasi pohon Pinus yang semakin minim ini perlu kita antisipasi. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah penting untuk menyelamatkan hutan dataran tinggi Gayo. Kecuali kita tidak ingin meninggalkan apapun kepada anak cucu kita.
Saya selalu ingat ketika guru kami di kelas V SD Negeri II Lampahan mengajarkan lagu daerah ini yang sangat terkenal, Tawar Sedenge yang sebagian liriknya seperti ini;
Engon ko so tanoh Gayo Si megah mu reta dele (lihatlah tanah Gayo yang terkenal dengan harta yang melimpah).
Rum batang uyem si ijo, kupi bako e (dengan batang pinus yang hijau serta, kopi dan tembakaunya).
Pengen ko tuk ni korek so Uwet mi ko tanoh Gayo
Seselen pumu ni baju, netah dirimu
Enti daten bur kelieten Mongot pude deru Oya le rahmat ni Tuhen,
ken ko bewen mu
Uwetmi ko tanoh Gayo Semayak bajangku Ken tawar roh munyang datu,
uwetmi masku
Ko matangku si mu mimpim Emah uyem ko ken soloh Katiti kiding enti museltu,
i lah ni denedan seterusnya.
Saya jadi teringat ke guru-guruku di SD Negeri II Lampahan, Bapak Kepala Sekolah dan Wakilnya, Pak Abdul Mutholib dan Pak Kasman, guru kelas V dan kelas VI, Ibu Nursyiah dan Ibu Siti Ali'ah. Juga para guru di SMP Perkebunan Lampahan, Bapak Ara Djoeli (almarhum, Guru Bahasa Indonesia dan Kepala Sekolah), Bapak Teruna Jaya (Guru Sejarah dan Olah Raga), Bapak Nurizal Anaz (Guru Aljabar), Bapak Kamaluddin Bsc (Guru Bahasa Inggris), Ibu Latifah (guru PKK dan Kesenian), Bapak Yunus (Guru Agama), Bapak Kadir (Guru Ilmu Ukur).They are all Great!
Monday, 3 May 2010
Jalur Kereta Api Historis di Sumatera Barat
toto zurianto
PT Kereta Api akan menghidupkan kembali jalur kereta api di Sumatera Barat yang dulu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan sebagiannya saat ini sudah tutup. Jalur ini ke depan akan menjadi bagian dari proyek kereta api Trans Sumatera, mulai dari Banda Aceh sampai dengan Tanjung Karang (Lampung).
Ide ini jelas akan disambut baik masyarakat mengingat kereta api termasuk salah satu moda transportasi yang paling berkembang didunia, relatif murah, dan banyak diminati masyarakat.
Paling penting untuk kita siapkan terlebih dahulu adalah studi fisibiliti-nya. Kita semua berharap, pembukaan jalur kereta api ini, harus didahului oleh aspek ekonomis yang kuat dan benar. Jangan sampai karena alasan historis dan emosionil sehingga kita semua merasa, kita harus membuka jalur ini kembali. Bisa saja, melalui pertimbangan yang lebih baik, akan ada kota-kota tertentu yang dulu pernah disinggahi kereta api, tetapi saat ini dinilai sudah tidak layak untuk disinggahi. Jangan sampai kita hanya membangun kembali jalur yang dahulu sudah pernah ada, lalu diganti dengan rel dan bantalan yang baru.
Beberapa waktu yang lalu saya pernah ke Aceh Utara, dan menyaksikan kesiapan pemerintah Aceh yang berencana akan membuka kembali jalur kereta api Aceh yang dulu sangat legendaris. Pada jalur antara kota Lhokseumawe dan Bireuen, sekitar 56 KM, saya lihat, pemerintah hanya membangun kembali jalur kereta api baru di atas jalur yang lama. Situasi ini sering terasa aneh, karena situasi yang berbeda antara tahun 1950-an dengan keadaan saat ini (60 tahun yang lalu). Kalau kita hanya mengganti jalur/rel lama dengan yang baru, banyak sekali lokasinya sudah tidak relevan.Banyak rel yang "dulu" berlokasi cukup jauh dari pemukiman, misalnya di persawahan, tetapi kita sudah sangat dekat dengan pemukiman penduduk atau jalan raya.
Karena itu, pembangunan kembali jalur kereta api Sumatera, hendaknya disertai dengan pertimbangan ekonomis dan lingkungan yang kuat sehingga kehadirannya tidak terasa aneh dan bahkan bisa mengganggu masyarakat atau alat (moda) transportasi lain.
PT Kereta Api akan menghidupkan kembali jalur kereta api di Sumatera Barat yang dulu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, dan sebagiannya saat ini sudah tutup. Jalur ini ke depan akan menjadi bagian dari proyek kereta api Trans Sumatera, mulai dari Banda Aceh sampai dengan Tanjung Karang (Lampung).
Ide ini jelas akan disambut baik masyarakat mengingat kereta api termasuk salah satu moda transportasi yang paling berkembang didunia, relatif murah, dan banyak diminati masyarakat.
Paling penting untuk kita siapkan terlebih dahulu adalah studi fisibiliti-nya. Kita semua berharap, pembukaan jalur kereta api ini, harus didahului oleh aspek ekonomis yang kuat dan benar. Jangan sampai karena alasan historis dan emosionil sehingga kita semua merasa, kita harus membuka jalur ini kembali. Bisa saja, melalui pertimbangan yang lebih baik, akan ada kota-kota tertentu yang dulu pernah disinggahi kereta api, tetapi saat ini dinilai sudah tidak layak untuk disinggahi. Jangan sampai kita hanya membangun kembali jalur yang dahulu sudah pernah ada, lalu diganti dengan rel dan bantalan yang baru.
Beberapa waktu yang lalu saya pernah ke Aceh Utara, dan menyaksikan kesiapan pemerintah Aceh yang berencana akan membuka kembali jalur kereta api Aceh yang dulu sangat legendaris. Pada jalur antara kota Lhokseumawe dan Bireuen, sekitar 56 KM, saya lihat, pemerintah hanya membangun kembali jalur kereta api baru di atas jalur yang lama. Situasi ini sering terasa aneh, karena situasi yang berbeda antara tahun 1950-an dengan keadaan saat ini (60 tahun yang lalu). Kalau kita hanya mengganti jalur/rel lama dengan yang baru, banyak sekali lokasinya sudah tidak relevan.Banyak rel yang "dulu" berlokasi cukup jauh dari pemukiman, misalnya di persawahan, tetapi kita sudah sangat dekat dengan pemukiman penduduk atau jalan raya.
Karena itu, pembangunan kembali jalur kereta api Sumatera, hendaknya disertai dengan pertimbangan ekonomis dan lingkungan yang kuat sehingga kehadirannya tidak terasa aneh dan bahkan bisa mengganggu masyarakat atau alat (moda) transportasi lain.
Thursday, 29 April 2010
Takengon, I'll be back!
toto zurianto
Tidak banyak orang yang mengenal Takengon. Tetapi tidak bagi kami sekeluarga. Meskipun kami hanya pendatang, bukan suku Gayo yang asli mendiami wilayah pegunungan di propinsi Aceh bagian tengah, tetapi bercerita tentang Takengon, bisa membuat kami terharu, terlalu menikmatinya. Sebenarnya kami tidak lama tinggal di Takengon, cuma sekitar 6 tahun (1971-1977). Tetapi masa-masa itu, benar-benar as unforgettable moments. Kami mengikuti orangtua yang bekerja di PT Perkebunan I (PTP) Aceh, yang memiliki konsesi perkebunan di Takengon yang saat ini memproduksi minyak Terpentine dan Damar yang diolah dari Getah (Balsem) pohon Pinus Merkusi (sejenis Cemara) yang banyak terdapat di Kabupaten itu.
Dulu kami bermukim sekitar 25 KM sebelum Kota Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Kota Lampahan, ibukota Kecamatan Timang Gajah. Udaranya dingin, tepat berada di kaki Gunung (berapi) Burni Telong, sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
Sejauh-jauhnya kita memandang, yang terlihat hanya hamparan Gunung yang menghijau, Pohon Kopi yang subur, dan pohon Pinus Merkusi yang berada di puncak atau di lembah pegunungan.
Secara geografis, Takengon sangatlah terpencil, yang ketika itu hanya bisa dicapai melalui jalan darat sekitar 100 KM dari Kota Bireun di Kabupaten Aceh Utara. Meskipun jalannya cukup mulus (di tahun 1970-an), lalu lintas sangatlah terbatas, tidak seperti saat ini. Kenderaan umum, biasanya ditempuh dengan menumpang Bus yang jumlahnya terbatas, baik dari; Bireun (sekitar 100 KM), Lhokseumawe (sekitar 156 KM), Banda Aceh (sekitar 350 KM), atau Medan (sekitar 500 KM). Tapi naek bus di tahun 70-an sungguh menyenangkan, meskipun sangat sederhana, tetapi sulit untuk dilupakan. Perusahaan Bus umum yang melayani tujuan Takengon, ketika itu, antara lain; PT Aceh Tengah (saat ini hanya melayani bus-bus kecil 20 penumpang saja), Firma Faham (kayaknya udah enggak ada), PT KAT (Kesatuan Autobis Takengon), juga udah enggak ada lagi.
Pokoknya di tahun 70-an, Bus-bus antar kota, pernah memainkan peran penting bagi perkembangan ekonomi di Takengon. Hampir semua kebutuhan pokok di luar sayuran, harus didatangi dari luar kota, terutama dari Bireuen, Lhokseumawe, atau Medan. Bahkan kebutuhan Ikan (air laut), harus dibawa pakai bus-bus dari Bireuen sehingga orang Aceh Tengah, baru bisa mendapatkan Ikan paling cepat sekitar jam 10.00 - 12.00 setiap hari. Itupun jenisnya sangat terbatas, paling-paling ikan Bandeng dan Ikan Tongkol.
Kini Takengon sudah jauh berbeda. Bersamaan dengan perkembangan wilayah eks Kabupaten Aceh Tengah (lama) yang berkembang menjadi 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah (yang wilayahnya sudah menjadi semakin kecil) dengan Ibukota Takengon, Kabupaten Benar Meriah, dan Kabupaten gayu Luwes.
Kalau dulu Takengon menjadi kota mati setelah pukul 6 sore, kini situasinya sudah berubah. Rumah makan dan Warung (Kedai) makanan masih tetap buka bahkan sampai tengah malam. Kita dengan mudah menemukan Restaurant dan Kedai Kopi di pusat kota bahkan sampai ke pinggiran. Apalagi situasi keamanan yang sangat kondusif dalam 2 tahun terakhir ini.
Hanya saja, meskipun potensinya sangat menjanjikan, perkembangan pariwisata belum menunjukkan sesuatu yang berarti. Objek wisata yang luar biasa berlimpah, masih belum digarap. Danau Laut Tawar, pegunungan Burni Telong, Sumber Air Panas Alam Wih Pesam Simpang Balek, perkebunan Pinus, Perkebunan Kopi dan Sayuran, semuanya masih menjadi perawan yang tidak tergarap secara terencana. Hotel sangat minim. Ada satu hotel Bintang, Hotel Renggali di tepi Danau Laut Tawar, sayang kurang terawat, kurang terpublikasi, dan cenderung sepi. penginapan lain, hanya losmen 2 atau 3 lantai yang kamar mandinya kurang bagus, atau air panasnya enggak berfungsi.
Saya begitu optimis memikirkan daya magic Takengon (dan seluruh Kabupaten-kabupatennya, seperti; Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luwes). Wilayah ini memiliki potensi yang seharusnya dapat berkembang secara lebih hebat. Lihat juga, bagaimana masyarakat Gayo yang memiliki adat istiadat yang kokoh, menarik, kuat, dan berorientasi kepada keterbukaan dan moderat. Perkembangan pariwisata, jika dibangun secara baik, dapat dipastikan akan membuat wilayah ini menjadi wilayah pembangunan ekonomi yang tangguh.
Tidak banyak orang yang mengenal Takengon. Tetapi tidak bagi kami sekeluarga. Meskipun kami hanya pendatang, bukan suku Gayo yang asli mendiami wilayah pegunungan di propinsi Aceh bagian tengah, tetapi bercerita tentang Takengon, bisa membuat kami terharu, terlalu menikmatinya. Sebenarnya kami tidak lama tinggal di Takengon, cuma sekitar 6 tahun (1971-1977). Tetapi masa-masa itu, benar-benar as unforgettable moments. Kami mengikuti orangtua yang bekerja di PT Perkebunan I (PTP) Aceh, yang memiliki konsesi perkebunan di Takengon yang saat ini memproduksi minyak Terpentine dan Damar yang diolah dari Getah (Balsem) pohon Pinus Merkusi (sejenis Cemara) yang banyak terdapat di Kabupaten itu.
Dulu kami bermukim sekitar 25 KM sebelum Kota Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di Kota Lampahan, ibukota Kecamatan Timang Gajah. Udaranya dingin, tepat berada di kaki Gunung (berapi) Burni Telong, sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
Sejauh-jauhnya kita memandang, yang terlihat hanya hamparan Gunung yang menghijau, Pohon Kopi yang subur, dan pohon Pinus Merkusi yang berada di puncak atau di lembah pegunungan.
Secara geografis, Takengon sangatlah terpencil, yang ketika itu hanya bisa dicapai melalui jalan darat sekitar 100 KM dari Kota Bireun di Kabupaten Aceh Utara. Meskipun jalannya cukup mulus (di tahun 1970-an), lalu lintas sangatlah terbatas, tidak seperti saat ini. Kenderaan umum, biasanya ditempuh dengan menumpang Bus yang jumlahnya terbatas, baik dari; Bireun (sekitar 100 KM), Lhokseumawe (sekitar 156 KM), Banda Aceh (sekitar 350 KM), atau Medan (sekitar 500 KM). Tapi naek bus di tahun 70-an sungguh menyenangkan, meskipun sangat sederhana, tetapi sulit untuk dilupakan. Perusahaan Bus umum yang melayani tujuan Takengon, ketika itu, antara lain; PT Aceh Tengah (saat ini hanya melayani bus-bus kecil 20 penumpang saja), Firma Faham (kayaknya udah enggak ada), PT KAT (Kesatuan Autobis Takengon), juga udah enggak ada lagi.
Pokoknya di tahun 70-an, Bus-bus antar kota, pernah memainkan peran penting bagi perkembangan ekonomi di Takengon. Hampir semua kebutuhan pokok di luar sayuran, harus didatangi dari luar kota, terutama dari Bireuen, Lhokseumawe, atau Medan. Bahkan kebutuhan Ikan (air laut), harus dibawa pakai bus-bus dari Bireuen sehingga orang Aceh Tengah, baru bisa mendapatkan Ikan paling cepat sekitar jam 10.00 - 12.00 setiap hari. Itupun jenisnya sangat terbatas, paling-paling ikan Bandeng dan Ikan Tongkol.
Kini Takengon sudah jauh berbeda. Bersamaan dengan perkembangan wilayah eks Kabupaten Aceh Tengah (lama) yang berkembang menjadi 3 Kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah (yang wilayahnya sudah menjadi semakin kecil) dengan Ibukota Takengon, Kabupaten Benar Meriah, dan Kabupaten gayu Luwes.
Kalau dulu Takengon menjadi kota mati setelah pukul 6 sore, kini situasinya sudah berubah. Rumah makan dan Warung (Kedai) makanan masih tetap buka bahkan sampai tengah malam. Kita dengan mudah menemukan Restaurant dan Kedai Kopi di pusat kota bahkan sampai ke pinggiran. Apalagi situasi keamanan yang sangat kondusif dalam 2 tahun terakhir ini.
Hanya saja, meskipun potensinya sangat menjanjikan, perkembangan pariwisata belum menunjukkan sesuatu yang berarti. Objek wisata yang luar biasa berlimpah, masih belum digarap. Danau Laut Tawar, pegunungan Burni Telong, Sumber Air Panas Alam Wih Pesam Simpang Balek, perkebunan Pinus, Perkebunan Kopi dan Sayuran, semuanya masih menjadi perawan yang tidak tergarap secara terencana. Hotel sangat minim. Ada satu hotel Bintang, Hotel Renggali di tepi Danau Laut Tawar, sayang kurang terawat, kurang terpublikasi, dan cenderung sepi. penginapan lain, hanya losmen 2 atau 3 lantai yang kamar mandinya kurang bagus, atau air panasnya enggak berfungsi.
Saya begitu optimis memikirkan daya magic Takengon (dan seluruh Kabupaten-kabupatennya, seperti; Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luwes). Wilayah ini memiliki potensi yang seharusnya dapat berkembang secara lebih hebat. Lihat juga, bagaimana masyarakat Gayo yang memiliki adat istiadat yang kokoh, menarik, kuat, dan berorientasi kepada keterbukaan dan moderat. Perkembangan pariwisata, jika dibangun secara baik, dapat dipastikan akan membuat wilayah ini menjadi wilayah pembangunan ekonomi yang tangguh.
Lhokseumawe, setelah 35 tahun
toto zurianto
Seminggu yang lalu (22-24 April 2010), saya berkesempatan kembali ke Aceh. Kebetulan ada pekerjaan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Perjalanan dari Jakarta pagi hari, dan mendarat di Polonia sekitar jam 10.00 WIB. Langsung sudah ditunggu pak Sopir yang akan membawa kami ke Lhokseumawe melalui jalan darat sekitar 7 jam. Sebenarnya ada juga pesawat kecil (milik perusahaan tertentu) yang hanya menghabiskan waktu terbang sekitar 45 menit, tetapi tentu saja tidak mudah mendapatkan seat-nya. Singkat cerita, kamipun berangkat ke Lhokseumawe (LSM) menyusuri kota-kota kecil dan ramai di Propinsi Sumatera Utara, mulai dari Binjai (21 KM dari Medan), Stabat, Tanjung Pura (44 KM), Pangkalan Brandan (82 KM), dan kemudian memasuki kota-kota di propinsi Aceh (NAD) seperti; Kuala Simpang (Kabupaten Aceh Tamiang) dan Langsa (Kabupaten Aceh Timur).
Sepanjang perjalanan, umumnya jalan-jalan cukup mulus, terawat, tidak terlalu besar, tetapi tetap lancar untuk dilewati sekitar 80-100 KM/jam. Bahkan di Propinsi Aceh, jalan-jalan lebih besar dan mulus dengan lalu lintas yang lebih sepi sehingga kami bisa ngebut di atas 100 KM/jam. banyak perkebunan besar yang kami lewati, baik milik negara (PT Perkebunan I), maupun milik swasta dan masyarakat umum. Tanaman yang banyak diusahakan terutama Kelapa Sawit (Palm Oil), Karet (Rubber)! Juga usaha perikanan pada tambak-tambah yang banyak terdapat di sekitar Peureulak, Idi, KutaBinjei, Panton Labu, sampai ke Lhok Sukun.
Secara umum kehidupan masyarakat terlihat cukup baik, lebih makmur dibandingkan dengan era pemberontakan sepuluh tahun yang lalu. Pasar-pasar yang bertebaran di pinggir jalan, umumnya ramai dipadati pengunjung, apalagi Kedai Kopi Aceh (coffee shop) yang terkenal itu. So pasti sangatlah ramai.
Sekitar jam 4.30 sore kami memasuki kota LSM. Wah, banyak perubahan. Bangunan kota yang dulu didominasi oleh ruko-ruko dari Papan, sekarang sudah digantikan oleh gedung permanen bertingkat. Jalan-jalan sudah cukup besar dan mulus. Juga jalan masuk kota yang dulu terpaksa harus antri memasuki Jembatan Sungai Cunda (Krueng Cunca), sekarang sudah tidak terlihat karena bagus dan tertata. Kenderaan cukup rame, termasuk beca motor yang menjadi transport umum paling disukai. Angkot tidak terlalu banyak di Lhokseumawe!
Di tengah kota kita bisa menyaksikan bangunan Islamic Center yang sedang dikerjakan' luar biasa, besar, megah, dan terlihat mahal. Konon masih memerlukan biaya besar yang katanya akan dibantu oleh Kerajaan Arab Saudi. Semoga bangunan ini bisa lekas selesai.
Akhirnya teman-teman kantor Lhokseumawe membawa kami untuk istirahat di Hotel Harun, konon hotelnya baru, di pusat kota berdampingan dengan Super Market dan Harun Square, tepat di depan Kantor Walikota Lhoksemawe dan Gedung BPD Aceh Cabang Lhokseumawe. Meskipun bangunannya masih baru, tetapi sebenarnya secara keseluruhan hotel ini belum selesai. Bahkan pintu hotelnya tidak jelas, jalan menuju lobbynya harus naek tangga melewati Department Store yang Escalator-nya mati dan dilanjutkan dengan naek tangga putar sebelum sampai ke lobby. Dengan tarif yang tidak murah, hotel non bintang ini kayaknya belum layak untuk soft-opening. Apalagi tidak ada petugas hotel yang menawarkan bantuan untuk mengangkat koper tamu ke lobby. Semoga saja AC kamar cukup sejuk dan airnya (+/+ air panas) tersedia! (syukur, AC-nya lumayan, dan airnya tersedia, he he he!).
Lalu kemana malam hari? tentu saja mencari makan. Kalau untuk urusan yang satu ini, kita tidak perlu khawatir, bahkan sampai jam 2 pagi, masih banyak kedai makanan pinggir jalan yang buka di seluruh penjuru kota. Di pusat kota, kita dengan mudah bisa mendapatkan makanan, baik restaurant yang "sederhana" maupun makanan jajan khas Aceh yang terkenal. Di sepanjang (pinggir) jalan, kita bisa menemukan sekumpulqan pedagang yang menjual Mie Aceh (noodle), Nasi Goreng, Sate "Matang", Martabak Telor, Teh/Kopi, atau Juss. Bagi yang pertama kali berkunjung ke Aceh, saya sarankan untuk menikmati semua makanan khas Aceh yang terkenal itu. jangan bandingkan dengan yang ada di Jakarta atau Bandung, tetapi nikmati senikmat-nikmatnya. Ditanggung Sedap! Apalagi harganya relatif murah-murah tidak menguras kantong.
Lhokseumawe memang kota pendatang yang banyak dikunjungi orang luar (Aceh), tetapi jelas berubah dibandingkan dengan 35 tahun yang lalu. Dulu, kehidupan umumnya dipenuhi oleh masyarakat pedagang, nelayan (ikan dan tambak), dan petani (padi/kopra). Kini, akibat kehadiran perusahaan-perusahaan besar, banyak yang berubah. Tetapi, situasi kota tetap menarik dan membuat malam terasa tidak ingin segera pagi. Duduk-duduk di kedai kopi, menikmati segelas dua gelas kopi Aceh, sungguh sulit untuk dicari di tempat lain.
Seminggu yang lalu (22-24 April 2010), saya berkesempatan kembali ke Aceh. Kebetulan ada pekerjaan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Perjalanan dari Jakarta pagi hari, dan mendarat di Polonia sekitar jam 10.00 WIB. Langsung sudah ditunggu pak Sopir yang akan membawa kami ke Lhokseumawe melalui jalan darat sekitar 7 jam. Sebenarnya ada juga pesawat kecil (milik perusahaan tertentu) yang hanya menghabiskan waktu terbang sekitar 45 menit, tetapi tentu saja tidak mudah mendapatkan seat-nya. Singkat cerita, kamipun berangkat ke Lhokseumawe (LSM) menyusuri kota-kota kecil dan ramai di Propinsi Sumatera Utara, mulai dari Binjai (21 KM dari Medan), Stabat, Tanjung Pura (44 KM), Pangkalan Brandan (82 KM), dan kemudian memasuki kota-kota di propinsi Aceh (NAD) seperti; Kuala Simpang (Kabupaten Aceh Tamiang) dan Langsa (Kabupaten Aceh Timur).
Sepanjang perjalanan, umumnya jalan-jalan cukup mulus, terawat, tidak terlalu besar, tetapi tetap lancar untuk dilewati sekitar 80-100 KM/jam. Bahkan di Propinsi Aceh, jalan-jalan lebih besar dan mulus dengan lalu lintas yang lebih sepi sehingga kami bisa ngebut di atas 100 KM/jam. banyak perkebunan besar yang kami lewati, baik milik negara (PT Perkebunan I), maupun milik swasta dan masyarakat umum. Tanaman yang banyak diusahakan terutama Kelapa Sawit (Palm Oil), Karet (Rubber)! Juga usaha perikanan pada tambak-tambah yang banyak terdapat di sekitar Peureulak, Idi, KutaBinjei, Panton Labu, sampai ke Lhok Sukun.
Secara umum kehidupan masyarakat terlihat cukup baik, lebih makmur dibandingkan dengan era pemberontakan sepuluh tahun yang lalu. Pasar-pasar yang bertebaran di pinggir jalan, umumnya ramai dipadati pengunjung, apalagi Kedai Kopi Aceh (coffee shop) yang terkenal itu. So pasti sangatlah ramai.
Sekitar jam 4.30 sore kami memasuki kota LSM. Wah, banyak perubahan. Bangunan kota yang dulu didominasi oleh ruko-ruko dari Papan, sekarang sudah digantikan oleh gedung permanen bertingkat. Jalan-jalan sudah cukup besar dan mulus. Juga jalan masuk kota yang dulu terpaksa harus antri memasuki Jembatan Sungai Cunda (Krueng Cunca), sekarang sudah tidak terlihat karena bagus dan tertata. Kenderaan cukup rame, termasuk beca motor yang menjadi transport umum paling disukai. Angkot tidak terlalu banyak di Lhokseumawe!
Di tengah kota kita bisa menyaksikan bangunan Islamic Center yang sedang dikerjakan' luar biasa, besar, megah, dan terlihat mahal. Konon masih memerlukan biaya besar yang katanya akan dibantu oleh Kerajaan Arab Saudi. Semoga bangunan ini bisa lekas selesai.
Akhirnya teman-teman kantor Lhokseumawe membawa kami untuk istirahat di Hotel Harun, konon hotelnya baru, di pusat kota berdampingan dengan Super Market dan Harun Square, tepat di depan Kantor Walikota Lhoksemawe dan Gedung BPD Aceh Cabang Lhokseumawe. Meskipun bangunannya masih baru, tetapi sebenarnya secara keseluruhan hotel ini belum selesai. Bahkan pintu hotelnya tidak jelas, jalan menuju lobbynya harus naek tangga melewati Department Store yang Escalator-nya mati dan dilanjutkan dengan naek tangga putar sebelum sampai ke lobby. Dengan tarif yang tidak murah, hotel non bintang ini kayaknya belum layak untuk soft-opening. Apalagi tidak ada petugas hotel yang menawarkan bantuan untuk mengangkat koper tamu ke lobby. Semoga saja AC kamar cukup sejuk dan airnya (+/+ air panas) tersedia! (syukur, AC-nya lumayan, dan airnya tersedia, he he he!).
Lalu kemana malam hari? tentu saja mencari makan. Kalau untuk urusan yang satu ini, kita tidak perlu khawatir, bahkan sampai jam 2 pagi, masih banyak kedai makanan pinggir jalan yang buka di seluruh penjuru kota. Di pusat kota, kita dengan mudah bisa mendapatkan makanan, baik restaurant yang "sederhana" maupun makanan jajan khas Aceh yang terkenal. Di sepanjang (pinggir) jalan, kita bisa menemukan sekumpulqan pedagang yang menjual Mie Aceh (noodle), Nasi Goreng, Sate "Matang", Martabak Telor, Teh/Kopi, atau Juss. Bagi yang pertama kali berkunjung ke Aceh, saya sarankan untuk menikmati semua makanan khas Aceh yang terkenal itu. jangan bandingkan dengan yang ada di Jakarta atau Bandung, tetapi nikmati senikmat-nikmatnya. Ditanggung Sedap! Apalagi harganya relatif murah-murah tidak menguras kantong.
Lhokseumawe memang kota pendatang yang banyak dikunjungi orang luar (Aceh), tetapi jelas berubah dibandingkan dengan 35 tahun yang lalu. Dulu, kehidupan umumnya dipenuhi oleh masyarakat pedagang, nelayan (ikan dan tambak), dan petani (padi/kopra). Kini, akibat kehadiran perusahaan-perusahaan besar, banyak yang berubah. Tetapi, situasi kota tetap menarik dan membuat malam terasa tidak ingin segera pagi. Duduk-duduk di kedai kopi, menikmati segelas dua gelas kopi Aceh, sungguh sulit untuk dicari di tempat lain.
Wednesday, 14 April 2010
Polisi dan Susno
toto zurianto
Sejak beberapa waktu terakhir, iklim perpolitikan Indonesia cukup banyak dipengaruhi oleh perseteruan antara lembaga kepolisian dengan salah seorang anggota Polisi, mantan Kepala Bareskrim Komjend Susno Duadji (SD). Ininya, SD dianggap telah melanggar peraturan disiplin internal kepolisian (code of ethics) ketika yang bersangkutan secara terbuka menyampaikan beberapa informasi penting yang pada dasarnya menyebutkan bahwa para anggota kepolisian, terutama yang berada pada Kantor Bareskrim, telah menggunakan kekuasaannya secara salah dengan mengambil peran sebagai Makelar Kasus (Markus).
Sebagai Markus, sebagian polisi dianggap telah melakukan tindakan yang tidak profesional dalam proses penuntutan atau peradilan perpajakan yang hasilnya lebih banyak memberikan kemudahan/fasilitas kepada pihak-pihak yang berperkara. Melalui permainan kong-kali-kong, para pihak yang seharusnya dapat dikenakan denda atau kemudahan, ternyata dapat dibebaskan atau mendapatkan hukuman yang relatif lebih ringan.
Secara cepat, akhirnya isu ini dapat dibuktikan sebagai sebuah tantangan tersendiri yang perlu dilihat sebagai persoalan panjang yang harus diatas. Tetapi tentu saja situasinya mendapatkan reaksi keras dari para pejabat kepolisian yang menganggap SD telah "berkhianat" terhadap institusinya sendiri.
Bagi SD, situasi ini adalah suatu program perubahan biasa yang tidak pernah mendapatkan penyelesaian selama bertahun-tahun. Tidak mungkin kepolisian dapat dipercaya masyarakat apabila kondisinya ternyata caruk marut yang dijalankan oleh orang-orang yang miskin integritas. Apalagi dapat dipastikan, bahwa, keadaan ini adalah sebagai sebuah fakta dimana kepolisian secara internal tidak berkeinginan untuk bisa menerapkan prinsip Keterbukaan dan Keadilan (transparency and Fairness).
Hanya sekedar melanggar disiplin tidak bisa diartikan, bahwa hal itu berarti, kita tidak perlu menyampaikan informasi tertentu karena diperkirakan dapat masuk kategori pelanggaran disiplin yang harus diproses.
Sejak beberapa waktu terakhir, iklim perpolitikan Indonesia cukup banyak dipengaruhi oleh perseteruan antara lembaga kepolisian dengan salah seorang anggota Polisi, mantan Kepala Bareskrim Komjend Susno Duadji (SD). Ininya, SD dianggap telah melanggar peraturan disiplin internal kepolisian (code of ethics) ketika yang bersangkutan secara terbuka menyampaikan beberapa informasi penting yang pada dasarnya menyebutkan bahwa para anggota kepolisian, terutama yang berada pada Kantor Bareskrim, telah menggunakan kekuasaannya secara salah dengan mengambil peran sebagai Makelar Kasus (Markus).
Sebagai Markus, sebagian polisi dianggap telah melakukan tindakan yang tidak profesional dalam proses penuntutan atau peradilan perpajakan yang hasilnya lebih banyak memberikan kemudahan/fasilitas kepada pihak-pihak yang berperkara. Melalui permainan kong-kali-kong, para pihak yang seharusnya dapat dikenakan denda atau kemudahan, ternyata dapat dibebaskan atau mendapatkan hukuman yang relatif lebih ringan.
Secara cepat, akhirnya isu ini dapat dibuktikan sebagai sebuah tantangan tersendiri yang perlu dilihat sebagai persoalan panjang yang harus diatas. Tetapi tentu saja situasinya mendapatkan reaksi keras dari para pejabat kepolisian yang menganggap SD telah "berkhianat" terhadap institusinya sendiri.
Bagi SD, situasi ini adalah suatu program perubahan biasa yang tidak pernah mendapatkan penyelesaian selama bertahun-tahun. Tidak mungkin kepolisian dapat dipercaya masyarakat apabila kondisinya ternyata caruk marut yang dijalankan oleh orang-orang yang miskin integritas. Apalagi dapat dipastikan, bahwa, keadaan ini adalah sebagai sebuah fakta dimana kepolisian secara internal tidak berkeinginan untuk bisa menerapkan prinsip Keterbukaan dan Keadilan (transparency and Fairness).
Hanya sekedar melanggar disiplin tidak bisa diartikan, bahwa hal itu berarti, kita tidak perlu menyampaikan informasi tertentu karena diperkirakan dapat masuk kategori pelanggaran disiplin yang harus diproses.
Mengkritisi Reformasi Birokrasi
toto zurianto
Pemerintah khususnya Menteri Keuangan, telah mengandalkan program Reformasi Birokrasi (RB) sebagai salah satu quick wins yang diharapkan mampu mendukung gerakan peningkatan kualitas aparatur pemerintah sehingga benar-benar dapat diandalkan untuk menjadi birokrat atau pelayan publik (public servant) yang profesional, sekaligus terhormat.
Dengan mengambil beberapa Departemen/Lembaga pemerintahan sebagai pilot project, pegawai negeri yang selama ini sangat kental dengan predikat bekerja lambat, kurang bertanggung jawab, sarat KKN, diharapkan dapat dikikis melalui serangkaian perbaikan yang bertujuan, antara lain; menciptakan aparatur negara yang bersih, profesional dan bertanggung jawab, serta; menciptakan birokrasi yang efisien dan efektif sehingga dapat memberikan pelayanan publik yang prima.
Selanjutnya Departemen Keuangan, khususnya Direktorat Jendral Pajak (DJP) dan Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) yang memainkan peran sangat besar dalam mengumpulkan pendapatan negara, maka lembaga ini termasuk sebagai prioritas pelaksanaan reformasi birokrasi yang mencakup, antara lain; melakukan penataan organisasi, penyempurnaan business process, peningkatan manajemen SDM, dan perbaikan struktur remunerasi.
Tetapi yang paling menonjol dan dikenal masyarakat, hanya mengenai perbaikan struktur remunerasi, atau peningkatan gaji pegawai yang relatif menjadi sangat tinggi dibandingkan dengan gaji pegawai negeri yang lain. Karena itu, program perubahan, atau change management, atau reformasi/transformasi yang biasanya kurang mendapat dukungan dari internal perusahaan/organisasi, ternyata disambut dengan sangat antusias oleh para pegawai karena diartikan sebagai program peningkatan gaji/penghasilan yang luar biasa.
Tetapi, sejak implementasinya lebih 2 tahun yang lalu, banyak kritikan yang dialamatkan ke Menteri Keuangan mengenai program yang dianggap tidak adil (terhadap pegawai negeri lain) dan dinilai hanya menghabiskan budget pemerintah semata. Banyak yang menganggap, memberikan gaji yang besar bukanlah solusi untuk menciptakan para birokrat yang benar dan profesional.
Tetapi apa yang dilakukan Menteri Keuangan bukanlah sekedar main-main hanya untuk meningkatkan gaji saja. Pembinaan SDM menjadi perhatian utama yang diikuti oleh law enforcement yang ketat tanpa pandang bulu. Banyak pegawai di lingkungan DJP dan DJBC yang mendapatkan sanksi bahkan sampai dipecat ketika diketahui masih tetap menerapkan pola lama yang membuat program reformasi birokrasi menjadi terganggu.
Tetapi, merebaknya isu makelar kasus yang melibatkan Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Kantor Pajak Golongan III A yang memiliki kekayaan sangat luar biasa yang diduga berasal dari kegiatan yang tidak legal, menyebabkan program reformasi birokrasi mendapat tantangan yang hebat. Bahkan dianggap tidak tepat untuk terus dijalankan dan tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan program itu.
Reformasi Birokrasi, tidak hanya Remunerasi
Kalau sekarang kebanyakan kita hanya memahami bahwa reformasi birokrasi lebih diartikan sebagai peningkatan remunerasi, tentu saja bukan itu kondisi ideal yang seharusnya terjadi. Para penggagas dan pengawal sistem, menempatkan remunerasi hanya salah satu unsur penting yang sama pentingnya dengan pembenahan sistem-sistem lain pada organisasi dan SDM pemerintahan. Sayangnya, tidak banyak bagian penting lain yang disosialisasikan sebagaimana remunerasi. Bahkan dalam waktu dua tahun program ini dijalankan, penjelasan mengenai remunerasi sendiri tidak banyak dilakukan sehingga sulit dimengerti secara benar.
Kenapa gaji (remunerasi) pegawai negeri harus ditingkatkan? Ini adalah esensi dan dasar-dasar yang perlu dipahami, tetapi sayangnya tidak banyak pegawai negeri yang memahaminya. Bahkan banyak para pengkritik yang menentang kebijakan ini dan menganggap hal ini tidak adil dan berlebih-lebihan. Kitapun sering keliru, misalnya menganggap, apabila gaji pegawai ditingkatkan, berarti, pegawai akan lebih profesional dan tidak akan korupsi.
Mungkin ada hubungannya antara gaji kecil dengan perilaku untuk suka korupsi, tetapi tidak serta merta. Banyak kasus yang memperlihatkan bagaimana korupsi subur terjadi, justru pada lembaga atau orang-orang yang mendapatkan gaji yang relatif lebih tinggi. Kesempatan untuk melakukan korupsi banyak berhubungan dengan proses bisnis (sistem kerja), sistem pengawasan/pengendalian, dan penerapan reward dan punishment yang tidak tegas.
Pada pendekatan sistem SDM modern, peran remunerasi terutama ditujukan untuk mendapatkan dan mempertahankan orang-orang terbaik (retained the best people) sehingga perusahaan mampu mewujudkan sasarannya atau mampu bersaing (competitive) terhadap perusahaan lain. Kalau remunerasi ini relatif terlalu kecil, atau jauh di bawah pasar, maka secara umum biasanya kita kesulitan mendapatkan orang-orang terbaik, atau akan banyak orang-orang terbaik kita yang terpaksa berhenti atau keluar untuk mendapatkan penghasilan yang lebih bagus. Kondisi ini jelas sangat merisaukan para pegawai negeri kita yang bukan saja gajinya dirasakan sangat tidak kompetitif, tetapi sekaligus tidak mencukupi keperluan hidupnya beserta keluarga secara wajar.
Padahal salah satu pertimbangan penting seseorang untuk bekerja adalah besar bayarannya, atau bagaimana suatu instansi bisa memberikan jaminan hidup yang relatif lebih memadai, atau setidaknya setara dengan bayaran yang diberikan oleh instansi lain untuk melakukan pekerjaan yang memiliki tingkat kesulitan/kompleksitas yang mirip.
Tetapi, disamping faktor bayaran, yang juga mendapatkan pertimbangan penting adalah hal lain yang memberikan pengaruh kepada kenaikan bayaran, misalnya kesempatan karir yang bagus yang akan berdampak pada kenaikan gaji karena karir meningkat atau promosi, atau kesempatan untuk mengikuti training (pelatihan) yang akhirnya diikuti oleh peningkatan kompetensi sehingga memungkinkan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi melalui promosi jabatan.
Hanya saja, program reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah tidak memandang peningkatan remunerasi sebagai kesatuan yang dapat membantu untuk meningkatkan kinerja organisasi. Paling tidak implementasinya kurang meng-address harapan tersebut. Peningkatan remunerasi lebih banyak dikaitkan dengan nilai jabatan atau job grade yang diberikan dalam bentuk tunjangan yang kurang terkait dengan pencapaian kinerja pegawai (performance) dan kompetensi pegawai (person).
Kebijakan ini belum mampu membangun semangat kontributif dan kompetitif yang kuat diantara pegawai, secara umum masih menerapkan pola sama rata sama rasa. Sepanjang seseorang menduduki jabatan yang Grade-nya lebih tinggi, maka apapun prestasinya, maka yang bersangkutan akan mendapatkan gaji atau tunjangan yang relatif sama. Kondisi ini kurang bisa memacu semangat dan motivasi agar pegawai dapat memberikan yang terbaik bagi lembaga. Justru, masih banyak pegawai yang kurang berprestasi sebenarnya telah diberi subsidi oleh pegawai yang lebih berprestasi. Akibatnya, semangat untuk bersaing secara sehat menjadi tertutup, bahkan untuk melakukan koreksi atau kontrol terhadap orang lain yang melakukan tindakan keliru, kurang mendapat perhatian pegawai lain. Karena itu dapat dipahami, sangat memungkinkan kasus-kasus KKN seperti kasus Gayus bisa tumbuh subur tanpa ada yang peduli untuk memberantasnya.
Bagaimana Selanjutnya!
Ada beberapa hal penting yang bisa kita jadikan pembelajaran dari kasus Gayus ini, khususnya sebagai upaya untuk meningkatkan semangat dan kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah.
Pertama, semangat reformasi birokrasi, harus selalu berhubungan dengan upaya membangun kinerja organisasi. Peningkatan remunerasi adalah untuk mempertahankan orang terbaik yang dimiliki perusahaan, sekaligus untuk tidak mempertahankan orang terjelek yang kurang kontributif. Keberadaan organisasi pemerintah, tidak lagi diartikan sebagai wadah menampung siapa saja, tetapi hanya bagi pegawai yang memiliki semangat (enthusiasm) untuk memberikan yang terbaik bagi negara. Karena itu, disamping berhubungan dengan kompeleksitas pekerjaan dan kemampuan pegawai (kompetensi), semangat untuk lebih kontributif, merupakan bagian penting yang harus ada dalam sistem remunerasi pegawai.
Kedua, sistem SDM yang dijalankan harus dibangun secara utuh, jangan hanya melalui peningkatan gaji. Tetapi perlu terintegrasi dengan sistem karir, training, penilaian kinerja, dan sistem reward yang lain. Di samping itu, upaya melahirkan perilaku profesional yang tidak koruptif adalah pekerjaan panjang yang selalu harus terus menerus dilakukan. Pegawai negeri secara umum belum terbiasa untuk bekerja dalam kultur yang profesional, memiliki inisiatif tinggi dengan tanpa pengawasan yang memadai. Perubahan kultur ini memerlukan waktu yang relatif panjang yang terus menerus harus dijaga pelaksanaannya. Pemimpin harus memiliki waktu yang cukup untuk melakukan supervisi, tetapi sekaligus secara bertahap memberikan kepercayaan yang cukup.
Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa reformasi birokrasi adalah suatu proses perubahan kultural dari situasi yang tradisionil kearah yang lebih profesional dan modern yang memerlukan energi kuat yang dapat menjamin agar program-program yang dijalankan, mampu dijaga konsistensi dan kelanjutannya.
Pemerintah khususnya Menteri Keuangan, telah mengandalkan program Reformasi Birokrasi (RB) sebagai salah satu quick wins yang diharapkan mampu mendukung gerakan peningkatan kualitas aparatur pemerintah sehingga benar-benar dapat diandalkan untuk menjadi birokrat atau pelayan publik (public servant) yang profesional, sekaligus terhormat.
Dengan mengambil beberapa Departemen/Lembaga pemerintahan sebagai pilot project, pegawai negeri yang selama ini sangat kental dengan predikat bekerja lambat, kurang bertanggung jawab, sarat KKN, diharapkan dapat dikikis melalui serangkaian perbaikan yang bertujuan, antara lain; menciptakan aparatur negara yang bersih, profesional dan bertanggung jawab, serta; menciptakan birokrasi yang efisien dan efektif sehingga dapat memberikan pelayanan publik yang prima.
Selanjutnya Departemen Keuangan, khususnya Direktorat Jendral Pajak (DJP) dan Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) yang memainkan peran sangat besar dalam mengumpulkan pendapatan negara, maka lembaga ini termasuk sebagai prioritas pelaksanaan reformasi birokrasi yang mencakup, antara lain; melakukan penataan organisasi, penyempurnaan business process, peningkatan manajemen SDM, dan perbaikan struktur remunerasi.
Tetapi yang paling menonjol dan dikenal masyarakat, hanya mengenai perbaikan struktur remunerasi, atau peningkatan gaji pegawai yang relatif menjadi sangat tinggi dibandingkan dengan gaji pegawai negeri yang lain. Karena itu, program perubahan, atau change management, atau reformasi/transformasi yang biasanya kurang mendapat dukungan dari internal perusahaan/organisasi, ternyata disambut dengan sangat antusias oleh para pegawai karena diartikan sebagai program peningkatan gaji/penghasilan yang luar biasa.
Tetapi, sejak implementasinya lebih 2 tahun yang lalu, banyak kritikan yang dialamatkan ke Menteri Keuangan mengenai program yang dianggap tidak adil (terhadap pegawai negeri lain) dan dinilai hanya menghabiskan budget pemerintah semata. Banyak yang menganggap, memberikan gaji yang besar bukanlah solusi untuk menciptakan para birokrat yang benar dan profesional.
Tetapi apa yang dilakukan Menteri Keuangan bukanlah sekedar main-main hanya untuk meningkatkan gaji saja. Pembinaan SDM menjadi perhatian utama yang diikuti oleh law enforcement yang ketat tanpa pandang bulu. Banyak pegawai di lingkungan DJP dan DJBC yang mendapatkan sanksi bahkan sampai dipecat ketika diketahui masih tetap menerapkan pola lama yang membuat program reformasi birokrasi menjadi terganggu.
Tetapi, merebaknya isu makelar kasus yang melibatkan Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Kantor Pajak Golongan III A yang memiliki kekayaan sangat luar biasa yang diduga berasal dari kegiatan yang tidak legal, menyebabkan program reformasi birokrasi mendapat tantangan yang hebat. Bahkan dianggap tidak tepat untuk terus dijalankan dan tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan program itu.
Reformasi Birokrasi, tidak hanya Remunerasi
Kalau sekarang kebanyakan kita hanya memahami bahwa reformasi birokrasi lebih diartikan sebagai peningkatan remunerasi, tentu saja bukan itu kondisi ideal yang seharusnya terjadi. Para penggagas dan pengawal sistem, menempatkan remunerasi hanya salah satu unsur penting yang sama pentingnya dengan pembenahan sistem-sistem lain pada organisasi dan SDM pemerintahan. Sayangnya, tidak banyak bagian penting lain yang disosialisasikan sebagaimana remunerasi. Bahkan dalam waktu dua tahun program ini dijalankan, penjelasan mengenai remunerasi sendiri tidak banyak dilakukan sehingga sulit dimengerti secara benar.
Kenapa gaji (remunerasi) pegawai negeri harus ditingkatkan? Ini adalah esensi dan dasar-dasar yang perlu dipahami, tetapi sayangnya tidak banyak pegawai negeri yang memahaminya. Bahkan banyak para pengkritik yang menentang kebijakan ini dan menganggap hal ini tidak adil dan berlebih-lebihan. Kitapun sering keliru, misalnya menganggap, apabila gaji pegawai ditingkatkan, berarti, pegawai akan lebih profesional dan tidak akan korupsi.
Mungkin ada hubungannya antara gaji kecil dengan perilaku untuk suka korupsi, tetapi tidak serta merta. Banyak kasus yang memperlihatkan bagaimana korupsi subur terjadi, justru pada lembaga atau orang-orang yang mendapatkan gaji yang relatif lebih tinggi. Kesempatan untuk melakukan korupsi banyak berhubungan dengan proses bisnis (sistem kerja), sistem pengawasan/pengendalian, dan penerapan reward dan punishment yang tidak tegas.
Pada pendekatan sistem SDM modern, peran remunerasi terutama ditujukan untuk mendapatkan dan mempertahankan orang-orang terbaik (retained the best people) sehingga perusahaan mampu mewujudkan sasarannya atau mampu bersaing (competitive) terhadap perusahaan lain. Kalau remunerasi ini relatif terlalu kecil, atau jauh di bawah pasar, maka secara umum biasanya kita kesulitan mendapatkan orang-orang terbaik, atau akan banyak orang-orang terbaik kita yang terpaksa berhenti atau keluar untuk mendapatkan penghasilan yang lebih bagus. Kondisi ini jelas sangat merisaukan para pegawai negeri kita yang bukan saja gajinya dirasakan sangat tidak kompetitif, tetapi sekaligus tidak mencukupi keperluan hidupnya beserta keluarga secara wajar.
Padahal salah satu pertimbangan penting seseorang untuk bekerja adalah besar bayarannya, atau bagaimana suatu instansi bisa memberikan jaminan hidup yang relatif lebih memadai, atau setidaknya setara dengan bayaran yang diberikan oleh instansi lain untuk melakukan pekerjaan yang memiliki tingkat kesulitan/kompleksitas yang mirip.
Tetapi, disamping faktor bayaran, yang juga mendapatkan pertimbangan penting adalah hal lain yang memberikan pengaruh kepada kenaikan bayaran, misalnya kesempatan karir yang bagus yang akan berdampak pada kenaikan gaji karena karir meningkat atau promosi, atau kesempatan untuk mengikuti training (pelatihan) yang akhirnya diikuti oleh peningkatan kompetensi sehingga memungkinkan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi melalui promosi jabatan.
Hanya saja, program reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah tidak memandang peningkatan remunerasi sebagai kesatuan yang dapat membantu untuk meningkatkan kinerja organisasi. Paling tidak implementasinya kurang meng-address harapan tersebut. Peningkatan remunerasi lebih banyak dikaitkan dengan nilai jabatan atau job grade yang diberikan dalam bentuk tunjangan yang kurang terkait dengan pencapaian kinerja pegawai (performance) dan kompetensi pegawai (person).
Kebijakan ini belum mampu membangun semangat kontributif dan kompetitif yang kuat diantara pegawai, secara umum masih menerapkan pola sama rata sama rasa. Sepanjang seseorang menduduki jabatan yang Grade-nya lebih tinggi, maka apapun prestasinya, maka yang bersangkutan akan mendapatkan gaji atau tunjangan yang relatif sama. Kondisi ini kurang bisa memacu semangat dan motivasi agar pegawai dapat memberikan yang terbaik bagi lembaga. Justru, masih banyak pegawai yang kurang berprestasi sebenarnya telah diberi subsidi oleh pegawai yang lebih berprestasi. Akibatnya, semangat untuk bersaing secara sehat menjadi tertutup, bahkan untuk melakukan koreksi atau kontrol terhadap orang lain yang melakukan tindakan keliru, kurang mendapat perhatian pegawai lain. Karena itu dapat dipahami, sangat memungkinkan kasus-kasus KKN seperti kasus Gayus bisa tumbuh subur tanpa ada yang peduli untuk memberantasnya.
Bagaimana Selanjutnya!
Ada beberapa hal penting yang bisa kita jadikan pembelajaran dari kasus Gayus ini, khususnya sebagai upaya untuk meningkatkan semangat dan kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah.
Pertama, semangat reformasi birokrasi, harus selalu berhubungan dengan upaya membangun kinerja organisasi. Peningkatan remunerasi adalah untuk mempertahankan orang terbaik yang dimiliki perusahaan, sekaligus untuk tidak mempertahankan orang terjelek yang kurang kontributif. Keberadaan organisasi pemerintah, tidak lagi diartikan sebagai wadah menampung siapa saja, tetapi hanya bagi pegawai yang memiliki semangat (enthusiasm) untuk memberikan yang terbaik bagi negara. Karena itu, disamping berhubungan dengan kompeleksitas pekerjaan dan kemampuan pegawai (kompetensi), semangat untuk lebih kontributif, merupakan bagian penting yang harus ada dalam sistem remunerasi pegawai.
Kedua, sistem SDM yang dijalankan harus dibangun secara utuh, jangan hanya melalui peningkatan gaji. Tetapi perlu terintegrasi dengan sistem karir, training, penilaian kinerja, dan sistem reward yang lain. Di samping itu, upaya melahirkan perilaku profesional yang tidak koruptif adalah pekerjaan panjang yang selalu harus terus menerus dilakukan. Pegawai negeri secara umum belum terbiasa untuk bekerja dalam kultur yang profesional, memiliki inisiatif tinggi dengan tanpa pengawasan yang memadai. Perubahan kultur ini memerlukan waktu yang relatif panjang yang terus menerus harus dijaga pelaksanaannya. Pemimpin harus memiliki waktu yang cukup untuk melakukan supervisi, tetapi sekaligus secara bertahap memberikan kepercayaan yang cukup.
Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa reformasi birokrasi adalah suatu proses perubahan kultural dari situasi yang tradisionil kearah yang lebih profesional dan modern yang memerlukan energi kuat yang dapat menjamin agar program-program yang dijalankan, mampu dijaga konsistensi dan kelanjutannya.
Tuesday, 9 February 2010
My books
toto zurianto
Membeli buku, membaca, dan menyimpannya. Sekali-sekali, mengutip beberapa pendapatan penting dari buku tersebut, sungguh suatu kegiatan yang menggembirakan. Walau kadang kita kehabisan waktu hanya untuk membaca buku yang tipis, tetapi selalu berusaha untuk membaca dan membeli buku, merupakan kebiasaan yang tidak mudah untuk terus dilakukan.
Tentu saja tidak hanya buku, tetapi termasuk juga majalah, jurnal, atau koran. Pokoknya bacaan membuat hidup kita terasa atau merasa "lebih"! Kadang kita merasa lebih kaya karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Atau, kita merasa "sudah pernah" berkunjung ke suatu tempat (kota, kampung, atau negara lain), meskipun itu hanya melalui bacaan kecil!
Hari ini, sebagian buku koleksi yang selama ini kuletakan di kantor, keberikan kepada kawan-kawan kantor. Cukup membuat pengumuman di-email, setiap orang boleh memgambil 3 buku. Wau, maka ramailah terminalku, semua pada milih buku yang mungkin dapat bermanfaat bagi mereka, atau sekadar bacaan ringan dan hiburan.
Wednesday, 27 January 2010
Kenapa Naek Sepeda?
toto zurianto
Kalau di kantorku, Bike to Work itu udah cukup banyak. Beberapa kawan sudah rutin selama sejak 3 – 5 tahun terakhir. Teddy cs dari Bintaro boleh dikatakan hampir tiap hari, gowes dari Bintaro.
Aku sendiri udah lama sepedaan, tapi amatir banget, Cuma Sabtu and Minggu, itupun hanya di sekitar Cinere, Pondok Indah, atau Kebayoran/Blok M. Pengen juga sepedaan ke Kantor, dari Cinere ke Thamrin. Kapan yaaaa? Rasanya malas, seperti kurang kerjaan.
Akhirnya, hari Jum’at (22-Jan-2010), aku yang tinggal di Puri Cinere dan Sule yang rumahnya di Bumi Karang Indah, Karang Tengah, bertekad bulat untuk B2W pada hari Selasa 26 Januari 2010. We decide to b2w! This is our goal!
Tantangannya tidak ringan. Senin malam sekitar jam 20.00, kucoba try-in my old bicyle di sekitar kompleks. Meskipun saat itu sedang gerimis, apa boleh buat, takut besoknya ada masalah. Meskipun enggak terlalu nyaman, maklumlah, sepeda sederhana, Cuma 21 speed tanpa rem cakram. Sepeda okay. Malam itu, Cuma mau b2w, koq seperti mau ujian, gelisah. Tidur aja, terpaksa bangun beberapa kali. He he he, lucu yaaaa.
Ujian pertama, datang pagi-pagi. Sekitar jam 03.30, hujan turun lebat banget. Karena gelisah dan exhausted banget, enggak bisa tidur lagi, mandi. Pokoknya jam 04.30 subuh, semuanya ready! Hujan udah reda, tapi air masih banyak menggenang, dingin mak jang! Jam 04.55 mau start, sms Rudi. Eeehhh Rudi baru wake-up. Mungkin Rudi udah mau batal. Terpaksa tak sms, “masih sempat koq” (maksudnya, jangan khawatir, kita udah tekad bulat). Semoga keinginannya kuat. Soalnya, kalau sendiri, mana tahan.
Akhirnya jam 05.20 aku udah nunggu di depan Mesjid Al Azkar (di depan kompleks Bumi Karang Indah), sedikit gelisah, rasanya lama banget nunggu Rudi.
Hore, akhirnya jam 05.30 kita udah mengayuh Jl. Karang Tengah. Alhamdulilah, MileStone I (sasaran pertama, atau sukses karena berhasil melewati hambatan pertama) terlalui, kami udah mulai, sudah start. Ini penting! Bergerak perlahan, enggak bisa kencang, soalnya becek and wet!
MileStone II, melewati 2 tanjakan panjang di Jalan lebak Bulus III, sedikit berat bagi the 100kgs and over 50yrs. Okaylah, semua terlewati dengan baik. Memang lalu lintas masih sepi dan gelap, paling-paling motor pada ngebut! Segar banget udaranya, bau dedaunan dan sedikit tetes hujan dari dedaunan yang bergerak di tiup angin pagi. Thanks God, this is a all free for us.
Lalu sepanjang Jalan Fatmawati kita berhadapan dengan Metromini 610 yang berhenti seenaknya. Lalulintas mulai ramai, jalan sepeda cukup stabil, ada tanjakan kecil. Tapi sudah merasa semakin mantap. “We can do this” (hopefully)! Soalnya malu sama bikers muda, untungnya kami berangkat cukup pagi, jadi enggak ada yang nyalip. Cuma harus hati-hati, genangan air banyak dimana-mana.
Milestone III, jam 06.10 nyampek di Jl. Pakubuwono, rumah seorang sahabat, Hatief Hadikoesoemo yang berdinas di PPATK Jalan Ir H. Juanda di belakang Istana Presiden. HH udah cukup lama benar b2w, sebelumnya dia selalu naek busway. Sepedanya juga bagus banget. Then we go together along the Sudirman and Thamrin. I let them (HH dan Rudi) go first, I have to maintain my capacity. Everything under control, and in just 15-20 minutes we arrived at Jl Sabang, to have a morning Porridge!
Lama perjalanan dari Cinere ke Thamrin naek sepeda, hampir sama dengan seandainya naik mobil. The Question is Kenapa kami melakukannya? Is it a Wildy Important Goal?
Kalau di kantorku, Bike to Work itu udah cukup banyak. Beberapa kawan sudah rutin selama sejak 3 – 5 tahun terakhir. Teddy cs dari Bintaro boleh dikatakan hampir tiap hari, gowes dari Bintaro.
Aku sendiri udah lama sepedaan, tapi amatir banget, Cuma Sabtu and Minggu, itupun hanya di sekitar Cinere, Pondok Indah, atau Kebayoran/Blok M. Pengen juga sepedaan ke Kantor, dari Cinere ke Thamrin. Kapan yaaaa? Rasanya malas, seperti kurang kerjaan.
Akhirnya, hari Jum’at (22-Jan-2010), aku yang tinggal di Puri Cinere dan Sule yang rumahnya di Bumi Karang Indah, Karang Tengah, bertekad bulat untuk B2W pada hari Selasa 26 Januari 2010. We decide to b2w! This is our goal!
Tantangannya tidak ringan. Senin malam sekitar jam 20.00, kucoba try-in my old bicyle di sekitar kompleks. Meskipun saat itu sedang gerimis, apa boleh buat, takut besoknya ada masalah. Meskipun enggak terlalu nyaman, maklumlah, sepeda sederhana, Cuma 21 speed tanpa rem cakram. Sepeda okay. Malam itu, Cuma mau b2w, koq seperti mau ujian, gelisah. Tidur aja, terpaksa bangun beberapa kali. He he he, lucu yaaaa.
Ujian pertama, datang pagi-pagi. Sekitar jam 03.30, hujan turun lebat banget. Karena gelisah dan exhausted banget, enggak bisa tidur lagi, mandi. Pokoknya jam 04.30 subuh, semuanya ready! Hujan udah reda, tapi air masih banyak menggenang, dingin mak jang! Jam 04.55 mau start, sms Rudi. Eeehhh Rudi baru wake-up. Mungkin Rudi udah mau batal. Terpaksa tak sms, “masih sempat koq” (maksudnya, jangan khawatir, kita udah tekad bulat). Semoga keinginannya kuat. Soalnya, kalau sendiri, mana tahan.
Akhirnya jam 05.20 aku udah nunggu di depan Mesjid Al Azkar (di depan kompleks Bumi Karang Indah), sedikit gelisah, rasanya lama banget nunggu Rudi.
Hore, akhirnya jam 05.30 kita udah mengayuh Jl. Karang Tengah. Alhamdulilah, MileStone I (sasaran pertama, atau sukses karena berhasil melewati hambatan pertama) terlalui, kami udah mulai, sudah start. Ini penting! Bergerak perlahan, enggak bisa kencang, soalnya becek and wet!
MileStone II, melewati 2 tanjakan panjang di Jalan lebak Bulus III, sedikit berat bagi the 100kgs and over 50yrs. Okaylah, semua terlewati dengan baik. Memang lalu lintas masih sepi dan gelap, paling-paling motor pada ngebut! Segar banget udaranya, bau dedaunan dan sedikit tetes hujan dari dedaunan yang bergerak di tiup angin pagi. Thanks God, this is a all free for us.
Lalu sepanjang Jalan Fatmawati kita berhadapan dengan Metromini 610 yang berhenti seenaknya. Lalulintas mulai ramai, jalan sepeda cukup stabil, ada tanjakan kecil. Tapi sudah merasa semakin mantap. “We can do this” (hopefully)! Soalnya malu sama bikers muda, untungnya kami berangkat cukup pagi, jadi enggak ada yang nyalip. Cuma harus hati-hati, genangan air banyak dimana-mana.
Milestone III, jam 06.10 nyampek di Jl. Pakubuwono, rumah seorang sahabat, Hatief Hadikoesoemo yang berdinas di PPATK Jalan Ir H. Juanda di belakang Istana Presiden. HH udah cukup lama benar b2w, sebelumnya dia selalu naek busway. Sepedanya juga bagus banget. Then we go together along the Sudirman and Thamrin. I let them (HH dan Rudi) go first, I have to maintain my capacity. Everything under control, and in just 15-20 minutes we arrived at Jl Sabang, to have a morning Porridge!
Lama perjalanan dari Cinere ke Thamrin naek sepeda, hampir sama dengan seandainya naik mobil. The Question is Kenapa kami melakukannya? Is it a Wildy Important Goal?
Tuesday, 19 January 2010
Akhir Kasus Bank Century!
toto zurianto
Apakah kasus Bank Century akhirnya dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa? Meskipun kita sering tidak mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan, tetap saja, kita perlu memberikan support bagi para wakil rakyat yang mencoba menelusuri kasus itu untuk memberikan argumentasi yang paling baik.
Tentu bisa saja melahirkan "korban" atau tepatnya, siapa yang "berbuat keliru", wajar jika diminta pertanggungjawabannya. Siapa dia? Tentu saja kita tidak perlu berspekulasi. Ini adalah upaya konstruktif untuk membangun Trust diantara pihak-pihak yang sedang ber-argue.
Korban jelas tidak terlalu penting. Yang paling sulit diterima, ketika kita tidak bias mengambil hikmah dari persoalan ini.
Apakah kasus Bank Century akhirnya dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa? Meskipun kita sering tidak mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan, tetap saja, kita perlu memberikan support bagi para wakil rakyat yang mencoba menelusuri kasus itu untuk memberikan argumentasi yang paling baik.
Tentu bisa saja melahirkan "korban" atau tepatnya, siapa yang "berbuat keliru", wajar jika diminta pertanggungjawabannya. Siapa dia? Tentu saja kita tidak perlu berspekulasi. Ini adalah upaya konstruktif untuk membangun Trust diantara pihak-pihak yang sedang ber-argue.
Korban jelas tidak terlalu penting. Yang paling sulit diterima, ketika kita tidak bias mengambil hikmah dari persoalan ini.
Wednesday, 6 January 2010
Menjaga Proses
toto zurianto
Pada tatanan yang lebih abadi, kita sangat dilarang untuk hanya memikirkan tujuan, tanpa dibatasi oleh proses-proses yang baik. Tidak boleh, karena alasan tujuan yang berat, lalu kita mengenyampingkan prosesnya. Tidak ada kamus untuk menghalalkan segala cara dalam rangka mencapai tujuan. Paham Machiavelli yang kita terjemahkan sebagai kegiatan yang terlalu fokus kepada tujuan, demi mencapai cita-cita, tidak populer dan selalu harus dihindari. bagaimanapun, proses yang digunakan untuk mewujudkan tujuan, sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri (Immanuel Kant). Tidak boleh melakukan hal-hal yang salah untuk mencapai sesuatu yang benar. Kita harus steril dari ketidakadilan dan kebenaran untuk mencapai masyarakat yang benar dan adil.
Pada tatanan yang lebih abadi, kita sangat dilarang untuk hanya memikirkan tujuan, tanpa dibatasi oleh proses-proses yang baik. Tidak boleh, karena alasan tujuan yang berat, lalu kita mengenyampingkan prosesnya. Tidak ada kamus untuk menghalalkan segala cara dalam rangka mencapai tujuan. Paham Machiavelli yang kita terjemahkan sebagai kegiatan yang terlalu fokus kepada tujuan, demi mencapai cita-cita, tidak populer dan selalu harus dihindari. bagaimanapun, proses yang digunakan untuk mewujudkan tujuan, sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri (Immanuel Kant). Tidak boleh melakukan hal-hal yang salah untuk mencapai sesuatu yang benar. Kita harus steril dari ketidakadilan dan kebenaran untuk mencapai masyarakat yang benar dan adil.
Thursday, 31 December 2009
By 2009, I welcome Twenty-TEN
toto zurianto
Segera kita berada di 2010, semuanya biasanya disambut dengan harapan yang tinggi. Kemaren, kita melewati 2009 dengan berbagai hal. Skandal Bank Century masih tetap bergulir, dan akan memasuki babak luar biasa di awal 2010 ini.
2 hari menjelang tutup tahun, bangsa Indonesia kehilangan GusDur, Presiden ke 4 RI yang berpulang pada tanggal 30 Desember 2009 (69 tahun). Selamat jalan Gus dengan segala prestasi, keunikan, kenyelenehan, dan kekhasannya yang luar biasa.
Lalu, sebelumnya, Pemilu Indonesia 2009 memberikan legitimasi kepada SBY dan Boediono untuk memimpin bangsa ini sampai 2014 mendatang. Semua menunggu, apa yang baik yang akan diberikan oleh kedua putra bangsa yang hebat dan dipercaya ini.
Kasus-kasus korupsi tetap hangat, termasuk perseteruan diantara lembaga penegak keadilan, Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, dan KPK. Syukurlah, masyarakat masih mempunyai kemampuan penekanan yang tinggi yang masih mem-back-up keberadaan dan sepak terjang KPK untuk menghancurkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Indonesia. Tentu saja, bukan karena kita memmenci polisi dan jaksa. Tidak lain, ini adalah ekspresi keinginan untuk mendapatkan keadilan di tanah air sendiri.
Ekonomi? Mungkin tidak buruk, hanya belum sesuai dengan potensi yang dimiliki bangsa kita. Masih banyak peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Politik? Ada harapan para pemuda yang duduk di DPR dapat memberikan hasil yang lebih baik, lebih memiliki idealisme dan integritas. Semoga berbda dengan para pendahulunya yang sangat suka menerima sogokan dan berpura-pura kritis.
Tuesday, 15 December 2009
Wewenang Penyadapan
toto zurianto
Sejak kasus Bibit-Chandra mengeruak, sampai dengan keduanya dibebaskan dari tuntutan, masalah kewenangan KPK terus digugat banyak pihak. Sampai-sampai pemerintah, melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, menebar gagasan dan mulai menyusun Rancanagan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai Intersepsi (penyadapan). tentu saja gagasan RPP itu mendapat tudingan yang hebat dari masyarakat, khususnya pada pegiat gerakan anti korupsi. Peraturan yang rencananya akan mengatur proses pelaksanaan penyadapan dengan prosedur birokrasi yang berbelit-belit, diyakini akan menghambat KPK untuk mendapatkan bukti-bukti penting dalam rangka membuktikan seseorang yang diduga kuat telah melakukan perbuatan korupsi yang melanggar hukum. Ini juga dianggap sebagai bentuk dari menurunnya komitmen Presiden SBY pada gerakan untuk memberantas korupsi.
Sampai saat ini tampaknya Menkofin masih tetap asyik berusaha menyelesaikan RPP Intersep itu, meskipun mendapat tantangan hebat dari berbagai pihak. Termasuk dari Mahkamah Konstitusi yang mengatakan bahwa perbuatan penyusunan RPP itu inkonstitusionil tidak sesuai dengan Undang-undang. Hakim Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar mengatakan, agar penyusunan RPP itu dihentikan saja karena bertentangan dengan UUD 45 yang memberikan hak intersepsi kepada KPK (majalah Tempo, 15 desember 2009).
Bagaimana kelanjutan dari episoda ini? Kini sama-sama menunggu, hanya MK mengingatkan bahwa sudah ada 11 kali pengajuan uji materi Undang-undang KPK yang diajukan ke MK, 2 diantaranya menyangkut kewenangan melakukan intersep (penyadapan). Hasilnya, sidang MK tetap mengatakan bahwa soal penyadapan hanya bisa diatur melalui Undang-undang. Apa yang dimiliki KPK saat ini untuk melakukan penyadapan, sudah sah dan dilindungi Undang-undang.
Sejak kasus Bibit-Chandra mengeruak, sampai dengan keduanya dibebaskan dari tuntutan, masalah kewenangan KPK terus digugat banyak pihak. Sampai-sampai pemerintah, melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, menebar gagasan dan mulai menyusun Rancanagan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai Intersepsi (penyadapan). tentu saja gagasan RPP itu mendapat tudingan yang hebat dari masyarakat, khususnya pada pegiat gerakan anti korupsi. Peraturan yang rencananya akan mengatur proses pelaksanaan penyadapan dengan prosedur birokrasi yang berbelit-belit, diyakini akan menghambat KPK untuk mendapatkan bukti-bukti penting dalam rangka membuktikan seseorang yang diduga kuat telah melakukan perbuatan korupsi yang melanggar hukum. Ini juga dianggap sebagai bentuk dari menurunnya komitmen Presiden SBY pada gerakan untuk memberantas korupsi.
Sampai saat ini tampaknya Menkofin masih tetap asyik berusaha menyelesaikan RPP Intersep itu, meskipun mendapat tantangan hebat dari berbagai pihak. Termasuk dari Mahkamah Konstitusi yang mengatakan bahwa perbuatan penyusunan RPP itu inkonstitusionil tidak sesuai dengan Undang-undang. Hakim Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar mengatakan, agar penyusunan RPP itu dihentikan saja karena bertentangan dengan UUD 45 yang memberikan hak intersepsi kepada KPK (majalah Tempo, 15 desember 2009).
Bagaimana kelanjutan dari episoda ini? Kini sama-sama menunggu, hanya MK mengingatkan bahwa sudah ada 11 kali pengajuan uji materi Undang-undang KPK yang diajukan ke MK, 2 diantaranya menyangkut kewenangan melakukan intersep (penyadapan). Hasilnya, sidang MK tetap mengatakan bahwa soal penyadapan hanya bisa diatur melalui Undang-undang. Apa yang dimiliki KPK saat ini untuk melakukan penyadapan, sudah sah dan dilindungi Undang-undang.
Thursday, 10 December 2009
Wednesday, 9 December 2009
Bank Century
toto zurianto
Kini masyarakat menantikan, bagaimana kelanjutan episode Bank Century. Bagaimana kita bisa melihat, hal-hal yang terang benderang dari proses bail-out Bank Century. Apakah ada tindak pidana korupsi atau tidak! Apakah ada penyalah gunaan wewenang atau tidak. Apakah hanya kesalahan kebijakan, atau bagaimana. tentu saja, ini juga suatu kesempatan bagi pemerintah dan BI untuk memberikan penjelasan yang maksimal. Paling penting bagi kita adalah, tidak selalu suka menuduh. Juga jangan sampai tidak kritis. Republik ini, terutama sejak reformasi 1998, memberikan kesempatan kepada siapapun, untuk mengkritik, sekaligus mempertanggungjawabkan hal-hal yang dikatakannya. Kita tunggu prosesnya, apakah yang dilakukan KPK, atau Pansus yang dibentuk DPR>
Kini masyarakat menantikan, bagaimana kelanjutan episode Bank Century. Bagaimana kita bisa melihat, hal-hal yang terang benderang dari proses bail-out Bank Century. Apakah ada tindak pidana korupsi atau tidak! Apakah ada penyalah gunaan wewenang atau tidak. Apakah hanya kesalahan kebijakan, atau bagaimana. tentu saja, ini juga suatu kesempatan bagi pemerintah dan BI untuk memberikan penjelasan yang maksimal. Paling penting bagi kita adalah, tidak selalu suka menuduh. Juga jangan sampai tidak kritis. Republik ini, terutama sejak reformasi 1998, memberikan kesempatan kepada siapapun, untuk mengkritik, sekaligus mempertanggungjawabkan hal-hal yang dikatakannya. Kita tunggu prosesnya, apakah yang dilakukan KPK, atau Pansus yang dibentuk DPR>
Monday, 30 November 2009
The beauty of Penguin
toto zurianto
Kalau kita ke Melbourne, Australia, biasanya kita ditawari untuk melihat si Penguin yang cantik, Penguin Australia yang imut dan lucu. Tempatnya cukup jauh, di Philips Island, sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Melbourne. Waktu kunjungan adalah sore hari menjelang gelap, dimana para Penguin akan berbondong-bondong menghampiri daratan, mungkin beristirahat, atau mencari makanan lain.
Kini, kita tidak perlu jauh-jauh harus ke Philips Island, di pusat kota Melbourne-pun kita bisa menyaksikan Para Penguin, di Melbourne Aquarium, waw Indah sekali, sangat dekat dan bisa kita lihat sepanjang hari hanya dengan membayar sejumlah uang.
Monday, 28 September 2009
Kembali ke Medan
toto zurianto
Hampir setiap lebaran, setidak-tidaknya sekali dalam 2 tahun, kami berlebaran di Medan. Bagi "orang Medan" yang lama dirantau, atau termasuk pengunjung yang hanya sekali-sekali ke Medan, Medan sangat terkenal dengan "makanannya" yang nikmat, agak pedas, kaya bumbu, dan "lomak" rasonyo! Umumnya tempat makanan yang sederhana menjadi pilihan utama, bukan Restaurant mewah di Hotel Berbintang! Bahkan makanan di rumah sendiri, biasanya dikangenin, dan sedap kali!
Kalau untuk sarapan pagi, umumnya banyak yang suka "lontong Medan", ketupat sayur yang banyak di jual di warung pinggir jalan di seluruh penjuru kota. Ciri utamanya, tentu saja sambal tauco cabe hijau yang pedas dan "wangi" pete yang nikmat! Kalau bosan dengan Lontong Sayur, kita bisa menikmati Soto Medan dengan kuah santan warna kuning, pilihan kita terutama adalah daging sapi atau campur (jeroan) yang aduhai. Bolehlah kita sejenak melupakan kolesterol untuk menikmati Soto yang Dahsyat ini.
Hampir setiap lebaran, setidak-tidaknya sekali dalam 2 tahun, kami berlebaran di Medan. Bagi "orang Medan" yang lama dirantau, atau termasuk pengunjung yang hanya sekali-sekali ke Medan, Medan sangat terkenal dengan "makanannya" yang nikmat, agak pedas, kaya bumbu, dan "lomak" rasonyo! Umumnya tempat makanan yang sederhana menjadi pilihan utama, bukan Restaurant mewah di Hotel Berbintang! Bahkan makanan di rumah sendiri, biasanya dikangenin, dan sedap kali!
Kalau untuk sarapan pagi, umumnya banyak yang suka "lontong Medan", ketupat sayur yang banyak di jual di warung pinggir jalan di seluruh penjuru kota. Ciri utamanya, tentu saja sambal tauco cabe hijau yang pedas dan "wangi" pete yang nikmat! Kalau bosan dengan Lontong Sayur, kita bisa menikmati Soto Medan dengan kuah santan warna kuning, pilihan kita terutama adalah daging sapi atau campur (jeroan) yang aduhai. Bolehlah kita sejenak melupakan kolesterol untuk menikmati Soto yang Dahsyat ini.
Saturday, 26 September 2009
Lebaran 2009
toto zurianto
Di Indonesia, lebaran tahun ini, secara umum jatuh pada hari Minggu, 20 September 2009. Tentu saja, ada juga yang melakukannya pada hari Sabtu, atau bahkan Senin dan selasa. Mungkin kejadian ini sudah saatnya kita anggap biasa, agak bosan hanya untuk memperdebatkannya. Rasanya hampir setiap tahun, kita di Indonesia selalu "mempermasalahkan" hari lebaran ini.
Di Indonesia, lebaran tahun ini, secara umum jatuh pada hari Minggu, 20 September 2009. Tentu saja, ada juga yang melakukannya pada hari Sabtu, atau bahkan Senin dan selasa. Mungkin kejadian ini sudah saatnya kita anggap biasa, agak bosan hanya untuk memperdebatkannya. Rasanya hampir setiap tahun, kita di Indonesia selalu "mempermasalahkan" hari lebaran ini.
Thursday, 10 September 2009
HR System; Adakah Alternatif Terbaik?
toto zurianto
Program perubahan dalam organisasi, biasanya bertujuan untuk meningkatkan performance organisasi, termasuk berusaha bertahan atas tantangan eksternal yang apabila tidak dilakukan, dapat membuat perusahaan/organisasi akan kesulitan. Tetapi, tantangan paling besar dari proses itu adalah, apakah alternatif yang diusulkan adalah suatu pilihan yang sudah benar, tepat, dan tidak lebih menyulitkan dari kondisi sebelumnya?
Program perubahan dalam organisasi, biasanya bertujuan untuk meningkatkan performance organisasi, termasuk berusaha bertahan atas tantangan eksternal yang apabila tidak dilakukan, dapat membuat perusahaan/organisasi akan kesulitan. Tetapi, tantangan paling besar dari proses itu adalah, apakah alternatif yang diusulkan adalah suatu pilihan yang sudah benar, tepat, dan tidak lebih menyulitkan dari kondisi sebelumnya?
Thursday, 3 September 2009
Ekonomi Hijau
toto zurianto
Kenapa kita perlu menyelamatkan bumi? Karena selama ini, pola hidup kita, atau upaya memudahkan cara kita hidup, dilakukan dengan cara-cara yang sangat tidak hemat energi. Berbagai temuan teknologi yang memudahkan dan menyamankan hidup manusia, terutama dilakukan dengan menggunakan energi yang luar biasa banyaknya. Padahal sebagian besar energi itu sangat tidak terbaharui dan boros penggunaannya, serta memberikan dampak yang negatif bagi kehidupan bumi kita. Kini, di beberapa tempat, muncul kesadaran di diri manusia untuk menghambat kerusakan di bumi.
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita dari kerusakan;
Pertama, ganti bola lampu pijar dengan lampu hemat energi. Tidak diragukan, lampu pijar (LPj) sangat boros energi, bahkan kurang terang dibandingkan dengan lampu hemat energi (LHE). Jangan khawatir, harga LHE saat ini tidak lagi mahal padahal dapat digunakan jauh lebih lama dibandingkan LPj.
Dua, matikan peralatan elektronik (appliances) ketika anda tidak menggunakannya. Bahkan jangan biarkan dalam kondisi standbye.
Tiga, lakukan kebijakan recycle! Ini tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.
Empat, kalau ke super market, bawa keranjang. Kurangi menggunakan plastik pembungkus!
Kenapa kita perlu menyelamatkan bumi? Karena selama ini, pola hidup kita, atau upaya memudahkan cara kita hidup, dilakukan dengan cara-cara yang sangat tidak hemat energi. Berbagai temuan teknologi yang memudahkan dan menyamankan hidup manusia, terutama dilakukan dengan menggunakan energi yang luar biasa banyaknya. Padahal sebagian besar energi itu sangat tidak terbaharui dan boros penggunaannya, serta memberikan dampak yang negatif bagi kehidupan bumi kita. Kini, di beberapa tempat, muncul kesadaran di diri manusia untuk menghambat kerusakan di bumi.
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita dari kerusakan;
Pertama, ganti bola lampu pijar dengan lampu hemat energi. Tidak diragukan, lampu pijar (LPj) sangat boros energi, bahkan kurang terang dibandingkan dengan lampu hemat energi (LHE). Jangan khawatir, harga LHE saat ini tidak lagi mahal padahal dapat digunakan jauh lebih lama dibandingkan LPj.
Dua, matikan peralatan elektronik (appliances) ketika anda tidak menggunakannya. Bahkan jangan biarkan dalam kondisi standbye.
Tiga, lakukan kebijakan recycle! Ini tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.
Empat, kalau ke super market, bawa keranjang. Kurangi menggunakan plastik pembungkus!
Sunday, 30 August 2009
Menjadi Pemimpin, atau Membangun Kepemimpinan?
toto zurianto
Statement ini menarik, apakah kita ingin menjadi seorang Pemimpin (becoming a Leader), atau sedang membangun kepemimpinan (Building a Leadeship)? Yang pertama, lebih sederhana. Kita, ketika secara formal diberikan wewenang untuk menjadi seorang Pemimpin, sering, secara kompetensi belum menampilkan sikap sebagai seorang pemimpin yang kuat. Maka, selalu ada kewajiban, bahkan peluang dan kesempatan bagi kita untuk menjadi pemimpin yang berbeda dan membawa perubahan.
Statement ini menarik, apakah kita ingin menjadi seorang Pemimpin (becoming a Leader), atau sedang membangun kepemimpinan (Building a Leadeship)? Yang pertama, lebih sederhana. Kita, ketika secara formal diberikan wewenang untuk menjadi seorang Pemimpin, sering, secara kompetensi belum menampilkan sikap sebagai seorang pemimpin yang kuat. Maka, selalu ada kewajiban, bahkan peluang dan kesempatan bagi kita untuk menjadi pemimpin yang berbeda dan membawa perubahan.
Friday, 28 August 2009
What is a Leadership?
toto zurianto
Leadership adalah suatu hubungan, hubungan antara seseorang yang memiliki kemauan/keinginan untuk memimpin dengan orang-orang memilih untuk mengikuti hal-hal yang dikatakan pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan memerlukan perekat, daya engaged. Bagaimana sekelompok orang bisa merasa dekat dan rekat dengan orang yang memimpinnya yang memberi inspirasi, membangkitkan semangat, memperluas wawasannya sehingga mampu membuka pori-porinya yang sebelumnya tertutup, untuk mengalir kembali membawa perubahan, ide, dan kreativitas.
Bisa saja seorang pemimpin itu sudah di-equip dengan kekuasaan formal sesuai keputusan pengangkatannya sebagai Pemimpin, tetapi ketika dia tidak mempunyai daya enggaged, kemampuan magis, dan daya pikat bagi orang untuk bekerja tanpa harus diperintah, maka kepemimpinannya biasanya menjadi tidak efektif. Dapat dikatakan, dia akan kesulitan untuk melahirkan legacy, bahkan untuk sekedar mencapai sasaran simple yang sudah ditetapkan.
Tetapi, on top of anything, Leadership adalah Kepercayaan, Trusted! Tidak ada keintiman, tidak ada daya enggagedment, ketika Trust tidak tercipta. Trust adalah inti dari suatu kepemimpinan. Karena hanya melalui trust, seseorang bisa mengandalkan nyawanya kepada orang lain. Karena ketika kita mempercayai seseorang, berarti kita telah haqqul yaqqinn, bahwa orang yang kita percaya adalah orang yang tidak akan menghianati kita. Bukan harus memperjuangkan segala hidup kita, tetapi dia tidak pernah berkata beda di belakang kita. Dia selalu, berkata apa adanya (talk straight). Ketika kita bagus, dia memberikan ucapan hangat, bukan sekedar memuji tetapi memberikan gairah dan energi bagi kita untuk berbuat lebih banyak. Juga ketika kita memiliki kekurangan, ketika jalan kita terseok dan keliru, dia tidak ragu memberikan kritik, memberi masukkan, agar kita menjadi lebih baik. Bahkan dia rela menentang kita ketika kita dirasakan sudah keluar dari jalur kebenaran!
Tidak selalu sederhana, ketika kita ingin mengetahui, apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan istilah Leadership. Kita tidak sepenuhnya bisa menjadi leader ynag ampuh yang meninggalkan legacy, kalau kita tidak menghadirkan semangat dan keamanan bagi lingkungan. Hanya melalui Trusted, kita bisa melahirkan kepemimpinan yang hebat.
Leadership adalah suatu hubungan, hubungan antara seseorang yang memiliki kemauan/keinginan untuk memimpin dengan orang-orang memilih untuk mengikuti hal-hal yang dikatakan pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan memerlukan perekat, daya engaged. Bagaimana sekelompok orang bisa merasa dekat dan rekat dengan orang yang memimpinnya yang memberi inspirasi, membangkitkan semangat, memperluas wawasannya sehingga mampu membuka pori-porinya yang sebelumnya tertutup, untuk mengalir kembali membawa perubahan, ide, dan kreativitas.
Bisa saja seorang pemimpin itu sudah di-equip dengan kekuasaan formal sesuai keputusan pengangkatannya sebagai Pemimpin, tetapi ketika dia tidak mempunyai daya enggaged, kemampuan magis, dan daya pikat bagi orang untuk bekerja tanpa harus diperintah, maka kepemimpinannya biasanya menjadi tidak efektif. Dapat dikatakan, dia akan kesulitan untuk melahirkan legacy, bahkan untuk sekedar mencapai sasaran simple yang sudah ditetapkan.
Tetapi, on top of anything, Leadership adalah Kepercayaan, Trusted! Tidak ada keintiman, tidak ada daya enggagedment, ketika Trust tidak tercipta. Trust adalah inti dari suatu kepemimpinan. Karena hanya melalui trust, seseorang bisa mengandalkan nyawanya kepada orang lain. Karena ketika kita mempercayai seseorang, berarti kita telah haqqul yaqqinn, bahwa orang yang kita percaya adalah orang yang tidak akan menghianati kita. Bukan harus memperjuangkan segala hidup kita, tetapi dia tidak pernah berkata beda di belakang kita. Dia selalu, berkata apa adanya (talk straight). Ketika kita bagus, dia memberikan ucapan hangat, bukan sekedar memuji tetapi memberikan gairah dan energi bagi kita untuk berbuat lebih banyak. Juga ketika kita memiliki kekurangan, ketika jalan kita terseok dan keliru, dia tidak ragu memberikan kritik, memberi masukkan, agar kita menjadi lebih baik. Bahkan dia rela menentang kita ketika kita dirasakan sudah keluar dari jalur kebenaran!
Tidak selalu sederhana, ketika kita ingin mengetahui, apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan istilah Leadership. Kita tidak sepenuhnya bisa menjadi leader ynag ampuh yang meninggalkan legacy, kalau kita tidak menghadirkan semangat dan keamanan bagi lingkungan. Hanya melalui Trusted, kita bisa melahirkan kepemimpinan yang hebat.
Thursday, 27 August 2009
Talent Management; Memilih the Best Candidate!
toto zurianto
Praktek pengelolaan SDM dewasa ini, umumnya berada pada dua kutub pilihan yang harus ditetapkan secara jeli. Apakah organisasi, biasanya diwakili oleh Unit Kerja SDM (HR Department), akan lebih banyak campur tangan untuk mengatur pergerakan (karir) Pegawai, atau pilihan kedua, pergerakan tersebut lebih banyak ditetapkan oleh pegawai yang bersangkutan.
Pada organisasi-organisasi besar atau yang yang banyak menerapkan manajemen modern, banyak yang meyakini bahwa dengan memberikan kesempatan kepada Pegawai untuk memilih bidang karirnya, dipastikan hal tersebut akan membuat Pegawai memiliki motivasi yang lebih tinggi dalam bekerja sehingga secara keseluruhan akan mampu meningkatkan kinerja organisasi.
Pegawai yang diberikan kesempatan lebih untuk memilih, dipastikan akan memilih alternatif paling maksimal yang membuat yang bersangkutan bisa bekerja secara penuh, passionate, dan sangat termotivasi! Menurut Edward E. Lawler III dalam bukunya Talent; Making People Your Competitive Advantage (2008), dia menegaskan bahwa, Kunci Utama untuk menjamin perkembangan individu Pegawai adalah dengan memberikan kemudahan baginya untuk pindah dari suatu jabatan (saat ini) ke jabatan lain dalam organisasi. Situasi ini lebih baik dan lebih praktis dibandingkan apabila perpindahan posisi tersebut lebih banyak dilakukan atas inisiatip organisasi yang sering prakteknya lebih susah dan hasilnya kurang mampu membangkitkan motivasi Pegawai.
Beberapa hal yang perlu dipenuhi, ketika sebuah organisasi/perusahaan ingin memberikan kemudahan (pilihan) karir kepada pegawainya, antara lain:
Pertama, perusahaan sudah mempunyai system job posting (web based) yang dapat diakses secara langsung dari berbagai tempat dalam suatu perusahaan. System job posting ini memungkin Pegawai untuk melihat jabatan-jabatan yang vacant dari unit lain dengan disertai oleh uraian tugas dan persyaratan jabatan lengkap dari jabatan tersebut. Termasuk competency requirement, ataupun, misalnya informasi pengalaman kerja apabila diperlukan. Akan menjadi lebih baik seandainya system job posting yang digunakan, juga memungkinkan Pegawai untuk mengisi dan mengelola Profile-nya secara langsung dengan mengisi informasi penting yang bisa diakses oleh Line Manager lain sebagai calon pengguna.
Kedua, manajemen memberikan kemudahan dan kebebasan kepada Pegawai untuk memilih. Manajemen menyadari bahwa kinerja yang tinggi hanya mungkin dicapai ketika seseorang diberikan kebebasan untuk memilih bidang pekerjaannya. Bagaimanapun setiap orang akan berlaku rasional, dan dapat dipastikan, ketika kita harus memilih, biasanya kita akan memilih jabatan yang selama ini lebih kita pahami dan atau hanya memerlukan penyesuaian yang tidak berat. Tetapi, masih banyak pemimpin perusahaan yang mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada pegawainya, karena menganggap pegawainya belum mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengatur karirnya sendiri. Oleh karena itu, perkembangan karirnya biasanya diciptakan atau diatur melalui pola-pola yang dianggap lebih baik bagi perusahaan.
Memberikan kesempatan kepada pegawai untuk memilih bidang karirnya, merupakan suatu option dalam rangka memudahkan pimpinan untuk mendapatkan orang-orang terbaik yang dapat mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Untuk tujuan tersebut, ada dua hal yang perlu kita siapkan secara baik, yaitu; sistem job posting yang memadai, dan perilaku yang lebih mempercayai pegawai sehingga berkesempatan untuk memilih bidang karir yang diinginkan.
Praktek pengelolaan SDM dewasa ini, umumnya berada pada dua kutub pilihan yang harus ditetapkan secara jeli. Apakah organisasi, biasanya diwakili oleh Unit Kerja SDM (HR Department), akan lebih banyak campur tangan untuk mengatur pergerakan (karir) Pegawai, atau pilihan kedua, pergerakan tersebut lebih banyak ditetapkan oleh pegawai yang bersangkutan.
Pada organisasi-organisasi besar atau yang yang banyak menerapkan manajemen modern, banyak yang meyakini bahwa dengan memberikan kesempatan kepada Pegawai untuk memilih bidang karirnya, dipastikan hal tersebut akan membuat Pegawai memiliki motivasi yang lebih tinggi dalam bekerja sehingga secara keseluruhan akan mampu meningkatkan kinerja organisasi.
Pegawai yang diberikan kesempatan lebih untuk memilih, dipastikan akan memilih alternatif paling maksimal yang membuat yang bersangkutan bisa bekerja secara penuh, passionate, dan sangat termotivasi! Menurut Edward E. Lawler III dalam bukunya Talent; Making People Your Competitive Advantage (2008), dia menegaskan bahwa, Kunci Utama untuk menjamin perkembangan individu Pegawai adalah dengan memberikan kemudahan baginya untuk pindah dari suatu jabatan (saat ini) ke jabatan lain dalam organisasi. Situasi ini lebih baik dan lebih praktis dibandingkan apabila perpindahan posisi tersebut lebih banyak dilakukan atas inisiatip organisasi yang sering prakteknya lebih susah dan hasilnya kurang mampu membangkitkan motivasi Pegawai.
Beberapa hal yang perlu dipenuhi, ketika sebuah organisasi/perusahaan ingin memberikan kemudahan (pilihan) karir kepada pegawainya, antara lain:
Pertama, perusahaan sudah mempunyai system job posting (web based) yang dapat diakses secara langsung dari berbagai tempat dalam suatu perusahaan. System job posting ini memungkin Pegawai untuk melihat jabatan-jabatan yang vacant dari unit lain dengan disertai oleh uraian tugas dan persyaratan jabatan lengkap dari jabatan tersebut. Termasuk competency requirement, ataupun, misalnya informasi pengalaman kerja apabila diperlukan. Akan menjadi lebih baik seandainya system job posting yang digunakan, juga memungkinkan Pegawai untuk mengisi dan mengelola Profile-nya secara langsung dengan mengisi informasi penting yang bisa diakses oleh Line Manager lain sebagai calon pengguna.
Kedua, manajemen memberikan kemudahan dan kebebasan kepada Pegawai untuk memilih. Manajemen menyadari bahwa kinerja yang tinggi hanya mungkin dicapai ketika seseorang diberikan kebebasan untuk memilih bidang pekerjaannya. Bagaimanapun setiap orang akan berlaku rasional, dan dapat dipastikan, ketika kita harus memilih, biasanya kita akan memilih jabatan yang selama ini lebih kita pahami dan atau hanya memerlukan penyesuaian yang tidak berat. Tetapi, masih banyak pemimpin perusahaan yang mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada pegawainya, karena menganggap pegawainya belum mempunyai kapasitas yang memadai untuk mengatur karirnya sendiri. Oleh karena itu, perkembangan karirnya biasanya diciptakan atau diatur melalui pola-pola yang dianggap lebih baik bagi perusahaan.
Memberikan kesempatan kepada pegawai untuk memilih bidang karirnya, merupakan suatu option dalam rangka memudahkan pimpinan untuk mendapatkan orang-orang terbaik yang dapat mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Untuk tujuan tersebut, ada dua hal yang perlu kita siapkan secara baik, yaitu; sistem job posting yang memadai, dan perilaku yang lebih mempercayai pegawai sehingga berkesempatan untuk memilih bidang karir yang diinginkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)